Kedatangan tamu dari masa lalu telah memicu memori itu muncul kembali.
Ini adalah sebuah pilihan antara dia yang selalu ada atau dia yang selama ini diinginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mhmmdrzcky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Scene 23
Setelah perbincangan kami selesai aku langsung pulang ke apartemen. aku merasa tidak berguna setelah mendengarkan penjelasannya tadi. Ternyata semuanya sudah Taka rancang.
Ah. Walau pun kau sudah tidak ada tapi kau sangat menyebalkan
Kupikir ini murni hasil dari tanganku sendiri, ternyata ada seorang Taka yang mendorongku diam-diam dari belakang. ‘Terima kasih’ saja tidak akan cukup untuk membalas semua kebaikanmu. Aku juga sudah tidak bisa langsung membalas kebaikanmu, sebagai gantinya aku akan menjaga Chinatsu, Suki, Jam tangan, dan keluargamu. Aku juga akan sering mengunjungi makammu.
Menangis. Itulah yang sekarang kulakukan, tapi ini bukan tangis yang membuatku terpuruk seperti kemari.
Tangisan ketika mengenang dirimu dan jasamu ini apa kau bisa mendengarnya di sana Taka? Jangan tertawakan aku ya
Aku sudah mengetahui apa yang selama ini kau sembunyikan darinya. Kini waktunya menanyakan masa lalu Taka bersama Chinatsu.
“Chinatsu kau disana?”* Aku langsung menghubunginya setelah tangisanku reda.
“Ya ada apa kau menghubungiku? Ini pertama kalinya kau menghubungiku. Kau tidak sedang bersama pacarmu kan?”*
“Tidak. Sebelumnya maaf aku menghubungimu selarut ini, ada yang ingin aku tanyakan”*
“Mengenai Taka?”*
“Hm”
“Datanglah ke apartemenku setelah kau selesai bekerja”*
“Baiklah”*
“Aku akan mengirim alamatku”*
“Terima kasih. Sampai besok”*
Seperti yang diminta oleh Chinatsu aku datang ke apartemennya. Setelah tiba aku disambut oleh kehangatan darinya. Jujur saja aku juga merasa nyaman di dekatnya.
“Kopi atau teh?”*
“Teh saja”*
Chinatsu kemudian membawa cemilan dan teh untuk menemaki pembicaraan kami yang akan segera dimulai.
“Apa yang ingin kau tanyakan?”*
“Jam tangan ini”*
“Oh itu adalah peninggalan ayahnya yang telah meninggal sejak lama. Kau pasti sudah mendapat penjalasan dari Taka kan? Tapi aku tak menyangka kalau orang itu adalah kau. Akan kujelaskan lagi.
Saat aku melihatnya memakai jam tangan itu ia bilang ‘kau memperhatikan jam tangan ini ya? Alasanku memakai jam ini karena kontrakku bersama dunia ini akan segera berakhir. Rencanaku adalah jika masaku akan segera berakhir, aku akan memakai jam tangan ini lalu mewariskannya kepada seseorang, jadi aku akan memakai jam ini sampai akhir kontrak lalu mewariskannya seperti yang ayahku lakukan. Kuharap orang ini akan bisa hidup bahagia dan bisa membahagiakanmu’ Begitulah katanya”*
“Aku akan melanjutkan pertanyaanku kumohon untuk menahannya sedikit lagi”*
“Baiklah silahkan lanjutkan”*
“Kau pernah mencintai Taka?”*
Chinatsu terkejut dengan pertanyaanku tapi kemudian dia menjawabnya.
“Pernah”*
“Lalu kau memendam rasa itu?”*
“Aku tidak memendamnya Angkasa. Aku membuangnya”*
“Kenapa?”* kini akulah yang dibuatnya terkejut.
“Pada saat itu kami sedang pergi ke pantai. Aku, Sasaki, Taka, dan beberapa teman lainnya. Pada saat kami sedang bersenang-senang di pantai, menyalakan kembang api sambil memanggang BBQ… Taka pingsan. Semuanya menjadi panik. Kami membawanya ke rumah sakit terdekat. Teman-teman yang lain pergi ke penginapan sementara itu aku dalam perjalanan menuju ruangannya Taka untuk mengambil barangku yang ketinggalan. Saat tiba di depan pintu ruangan, aku mendengar percakapan Taka dan Sasaki yang membicarakan tentang penyakit mematikan yang diderita Taka”*
“Apa yang kau lakukan?”*
“Aku terkejut dan lari keluar rumah sakit. Di titik itu aku sudah mulai sedikit mencintai Taka tapi setelah mendengar itu aku menjadi bimbang. Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus ku katakan ketika menghadapinya? Wajah seperti apa yang harus kupasang? Aku sungguh tak bisa menentukan”*
Aku hanya diam untuk membiarkannya melanjutkan cerita.
“Ke esokan harinya Taka memaksakan diri untuk datang ke penginapan lalu berpamitan, Sasaki juga ikut pamit untuk menemani Taka. Taka memberikan alasan kalau ibunya menyuruh dia untuk pulang karena akan ada kerabatnya yang datang. Saat itu aku hanya diam. Lalu pada saat di atap sekolah taka berkata seperti ini padakau ‘Kau mengetahui penyakitku ya? Tenang saja aku tidak akan mati dalam waktu dekat. Kau mencintaiku? Jika kau tidak ingin kesepian di kemudian hari, buanglah rasa cintamu itu, aku tidak apa meski cintaku bertepuk sebelah tangan. Tapi jika kau ingin meneruskan rasa itu, aku akan sangat bahagia sekali. Akan kuserahkan sisa hidupku padamu’ begitulah katanya.
Romantis sekali bukan? Dia mengorbankan dirinya demi aku yang memilih untuk membuang rasa itu karena tidak ingin merasakan kepedihan yang mendalam”* Suaranya yang terdengar lirih
“Apa kau menyesalinya pilihanmu?”*
“Tidak. Aku tetap bahagia dengannya. Yang kusesali adalah aku tidak pernah tahu apa isi hatinya dan pikiran si bodoh itu. Ia selalu tersenyum sehat atau sakit, bahagia atau sedih, mudah atau sulit. Senyum bodohnya itu membuatku tidak bisa melupakannya”*
“Lalu kenapa kau sempat menghilang darinya?”*
“Aku ingin merubah diriku menjadi wanita yang sangat cantik lalu membuatnya terkejut, aku ingin Taka melihatku sukses. Setelah aku siap lalu aku muncul lagi di hadapannya dan ingin menjadi wanita tercantik yang pernah ia lihat.
Saat aku sudah menjadi cantik, aku muncul lagi di hadapannya tanpa peringatan. Aku juga mengajaknya liburan ke pantai hanya kami bertiga. Tapi saat aku memberikannya ia bilang sudah tidak memungkinkan bagi dirinya untuk pergi ke pantai. Kondisi tubuhnya sudah lemah sekali, ia sedang sekarat. Aku mengutamakan egoku untuk tampil maksimal didepannya. Ternyata waktu Taka sudah tinggal sedikit ketika aku muncul lagi di hadapannya, dengan kata lain ia sudah sekarat. Aku tidak tahu akan secepat itu, kupikir masih ada waktu beberapa tahun lagi, ternyata tidak. Jika tahu ini akan terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkannya” Tangisnya kemudian pecah.
Tanpa pikir panjang aku langsung memeluk tubuhnya. Air matanya membasahi kemejaku, Air mata yang keluar karena aku membuatnya mengungkit masa lalunya dengan Taka.
Pantas Taka tidak ingin bepergian jauh mungkin penyakitnya sudah mulai kambuh dan masih merahasiakannya dari aku dan Suki. Namun pada saat ia sakit Suki malah datang ke apartemennya, alhasil ia tidak bisa menyembunyikannya lagi.
“Chinatsu, mulai sekarang aku akan menjagamu”*
“Aku kesepian, Hatiku hancur. Saat di rumah sakit ia berjanji akan kembali pada kami. Ia menginkari janjinya, senyum yang ia tampilkan saat akan menjalani operasi adalah senyuman terakhirnya. Aku juga tahu ia takkan berhasil tapi aku masih berharap, apakah aku salah Angkasa? Aku juga menyesal, aku akui aku sangat menyesal. Aku membuat pilihan yang salah ya Angkasa. Tak bisakah aku mengulang waktu? Meski pun sebentar aku ingin menemaninya sampai hembusan napas terakhirnya.”*
Aku hanya bisa memeluknya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tangis, aku menahan tangis agar kami tidak terlarut dalam kesedihan.
Chinatsu menangis sampai membuatnya lelah. Aku membaringkannya di tempat tidur, lalu menyuruhnya untuk tidur. Chinatsu memintaku untuk tetap tinggal dan menggenggam tangannya sampai ia tertidur.
Setelah tertidur Chinatsu masih sempat memikirkan Taka, lalu mengigau ‘Taka jangan pergi.’
Ia pasti lelah berpura-pura, sekarang ia sudah menumpahkan semuanya kuharap ia bisa sedikit merasa lega.
semangat kaka
mampir ceritaku juga ya 🙏
Rocky hadir disini bawa Like 😊😊
aah angkasa kok kamu mengkhianati ayako sih 😭😭😭
first impression : sukak 😍
semangat 💪💪