Yan Lan seorang anak raja dari salah satu kerajaan di benua bintang. Orang tuanya terbunuh oleh para pemberontak yang ingin melengserkan kepemimpinan ayahnya.
Kemudian dia bertemu dengan kakek Wu Kong dan mengangkatnya menjadi murid. Dia bertekad menjadi kuat untuk membalaskan kematian orang tuanya.
"Aku Yan Lan, barang siapa yang menghalangi jalanku, menghalangi tujuanku, bahkan berani menyinggungku. Meskipun dia adalah dewa, hanya ada satu kata untuknya, MATI".
Bagaimana perjalanan Yan Lan? Apakah dia mampu membalaskan dendamnya? Apakah dia mampu mengembalikan kejayaan klan Yan dan membuatnya menjadi penguasa lagi?
Ikuti terus kisahnya "SANG KAISAR"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yan26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26. Kejanggalan
"Tuan tolong bantu kami" panggil seorang nenek-nenek kepada Yan Lan yang baru saja mau pergi.
Yan Lan kemudian berbalik dan melihat ke arah sumber suara. Dia melihat seorang nenek yang sangat tua sambil memakai tongkat memanggil dirinya.
Uhuk uhuk
"Tuan, tolong bantulah desa kami" kata nenek tersebut sekali lagi meminta tolong kepada Yan Lan sambil berlutut di tanah.
"Ibu, bangunlah. Kita tidak membutuhkan pertolongannya, kita masih bisa menghadapi orang-orang dari Sekte Lembah Kabut dengan tangan kita sendiri" kata kepala Desa Angin Wae Gin kepada nenek yang berlutut kepada Yan Lan yang ternyata ibunya sendiri.
"Diaaam. Apakah kamu masih mementingkan harga diri mu tanpa melihat warga desa yang menderita. Apakah kamu tidak melihat banyaknya warga desa mati sia-sia karena keegoisan mu" teriak ibu Wae Gin marah.
"Ibu aku melakukan itu karena aku percaya dengan warga desa. Aku percaya jika kita bersatu maka kita bisa mengalahkan orang-orang Sekte Lembah Kabut dengan tangan kita sendiri" jawab Wae Gin kepada ibunya tersebut.
Yan Lan dan kedua bawahannya yang mendengar perkataan Wae Gin hanya geleng-geleng kepala.
"Hemmm, beginilah ciri-ciri pemimpin yang gak punya otak. Orang-orang yang memilihnya menjadi pemimpin juga sama-sama gak punya otak" batin Yan Lan dalam hati.
"Bodoh dan percaya itu berbeda, yang kamu lakukan itu bukan sebuah bentuk kepercayaan tapi kebodohan. Sepertinya warga desa juga terlalu bodoh yang telah menjadikan mu sebagai pemimpin mereka" ucap Yan Lan dingin.
"Jika kalian semua tersinggung dan tidak terima dengan ucapan ku, silahkan kalian semua maju supaya aku tunjukkan isi kepala kalian" ucap Yan Lan lagi.
"Bangsat, kamu tidak pantas menceramahi kami" teriak Wae Gin dan dia lalu menyerang Yan Lan.
Hiyaattt....
Duarrrrrrr...
Yan Zu menahan serangan Wae Gin sehingga pukulan mereka beradu dan membuat Wae Gin terbang beberapa meter ke belakang.
Huekk...
Wae Gin mengeluarkan seteguk darah segar dari mulutnya dan tangannya juga seperti mati rasa. Ranah Wae Gin berada di Alam Emas ⭐ 1 jadi wajar saja dia terluka, apalagi Yan Zu hanya memakai 10 persen dari kekuatannya.
"Cukup Gin'er" kata ibu Wae Gin sambil menatapnya dengan tajam.
"Tuan, mohon maafkan sikap anak ku yang kurang ajar" kata ibu Wae Gin berlutut di hadapan Yan Lan.
"Nenek bangunlah. Aku sebenarnya sudah muak melihat sikap mereka, tapi demi nenek aku akan membantu desa ini" kata Yan Lan.
"Terima kasih tuan" ucap ibu Wae Gin masih berlutut.
"Nenek bangunlah, nenek tidak pantas berlutut di hadapan pemuda seperti ku" ucap Yan Lan sambil membantu ibu Wae Gin berdiri.
Yan Lan kemudian menatap semua warga desa yang ada di sana.
"Jujur saja, sebenarnya aku malas membantu kalian. Aku tidak peduli apakah kalian mati atau tidak itu bukan urusan ku. Aku tidak ingin mengotori tangan ku hanya untuk membantu kalian orang-orang sombong dan bodoh, terutama kamu kepala desa" kata Yan Lan sambil menunjuk Wae Gin.
"Tuan, sekali lagi aku minta maaf atas sikap warga desa terutama anak ku" kata ibu Wae Gin.
"Kalian, kenapa kalian masih diam dan kamu juga Wae Gin cepat ucapkan terima kasih kepada tuan ini yang sudah mau menolong desa kita" kata ibu Wae Gin berteriak kepada semua orang yang ada di sana.
Warga desa ketakutan mendengar ibu Wae Gin. Pasalnya ibu Wae Gin merupakan sesepuh Desa Angin. Jadi wajar saja jika semua warga desa merasa takut.
"Terima kasih telah mau menolong desa kami tuan" kata warga desa serentak.
"Kalian tidak perlu berterima kasih kepada ku, tapi berterima kasihlah kepada nenek ini. Ingat aku tidak pernah membantu kalian tapi aku membantu nenek ini" kata Yan Lan.
"Wae Gin cepat siapkan kamar untuk tamu kita" kata ibu Wae Gin.
"Terima kasih nenek" ucap Yan Lan.
"Oh ya tuan, nama ku Yi Kai" kata ibu Wae Gin memperkenalkan dirinya.
"Nama ku Yan Lan, nenek Kai bisa memanggil ku tuan muda Yan dan ini bawahan ku Yan Zu dan Lu Sia. Mereka suami istri" ucap Yan Lan sopan kepada nenek Yi Kai.
"Ibu kamarnya sudah siap" kata Wae Gin yang baru saja datang dan masih menunjukkan kebencian kepada rombongan Yan Lan.
"Mari tuan muda" kata nenek Yi Kai.
Yan Lan mengangguk dan mengikuti nenek Yi Kai.
Tidak lama kemudian, mereka sampai di rumah yang terlihat sederhana.
"Silahkan tuan muda, maaf kami hanya bisa menyediakan tempat sederhana" ucap nenek Yi Kai.
"Ahh tidak apa-apa nenek Kai, ini sudah cukup" jawab Yan Lan.
Yan Lan dan bawahannya kemudian memasuki rumah tersebut.
Di dalam rumah, Yan Lan tidak langsung masuk ke kamarnya tapi menuju ruang tamu di ikuti kedua bawahannya.
"Paman, apakah paman juga merasakan ada kejanggalan seperti yang sedang aku pikirkan?" tanya Yan Lan kepada Yan Zu.
"Benar tuan muda, aku juga memikirkan kejanggalan yang terjadi dengan sikap kepala desa Wae Gin" jawab Yan Zu.
"Bagus, ternyata paman juga merasakannya. Sekarang paman pergi untuk menyelidiki Wae Gin. Dan bibi Sia ini pil untuk meningkatkan kultivasi bibi, malam ini cobalah bibi untuk menerobos ke ranah Bumi. Aku tidak ingin memiliki bawahan atau kelurga yang lemah" ucap Yan Lan memberikan Lu Sia Pil Embun Pagi yang pernah dia lelang dulu.
"Pil tingkat S?" gumam Lu Sia terkejut. Reaksinya sama seperti Yan Zu ketika melihat pil tingkat S tersebut.
"Ambillah, ini hadiah pertama ku untuk bibi sebagai bawahan serta keluarga ku. Jangan sungkan, pil tingkat S merupakan makanan sehari-hari bagi" ucap Yan Lan lagi melihat Lu Sia yang enggan menerima pil tingkat S yang sangat berharga baginya.
"Ambillah Sia'er" kata Yan Zu ikut membujuk istrinya.
"Terima kasih tuan muda" ucap Lu Sia penuh hormat.
Yan Lan hanya mengangguk dan menyuruh mereka berdua untuk pergi.
Di tempat lain.
"Patriak, bagaimana dengan Desa Angin. Apakah kalian sudah menguasai desa tersebut? tanya seorang pria tua kepada patriak Sekte Lembah Kabut.
"Belum tetua, kepala desa yang sebagai pemimpin desa tersebut masih mengusahakannya" jawab patriak Sekte Lembah Kabut Man Lai dengan rasa takut kepada pria tua tersebut.
Tiba-tiba seorang pria paruh baya lari tergesa-gesa memasuki tempat patriak Man Lai dan pria tua itu berada.
"Salam tetua dan patriak Lai" kata pria paruh baya tersebut yang tidak lain adalah Wae Gin.
"Ada apa kepala desa Gin, kenapa kamu terlihat sangat panik?" tanya patriak Man Lai.
"Gawat patriak, gawat" kata Wae Gin ngos-ngosan.
"Aku akan langsung membunuh mu jika kamu tidak berbicara dengan benar" kata pria tua tersebut marah mendengar perkataan Wae Gin yang menggantung.
#Bersambung.
...Terus dukung Thor ya readers...
...Jangan lupa tekan LIKE, KOMEN, VOTE dan FAVORIT...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...