NovelToon NovelToon
Pilih Aku, Aruna...

Pilih Aku, Aruna...

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Romansa Modern / Tamat
Popularitas:591.3k
Nilai: 5
Nama Author: HeniNurr

Aruna melangkah semakin jauh, meninggalkan segala harapan Nuno yang sudah di pupuknya sedari dulu, hilang dan pupus seketika.

Pencarian cinta yang semula terbayang manis, menyisakan pahit bak setetes empedu dalam sebelanga susu. Status Aruna sebagai istri seorang pengusaha bernama Aryo, tidak menjadikan rumah tangganya hidup dalam gelimang kebahagiaan. Pengkhianatan akan kesetiaan tak ubahnya pakaian yang harus ia ganti setiap hari.

Nuno melakukan berbagai cara untuk mendapatkan cinta Aruna, menarik gadis impiannya itu dari hitamnya lumpur penderitaan, sedangkan keadaan memaksa dirinya untuk bertunangan dengan Manda, wanita yang memendam harap bahwa Nuno akan membalas cintanya yang begitu tulus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menghindar

Suara pria yang mendayu mengusik pendengarannya yang terlalu lama menutup, terasa dekat dan lambat laut semakin jelas.

Seketika mata Aruna terbuka, denyutan itu kembali terasa. Aruna mengerang, meraba kepalanya yang terasa akan pecah, berputar-putar bagai bola pingpong yang menggelinding.

"Arun, kamu sudah sadar, mana yang sakit?"

Nada khawatir itu menyergap kedua matanya untuk kembali terbuka, menyibak lembaran waktu yang dilalui tanpa kesadaran.

"Apa kepalamu sakit?"

Genggaman tangan yang hangat membangunkan penuh kesadarannya yang masih dia coba kumpulkan secara perlahan.

"Nuno...."

"Tadi kamu pingsan, aku langsung membawamu ke Rumah Sakit."

Aruna menatap wajah Nuno yang begitu dekat dengannya, beralih menyusur seluruh ruangan yang didominasi warna putih, kecuali dengan pakaian yang digunakannya sekarang.

"Baju mu basah, suster yang menggantinya dengan baju pasien." Tuturnya memberi penjelasan agar Aruna tidak salah paham.

"Minum dulu, kamu pingsan hampir lima jam." Nuno memberikan segelas air dengan mengarahkan sedotan panjang ke bibir Aruna yang kering.

"Lima jam?" Lirihnya tak percaya.

"Minum dulu..... kata Dokter kamu harus banyak minum, tekanan darahmu rendah, jadi kamu harus banyak makan dan istirahat."

"Maaf aku sudah merepotkan mu." Ucapnya setelah berhasil menyesap minuman tak berasa yang membasahi kerongkongannya yang kering.

Nuno tersenyum lega, tubuh Aruna lebih kuat dari apa yang dia bayangkan,"Makan dulu ya, kamu butuh tenaga walau sekedar untuk berbicara."

"Nanti saja." Aruna berusaha duduk bersandar, dan dengan cekatan Nuno membantunya tanpa diminta.

"Terima kasih." Tubuhnya terasa lebih baik karena bantuan selang infus yang sudah menancap di bagian tangan kirinya saat ini.

"Setidaknya kamu makan walau sedikit, aku nggak mau disalahkan Pak Aryo bila tidak menjaga mu dengan baik."

"Kamu memberitahunya?

"Iya, barusan aku menelepon sekretaris ku untuk menghubungi Pak...."

"Kenapa kamu menghubunginya?" Potong Aruna dengan nada tinggi. Nama Aryo menjadi tamparan keras yang membangunkannya dari mimpi indah yang ingin dia gapai, harus kembali ke kehidupan nyata bahwa keindahan itu tidak akan bisa dia rasakan.

Nuno terkesiap, tak menyangka Aruna akan memberikan respon sekeras ini.

"Maaf, aku tidak bermaksud berbicara keras kepadamu." Ditundukannya kepala, menghindari tatapan Nuno yang menatapnya dengan curiga.

"Apa kamu baik-baik saja."

Aruna mengangguk pelan,"Kamu boleh pulang, aku sudah baik-baik saja sekarang." Jawab Aruna terbata.

"Aku akan menemanimu disini."

"Aku ingin sendiri."

Perlahan Nuno menyentuh tangan Aruna untuk disimpan dalam pangkuannya,"Apa sesuatu sudah terjadi?"

Gelengan cepat Aruna berikan, menyembunyikan matanya yang sudah berkaca-kaca. Dia tidak ingin menghancurkan benteng pertahanannya menjadi wanita kuat, bisa berdiri tanpa perhatian dan belas kasihan yang membuatnya kembali lemah,"Aku ingin istirahat, pulanglah!"

Tak menghiraukan suruhan Aruna, Nuno beralih duduk di atas bangkar,"Arun..." Diraihnya wajah yang terus bersembunyi,".... lihat aku!"

Mata Aruna yang sudah penuh dengan kabut air mata akhirnya menitik tatkala pandangan mereka saling beradu,"Menangis lah jika itu membuatmu lebih baik."

Aruna terisak, menenggelamkan kepala di dada Nuno yang sudah siap menerima segala jerit penderitaannya.

Nuno balas merengkuh bahu Aruna yang bergetar,"Aku ada bersamamu."

Tangis Aruna semakin pecah, seperti inikah rasanya diperhatikan, dilindungi dan dipahami. Tidak selamanya sedih itu dia kukung dalam diam, dia butuh sandaran untuk berbagi kisah, tidak harus berpura-pura kuat, menyunggingkan senyuman menutupi hatinya yang meraung.

Ponsel Nuno yang terus memanggil minta diangkat menyudahi tangis Aruna yang beberapa menit dia luapkan tanpa jeda.

"Sebentar ya...." Dihapusnya pipi Aruna yang sembab air mata,".... setelah ini kamu boleh lanjutkan." Selorohnya.

Pukulan lemah mendarat di tangan Nuno, Aruna terkekeh geli, olokan Nuno membuat dia tidak lupa bagaimana caranya untuk tertawa.

Nuno mengacak pucuk kepala Aruna dengan gemas,"Senyum kan lebih cantik."

Aruna tertegun, entah itu hanya sebuah pujian ataukah hanya sebuah gurauan, tapi darahnya berdesir tanpa diduga.

Nuno meraih ponselnya yang berada di atas meja,"Sekretaris ku...." Melirik memberi tahu.

Digesernya lambang telepon berwarna hijau,"Ya, Mil..."

Beberapa saat Nuno mendengar penjelasan Mila,"Tidak apa-apa, jangan kamu hubungi lagi." Sautnya.

Aruna yang mendengar perkataan tegas Nuno menjadi tertarik untuk mendengarkan. Sepertinya itu berkaitan dengan dirinya.

"Besok pagi tolong kamu bawakan baju perempuan ke Rumah Sakit Pelita." Pungkas Nuno sebelum mengakhiri telepon itu dengan ucapan terima kasih.

Nuno kembali menghampiri Aruna,"Makan sekarang ya?"

"Apa telepon barusan ada kaitannya dengan ku?" Aruna balas bertanya.

"Sekretaris ku bilang kalau ponsel Pak Aryo tidak bisa dihubungi, telepon rumah mu pun tidak ada yang mengangkat."

Aruna tersenyum kecut, ada perasaan lega yang menyusup. Malam ini akan dia jadikan malam persiapan untuk memulihkan hati, menyambut hari esok yang akan menjadi awal perjalanan kisahnya yang baru.

"Kalau kamu mau, aku akan mencarinya."

"Jangan...." Jawab Aruna cepat, mengalahkan kilatan cahaya diluar sana,".... maksud ku tidak usah, mungkin dia sibuk, aku tidak ingin mengganggunya."

Nuno mengolah jawaban itu dengan seksama, dan satu kesimpulan utuh bisa dia yakini, sesuatu sudah terjadi dengan mereka, mungkinkah berkaitan dengan wanita yang dilihatnya saat di Bandara kala itu, dia harus mengumpulkan jawaban baru yang bisa dia cari sendiri tanpa bertanya pada Aruna.

"Aku lapar...." Aruna mencoba mengalihkan perhatian Nuno yang malah diam,".... No, aku lapar." Ulangnya lagi.

"Ah iya, maaf...." Disegerakannya tangan meraih nampan makanan yang sudah disediakan Rumah Sakit,".... makanannya sudah dingin."

"Tidak apa-apa." Jawabnya sambil tersenyum, mengambil alih sendok yang sudah Nuno pegang untuk menyuapinya,".... aku bisa makan sendiri."

Nuno merelakan sendok itu,"Kamu yakin bisa memakannya, makanan Rumah Sakit itu tidak enak... aku akan pesankan makanan dari luar saja ya?"

"Tidak usah, ini sudah cukup." Seraya mengambil sesendok nasi yang ditambah dengan potongan ayam kecap.

"Aku keluar sebentar, hanya sebentar."

Aruna mengangguk, menggiring mata untuk mengantarkan Nuno yang hilang dibalik pintu dengan senyuman tipis sebelum pintu itu dia tutup dengan perlahan,"Kamu baik sekali." Lirihnya pelan.

Aruna kembali melihat piring yang ada dalam pangkuannya, dijejalkan nya sesendok nasi penuh yang dia kunyah cepat dengan rembesan air mata yang deras mengucur, mengasihani diri menghadapi takdir kehidupan yang sangat menyayat.

🌿🌿🌿🌿

Aryo melempar kunci mobilnya dengan kesal, melonggarkan lilitan dasi yang terasa mencekik lehernya yang sudah kepanasan.

"Aruna kamu dimana?"

Beberapa kali dia menghubungi ponsel Aruna, mengirimkan pesan singkat hingga pesan suara, tapi tak ada satupun diantaranya yang bisa masuk. Dibantingnya ponsel itu hingga jauh, cemas yang melanda membuatnya takut, Aruna akan pergi tak akan kembali. Pencariannya berbuah nihil, dia tak bisa menemukannya.

"Aruna...." Desisnya frustasi.

Bel rumah yang berbunyi menyegerakan langkahnya mendekati pintu, membuncah penuh harap bahwa itu adalah Aruna. Namun harapan itu sirna seketika tatkala orang yang dicari bukanlah dia.

"Malam sayang...." Ranti berhambur memeluk Aryo, mengecup pipinya berkali-kali,".... kusut amat sih."

"Aku kan sudah bilang, jangan pernah datang ke rumah ku lagi."

"Nih...." Ranti mengangkat tinggi bungkusan yang bertuliskan sebuah nama Restoran,"..... aku ingin makan malam bersamamu."

"Aku sudah makan." Jawabnya ketus.

Penuh kesabaran Ranti mengulas senyuman manis, mendorong tubuh Aryo yang masih berjaga di ambang pintu,"Aruna tidak ada di rumah kan, jadi aku bawakan makanan ini untuk kita makan bersama." Seraya menyusup masuk.

Aryo membuntuti Ranti yang berderap menuju meja makan,"Tahu dari mana Aruna tidak ada di rumah?"

Ranti berbalik, tersenyum meremehkan,"Jadi bener Aruna nggak ada di rumah.... ternyata feeling ibu hamil itu kuat banget ya."

Aryo mendengus, memutar badan meninggalkan Ranti yang makin membuatnya jengkel.

Dihempaskan nya tubuh yang sudah lelah, hanya wajah Aruna yang bergentayangan di pelupuk matanya yang dibuat terpejam, sungguh dia merindukannya.

"Sayang..."

Seketika wajah Aruna lenyap, berganti wajah Ranti yang tersenyum manja didepannya.

"Makan dulu yuk.... bayi kita ingin makan dengan Ayahnya."

"Aku tidak lapar."

Masih dengan sikap tenang, Ranti membuka satu kancing bagian atas kemeja Aryo dengan mudah, menyusupkan tangan, meraba dada berbulu yang seketika membuat Aryo menggeliat,"Kamu tidak merindukanku?"

Aryo menatap mata lentik itu, hasratnya malah terpancing, seketika itu Aryo berpaling, menahan tangan Ranti yang semakin lincah bermain, membangunkan sesuatu yang tidur hingga terusik untuk berdiri.

Ranti mengerling,"Kenapa, hemm....kamu menginginkannya?"

Aryo segera beranjak, hembusan nafas panjang dia buang dengan kuat, dia hanya pria dewasa yang memiliki birahi tinggi, mudah tergoda bila terus disuguhi tubuh sexy yang terus merapat, menggoda keimanannya yang memang sangat lemah,"Kita makan."

Ranti tersenyum kecut, hanya butuh sedikit lagi kesabaran yang dibumbui hasrat memabukan. Maka, *p*uuuh.... Aryo akan bertekuk lutut lagi seperti dulu.

🥀

🥀

🥀

_ Bersambung _

1
74 Jameela
pengen q begal ajja tuch si manda jd org kok memaksakn diri..egois banget🤮
74 Jameela
Manda cinta sendiri trllu ngarep jd kyk punguk merindukn rembulan..kn jls aruna yg kenal duluan dg nuno...aruna gk ngrebut nuno dr manda scra nuno gk prnh ksh harapan atau janji ke manda😇
Sabila Brina
akhirnya moly nongol😍😍
Solehatun Rayhan
bagus ceritanya
Elly Watty
visual Aryo g da tanding
Elly Watty
Aruna sok jd pahlawan, klw dia mengikhlaskan Nuno untuk Manda hrusnya totalitas donk dg pergi jauh dr hidup mrk berdua, klw msih satu kota sih percuma
Elly Watty
dekik di pipi samakah artinya ma lesung pipi
Puturidho Waseso
bagus ceritanya
Dewi Rukmini
disini keluarga Nuno dan Nuno tidak tegas seolah2 hanya Manda saja yg di perhatikan sedang Nuno tahu harus ada hati yg di jaga,Nuno tidak tegas menghadapi Manda kasian ya kasian tapi tidak harus segitunya kali thor
Mrs.Kristinasena
org tua angkat dan kandung Nuno..ini luar biasa semua yaaa..
Mrs.Kristinasena
duuuh Nuno Ama Aruna menikmati surga dunia sebelum ketuk palu..haha honeymoon dini yaaa...
Mrs.Kristinasena
mama Dila ,kasih sayangnya melebihi ibu kandung...ngerti banget demi kebahagiaan anak..walau statusnya anak sambung
Mrs.Kristinasena
semoga ada jalan utk mereka berjodoh..
Mrs.Kristinasena
otw janda kembang, Jino..jadi jgn bilang mama dulu yaa..tunggu jadi janda dulu..baru lapor..hehe
Mrs.Kristinasena
kamu bohong kalo bilang cinta sama Aruna..kalo cinta,pasti akan setia..kamu cuma lelaki bejat..brengsekk..yg lebih murahan dari pelacur
.digesek dikit ajah sdh tergoda..kamu mmg ga pantas buat Aruna...
Mrs.Kristinasena
Aruna serasa dihajar luar dalam..tubuh dan mentalnya disakiti sama Aryo dan Ranti..
Mrs.Kristinasena
diiiih enek bgt Ama Aryo..klo suamiku dah tak cincang" itu senjatanya..biar nyahok...hehehe
Mrs.Kristinasena
ga cuma Nuno dan Aruna yg galau..aq pun nyesek liat mereka berdua..
Mrs.Kristinasena
Akhirnya Nuno tau kalo Aruna istrinya pak Aryo..yg sedang berselingkuh..Nuno pasti ikut merasakan kesakitan hati Aruna Krn suaminya tukang selingkuh...rebuuuuttt aja Nuno..Arunanya..kasiiiaaann..Aruna berhak bahagia dan dicintai kan..
Mrs.Kristinasena
baguuuuusssss...kata dlm kalimat nya enak dibaca..ga bikin pusing..malah sll penasaran utk terus menerus membaca...luaaarrr biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!