Setelah resmi menyandang gelar sebagai Janda Febry Lie Prayoga, Andita akhirnya memutuskan menerima lamaran Bagas yang merupakan mantan kekasihnya.
Shinee yang diam-diam mencintai Bagas,tidak terima atas lamaran Bagas kepada Andita yang adalah mantan istri kakaknya Yoga.
Apakah Shinee dapat merebut Bagas dari Andita ?
atau justru terjebak dalam kebuasan Erwin ?
Ikuti ceritanya di "Pacarku Suami Temanku Part 2"
Bagi pembaca baru Novel ini, silakan baca Pacarku Suami Temanku Bagian 1.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adelmia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab-26
Robert memperhatikan Erwin sedetail mungkin dari ujung kaki sampai ujung rambut,sedangkan yang di perhatikan tidak perduli sama sekali, Erwin masih fokus mengisi perutnya begitu juga dengan Bagas.
Robert terpana ketika melihat tanda merah berbentuk gigitan seseorang yang bersembunyi dibalik kerah kemeja sahabatnya itu.
"Win jangan lupa tambah ya, gue tau tenaga lu terkuras beberapa hari ini.!" Seru Robert ketika Erwin membawa piring bekas makannya menuju dapur.
"Mau ngomongin apaan Gas, kalo gak ada yang terlalu penting gue mau balik. Mau kerja gue, lagian lama-lama di sini risih ada biang kerok." Erwin melirik Robert
"Iya maaf." Robert senyum-senyum menatap leher Erwin
"Tadi Gue sama Andita sudah mengurus pernikahan kami di KUA, insyaallah Akad nikah di laksanakan minggu depan menurut jadwal dari KUAnya. Besok malam Gue ngadain Private Dinner,Gue kesini ngundang kalian secara resmi,Lauren juga Alga." Bagas membuka obrolan
"Kenapa mendadak ?" Tanya Erwin.
"Gak mendadak lu nya aja yang belum gue kabarin, resepsi nya tetap berlangsung sesuai undangan." Lanjut Bagas.
"Kenapa terkesan buru-buru banget, udah gak tahan lu ?" Ledek Erwin.
"Iya gue udah gak tahan, mau di gigit kayak leher lu tuh." Pungkas Bagas
"Hahaha...." Robert tertawa terbahak-bahak melihat Erwin kena skak abis.
"Gue kira lu gak liat Gas, ternyata mata lu hebat juga ya. Arah pandangan kemana, tujuannya leher Erwin."
"****..." Erwin mengumpat dalam hati.
"Oke.kalau gitu gue duluan ya,ada yang harus gue urus di Club." Pamit Erwin
"Mau ke Club apa mau celap-celup !" Seru Robert. Erwin melenggang pergi, hanya membalas ucapan Robert dengan mengacungkan jari tengah nya.
"Alga..."panggil Bagas.
Lauren dan Alga datang dari ruang keluarga. "Ya Uncle." Sahut Alga
"Sini uncle mau pulang." Alga naik dan duduk di pangkuan Bagas.
"Aleen, besok malam kakak ngadain Private Dinner,kakak berharap Aleen dan Alga datang ya."
"Iya kak." Sahut Lauren
Ponsel Bagas berdering,tampilan wajah Andita muncul di layar ponselnya. "Andita telepon." Gumam Bagas
"Al,sini sayang. Uncle mau angkat telpon dulu." Robert menggendong Alga.
Bagas menjauh beberapa meter dari Robert dan Lauren, baru menerima panggilan dari Andita.
"Ada apa sayang ?" Jawab Bagas.
"Mas dimana ?" Tanya Andita.
"Mas masih dirumah Robert." Sahut Bagas
"Dita mau izin ke swalayan, ada yang mau di beli."
"Gak usah. Mas sebentar lagi pulang, apa yang mau dibeli ?" Tanya Bagas.
"Pembalut wanita." Jawab Andita
"Iya nanti mas beliin, ada ukuran nya gak ?" Tanya Bagas.
"Gak ada mas." Sahut Andita
"Selain pembalut apa yang perlu dibeli ?" Tanya Bagas lagi.
"Coklat,ya udah Dita mau mandi."
"Iya udah,sampai ketemu di rumah." Bagas mengakhiri panggilan dari Andita.
"Bro gue pamit ya, sampaikan sama Aleen gue pamit pulang."
"Uncle pulang dulu ya,nanti kalo Al sudah gak sibuk dan uncle juga gak sibuk kita bisa main bersama." Bagas mencium dan memeluk Alga
"Oke, Hati-hati uncle." Alga melambaikan tangan nya ketika Bagas sudah berada di balik kemudinya.
Bagas meninggalkan rumah Robert ketika melihat spion belakang dia tersenyum ternyata bodyguard nya masih setia berada di belakangnya meskipun harus menjaga jarak darinya.
Mobil Bagas berhenti di sebuah Swalayan begitupun dengan pengawal pribadi nya, ikut turun mengawasi dari kejauhan.
Bagas mulai berkeliling mencari tempat pembalut wanita dan bertemu tumpukan pembalut berbagai merek, Bagas jadi bingung sendiri. Akhirnya memilih menelpon Andita untuk menanyakan pembalut yang biasa dia gunakan,tapi beberapa di telpon tidak ada respon sama sekali.
"Dari pada kelamaan, gue ambil aja beberapa merek. Terserah nanti dia mau pakai yang mana." Gumam Bagas dalam hati
Bagas tidak memperdulikan pandangan mata sekitarnya, karena melihat dirinya membeli banyak pembalut dengan bermacam merk.setelah membayar belanjanya, bergegas menuju mobil.
Bagas meletakkan kantong belanjaan di sisinya,lalu di ambilnya salah satu dan membukanya.
"Gue penasaran isinya kayak apa sih." Bagas membuka bantalan pembalut
"Hehehe...ada-ada aja alat perempuan.tapi setidaknya gue sudah tahu bentuk detailnya pembalut wanita, sebagai calon suami siaga gue harus memahami semua kebutuhannya." Bagas kembali melajukan mobilnya,membela jalanan menuju kediaman belahan jiwanya.
...----------------...
Erwin baru saja tiba dirumahnya.
rumah tampak sepi Penjaga tak ada satu pun yang berjaga di depan rumah,buru-buru naik ke atas untuk memeriksa gadis tawanannya. saat baru menginjakkan kaki di tangga telinganya mendengar tawa para bodyguard penjaga Shinee dari arah taman belakang.
Erwin berbalik arah menuju taman belakang
"Apalagi yang di rencanakan Shinee." Pikirnya
Erwin mengepalkan tangannya ketika melihat Shinee tengah berenang hanya menggunakan Bra dan segitiga G-string. Sementara para bodyguard itu sangat menikmati keindahan tubuh Shinee yang meliuk-liuk indah di dalam kolam.
"Bodyguard sialan!!" Geram Erwin.
"Plak...plak...plak..." Ketiga bodyguard itu mendapatkan tamparan keras dari Erwin.
"Aku membayar kalian untuk menjaganya, agar tidak keluar dari rumah ini,bukan untuk menjadi penonton tubuhnya!!" Erwin begitu emosi.
"Maaf bos,kita salah."
"Keluar !!" Erwin tidak terima ketika tubuh Shinee menjadi tontonan bodyguard itu.setelah Ketiga bodyguard keluar, Erwin menghampiri Shinee.
"Naik !!" Serunya.
"Gak mau !!" Balas Shinee.
"Cepat Shinee, atau mau aku ikat disini semalaman ?!" Ancam Erwin.
"Aku gak perduli.!" Shinee menenggelamkan tubuhnya kedasar kolam.
"Keras kepala!" Erwin membuka baju dan celananya, melompat meraih tubuh Shinee.
Tubuh mungil Shinee sudah berada dalam dekapannya, Gadis itu meronta-ronta.
"Aku bosan di kamar terus,yang ada aku gila lama-lama di sini.!" Shinee mulai mengeluarkan senjata andalannya yaitu berteriak.
Erwin tidak perduli teriakan Shinee meraih handuk dan menyelimuti tubuh nya, Erwin memanggul paksa gadis itu masuk ke dalam rumah.setibanya di kamar Erwin melemparkan tubuh Shinee.
"Kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan ?" Tanya Erwin.
"Aku hanya berenang, apa yang salah ?!" Balas Shinee.
"Hanya berenang katamu ? Dengan pakaian seperti ini ? Murahan sekali!!" Dengus Erwin.
Shinee bangkit melompat dari atas tempat tidur dan menjambak rambut Erwin.
"Kau yang merusak masa depan ku bajingan ! Sekarang enteng sekali mulutmu berkata aku murahan.!!" Shinee menyerang Erwin membabi buta.
Tubuh Erwin yang tidak siap limbung dan terguling di lantai, kepalanya membentur lantai. Shinee terdiam sejenak ketika melihat Erwin tak bergerak.
"Apa dia mati ?" Shinee menepuk-nepuk pipi Erwin.
"Hei bajingan ! Bangun dong." Shinee bingung, panik. Berlari meraih kimono handuknya dan memanggil penjaga.
"Apa yang terjadi ?!" Panik BI Isa.
"Itu...itu..." Saking paniknya Shinee tak mampu berkata-kata. Bi Isa menerobos masuk di ikuti tiga pengawal,dan membopong tubuh Erwin ke atas tempat tidur.
"Panggil dokter!" Perintah BI Isa.
Bi Isa menatap tajam Shinee yang cemas setengah mati.
"Kamu apakan dia hah! Kalau sampai bos kenapa-kenapa,saya tidak akan segan-segan membakarmu hidup-hidup." Bi Isa mencengkeram erat wajah Shinee yang pucat pasi.
Shinee menangis berlari memeluk tubuh Erwin.
"Maaf. Tadi aku gak sengaja,maafin aku."
"Aku mohon sadarlah,aku janji tidak akan macam-macam lagi." Isak Shinee. sementara itu, tangan Erwin memberikan kode pada Bi Isa untuk meninggalkan mereka.
"Bangunlah,kalau kamu kenapa-kenapa aku gimana. Kalau aku hamil, anak kita gimana nanti. ayo bangunlah." Tangisan Shinee semakin pilu terdengar.
"Bi dokternya mana ?" Tanya Shinee di sela-sela tangisnya.
Drama Erwin berhasil ternyata gadis keras kepala itu, diam-diam mengkhawatirkan nya.
Hatinya bersorak gembira.
Tak lama kemudian Bi Isa masuk bersama seorang Dokter, ia meminta Shinee untuk menunggu di luar. Gadis tawanan itu, beringsut keluar menuruti perintah BI Isa.
Erwin tersenyum menatap dokternya.
"Gue gak kenapa-kenapa, cuma mau kasih pelajaran aja sama gadis keras kepala itu."
"Bajingan lu, buang-buang waktu gue aja." Dengus dokternya, lalu meninggalkan Erwin yang masih terbaring di atas tempat tidur.
Shinee bangkit dari duduknya ketika melihat Dokter dan BI Isa keluar dari kamar Erwin.
"Dokter,gimana keadaannya ?" Tanya Shinee khawatir.
Dokter itu menatap wajah Shinee yang sembab. "Dia masih pingsan,kalau sampai jam 10 malam dia belum sadar juga ada kemungkinan besar dia akan koma, itu artinya dia butuh dirawat di rumah sakit."
Shinee menutup mulutnya. " Apa benturannya sehebat itu?" Tanya Shinee.
Dokter mengangguk.
"Sebaiknya nona jaga dia,ajak bicara supaya dia segera sadar." Shinee mengangguk dan berjalan memasuki kamar Erwin.
"Supaya cepat sadar sudah menakuti perasaan gadisnya." Lanjut Dokter saat mereka menuruni tangga. Bi Isa hanya tersenyum menanggapi ucapan Dokter itu.
Shinee melepas seluruh pakaiannya, membuka lemari dan memilih lingerie seksi pemberian Erwin. Tanpa Shinee sadari Erwin menatapnya begitu lapar, gadis itu menyisir rambutnya, lalu menyemprotkan parfum di bagian tubuhnya.
Shinee berdiri disamping ranjang menatap lekat wajah Erwin, bingung apa yang harus dia katakan dengan orang pingsan.
Lalu duduk di sisi Erwin dan menyentuh wajahnya.
"Kalau di perhatikan kamu tampan juga. Hidung mu bagus, bibir mu seksi.sayangnya, kalau marah mirip sekali dengan serigala hutan belantara sana."
"Ayo bangunlah,siapa yang bentak-bentak aku kalau kamu pingsan begini."
"Kalau bajingan ini koma seharusnya aku senang, bisa kabur dari sini." Gumam Shinee
"Gadis sialan!" Gerutu Erwin dalam hati.
"Tapi kalau aku kabur terus aku hamil, gimana jadinya. Agghhh... membingungkan."
Shinee terus berpikir gimana caranya supaya Erwin lekas sadar, bibirnya membentuk sebuah senyuman ketika mendapatkan ide.
Dengan ide gilanya Shinee membawa tangan Erwin ke puncak gunungnya,tapi tetap tidak ada respon.
"Gak respon juga,cium mungkin."gumam Shinee
Merunduk menghisap lembut bibir Ewin tubuhnya bergetar namun masih berusaha menahan diri,kecupan manis dan sentuhan yang di berikan Shinee menggugah jiwanya. Shinee lelah melakukan nya karena merasa tidak berhasil,ketika Shinee melepaskan tautan bibirnya tangan kokoh Erwin menahan kepalanya. Erwin mendorong Shinee dan mengungkungnya di bawah tubuh besarnya.
"Hei bajingan! Kamu sudah sadar." Teriak Shinee ketika Erwin memberi ruang untuknya bernafas.
"Ya, berkat ciuman gadis keras kepala ini." Wajah Shinee bersemu kemerahan.
Erwin kembali menyerang Shinee, menjelajahi seluruhnya. Bibirnya singgah pada kelopak bunga mawar yang mereka indah disana,menggelitik, menelusuri setiap cela-celanya.
Rintihan memohon Shinee semakin memburu semangat Erwin, berhenti bermain di sana, menatap lembut wajah penuh harap di bawahnya.
"Katakan kamu menginginkan nya." Pinta Erwin, Shinee mengangguk.
"Ayo sayang, katakan. Katakan kalau kamu menginginkannya." Erwin membelai lembut wajah penuh harap itu. Erwin menyentuh benda kenyalnya, menimbulkan sensasi tak tertahankan bagi Shinee.
"Aku tidak akan memulainya,kalau kamu tidak mengatakannya." Erwin sengaja membuat Shinee menunggu. Terus mempermainkan Shinee,hingga gadis itu menyerah.
"Yes. I want it, please now baby." Racau Shinee, Erwin tersenyum penuh kemenangan.
"Yeah,as you wish honey."
Erwin memulai penyatuan di antara mereka, memburu harapan yang sama-sama sudah tak terbendung.
Shinee mengalunkan nada-nada indah, memacu semangat pencapaian tujuan yang tiada tara.
...----------------...
TBC
mampir ya Thor ke karya ku
~ Mencintai Istri Temanku
sayang sekali 😥😥
padahal ceritanya bagus 🥰🥰
semangat nulis lagi dong Thor 😇😘😘🥰🥰
buat shinee hamil bayi2 erwin