Menikah karena kemauan sendiri dan dengan pilihan sendiri tidak selamanya berbuah kebahagiaan.
Benazir adalah buktinya.
Menikah selama beberapa tahun dengan pria yang berusaha diperjuangkannya, malah menimbulkan luka dan kecewa berkepanjangan. Suaminya bahkan menganggapnya istri yang memalukan dan tak pantas dihargai.
Haruskah Benazir bertahan atau pergi.
Kisah ini akan sedikit menguras air mata.
Berminat ?
ikuti kisahnya yuk...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25 ( Giliran Gama )
Menyadari tatapan Benazir pada sepasang pengantin itu membuat Bakri, ayah Kayla pun menepuk pundak Benazir dengan lembut. Ia mengerti bagaimana perasaan Benazir.
" Gapapa Nak. Masamu akan tiba juga nanti. Yang sabar ya, Kamu kan masih muda. Masih banyak kesempatan meraih kebahagiaanmu yang tertunda itu nanti...," kata Bakri bijak.
" Iya Om. Aku tau, makasih...," sahut Benazir malu.
" Jangan panggil Om dong. Panggil Papa Mama aja, sama kaya Kayla...," pinta Habibah sambil mencubit pipi Benazir gemas.
Benazir melirik kearah Suci dan mendapat anggukan dari sang ibu. Benazir pun tersenyum lalu mengiyakan permintaan Habibah tadi.
" Ok Mama...," sahut Benazir sambil tersenyum.
Mendengar panggilan Benazir untuknya membuat Habibah terharu. Ia memeluk Benazir dengan sayang. Sejak mengenal keluarga Darma, yang menjadi fokus perhatiannya adalah Benazir. Entah mengapa saat itu Habibah begitu ingin memeluk Benazir. Padahal Kayla sudah mengatakan bahwa Benazir adalah adik tiri Darma. Usia Benazir yang terpaut dua tahun di bawah Kayla membuat Habibah sangat senang melihat kehadiran Benazir.
" Kita kaya punya Anak perempuan lagi ya Pa...," kata Habibah dengan wajah terharu.
" Iya Ma...," sahut Bakri sambil mengelus rambut Benazir dengan sayang.
Suci beserta anak dan menantunya hanya menatap sambil tersenyum kearah besannya yang sedang memeluk Benazir.
" Benazku memang selalu bisa membuat orang jatuh hati...," batin Suci bangga.
Dan akhirnya semua memilih kembali ke rumah masing-masing. Mereka berpisah di depan gedung tempat resepsi digelar.
" Jangan lupa main ke rumah Mama ya Nak...," pesan Habibah sebelum masuk ke dalam mobil.
" Iya, insya Allah Aku main nanti sama Kak Gama ya Ma...," sahut Benazir yang diangguki oleh Gama.
" Ok, Mama tunggu lho. Gama, jangan lupa ya...," kata Habibah.
" Beres Ma...," sahut Gama sambil tersenyum.
Mereka berpisah dan saling melambaikan tangan. Dan tak lama kemudian keluarga Suci pun berlalu meninggalkan tempat itu.
\=\=\=\=\=
Seperti janjinya, Gama mengenalkan calon istrinya kepada keluarganya setelah seminggu resepsi pernikahan Darma digelar.
Gama sengaja mengundang keluarganya datang ke sebuah restoran untuk bertemu dengan wanita pilihannya itu.
" Kenapa ga di rumah aja sih Nak...," keluh Suci yang masih kesulitan berjalan jauh.
" Gapapa Bu. Biar beda suasana aja sama Kak Awan dan Kak Darma...," sahut Gama.
" Tapi Ibu masih pake tongkat kaya gini, emangnya Kamu ga malu sama calonmu itu...?" tanya Suci.
" Ga lah. Ngapain malu. Justru biar dia tau realnya keluarga Kita tuh kaya gimana. Jadi ga kaget waktu nikah nanti. Jangan sampe baru tau jeleknya setelah nikah nanti, wah ga banget deh Bu...," sahut Gama tanpa bermaksud menyindir Benazir.
" Iya, Kak Gama benar Bu. Jangan sampe kaya Aku, tau jeleknya pas nikah. Rasa sakitnya tuh di sini Bu...," gurau Benazir sambil menepuk dadanya berkali-kali dan membuat semua orang yang mendengarnya pun tertawa.
" Tapi jangan takut Naz. Insya Allah nanti Kamu pasti dapat yang jauh lebih baik dari mantanmu itu...," hibur Kayla sambil mengelus punggung Benazir.
" Aamiin. Makasih doanya ya Kak Kayla...," kata Benazir dengan mimik wajah lucu.
" Udah, kapan berangkatnya nih...," protes Gama saat melihat keluarganya masih sibuk bergurau.
" Sekarang dong, ga sabar amat. Apa karena sekarang giliran Kamu ya jadi ga sabaran...," sahut Darma sambil tertawa.
" Ck, Kalian tuh kebiasaan deh. Kalo udah ngumpul tuh bisa sampe lupa niat awal...," gerutu Gama sambil membuka pintu mobil lalu duduk di belakang kemudi.
Semua tertawa mendengar ucapan Gama. Lalu mereka masuk ke dalam mobil. Darma bersama Kayla, Suci dan Benazir. Sedangkan Awan bersama Yanti dan Aqila duduk di dalam mobil yang dikendarai Gama. Mereka pun melaju menuju restoran yang sudah lebih dulu dibooking oleh Gama.
Saat tiba di restoran yang dimaksud, Gama membawa keluarganya duduk di tempat yang telah ditentukan. Sambil menunggu sang calon anggota keluarga baru, mereka mulai sibuk memesan makan malam.
Tiba-tiba ponsel Gama berdering. Terlihat wajahnya yang tersenyum saat tahu siapa yang telah menghubunginya.
" Oh, udah sampe. Ya udah, Aku ke sana. Tunggu bentar ya...," kata Gama sambil melangkah keluar.
Tak lama kemudian Gama kembali dengan menggandemg tangan seorang wanita cantik yang sudah sangat dikenali oleh keluarga Suci.
" Ehm, perhatian semuanya. Ini kenalin calon Istri Aku...," kata Gama sambil tersenyum.
" Andini...?!" kata semua orang terkejut.
" Iya. Hallo semuanya, selamat malam Tante...," sapa Andini ramah.
" Jadi Kamu calon Istrinya Gama. Kok mau sih...?" tanya Awan sambil menjabat tangan Andini ramah.
" Apaan sih Kakak ini. Emangnya Aku kenapa, ga pantes ya sama Andini...?!" kata Gama kesal.
Semua pun tertawa mendengar ucapan Gama. Lalu mereka mengikuti Awan yang menyambut kedatangan Andini dengan jabat tangan dan senyuman. Andini mendatangi mereka satu per satu sambil terus tersenyum.
" Duduk lah Nak...," pinta Suci sambil tersenyum.
Suci merasa terkecoh akan sikap tertutup Gama selama ini. Ternyata calon istri putra bungsunya adalah tetangga mereka sendiri. Apalagi rumah orang tua Andini berdekatan dengan rumah mereka.
" Dasar Anak nakal. Kalo Andini orangnya, ga perlu jauh-jauh ke sini kan ngenalinnya. Di rumah juga bisa. Wong rumahnya tinggal loncat aja kok...," gurau Suci sambil menggelengkan kepalanya.
" Ah, Ibu ini gimana sih. Ga seru lah Bu kalo kaya gitu. Kalo kaya gini kan seru, soalnya Kalian kan ga akan nyangka kalo Aku sama Andini udah lama menjalin hubungan serius. Iya kan Sayang...," kata Gama sambil memeluk pinggang Andini.
" Iya Mas...," sahut Andini cepat.
Suasana kembali riuh mendengar panggilan Gama untuk Andini tadi.
" Wah Kita yang penganten baru aja kalah romantis sama Gama dan Andini. Gimana nih Sayang...," kata Darma sambil menatap Kayla.
" Ya gapapa dong Mas. Tapi kan mereka beda sama Kita...," sahut Kayla.
" Oh iya. Kamu benar juga. Kalo mereka romantis tapi belum bisa ngapa-ngapain. Beda sama Kita, mau romantis bisa lanjut ke tempat tidur...," kata Darma sambil tertawa.
Tapi tawa itu tiba-tiba lenyap karena cubitan pedas Kayla di pinggang Darma.
" Aww, Sayang kok nyubit sih...?" tanya Darma sambil mengusap pinggangnya yang terasa panas.
" Bodo amat. Lagian Kamu ngomong kaya gitu ga pake difilter sih...," gerutu Kayla dengan wajah merah.
" Maaf Sayang...," kata Darma berusaha membujuk Kayla yang nampak enggan memaafkannya.
Perdebatan Darma dan Kayla membuat semua orang tertawa. Melihat sang istri masih ngambek, Darma pun berinisiatif mendekati Kayla dan membisikkan sesuatu di telinganya.
Ajaib. Setelah mendengar ucapan Darma, Kayla pun nampak melunak dan mau kembali tersenyum meski pun terpaksa.
" Wah ada kalimat rahasia nih kayanya...," kata Yanti usil.
" Kayanya sih gitu Kak. Buktinya Kak Kayla langsung melempem kaya krupuk kena air setelah denger Kak Darma bisikin sesuatu tadi...," sahut Benazir sambil menahan tawa.
Walau tak jelas apa yang diucapkan Darma tadi, buat Kayla itu adalah sebuah ancaman yang bisa sewaktu-waktu dibuktikan oleh Darma. Dan Kayla tak mau itu terjadi, apalagi di hadapan keluarga besar suaminya itu.
\=\=\=\=\=