Seorang perempuan yang berstatus istri, pastinya ingin di cinta sang suami. Tapi Takdir kehidupan Fidiya begitu unik. Mendapatkan suami, mendapat status social yang mapan, tapi tidak mendapatkan kedudukan di hati dan di mata suaminya.
Di mata seorang Ridwan, hanya ibunya dan kedua adiknya, sedikitpun dia tidak memandang Fidiya. Ridwan hanya mendengari apa kata kedua adiknya, dan hanya mendengari kemauan kedua adiknya. Tanpa mau tau apa mau wanita yang menjadi istrinya.
Saat Fidiya menyerah dengan takdirnya, dia dipertemukan dengan Fadlan, seorang laki-laki yang sangat mencintainya. Ridwan sadar dari kebodohannya, datang dengan segala penyesalannya, meminta Fidiya kembali.
Bagaimana kehidupan Fidya, Fadlan, dan Ridwan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Suasana kembali hening, melihat Fidiya baik-baik saja, itu melebihi segalanya.
"Maafin aku ya Fid, aku sungguh ketakutan, aku panik, aku jadi nampar kamu, sumpah! Aku gak pengen nyakitin kamu." Ismi berulang kali mengusap pipi Fidiya yang masih merah karena lima jarinya mendarat di sana.
"Bilang aja dendam lama!" sungut Fidiya.
Wajah Ismi terlihat masam. "Kamu itu kembaran aku, walau kita beda made in, beda pabrik, tapi kita satu hati," rengek Ismi.
"Ya sudah, naik sini kembaranku." Fidiya menepuk sisi tempat tidur yang kosong.
Ismi naik ke ranjang itu dan langsung memeluk sahabatnya.
Ceklakkk!
Pintu ruangan itu terbuka, terlihat seorang gadis cantik menenteng beberapa kantung belanjaan diantara pintu itu.
"Maaf ya Pak, saya lama," ucapnya penuh sesal.
"Nggak apa-apa Mis, ya sudah kamu lanjut jaga Fidiya, aku mau pulang," ucap Fadlan.
"Pulang?" ucap Fariz dan Ismi bersamaan.
"Aku tidak mau nama Fidiya jelek, makanya aku jaga jarak dengannya, menghindari Fitnah saja," jawab Fadlan.
"Kalau begitu, aku juga pulang, nanti keluarga itu malah menuduh Fidiya selingkuh sama supir!" sela Fariz.
"Aku masih boleh di sini kan?" tanya Ismi.
"Boleh, tapi sampai besok saja," jawab Fadlan.
"Kenapa sampai besok? Aku ingin menemani Fidiya selama di sini." Wajah Ismi nampak memelas.
"Besok Fidiya boleh pulang, kalau kamu masih pengen di sini, kamu mau nungguin siapa? Suster ngesot?" ejek Fadlan.
Ismi tidak menjawab lagi, dia hanya melempar senyuman kakunya pada Fadlan.
"Perlu sesuatu, minta saja sama Misca." Fadlan pergi begitu saja tanpa menoleh lagi.
"Aku pulang dulu ya Is, Fid ...." ucap Fariz, dia segera mengejar Fadlan yang sudah jauh meninggalkannya.
Di kamar itu, tiga wanita tampak santai, Misca memperkenalkan diri pada Ismi, ketiganya terlihat asyik dengan obrolan ringan mereka.
*
Fariz terus melangkah mengekori Fadlan. Hingga mereka berada di satu lift yang sama.
"Tuan yakin, melakukan semua ini hanya karena ingin balas dendam?" Pertanyaan Fariz langsung memecah kesunyian yang terjadi.
"Aku mau jujur, rasanya hal itu sangat tidak normal." Fadlan melipat kedua tangannya di depan dadanya, dan menyandarkan punggungnya di dinding lift.
"Cinta?" Fariz menerka-nerka.
"Mungkin, tapi sangat aneh kan?" Fadlan kembali melempar pertanyaan.
"Begitulah, cinta memang aneh, dan kadang mendekati kategore gila."
"Aku terobsesi pada seorang gadis kecil yang menyelamatkanku saat aku masih kecil, setelah kejadian itu, dalam hatiku hanya ada gadis itu. Entah berapa banyak gadis yang aku temui, tapi saat bertemu Fidiya, seakan aku melihat gadis kecil itu lagi." Fadlan menatap tajam ke arah Fariz. "Itu alasan kenapa aku jatuh cinta pada Fidiya, aneh kan? Bagaimana juga aku mengungkapkannya, aku butuh jalan yang lebih logis untuk jatuh cinta padanya, agar lebih masuk akal dan dia bisa menerima dengan otaknya."
"Apakah nanti, suatu saat kalau ada yang mengingatkan Tuan pada malaikat kecil, apakah Anda akan menikahi dia juga?"
"Tuh kan, apa ku bilang, pasti ada yang meragukan perasaanku." Wajah Fadlan terlihat kesal.
Saat pintu lift terbuka, Fadlan melangkah lebih dulu dan meninggalkan Fariz begitu saja.
"Tuan!"
Panggilan Fariz sama sekali tidak di gubris laki-laki itu.
Drettttttt
Getaran terasa dari saku celana kain yang Fariz kenakan, Fariz merogoh sakunya, mencari sumber getaran itu.
Terlihat nama Pak Ridwan tertera di layar. Fariz menautkan kedua alisnya, sedang jemarinya menggeser icon berwarna hijau. "Iya Tuan."
"Fariz, tolong kamu cari Fidiya." Titah di ujung telepon itu.
Fariz menjauhkan handphone dari sisi telinganya, wajahnya begitu kesal mendengar nama Fidiya di sebut laki-laki yang tidak punya hati itu.
"Fidiya? Buat apa Tuan?"
"Saya butuh tanda tangan dia, sekaligus alamat dia, biar pengadilan mudah mengirim surat panggilan sidang nanti, lebih cepat cerai lebih bagus!"
"Baik Tuan."
Fariz lebih memilih pulang ke rumah istrinya, untuk membicarakan masalah ini.
*
Fadlan berulang kali memukul setirnya. Dirinya bingung kalau di tanya kenapa menyukai Fidiya, sedang gadis lain yang lebih cantik, lebih pintar dan berpendidikan banyak. Kenapa dia malah menginginkan gadis itu untuk menjadi permaisuri di hatinya dan di rumahnya nanti.
"Arrgggg!"
Sekali lagi setiran yang tidak punya salah menjadi korban luapan emosi Fadlan.
"Apa jatuh cinta perlu alasan?" Fadlan sungguh frustasi.
Lumayan lama membelah jalanan, akhirnya sebuah gedung berlantai tujuh semakin dekat. Perlahan Fadlan menurunkan kecepatannya. Mobil itu melaju menuju parkiran khusus miliknya.
Perusahaannya bisa di kategorikan perusahaan nomer 10 yang terbesar dan berkembang di kota ini. Perusahaan raksasa yang terkenal di kota ini adalah perusahaan 'The Ozage Crypton Group' milik seorang laki-laki yang bernama Sam.
Suasana hati Fadlan saat ini sangat buruk, keinginannya cuma satu, mempersunting Fidiya saat semua selesai nanti, namun semua itu hanya angan yang menguap begitu saja, bagai embun yang disengat hangatnya sang surya.
Fadlan terus melangkah menuju lift khusus miliknya, semua pegawai yang dia lewati hanya diam, tidak satupun berani menyapa jika wajah atasan mereka seperti sing yang belum tidur. Menyapa hanya mencari penyakit.
"Selamat siang Pak." Seno langsung menyambut atasannya itu.
Fadlan berlalu begitu saja, merasa hal ini mengganjal, Seno mengekori Fadlan hingga ikut masuk ke dalam ruang kerja bos nya itu.
Terlihat Fadlan menghempaskan tubuhnya pada sofa empuk itu.
"Apa Qwenara Group dalam, Tuan?"
Fadlan menoleh kearah Seno. "Masalah apa?"
"Apa Tuan tidak memenangkan proyek dari Ohoana group?"
"Aku tidak memenangkan proyek hatiku!" jawab Fadlan geram. "Kenapa memenangkan hati seorang gadis tidak semudah memenangkan sebuah proyek!?"
"Ammm!" Seno terdiam, bagaimana bisa bijak memberi nasehat tentang cinta, saat ini saja dia masih berlebel jomblo.
"Aku permisi Tuan, mau cek jadwal Tuan." Seno perlahan undur diri dari ruangan Fadlan.
***
Di kediaman Elvina.
Hari masih siang, tapi motor butut itu sudah memasuki halaman rumahnya dari sisi samping.
"Mas," sapa El lembut.
Senyuman indah menghiasi wajah tampan itu. "Tadi aku izin pulang lebih awal pada bu Retna, terus aku ketemuan sama Ismi, lalu kami menemui Fidiya."
"Bagaimana keadaannya?"
"Tadinya mengkhawatirkan, sekarang agak lebih baik."
"Syukurlah ...."
"Fidiya beruntung, ditolong seorang laki-laki baik, namanya Fadlan."
"Fadlan?"
"Lebih baik kita bicara di dalam, gak baik di luar gini."
"Maaf mas, aku kaget lihat mas pulang cepat, aku kira mas dalam masalah."
Keduanya memasuki rumah itu. Fariz mengehmpaskan tubuhnya di sofa empuk itu.
"Ridwan memintaku mencari alamat Fidiya."
"Kasih saja, paling dia mau memasukkan alamat Fidiya supaya surat panggilan sidang cerai nanti mudah."
"Idih, hafal bener."
"Biasa, trio ular itu pasti merayu supaya Ridwan menceraikan Fidiya, lebih cepat lebih baik!"
"Iya, besok mas bicara dulu sama Fidiya dan Ismi."
"Setelah cerai, mungkin nanti di desak nikah lagi sama perempuan lain, dan kejadian lama terulang lagi, lagi, dan lagi, jika perempuan itu tidak seperti yang mereka mau."
"Kehidupan yang tragis." Fariz turut prihatin mengingat Ridwan yang masih dalam belenggu kebodohan.