Apa jadinya jika dua saudara kembar yang terpisah selama bertahun-tahun bertemu?
Dewi Hana Saputri dan Clarissa Hani Widjaya, keduanya memiliki sifat dan karakter yang berbeda, tapi keduanya sama-sama mencintai satu pria yang sama.
Siapakah yang di pilih pria itu?
'Ada berbagai macam manusia yang lahir didunia ini, seseorang mengatakan tidak ada satupun manusia yang telahir semuanya sama walaupun fisik mereka mirip tapi karakternya pasti berbeda.'
Ini novel pertamaku, mohon dukungannya dan tolong jangan menjatuhkan autho ya 😄 Terima kasih banyak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seulmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 "Club"
Suara berisik sangat terdengar dari luar, “Dimana ini? Ini bukan rumah sakit—“ Hani menahan langkah kakinya saat Arka membawanya ke sebuah club malam .
“Ayo masuklah”
“Hei tuan! Kau menipuku? Kau bilang sakit dan ingin pergi ke rumah sakit—“
“Ini adalah rumah sakit bagiku , kau tidak mau masuk?” Tanya Arka lagi
“tidak mau! Aku mau pulang saja” Hani berbalik dan hampir benar-benar pergi.
“Kau tahu di ujung jalan sana ada sekelompok preman yang suka menggoda perempuan cantik , aku tidak yakin kau bisa pulang dengan selamat atau tidak” Kalimat yang diucapkan Arka membuat Hani semakin ketakutan dan tak bisa mengatakan apapun lagi.
“Ayo” Arka mengganggam tangan Hani dan membawanya masuk ke dalam club itu. Di dalam terlihat banyak orang yang sudah berkumpul , Hani sangat tidak biasa berada di tempat ramai seperti ini apalagi dentuman musik keras yang membuat hatinya terus berdebar tak karuan .
“semuanya! Kalian sudah siap dengan penampilan berikutnya?!”
“iya!!”
“Kita sambut dengan meriah , ini dia!! Band indie rocksoul!”
“kyaaaaaa” Antusias dan histeria orang – orang yang berada di dalam club semakin meningkat ketika beberapa pria berjalan menuju mini stage. Nampaknya Club ini khusus menampilkan band indi setiap malam nya .
“ayo ikut denganku” Arka masih belum melepaskan tangan Hani ia membawanya menembus kerumunan orang dan berhasil berdiri di garis paling depan. Untuk pertama kalinya dalam seumur hidupnya Hani berada di tempat seperti ini
“Aku akan melakukan beberapa pemotretan , kau nikmati saja musiknya” Bisik Arka dengan mengeraskan suaranya . Setelah melepaskan tangan Hani ia lalu mengeluarkan kamera DLSR dari dalam tasnya dan segera mengarahkannya pada para pemain band yang sudah memulai pertunjukan mereka . Musik beraliran beat itu membuat orang orang disekitar Hani ingin melompat kecil dan menari menikmati setiap alunan nya , sementara Hani masih diam dengan posisinya Ia merasa sangat canggung.
"A-arka" Hani mencoba untuk menyentuh Arka tapi sepertinya Arka tak terganggu ia tengah fokus dengan aktifitas memotretnya. Hani mulai ketakutan saat beberapa orang yang tengah menari tak sengaja menyenggol tubuhnya, ia benar-benar tidak tau harus melakukan apa.
"A-arka aku takut" Hani memegang lengan Arka yang masih berdiri disebelah Hani.
"Kenapa?" Arka menoleh pada Hani yang terlihat seperti ingin bicara padanya ia melihat Hani mencengkram lengannya dengan erat. ia lalu kembali memasukkan kameranya kedalam tas dan menghentikan apa yang sedang dilakukan nya.
"Kau tidak apa?" Tanya Arka, ia memegangi pundak Hani dan menatap wajahnya.
"Disini sangat berisik" ucap Hani dengan suara yang sudah terdengar parau. Cengkraman tangannya juga bergetar.
"Tidak apa, kau harus menikmati nya dan coba ikuti iramanya ayo menari denganku"
"Ta-tapi aku---" Arka mengalihkan tangannya ia menggenggam tangan Hani yang terus menggenggam lengannya. ia berdiri di hadapan Hani lalu melompat kecil mengikuti irama lagu.
"Ayo ikuti aku" Hani menatap Arka yang tertawa kecil menikmati alunan lagu, ia juga mengedarkan pandangannya dan melihat orang-orang sangat menikmati suasana malam itu. Perlahan Hani mencoba untuk menggerakkan tubuhnya yang kaku ia melompat kecil dan menatap kearah Arka yang tersenyum kepadanya. Dan untuk pertama kalinya dalam seumur hidup Hani bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan nya. menikmati keramaian dan tidak pergi untuk melawan arus.
biasanya di kerumunan seperti ini pasti fobia Hani kambuh, tapi genggaman tangan Arka membuatnya bisa bertahan. Kehadiran Arka seolah-olah pelindung bagi Hani. Arka terus menggenggam tangan Hani, ia bahkan melindungi Hani dari orang-orang yang secara tidak sengaja hampir menyenggolnya. Mereka saling menatap, melompat kecil, berputar dan sama-sama menikmati lagu yang terdengar dari speaker yang sangat keras. Hani benar-benar lupa bahwa dia memliki fobia dan sangat benci keramaian. Hani lupa bahwa dirinya tidak pernah bisa selepas ini. Dan Arka juga lupa akan dirinya yang ingin mengambil foto dari band yang tengah tampil itu.
2 lagu yang dibawakan cukup membuat Hani berkeringat. Ia lalu, meminta waktu untuk beristirahat. Arka membawanya untuk duduk di sofa yang masih kosong semantara ia pergi ke bar untuk membawakan minuman. Dari sofa Hani hanya memperhatikan Arka yang tengah menunggu bartender itu menyiapkan minuman yang dipesan nya , tanpa disadari senyuman kecil muncul di wajahnya.
“Han! Kau sendirian? Boleh aku duduk disini?” Seorang pria yang terlihat beberapa tahun lebih tua dari Hani duduk di sampingnya dan membuat Hani terkejut ia segera bergeser untuk sedikit menjauh.
"Ayolah, aku minta maaf padamu, aku tidak akan cemburu lagi" Si pria berusaha menggenggam tangan Hani.
Dengan susah payah Hani melepaskan tangannya dari pria itu, "Ka-kau salah orang" suara Hani terdengar bergetar. Ketakutan Hani kembali muncul.
"Aku tidak salah orang, kau Hana kita dulu pernah berpacaran dan aku sangat hapal dengan wajah cantikmu" pria itu memegang dagu Hani ketika Hani menundukkan kepalanya ketakutan.
Hani berusaha menepis tangan pria itu sambil bergeser menjauh. "A-aku ber-bersama orang, a-aku ti-tidak sendiri" Jawab Hani semakin ketakutan. apalagi pria itu menatap Hani dengan seringainya. Hani meremas tangannya sendiri dan berharap Arka segera datang padanya.
"Pria yang berbeda lagi ya? hahaha dibayar berapa memangnya? bagaimana denganku saja, aku akan membayar mahal" pria itu kembali mendekati Hani dan menarik tangannya. Hani menepis nya dengan kasar namun pria itu kembali menarik tangan Hani dan memaksanya untuk ikut pergi.
"Brengsek! lepaskan tanganmu!" Arka datang menghampiri Hani yang terlihat ketakutan, ia bahkan lupa untuk membawa minuman yang dipesan nya tadi.
"Arka" Hani segera berlindung dibalik punggung Arka. tangannya bergetar hebat.
"Kau si nomor berapa? kau tau Hana itu hanya main-main denganmu!"
Mendengar nama Hana, Arka semakin emosi, "Aku suaminya, berani sekali kau mengganggu istri orang lain" ucap Arka dengan nada yang menantang ia tidak peduli siapa lawan bicaranya.
"Hana menikah? itu tidak mungkin! aku tau jelas sifat wanita itu seperti apa? berpura-pura lemah tapi sifatnya sangat mengerikan dia--"
"Tutup mulutmu! jangan berani kau mendekati istriku lagi!" Arka menatapnya dengan tajam ia lalu merangkul bahu Hani. Langkahnya berhenti sebentar dan kembali menatap pria itu sinis, "nama istriku Hani bukan Hana kau salah orang" setelah berkata begitu Arka membawa Hani keluar dari klub itu. Hani masih menundukkan kepalanya tak mengatakan apapun. dia masih bergetar ketakutan. bayang-bayang penculikannya dulu kembali tengiang di ingatan Hani.
"Hani! Hani! Hani!" berkali-kali Arka memanggil tapi pandangan mata Hani masih kosong. Arka memeluk Hani. berusaha menyalurkan energinya.
"Maaf maaf maaf" berulang kali Arka membisikkan kata maaf di telinga Hani, sambil terus mengelus punggung dan kepala Hani.
Perlahan Hani kembali sadar, dia sudah tidak gemetaran lagi, tapi tangannya masih tidak lepas dari pinggang Arka.
"Kenapa tadi diam saja? biasanya kau selalu menjawab" Arka yang tau Hani sudah sadar mulai berbicara.
“Aku tidak diam , aku sudah bilang kalau dia salah orang dan aku tidak sendirian tapi dia memaksaku”
“Kau harus berteriak! Atau lari , atau memanggil namaku!” Arka sedikit menyentak . Entah kenapa Hani melihat seperti ada raut kekesalan di wajahnya.
“Kau tidak bisa diam seperti itu jika ada yang mengganggumu , lain kali kau harus melawan . mengerti?!” Hani masih diam ia menatap Arka dengan segudang pertanyaan dikepalanya.
“Ini semua karenamu, kau yang membawaku ke tempat seperti ini” Hani tak mau kalah ia membela dirinya sendiri.
"iya seperti ini, biasanya kau beradu mulut denganku, tapi dengan orang lain kenapa tidak bisa?"
Hani juga bingung, saat bersama orang lain mulutnya seakan kelu, dia tidak tau apa yang harus dia katakan, dan lakukan. Hal pertama yang dia lakukan ketika bertemu orang lain adalah diam dan menunduk takut. Tapi dengan Arka berbeda.
"Jangan menatapku seperti itu, Kau harus berjanji pada ku untuk berani melawan"
"tergantung orangnya" balas Hani.
Arka kemudian mengacak puncak kepala Hani, "Lain kali jangan seperti tadi".
🌺🌺🌺🌺🌺
tetap semangat thor 💪