Mencintai dan dicintai, memang menjadi harapan bagi setiap orang. Namun, bagi seorang Alexander Matthew harus selalu bisa dengan bijak untuk menyikapinya.
Hal yang paling sulit bagi Alex dalam mencintai yaitu memulainya. Terutama untuk membuka kembali hatinya setelah membereskan yang lama.
Pada akhirnya, hanya tiga hal yang berarti dalam hidup Alex yaitu seberapa banyak dia mencintai, seberapa lembut dia menjalani hidup, dan seberapa ikhlas dia melepaskan sesuatu yang tidak dimaksudkan untuknya.
Kini hati Alex pun berakhir pada satu wanita yang mampu membuat dia hanya ingin hidup bersamanya untuk selamanya.
"Meski banyak wanita di luar sana yang lebih baik, lebih cantik mungkin, atau lebih sexy, aku tidak peduli! Bagiku, hanya kamu wanita satu-satunya yang terbaik dari semua wanita di luar sana, dan hanya denganmu, aku ingin menghabiskan sisa hidupku!"
"Dasar gombal! Sejak kapan Tuan Muda sepertimu bisa berkata semanis ini?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intanpermata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBW #25
Saat jam makan siang, karena pekerjaannya masih menumpuk, Alex tidak keluar untuk makan siang. Ia menyuruh sekretarisnya memesankan makanan untuknya.
Meraih ponselnya yang ia letakkan diatas meja. Ia melihat nama-nama didaftar kontaknya karena ingin sekali menghubungi Amanda. Namun saat menatap nomor Amanda yang tertera didaftar kontaknya, ibu jarinya menggantung di udara dan ia merasa sulit kalau harus menghubungi Amanda. Ia mengurungkan niatnya untuk menghubunginya lalu meletakkan kembali ponselnya dimeja.
Namun Alex merasa gelisah kalau belum mengetahui kabar dari Amanda. Entak kenapa belakangan ini, lebih tepatnya setelah ia menyentuh dan mencium Amanda, Alex merasa kalau bayangan Amanda selalu saja mengikutinya kemanapun dan saat ia melakukan apapun itu.
Bahkan saat tidur pun, Amanda selalu muncul dalam mimpinya.
Alex meraih ponselnya kembali dan kini ia benar-benar menghungi Amanda. Sebelumnya, ia hanya mengirim pesan singkat saja, namun kali ini ia ingin langsung mendengar suara Amanda.
"Tidak diangkat? Sedang apa dia?" Gumam Alex yang semakin merasa cemas dan gelisah sekaligus kesal kemudian ia menghubungi Dion.
"Sedang apa dia?" Tanya Alex langsung pada intinya membuat Dion terdiam sejenak kemudian baru menjawab pertanyaan Alex.
"...."
Alex menghela nafas lega kemudian ia tersenyum dan meletakkan ponselnya kwmbali dimeja setelah mengakhiri panggilan teleponnya kepada Dion.
Tak lama sekretarisnya datang dengan mengantar makanan untuk Alex. "Terimakasih!" Ucap Alex kepada Snadra kemudian Sandra segera pamit keluar karena ia juga harus mengisi perutnya.
Ponsel Alex bergetar dan berdering disaat Alex sedang makan. Ia tidak menghiraukannya karena sedang fokus pada makanannya.
***
Amanda yang baru saja berziarah dimakam ayahnya ditemani ketiga sahabatnya, ia merasa aneh juga gelisah. Kenapa tidak diangkat sih? Lalu kenapa tadi Tuan Alex menelponku?
Ucap Amanda dalam hati karena Alez tidak menjawab telepon.
Mungkin dia sedang sibuk saat ini! Lanjutnya dalam hati.
"Manda! Ada apa?" Tanya Meli yang melihat Amanda gelisah.
"Ah..emm..nggak kok Mel, nggak apa-apa! Ayo kita pergi!" Jawab Amanda kemudian mengajak para sahabatnya pergi meninggalkan tempat pemakaman umum.
Amanda berpamitan untuk pulang lebih dulu dan menolak untuk diantar oleh Riana. Mengingat kalau Alex tidak menyukai orang asing datang ke Villanya, jadi Amanda membuat alasan untuk menolak tawaran Riana.
Amanda berjalan hingga ujung jalan dan Dion yang terus mengikuti Amanda secara diam-diam pun turun dari mobilnya dan menghampirinya Amanda yang sedang berjalan.
"Nona!" Seru Dion membuat Amanda menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Ya? Apa anda memanggilku?" Tanya Amanda merasa bingung dan perlahan berjalan mundur karena ia merasa takut dengan kejadian malam kemarin saat berkenalan dengan orang asing yang ternyata ingin memperkosanya.
"Eeh, jangan mendekat!" Pekik Amanda dengan wajah panik.
"Nona, jangan takut! Aku diperintahkan Bos Alex untuk menjemputmu!" Ucap Dion dengan menghentikan langkahnya karena melihat wajah ketakutan Amanda.
"Hah? Kamu bilang apa tadi?" Tanya Amanda untuk memastikan.
"Ya Nona! Aku diperintahkan Bos Alex..emm maksudku Tuan Muda Alex yang menyuruhku untuk menjemputmu!" Jawab Dion menjelaskan kepada Amanda.
Amanda masih tidak percaya dengan Dion. Dan ia masih berdiri diam dan terus menatap Dion dengan tetapan menyelidik.
"Kalau kamu tidak percaya, aku akan menghubungi Bos Alex." Lanjut Dion sambil merogoh saku celananya kemudian menghubungi Alex. Namun, nomor Alex sedang sibuk.
Ponsel Amanda bergetar dan berdering. Ia segera merogoh tasnya dan mengambil ponselnya. Tuan Alex!
Amanda langsung mengangkat panggilan telepon dari Tuan Alex. "Hallo Tuan, aku..."
Amanda terdiam karena Alex langsung memotong ucapannya. Amanda kemudian menoleh dan menatap Dion.
"Oh, baiklah Tuan, terimakasih banyak ya?" Ucap Amanda sambil menghela nafasnya merasa lega dan tidak lagi merasa takut setelah Alex menghubunginya dan mengatakan kalau dia menyuruh Dion untuk menjemputnya.
Setelah mengakhiri panggilan teleponnya, Amanda pun mengikuti Dion menuju mobil. Dion membukakan pintu untuknya dan Amanda merasa sangat cangkung diperlakukan sepeti putri raja. Tapi ia hanya bisa diam dan masuk kedalam mobil.
Dion segera masuk dibagian kemudi dan mengatakan mesin mobilnya kemudian melakukannya dengan kecepatan sedang menuju Villa.
Aku merasa kalau Tuan Alex sangat berlebihan memperlakukanku seperti ini.
Ucap Amanda dalam hati merasa ada yang aneh dengan sikap Alex yang selalu baik dan lembut kepadanya.
***
Malam harinya selesai makan malam, Amanda membantu Bi Salma membereskan meja makan. Malam ini Alex belum pulang karena masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Jadi Amanda hanya makan malam berdua dengan Bi Salma.
"Bi, apa Tuan Alex sering pulang larut malam?" Tanya Amanda sambil mencuci piring.
"Iya Non. Tuan Alex memang selalu sibuk dengan pekerjaannya bahkan jarang pulang. Tapi semenjak kamu ada disini, Tuan Alex selalu pulang!" Jawab Bi Salma sambil mengelap piring yang telah dicuci Amanda lalu meletakkannya dilaci tempat penyimpanan piring.
"Kenapa begitu Bi?" Tanya Amanda yang semakin merasa penasaran dengan sikap Alex kepadanya.
"Itu karena Tuan Alex menyukaimu. Kamu ini masih saja tidak peka!" Jawab Bi Salma sambil mencolek hidung Amanda membuat Amanda merasakan sesuatu yang aneh didalam hatinya.
Tiba-tiba jantungnya berdegub dengan kencang dan ia teringat saat Alex menciumnya. Apa benar kalau Tuan Alex menyukaiku? Tapi, ini sulit dipercaya!
Gumam Amanda dalam hati.
"Non!" Bi Salma menepuk pelan lengan Amanda dan seketika Amanda tersadar dari lamunannya.
"Hah? Ya Bi?" Amanda mengerjap dan menatap Bi Salma dengan bingung.
"Itu kran airnya dimatikan dulu! Kamu pasti sedang memikirkan Tuan Muda kan?" Tanya Bi Salma membuat wajah Amanda langsung merona karena malu.
"Ah Bibi ini ada-ada saja! Mana mungkin berani aku memikirkan Tuan Alex Bi!" Jawab Amanda sambil mematikan kran air kemudian menghindari tatapan Bi Salma yang seolah sedang menyelidiki pencuri.
"Tidak usah malu begitu Non! Bibi senang kalau seandainya kamu dan Tuan Alex memiliki perasaan yang sama! Bibi adalah orang pertama yang akan mendukung kalian!" Ucap Bibi membuat Amanda semakin merona dan wajahnya memanas dengan jantung yang juga semakin berdegub kencang.
"Aah Bibi ini ada-ada saja, sudah ya Bi, aku mau kekamar dulu karena harus mengerjakan tugas kuliah. Malam Bi!" Ucap Amandan dengan cepat kemudian segera pergi meninggalkan Bi Salma berlari menuju kamarnya.
Sesampainya dikamar, Amanda menutup pintunya dan menghela nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan untuk mengatur detak jantungnya.
"Huffff! Kenapa aku selalu deg-degkan gini sih kalau mendengar atau menyebut nama Tuan Alex? Apa aku emang udah jatuh cinta kepadanya?" Gumam Amanda sambil menyentuh dadanya merasakan detak jantungnya yang masih tidak beraturan.
"Oh Manda! Kamu jangan bodoh seperti ini! Mana mungkin seorang Alexander Matthew menyukaimu!" Lanjutnya sambil menjambak rambutnya sendiri merasa frustrasi memikirkan perasaan yang tidak mungkin ia rasakan terhadap Alex.
"Hufff! Sebaiknya aku mengerjakan tugas kuliahku aja!" Ucap Amanda dengan membuang nafasnya kasar kemudian segera berjalan menuju meja belajarnya dan segera mengerjakan tugas kuliahnya.
...*****...