🍀AYO, MAMPIR 🍀
Galang Langit jatmika sama sekali tidak mengenal sosok Hanum Sekar Salsabila.
Tapi di ranjang kematian ibunya, ia di paksa mengucap ijab Kabul untuk menikahi gadis itu.
"Nikahi Sekar, jaga gadis itu untuk ibu."
Pernikahan tanpa cinta, masa lalu yang datang, dan rumah tangga yang semakin terasa hambar.
Tapi bagaimana kalau wasiat itu justru jadi jalan satu-satunya untuk menyembuhkan hati mereka berdua yang penuh luka?
Yuk, cari jawabannya di sini 🍀
°°°°°°°°
Jangan lupa subscribe, like, vote, dan komen🫶
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23. Omongan Tetangga
Pagi di Garut selalu datang bersama udara dingin yang menusuk lembut kulit.
Kabut tipis masih menggantung di ujung jalan ketika Sekar keluar rumah sekitar pukul lima lewat lima belas menit. Langit belum benar-benar terang, tetapi suara kehidupan sudah mulai terdengar dari mana-mana. Ayam berkokok, motor warga yang berlalu-lalang, dan suara ibu-ibu yang bercampur riuh di depan gang.
Sekar menutup pintu rumah pelan agar tidak membangunkan Galang.
Tadi sebelum keluar rumah, ia sempat mengintip laki-laki itu yang masih tertidur telentang dengan satu tangan di atas dahi. Wajahnya tampak lelah sekali setelah operasi semalaman.
Sekar bahkan jadi tidak tega membangunkannya jam enam nanti.
Perempuan itu kemudian berjalan menuju pagar rumah sambil membawa dompet kecil kain di tangannya. Daster panjang maroon yang dipakainya bergerak tertiup angin pagi, sementara rambutnya yang tadi subuh masih basah kini tertutup oleh kain pashmina.
Di luar pagar, seorang tukang sayur keliling berhenti dengan gerobak penuh sayuran segar.
Seperti biasa, gerobak itu sudah dikerubungi ibu-ibu komplek.
"Aduh kang, tomatnya nu ieu atuh nu Alus!"
(Aduh kang, tomatnya yang ini yang bagus!)
"Cabe rawit ayeuna mahal pisan ih!"
( Cabe rawit sekarang mahal banget!)
"Eh, Aya bawang daun teu sih?"
( Eh, ada bawang daun gak sih?)
Suasana ramai itu membuat Sekar sedikit ragu mendekat. Ia belum terlalu akrab dengan warga semenjak ia menikah dengan Galang dan tinggal di Garut.
Namun salah satu ibu langsung melambaikan tangannya ke arah Sekar.
"Eh neng, sini atuh!"
Sekar tersenyum sopan lalu membuka pagar rumah.
"Pagi, Bu."
"Pagi. Mau belanja juga?"
"Iya..."
Sekar berdiri di depan gerobak sambil mulai memilah sayur. Tangannya mengambil wortel, kentang, kol kecil, dan daun seledri.
Ia berencana membuat sop ayam pagi ini.
Entah kenapa melihat Galang pulang dengan wajah setelah tadi membuatnya ingin memasakkan sesuatu yang hangat.
Setelah itu ia mengambil kerupuk udang, beberapa tomat, bawang merah, bawang putih, bawang daun, dan segenggam cabe rawit.
"Neng Sekar betah di Garut?"
Pertanyaan itu datang dari seorang ibu berdaster hijau sambil memilih terong.
Sekar langsung menoleh sopan, "Alhamdulillah betah, Bu."
"Dingin ya, di sini?"
"Iya, tapi enak."
"Emang Neng Sekar itu asalnya darimana sih?"
"Bandung, Bu."
"Ih pasti betah lah, orang suaminya dokter ganteng," celetuk ibu lain sambil tertawa kecil.
Sekar langsung salah tingkah sendiri. "Ibu bisa aja..."
"Galang suka ngajak jalan gak?"
Sekar berpikir sebentar lalu tersenyum kecil. "Kadang kalau lagi senggang."
"Kalau lagi gak sibuk maksudnya?" tanya ibu lain.
Sekar mengangguk.
"Kasihan juga ya jadi istri dokter anestesi," ujar seorang ibu berdaster cokelat sambil melipat kantong plastik. "Suka ditinggal-tinggal."
"Iya tuh. Tengah malam juga suka dipanggil rumah sakit."
Sekar hanya tersenyum kecil.
Memang benar.
Bahkan tadi dini hari Galang pergi begitu saja karena operasi sesar darurat.
"Galang mah terlalu sibuk kerja," lanjut ibu lain lagi. "Badannya aja kurus begitu."
"Iya, ya. Padahal ganteng."
"Cowok kurus mah biasanya kuat kerja."
"Eh, bukan cuma kuat kerja," sahut ibu berdaster oranye tiba-tiba sambil nyengir jahil, "biasanya lebih pinter bikin anak."
Seketika suasana pecah oleh tawa ibu-ibu.
Sementara Sekar--
Ia hanya bisa diam. Tangannya yang sedang memegang plastik bawang merah mendadak kaku. Wajahnya perlahan memanas.
"Eh, iya lagi!" sambung ibu lain. "Biasanya yang kurus begitu malah kuat berjam-jam, terus cepet ngisinya."
"Galang mah bibit unggul atuh."
"Tinggal neng Sekarnya aja nih."
Sekar hanya bisa tertawa kecil yang terdengar kaku.
"Hehe.."
Padahal selama ini, ia dan Galang bahkan belum pernah sejauh itu.
Pernikahan mereka masih dipenuhi rasa canggung dan hati-hati. Tidur satu ranjang saja kadang masih terasa aneh bagi Sekar, apalagi membicarakan soal anak.
Namun ibu-ibu itu sudah tertawa sendiri membahas hal lain.
"Neng Sekar kalau hamil pasti cantik."
"Iya, mukanya adem."
"Eh tapi udah isi belum?"
Pertanyaan itu begitu saja, langsung bahkan tanpa direm. Ibu berdaster oranye bahkan terang-terangan melirik perut Sekar yang masih rata.
Sekar spontan memegang ujung plastik belanjaannya lebih erat.
"Eh..."
Ia tersenyum tipis.
Kaku sekali.
"Belum, Bu..."
"Ah, paling bentar lagi."
"Iya, masih pengantin baru."
"Kecuali kalau bikinnya tiap malem."
Tawa itu membuat wajah Sekar merah padam.
Belum sempat suasana makin liar, tukang sayur yang sejak tadi sibuk menimbang kentang tiba-tiba menyahut.
"Udah ah ibu-ibu, jangan gosip wae."
Ibu-ibu langsung tertawa.
"Kang sayur ikut dengerin juga?"
"Ya denger atuh orang kalian ngomongnya keras pisan."
Tukang sayur itu menggeleng sambil menyerahkan kantong belanja Sekar.
"Maklum neng," katanya sambil terkekeh ramah. "Ibu-ibu sini kalau udah ngomongin yang berbau mesum semangatnya luar biasa."
Sekar hampir tersedak sendiri mendengar kata itu di sebut terang-terangan.
"Hehe..."
Ia benar-benar bingung harus menjawab apa lagi. Wajah cantiknya sudah panas sejak tadi. Sementara para ibu malah masih tertawa tanpa dosa.
Tanpa Sekar sadari, di halaman rumah di bawah pohon mangga dan pintu pagar yang sedikit terbuka, Galang ternyata sudah bangun.
Laki-laki itu berdiri santai di atas rumput hijau rapi dengan kaus putih dan celana abu gelap. Rambutnya masih sedikit berantakan karena baru bangun tidur.
Tadi ia keluar hanya untuk menghirup udara pagi dan meregangkan tubuh setelah tidur singkat sebelum kembali bekerja.
Namun siapa sangka...
Obrolan ibu-ibu depan rumah terdengar sangat jelas sampai ke halaman. Galang awalnya tidak terlalu memperhatikan. Sampai sebuah kalimat...
"Cowok kurus malah lebih pinter bikin anak."
Gerakan peregangan tangannya langsung berhenti. Mata Galang berkedip pelan.
Apa?
Lalu disusul tawa ibu-ibu lain yang makin menjadi-jadi.
Galang spontan berdeham kecil sambil mengalihkan wajah ke samping.
Untuk pertama kalinya sejak pagi, dokter anestesi yang biasanya datar dan mati rasa itu terlihat salah tingkah sendiri.
Apalagi ketika tanpa sengaja ia melihat Sekar yang berdiri di dekat gerobak dengan wajah merah padam sambil menunduk malu.
Galang langsung mengusap tengkuk belakangnya pelan.
Entah kenapa suasana mendadak terasa sangat tidak nyaman.
Bukan.
Bukan tidak nyaman...malah terlalu membuat sadar.
Tentang fakta bahwa mereka memang sudah menikah. Tentang bahwa semalam Sekar memimpikannya.
Dan tentang fakta lain yang diam-diam membuat Galang menahan napas kecil. Mereka memang belum pernah benar-benar menjadi suami istri sepenuhnya.
"A Galang!"
Salah satu ibu tiba-tiba sadar Galang ada di halaman rumah.
Sekar langsung menoleh cepat.
Dan detik itu juga, perempuan itu berharap bumi menelannya hidup-hidup.
Karena Galang pasti mendengar semuanya.
.
.
.
Apa kabar?
Apakah suatu saat Galang dan Sekar akan memiliki anak? Atau justru sebaliknya? Atau kemungkinan mereka menjadi orang asing setelah pernikahan terasa hambar?
Ikuti terus ya, kisah romantika dan dinamika rumah tangga karena sebuah wasiat terakhir ibu.
Bersambung...