Nama gue Zahra pindahan dari Jakarta ke Bandung, semenjak perusahaan Bokap gue bangkrut akhirnya gue dan keluarga putuskan sekolah di Bandung dan menemukan cinta sejati gue di Bandung. yang susah banget meluluhkan hati pria ini sampai gue bisa mendapatkan hatinya. cinta gue penuh rintangan yang harus kita berdua hadapi.. mau tau lanjut ceritanya mampir dulu yuk ke cerita yuli cinta cowok dingin.
happy reading ya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuli sumarni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26
Kok gue di sini, pasti Bima mindahin gue gara-gara gue ketiduran. Ya Allah udah jam delapan.
"Sayang, kamu udah makan?" gue kaget Bima sudah rapi dan makan sendiri.
"Eh, kamu bangun? sini sarapan! masakan kamu enak lho." Sahut Bima sambil mengunyah makanan.
"Maafin aku ya sayang, aku ketiduran." Gue menatap Bima dengan raut wajah melas.
"Ha-ha... gak apa-apa sayang." Bima tersenyum.
"Emang enak ya masakan aku?" tanya gue sambil tersipu malu.
"Mmm... enak banget sayang, makasih ya udah masakin aku." Bima mengusap kepala gue.
"Alhamdulillah, he-he..." gue tersenyum Bima memuji masakan gue.
"Kok diam? kamu makan juga sayang!" perintah Bima.
"Nanti aja kalau kamu sudah berangkat." Bantah gue. Gak lama Bima pun berangkat dan mencium kening gue.
"Neng itu suaminya? baru kelihatan, cakep ya ganteng. he-he..." Bu Jenah tersenyum dan memuji Bima.
"Iya Bu, Ibu bisa aja he-he." Jawab gue tersenyum.
"Udah berapa lama Neng nikah?" tanya Bu Jenah.
"Baru 3 bulan Bu, he-he." Jawab gue sambil tertawa.
"Hmmm... masih penganten baru kalau gitu mah, Neng kalau ada apa-apa ke sini aja yah!" sahut Bu Jenah.
"Iya Bu, terima kasih yah." Jawab gue.
"Bima, nanti datang acara ulang tahun adik saya yah!" perintah manajer Bima.
"Lho, jadi tutup dong Bu restorannya? iya semua pulang jam 3 sore, jam 7 malamnya kamu datang." Sahut Bu Yohana.
"Apa saya boleh ajak istri Bu?" tanya Bima.
"Hah? mmm... bawa aja boleh." Bu Yohana ragu-ragu menjawab.
"Terima kasih, kalau gitu ya Bu." Jawab Bima sambil senang bahagia.
Gue masak apa ya buat Bima? gue masak sayur sop aja deh, kemaren kan Bima udah ajarin atau lihat di YouTube.
Gue pun akhirnya selesai memasak dan melihat di YouTube. Selesai semua pekerjaan rumah, dari nyuci baju, nyuci piring, gue langsung tertidur lagi karena lelah sampai ketiduran.
Gak lama Bima pulang, sedangkan gue sedang mengangkat pakaian. Gue kaget Bima jam segini sudah pulang.
"Sedang apa Bu, sibuk banget sih? ha-ha..." Bima meledek gue.
"Ih... kamu bikin kaget aja, kok jam segini udah pulang?" tanya gue penasaran sambil melipat baju.
"Iya, soalnya manajer aku mau adain acara ulang tahun adiknya, semua karyawan di undang, kamu ikut yah!" ajak Bima sambil menjelaskan.
"Emangnya aku boleh ikut?" tanya gue penasaran.
"Boleh sayang, jam tujuh berangkat!" sahut Bima.
"Ya udah, oh iya, kamu makan yah! aku masak sayur sop, sama tahu goreng he-he." Gue memegang tangan Bima.
"Cie- cie... udah bisa masak rupanya istri aku? semangat istriku." Bima mencium kening gue.
Setelah selesai makan, Bima membawa piringnya ke dapur, dan melihat gue yang sedang mencuci piring. Bima memeluk gue dari belakang dan mencium leher gue.
"Sayang, sayang masih siang ah!" gue menatap Bima dan mencubit pipi Bima.
"Yeee... kenapa? orang sama istri aku ini, mau kapan aja bisa." Bima tersenyum ke gue.
Gak lama saat Bima ingin mencium Bibir gue, ada yang mengetuk pintu. ternyata, Bu Jenah. dia hanya mengantar kue lapis untuk gue.
"Eh Ibu, apa ini Bu? repot-repot banget." Sahut gue sambil memegang piring berisi kue lapis.
"Iya buat Neng sama suaminya, Eh tumben cepat pulang Dek? si Eneng kalau suaminya belum pulang main aja yah kerumah Ibu. Sahut Bu Jenah dan menegur Bima.
"Iya Bu, lagi pulang cepat aja, Ibu repot-repot banget bawain kue? terima kasih ya Bu." Sahut Bima sambil tersenyum.
"Gak ada yang di repotin Ibu Mah, Ibu pulang dulu yah!" sahut Bu Jenah.
"terima kasih ya Bu." Gue berterima kasih sambil menganggukan kepala sopan ke Bu Jenah.
"Baik banget ya sayang, ini kamu mau?" tanya gue sambil berjalan ke dapur.
"Sayang, aku aja yang naro yah! kamu tunggu aku aja di kamar, nanti aku nyusul." Sambil berbisik ke telinga gue.
"Kita nerusin?" tanya gue sambil tersenyum.
"Iya, mumpung aku pulang siang sayang, manja-manjaan sama kamu, please!" Bima memohon ke gue.
"Ya udah, ya udah, sebagai istri aku cuma bisa pasrah dan nurutin kemauan suami." Jawab gue sambil berjalan ke arah kamar.
Gak lama Bima pun masuk, dan langsung menghampiri gue sambil tersenyum. Bima pun langsung menjamah gue dengan begitu nafsunya. Sampai gue pun tak berdaya di buatnya.
Setelah mau hampir magrib, Bima baru mengakhirinya. Gue pun masih tertidur di ranjang.
"Kamu kenapa? kok melamun? sakit atau kenapa?" tanya Bima sambil memeluk gue.
"Gak apa-apa sayang, aku cuma lelah aja tapi aku bahagia sayang." Ucap gue.
"Apa kamu nanti gak usah ikut ke acara teman aku? kalau kamu enggak, aku juga enggak!" sahut Bima.
"Jangan sayang! kamu ikut aja, aku temanin kamu kok!" gue tersenyum sambil memegang pipi Bima.
Gue dan Bima bersiap-siap berangkat, takut macet, akhirnya pesan taksi online. Saat sampai di tujuan, banyak sekali yang melirik ke arah gue dan Bima. Bima mengenalkan gue dengan manajernya dan teman-teman lain.
"Bima, sini saya mau bicara tapi gak di sini! Mba, saya pinjam Bimanya sebentar yah!" ucap Yohana manajernya Bima.
"Iya." Kawab gue singkat.
"Kamu jangan kemana-mana, tunggu aku di sini yah!" Bima berpesan dan melepaskan tangannya.
"Jangan lama-lama, aku takut!" sahut gue gelisah.
Gue berdiri dekat pinggir kolam, sambil menunggu Bima. Hue melihat Bima dari kejauhan, tapi arah mata Bima selalu ke gue. Tiba-tiba ada seorang pemuda menghampiri gue, dia adik dari Yohana. Orangnya menakutkan agak genit gitu.
"Wow, cantik! siapa nama mu Nona? bolehkah aku berdansa dengan mu!" jawab pria itu mau menyentuh tangan gue dan gue melihat Bima gelisah ke arah gue yang sedang di ganggu.
"Maaf mas, saya tidak bisa berdansa!" gue menangkis tangan pria itu. Dan pria itu memaksa sampai gue tercebur di kolam renang. Sedangkan gue tidak bisa berenang.
Bima mengabaikan pembicaraan Bu Yohana dan berlari sambil menolong gue yang tenggelam dan tak sadarkan diri.
"Sayang, bangun sayang ya Allah." Bima panik dan menangis melihat gue yang tidak sadarkan diri, Bima memukul adiknya Yohana yang bersikap kurang sopan ke istrinya, Karena Bima memperhatikan gue di ganggu.
Bima membawa gue ke rumah sakit, sambil menangis melihat gue masih tak sadarkan diri.
"Dokter, istri saya gimana? apa baik-baik saja?" tanya gue panik dan menangis.
"Tidak apa-apa, sudah kami tolong! untung anda cepat membawa istri anda, kalau tidak nyawanya bisa tidak tertolong."
"Terima kasih Dok." Jawab Bima.
"Sayang, maafin aku ya sayang! Hiks- hiks-hiks... kalau saja aku gak tinggalin kamu, dan gak datang ke acara itu, pasti gak bakal kaya gini, bangun sayang! bangun!" Bima menangis dan mencium tangan gue.
Apa gue bilang ke orang tuanya? akhh... jangan deh nanti Bokapnya malah bikin ribet, malah misahin gue lagi. Gue gak mau kehilangan Zahra. gue sangat mencintainya.
*BERSAMBUNG*
tetap semangat ya neng💪💪