NovelToon NovelToon
Permainan Takdir

Permainan Takdir

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Contest / Peningkatan diri-peningkatan identitas/sifat protagonis / Tamat
Popularitas:965.6k
Nilai: 5
Nama Author: cietyameyzha

Adnan dipertemukan kembali dengan Alina, gadis yang sama 6 tahun lalu. Satu kejadian membuat Alina bernadzar sesuatu. Dan Adnan adalah saksi hidup yang mendengarnya.

Rentetan kejadian demi kejadian seolah teratur sempurna untuk mengikat keduanya. Puzzle kehidupan Alina yang kelam dan penuh air mata mulai terkuak.

Dua hati dengan watak yang berbeda kini bersatu. Saling bertabrakan dan tak jarang beradu argumen.


Bagaimana kisahnya?
Apa mereka tetap bisa berjalan bersama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alina sakit.

Untukmu yang saat ini terluka. Aku harap, Allah memberimu kejutan manis di sela-sela kepedihanmu.

🍀🍀🍀

Atmosfer restaurant mendadak panas. Pergulatan antara dua manik mata yang saling berpandangan membuat suasana mencengkram. Bagaikan seekor induk, Adnan melindungi Alina dari bejatnya mulut Rio.

"Ayo, pulang." Menarik tangan Alina, lalu membantunya untuk bangun. "Kita perlu menikmati masa-masa indah menjadi pengantin baru."

Rio menggeram. Dadanya bergemuruh. Emosi meningkat tajam. Tangannya gatal ingin menghujani Adnan dengan pukulan. Namun, masih ia tahan.

Berbeda dengan Rio, Adnan justru terlihat tenang. Tak ada niatan untuk memberi Rio bogem mentah seperti yang dilakukan orang pada umumnya. Yang ia tahu, jika Rio bertindak jauh. Maka, ia akan mengambil langkah seribu. Namun, jika Rio masih diam, dan hanya menyerangnya dengan sebuah kata-kata. Ia hanya perlu membalas dengan jawaban sepintar mungkin.

Lemah! Tentu tidak. Adnan tidak pernah mau mengotori tangannya. Tak ingin menguras tenaganya untuk melakukan kekerasan. Ia lebih suka memakai otak, untuk melumpuhkan lawan. Cara bersih yang tentunya tidak merugikan dirinya juga keluarga.

Adnan terus membawa Alina keluar restaurant setelah membayar makanan. Sepasang suami istri itu pulang ke rumah membawa isi pikirannya masing-masing. Alina berdiam diri, memaki Rio dalam hati. Menahan otaknya agar tak kembali mengingat perbuatan bejat lelaki biadab itu. Berusaha keluar dari jerat masa lalu yang telah lama terjadi.

Mobil masuk ke dalam area rumah setelah satpam membukakan pagar. Alina dan Adnan keluar mobil, lalu masuk ke rumah. Adnan tak berbicara satu kata pun. Ia memilih langsung menaiki tangga menuju kamar mereka.

Malam semakin larut. Keduanya tidur di satu ranjang sampai fajar datang. Alina terbangun, perutnya terasa sakit. Adnan yang terlambat bangun untuk pertama kalinya segera melaksanakan salat Subuh di rumah.

Selesai salat, masih di atas hamparan sajadah. Adnan melirik sekilas pada istrinya. "Kamu kenapa? Engga sholat?"

Alina menggeleng. Tamu bulanan datang menerjang. Melumpuhkan kekuatannya yang biasa full. Adnan berdiri, menghampiri Alina yang terbaring menyamping ke kanan sembari memegang perut.

"Sakit, ya?" tanya Adnan polos bagai seorang anak kecil. "Kita ke dokter, mau?"

"Engga usah. Nanti juga sembuh," tolak Alina.

Memang benar. Dia sudah merasakan kenikmatan ini dari pertama mendapatkan menstruasi. Jadi ... sudah biasa. Hanya saja, hari pertama memang menyiksa.

"Aku panggilkan Om Dika, ya." Adnan masih bersikukuh.

"Aduh, Mas. Aku ini sakit haid, bukan sakit kanker."

"Kan, sama-sama sakit."

"Ya, ya." Alina mengalah demi menjaga moodnya agar tidak terlalu berantakan. Rintihan kecil terdengar dari bibir mungil Alina. Sesekali Adnan memijat punggung belakangnya. "Mas, kamu harus kerja."

Adnan diam.

"Mas, kamu, kok diem aja."

Adnan masih setia memijat punggung istrinya. "Aku bisa cuti. Kamu sakit."

"Aku yang sakit. Kenapa kamu yang cuti, Mas?" Dahi Alina berkerut.

"Memang engga boleh?" Adnan bukan menjawab. Ia justru melontarkan pertanyaan yang membuat Alina tidak mengerti dengan jalan pikiran suaminya.

"Kamu sakit, tidak ada orang di rumah. Kalau terjadi sesuatu, siapa yang mau menolongmu?" lanjut Adnan.

Deg.

Siapa yang mau menolongmu? Kalimat itu terasa mengandung kecemasan yang berlebih. Lelaki yang baru dikenalnya lebih mengkhawatirka dirinya di banding seorang Ayah kandung. Ah ... rasanya dunia ini adil. Di satu sisi kita mendapatkan kepedihan, di sisi lain justru hujan kasih sayang mengalir deras tanpa henti.

"Tidurlah. Aku buatkan bubur." Adnan mebenarkan posisi Alina agar berbaring, lalu menarik selimut sampai ke dada wanita itu. "Aku di dapur. Kalau ada apa-apa, panggil atau hubungi pakai HP."

"Kamu mau ke dapur atau mau dinas, Mas? Kenapa harus pakai hubungi segala. Jarak kita, kan, engga jauh."

"Walau engga jauh, kita tetap LDR-an. Antara dapur dan kamar." Adnan mengecup singkat kening istrinya, lalu berbisik, "Jangan banyak bicara. istirahatlah."

Alina mengangguk, sedangkan Adnan melepas sarung yang ia pakai untuk salat, melipat sajadah. Adnan yang terbiasa memakai celana panjang, meski memakai sarung saat salat. Untuk menghindari saat terburu-buru. Setelah itu Adnan membawa langkahnya keluar kamar, tak lupa ia membawa gawai miliknya.

Sambil berjalan, ia bermain ponsel mencari nomer seseorang, selanjutnya melakukan panggilan telepon.

"Hallo," suara seseorang terdengar di ujung sana. Orang yang jarang ia temui, hanya berkomunikasi lewat chat ataupun panggila suara. "Ada apa?"

"As-salamu'alaikum," ujar Adnan sopan.

"Wa-alaikum salam."

"Gimana? Ada perkembangan?"

"Masih dalam pantauan. Tenang, saya engga akan bertindak, jika anda tidak memberi instruksi."

Adnan sampai di dapur. Mengambil sebungkus bubur instan, lalu mulai menyeduhnya. "Ingat! Saya tidak suka kekerasan. Jika semua bukti sudah didapati. Seret dia ke pihak yang berwajib. Kamu hanya boleh melakukan tindak kekerasan. Dengan catatan, jika dia melawan lebih dahulu."

"Siap, Pak."

Percakapan selesai bersamaan dengan bubur yang sudah jadi. Adnan bukan tidak ingin membuat bubur biasa. Namun, jika ada yang praktis. Mengapa harus susah payah?

Bubur ia bawa dengan menggunakan nampan. Adnan berjalan kembali ke kamar. Saat membuka pintu, ia mendapati Alina telah terlelap tidur. Hujan datang pagi ini. Membasahi dunia dengan kesegarannya. Adnan menyimpan nampan di atas meja. Manik matanya tertuju pada Alina. Wajah manis itu telah menimbun berbagai kesakitan.

"Semoga lukamu mencair bersama rinai hujan," gumam Adnan sembari merebahkan diri kembali di samping Alina. Hari ini, bos dan sekertarisnya kompak tak pergi bekerja. Biarkan si kembar mengomel di kantor.

🥰🥰🥰

Di tempat berbeda. Tepat pukul 10.00 WIB. Seorang wanita memakai dress selutut berwarna biru dengan tas elegan masuk ke kamar rawat ibunya Alina. Wanita itu masuk setelah dokter yang memeriksa ibunya Alina keluar.

Ia menyunggingkan senyuman licik. "Apa kabar, Winda? Bagaimana tidurmu, nyenyak?"

Netranya menyorotkan kebencian yang mendalam. Tampak jelas amarah yang terpendam, dan membara dalam jiwa. Seakan ia telah membawanya selama bertahun-tahun.

"Kenapa kamu engga mati aja, sih! Biar kami engga repot harus ngeluarin uang buat kamu."

Pikirannya melayang ke angkasa. Mengingat kejadian di masa lalu. Di mana dunia masih indah kala itu. Di saat tidak ada kebencian di antara ia dan Winda, sahabatnya.

Andai, dan andai waktu bisa ia putar. Ia ingin kembali ke masa lalu. Menikmati persahabatan mereka yang kini telah ternodai, karena sebuah pengkhianatan dengan alasan desakan kedua orang tua. Sungguh alasan klise!

Rasa sakit itu menggiring dirinya menjadi seorang yang jahat. Memaksanya untuk merebut kembali apa yang sempat hilang. Saat kesempatan emas datang, ia menangkapnya dengan cepat.

"Kamu mengkhianati janji yang kita buat sendiri. Memberikan aku sebuah goresan luka yang membekas. Jadi, jangan salahkan aku, Winda. Kamu juga harus tau sakitnya diriku lewat anak perempuanmu!" katanya dengan tatapan tajam penuh luka.

...****************...

BERSAMBUNG~~

Jangan lupa like, coment, dan vote😊😊

1
Ma Selly
wah suami idaman
Ma Selly
wah ,awas adnan jangan sampe tergoda sama ulet bulu/Grin//Grin/
Ma Selly
adnan bercandanyakebangetan
Ma Selly
semoga adnan selamat dari kecelakaan mautnya
Ma Selly
kira kira siapa yah yg pake mobil merah
Ma Selly
semoga lily dan riko berjodoh
Ma Selly
haaahaaaa ada ada aja adnan bercandanya
Ma Selly
iya nikakan saja tuh si kembar riki dan riko ,di barengin aja nikahnya biar tambah rame/Grin//Grin//Facepalm/
Ma Selly
rasain lo rio makanya jd orang jangan jahat
Ma Selly
kasihan bu winda ,dia ga tau kalau pak willy sudah menikah lagi
Ma Selly
mudahan ibunya alina sadar dari komanya Aamiin
Ma Selly
siapa kira kira yg merekam
Ma Selly
oh jd begitu ceritanya
Ma Selly
kasihan lily ga ada yg menemaninya
Ma Selly
ketemu mantan kali ya
Ma Selly
usil sama istri sendiri ga masalah
Ma Selly
si masnya sudah mulai bucin akut
Ma Selly
mau ada pengantin baru nih
Ma Selly
ibu dan anak yang serakah
Dina Mulyana Syafitri
masyaAllah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!