"Jangan pernah Lo ikut campur dalam urusan gue!!" Alifa Zea Amanda~
"saya akan ikut campur. karena apa yang kamu lakukan itu salah!" ghibram Naufal Rizal~
Alifa, seorang mafia terjebak dalam pesantren demi memenuhi janjinya untuk nenek. ia selama disana tak tinggal diam. beberapa kali ia mencoba kabur, namun ada seorang Guz yang selalu menggagalkan rencananya.
seperti apa kisah lanjutan nya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alcanbery, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. chapter dua puluh lima
Jangan lupa vote, vote, dan vote.
Komen, like dan bintang...
Jangan lupa taruh di daftar bacaan, agar kalian tidak ketinggalan dengan cerita berikut nya.
Follow IG bunny @quensha_sha
______________________
Happy reading...
•
•
•
Disisi kamar Alifa.
Ada tiga sosok perempuan yang sangat tak suka dengan Alifa. Siapa lagi bukan Siska dkk? Yah, semenjak persidangan waktu itu membuat hidup mereka seakan-akan bagaikan penjara di pesantren.
Apalagi ditambah hukuman yang diberikan Abah pada Siska dkk membuat Siska dkk terkurung di pesantren. Mereka bertiga tidak diperbolehkan pulang, orang tua mereka dilarang untuk datang. Hanya boleh datang hanya untuk mengantar uang saja dan tidak diijinkan bertemu.
Setiap pagi, sore, dan malam bodyguard yang dikirim oleh Alifa akan menjaga dan mengecek keadaan mereka setiap waktu. Setelah itu, bodyguard itu akan membuat laporan dan memberikannya pada pihak pesantren. Hal itu sudah disetujui oleh kedua belah pihak.
Selain itu, Arnold telah mengurus keuangan untuk ganti rugi. Uang itu akan digunakan untuk perobatan Siska dkk.
"Alifa... Alifa... Alifa... Kenapa sih Alifa terus yang harus di sanjung-sanjung disini?!" Geram Maya dengan mata yang berapi-api dipenuhi dendam, amarah dan benci.
"Semenjak Alifa ada disini semua orang langsung mensanjung dirinya! Gue benci banget sama Alifa!" Geram Abel mengepalkan kedua tangannya.
"Lihat saja nanti Alifa... Gue berjanji akan membalas semua perbuatan Lo pada gue!" Ujar Siska dengan senyuman seringai.
***
Malam hari...
Sasa, diva dan zhara sedang menunggu Alifa yang sedang bersiap-siap didalam kamar mandi. Mereka bertiga sudah menunggu hampir 20 menit didepan toilet. Masih belum juga tanda-tanda Alifa akan keluar. Ditambah waktu mereka untuk pergi ke kelas tak lama lagi.
"Alifa, kamu udah selesai apa belum sih?" Teriakan Sasa.
"Belum!!!" Jawab Alifa.
"Ini udah 20 menit loh mbak. Nanti kita telah!" Sambung teriakan diva.
"Bentar!" Jawab Alifa.
Diva, zhara dan Siska geleng-geleng dengan sikap Alifa.
"Ya Allah... Cuma ganti seragam kenapa harus lama sekali?" Gumam Sasa.
"Bagaimana penampilan gue?" Ujar Alifa baru saja keluar dari toilet.
Seketika zhara, diva dan Sasa terpaku dihadapan Alifa. Mereka bertiga kompak membulatkan matanya tak percaya melihat sekujur tubuh Alifa dari atas sampai bawah.
"Sangat sulit dipercaya..." Gumam zhara menutup mulutnya sendiri.
"Kamu sangat cantik banget mbak." Ujar diva.
"Wow, 20 menit kami menunggu kamu ternyata tak sia-sia juga yah." Kekeh Sasa membuat teman-teman ikut tertawa, kecuali Alifa.
Alifa menatap datar kearah mereka. "Sudah tawanya?" Tanya nya ketus, jutek dan datar.
"Iya iya, maaf mbak. Kami tadi terbawa suasana saja." Ujar diva menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ya udah ayo kita berangkat. Nanti keburu telat loh." Ujar Sasa.
Mereka bersama-sama beranjak pergi. Disepanjang perjalanan Alifa terus-menerus mengeluh untuk minta ganti baju. Namun, ketiga temannya berusaha untuk membujuk Alifa sebisa mungkin agar tidak mengganti pakaiannya.
"Sumpah yah... Seragam ini ngak enak banget. Gue kayak mak-mak habis ngelahirin." Kesal Alifa.
Diva, zhara dan Sasa berusaha menahan tawa sejak tadi akibat keluhan yang dilontarkan Alifa.
"Awalnya juga gitu mbak. Tenang saja nanti mbak juga terbiasa." Ujar diva.
Alifa memutar bola matanya jengah.
***
Tok... Tok... Tok...
"Assalamualaikum..." Sapa Alifa dkk.
"Wa'alaikum salam..." Jawab umi.
"Maaf umi, kami sedikit terlambat." Ujar Sasa melirik kearah Alifa.
Umi terkekeh dengan penurunan Alifa. Sedangkan Alifa? Ia lebih memilih bersikap biasa saja.
"Tidak apa-apa. Mari masuk." Ujar umi mempersilahkan mereka masuk.
Seketika suasana menjadi hening. Yang awalnya banyak anak laki-laki mengantuk, seketika mata mereka terbuka lebar. Pesona Alifa malam ini sangat lah cantik. Walaupun sudah ada pembatasan, banyak santri laki-laki ngotot untuk bisa memandangi wajah Alifa.
'canti sekali Alifa..." Gumam Zee terpana.
"ya Allah... Saya baru tahu Alifa secantik ini." Gumam Gilang langsung mendapatkan cubitan dari elang.
"Aduh..."
"Jangan lihat adek gue kayak gitu!" Ketus elang.
"Astagfirullah elang, jangan buat saya terkejut mulu sih." Ujar Gilang.
"Lagian ngapain Lo liat-liat adik gue? Lo naksir?" Selidik elang.
Dengan secepat kilat Gilang menggeleng kepala. "Tidak kok. Itu tidak benar."
Elang mendapatkan ide cerdik didalam otaknya untuk menjahili Gilang.
"Ngaku saja. Nanti gue bantu Lo untuk mengutarakan isi hati Lo." Ejek elang.
Pipi Gilang merah merona seperti tomat. Melihat ekspresi Gilang membuat elang tak kuasa menahan tawanya.
Gus Rizal menepuk jidatnya sendiri melihat pertengahan antara elang dan Gilang.
***
15 menit umi menerangkan tentang bab puasa. 15 menit pula Alifa sudah mulai merasa bosan. Telinganya memang mendengarkan penjelasan umi, tapi tangannya menggambarkan hal tak jelas didalam buku.
"Kham... Alifa..." Ujar umi tiba-tiba sudah ada dihadapan Alifa.
"Iya umi." Jawab Alifa.
"Kenapa kamu, nak?" Tanya umi. "Apa kamu sakit?" Tanya umi lagi.
Alifa tidak menjawab pertanyaan umi. Alifa mengalihkan pandangan matanya kearah lain.
'umi tahu pasti kamu sangat sedih. Umi bisa melihat kesedihan yang ada didalam hati mu.' batin umi.
"Baiklah tidak apa-apa kalo kamu tak mau jawab. Umi mengerti kok." Ujar umi mengusap kepala Alifa.
Alifa tertegun. "Umi..." Gumam Alifa.
"Kamu pergilah ke kamar. Istirahat lah yah..." Saran umi.
"Sasa tolong antar kan Alifa ke kamar." Ujar umi mendapatkan anggukan kepala dari Sasa.
"Tidak perlu umi. Alifa bisa sendiri." Ujar Alifa beranjak dari kursinya.
"Tapi, nak..."
"Alifa butuh sendiri." Ujar Alifa melangkahkan kakinya pergi dari kelas.
***
Elang dan Gus Rizal merasakan hal yang tidak enak pada diri Alifa. Apalagi raut wajah Alifa telah menunjukkan bukti pada mereka berdua.
'apa yang sedang Lo pikiran, Alifa?' batin elang.
'pasti ada sesuatu yang terjadi pada Manda. Tapi, apa?' batin Gus Rizal
***
Taman pesantren
Duer...
Suara petir yang bercampur dengan rintihan air hujan berjatuhan mengguyur Alifa. Seakan-akan hujan merasakan kesedihan yang sama dialami Alifa.
Sekujur tubuh Alifa basah kuyup akibat hujan.
"Ikhik... Ikhik... Ikhik..." Alifa menumpahkan semua kesedihan nya dengan menangis bercampur air hujan.
"Mama, Alifa rindu dengan mama."
"Mama, Reza, kalian kenapa ninggalin Alifa sendiri?"
"Semuanya meninggalkan Alifa seorang diri."
"Papah juga sama. Demi wanita licik itu dia terus memaksa diriku untuk menikah."
"Apa aku ini bukan putri mereka?"
"Mama dan papa sudah bahagia bersama orang yang mereka cintai. Lalu, bagaimana dengan diriku?"
"Ikhik... Ikhik... Ikhik... Ya Allah, kenapa juga kamu kembalikan aku kedua ini?"
"Kenapa kamu tidak membuatku tertidur koma saja ya Allah..."
"Ikhik..."
"Ikhik... Alifa kesepian disini." Alifa terduduk lemas di tengah hujan lebar.