NovelToon NovelToon
Cinta Diusia Senja

Cinta Diusia Senja

Status: tamat
Genre:Duda / Cintapertama / Tamat
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: riena

"Bagaimana jadinya jika calon besanmu adalah mantan kekasih yang paling gagal kamu lupakan seumur hidup?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 31. Sebuah VT yang menyadarkan

Di koridor rumah sakit yang lengang dan berbau obat, Rayhan dan Ameera duduk berdampingan di sebuah kursi besi panjang. Di dalam kamar, Habibah masih tertidur pulas berkat pengaruh obat penenang dari dokter. Suasana yang sedikit lebih tenang ini akhirnya memberi mereka ruang untuk berbicara berdua, tanpa sekat emosi yang meledak-ledak seperti beberapa hari lalu.

Ameera menoleh, menatap profil samping Rayhan yang tampak sangat lelah. "Kalau sudah seperti ini... bagaimana lagi, Ray? Langkah kita harus bagaimana?" tanya Ameera lirih, memecah keheningan.

Rayhan menarik napas panjang, menumpukan kedua sikunya di atas lutut sembari menjalin jemarinya. Rayhan lalu menceritakan semuanya, terutama tentang kedatangan Om Danu malam itu, rahasia masa lalu penderitaan ibunya yang baru ia ketahui, hingga opsi yang disarankan oleh sang paman agar mereka tetap menikah namun membatalkan rencana paviliun kembar dan tinggal sejauh mungkin dari orang tua.

Mendengar penuturan Rayhan, Ameera langsung menggelengkan kepala. Ego dan logikanya bergolak.

"Tidak, Ray. Aku tidak setuju dengan opsi itu," potong Ameera cepat, menolak mentah-mentah ide untuk menjauhkan orang tua mereka.

Rayhan menoleh, menatap Ameera dengan dahi berkerut. "Kenapa, Meer? Bukankah itu jarak aman yang kita butuhkan supaya Ibu dan Om Imam tidak perlu saling berhadapan terus?"

"Ray, dengerin aku," Ameera menggeser duduknya agar bisa menatap Rayhan lebih lekat. "Opsi dari Om Danu itu memang benar di satu sisi. Aku setuju kalau kita tetap harus maju dan menikah. Tapi masalahnya bukan di jarak tempat tinggal kita, Ray."

Ameera menghembuskan napas berat, mengingat kembali tangisan dan pengakuan jujur ayahnya di beranda belakang rumah beberapa malam lalu.

"Malam sebelum Tante Bibah masuk rumah sakit, aku sempat bicara sesama orang dewasa dengan Papa. Dan kamu tahu apa yang Papa rasakan? Papa kesepian, Ray. Sekian tahun Papa sendiri setelah Mama meninggal. Dan Tante Bibah... beliau juga puluhan tahun sendiri membesarkan kamu. Mereka berdua itu sama-sama kesepian dan menanggung trauma masa lalu yang belum selesai."

Ameera menggenggam tangan Rayhan, mencoba menyamakan frekuensi pemikiran mereka.

"Kalau kita menikah lalu memilih tinggal jauh dan sengaja membatasi ruang gerak mereka, itu sama saja kita mengisolasi mereka dalam kesepian yang lebih parah. Kita bahagia di atas ketakutan mereka. Aku tidak mau itu terjadi."

"Lalu mau kamu bagaimana, Meer? Kalau mereka dipaksa ketemu, situasinya akan canggung dan menyakitkan seperti kemarin," ujar Rayhan, suaranya naik satu oktaf karena bingung.

"Memang akan canggung, Ray. Di awal, semuanya pasti akan terasa aneh dan berat," sahut Ameera dengan mata yang berkaca-kaca namun memancarkan ketegasan. "Tapi alih-alih membuat benteng pemisah, kenapa bukan kita yang menjadi jembatan agar Tante Bibah dan Papa bisa berdamai dengan keadaan?"

Ameera menjeda kalimatnya sejenak, membiarkan Rayhan meresapi kata-katanya.

"Supaya tidak canggung selamanya, rahasia ini harus diselesaikan, bukan dilarikan, Ray. Mereka berdua harus diberi ruang untuk duduk bersama sekali saja secara terhormat sebagai sesama orang tua, saling memaafkan masa lalu, dan menutup buku lama itu baik-baik. Kita ubah suasananya. Kita tunjukkan ke mereka kalau kehadiran mereka di sisa hidup ini bukan lagi sebagai 'mantan kekasih yang terluka', melainkan sebagai bagian dari keluarga besar kita. Kalau mereka tahu kita tidak mempermasalahkan masa lalu itu, pelan-pelan rasa canggung itu akan terkikis sendiri oleh waktu. Tapi kalau dari sekarang kita sudah membatasi dan menaruh curiga... selamanya hubungan keluarga kita akan cacat.”

Rayhan terdiam mendengar penjelasan Ameera. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding rumah sakit yang dingin, menatap langit-langit koridor dengan pandangan kosong.

"Apakah itu akan berhasil, Meer?" bisik Rayhan, suaranya terdengar sangat sangsi. "Berdamai... ya, mungkin mereka bisa saling memaafkan secara formal demi kita. Tapi berdamai tetap tidak bisa mengisi kekosongan hati mereka, kan? Pada akhirnya, setelah malam berdamai itu selesai, mereka akan kembali ke rumah masing-masing. Kembali ke kamar yang sepi. Sendirian lagi."

Ameera hendak menjawab, namun kalimatnya tertahan. Pertanyaan Rayhan adalah sebuah kebenaran yang telanjang. Berdamai lewat kata-kata tidak otomatis menghapus rasa sepi yang sudah mengakar puluhan tahun.

Keheningan kembali merayap di antara mereka. Untuk mengusir rasa cemas dan canggung yang mendadak menebal, Ameera perlahan merogoh ponselnya dari saku jaket. Ia berniat memeriksa apakah ada pesan masuk dari ayahnya. Namun, saat layar menyala, sebuah aplikasi video pendek yang lupa ia tutup tadi siang otomatis berputar, menampilkan sebuah video yang sedang viral di beranda.

Suara dari video itu tidak terlalu besar karena volumenya dikecilkan, namun di koridor rumah sakit yang sesunyi ini, setiap kata dari narator video itu terdengar begitu jelas dan menembus langsung ke dada mereka.

Video itu menampilkan kompilasi potongan klip seorang pria lansia yang duduk sendirian di teras rumah saat senja, diselingi teks narasi yang dibacakan dengan suara yang sangat hangat namun menyayat hati.

"Kita, sebagai anak, sering kali merasa sudah menjadi anak yang berbakti saat kita sukses, menikah, dan memberikan cucu untuk orang tua kita. Kita pikir, melihat kita bahagia sudah cukup bagi mereka..."

"Tapi kita lupa, orang tua kita juga manusia biasa. Mereka bukan robot yang tidak punya rasa sepi. Mereka juga butuh teman. Bukan sekadar anak yang datang berkunjung seminggu sekali, tapi teman hidup. Teman bercerita di sisa malam, teman yang tahu rasanya tumbuh tua bersama, teman yang mendengarkan keluh kesah yang tidak bisa mereka ceritakan pada anak-anaknya..."

"Jangan biarkan orang tuamu menua dalam kesunyian, sementara kamu sibuk merajut kebahagiaan barumu dengan pasanganmu. Karena mereka juga berhak untuk bahagia di sisa usia mereka."

Ameera perlahan menurunkan ponselnya. Video itu selesai berputar, meninggalkan keheningan yang jauh lebih pekat dari sebelumnya. Air mata Ameera meluncur tanpa suara di pipinya. Kalimat di VT itu persis seperti jeritan hati ayahnya, Imam, di beranda belakang rumah tempo hari.

Rayhan, yang ikut mendengarkan isi video tersebut dari samping Ameera, seketika terpaku. Dadanya seperti dihantam ombak besar. Bayangan ibunya yang puluhan tahun banting tulang mendidiknya sendirian tanpa pernah mengeluh, kini berkelebat di matanya.

"Masa iya..." Rayhan berucap, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia menoleh menatap Ameera dengan mata yang berkaca-kaca.

"Masa iya kita sekejam itu, Meer? Kita egois mengejar bahagia, punya pasangan, nanti punya anak, merayakan hari raya bersama... sementara Ibu dan Om Imam dibiarkan tetap sendiri? Terperangkap dalam rasa bersalah dan kesepian di rumah mereka masing-masing sampai hari tua mereka habis?"

Ameera menggenggam jemari Rayhan yang bergetar. Kali ini, genggamannya jauh lebih erat dan penuh keyakinan.

"Itu dia yang mau aku omongin dari tadi, Ray," lirih Ameera. "Saran Om Danu untuk kita menjauh itu salah. Kalau kita menjauh, kita menutup jalan takdir mereka. Tapi kalau kita menjadi jembatan... siapa tahu, setelah mereka berdamai dengan masa lalu, Tuhan sengaja mempertemukan mereka lagi di masa tua ini bukan untuk menjadi musuh, tapi untuk menjadi jawaban atas kesepian mereka masing-masing."

Rayhan menatap pintu kamar rawat ibunya, lalu beralih menatap Ameera. Ketakutan yang membayanginya sejak kemarin perlahan mulai terkikis, digantikan oleh sebuah sudut pandang baru yang jauh lebih manusiawi. Mereka bukan lagi sekadar dua anak yang ketakutan karena masa lalu orang tua, melainkan dua anak dewasa yang ingin menyelamatkan masa tua orang tua mereka dari kesunyian.

****

1
tati st🌼🌼
mantan terindah hingga susah moveon
Enisensi klara
Gimana ini makin rumit ,kalo mrk nekat terus nikah ,gimana dgn ortu mrk tetap kesepian 😓
tati st🌼🌼
baru mampir karna baru tau ada karya otor di sini
Yani Hendrayani
❤❤❤❤❤
A Mirza P
perjuangan,air mata, doa,dan dukungan anak,hal yang tabu untuk di harap dan di inginkan akhirnya jadi kenyataan.
terimakasih kak Riiena untuk ceritanya 💪👍
Kedan Bawel 🍒: Hey Dongan.. Kenapa novel ini lambat updatenya..? 🤔
Di lanjutkan tidak sih..? 😅
total 1 replies
Enisensi klara
Ya ampun kasihan Habibah 😭😭😭
stres berat sampai masuk RS
Enisensi klara
Kalian emang mesti bicara agar dapat solusi ,dan semoga orang tua kalian bisa menerima nantinya 😓
Enisensi klara
Imam Habibah perlu pasangan dimasa tua sedang kan anak2 mrk akan menikah .aaah...puyeng 🙄🙄
Enisensi klara
Pahit emang dan rumit 😏😏
Enisensi klara
Apa yg di bilang safia ada benar nya juga ,tapi sebagai orang tua iman dan Habibah harusnya juga bijak bisa lupakan cinta itu demi kebahagiaan. anak2, mrk 😓
T**iH
cerita nya sangat menyentuh.... jujur, baca d tiap bab nya aq dibuat terlarut, seakan akan aq sendiri yg merasakan itu.
Dari awal baca karya kak Rii, aq byk nemuin yg nama nya cerita cinta beda usia, seperti sdh jd ciri khas nya karya kak rii, tp utk novel yg satu ini benar² berbeda, jd ada kesan yg mendalam bgt pas baca dari bab awal.
Ternyata keluar dari zona nyaman, dan mencoba utk keluar dari ciri khas, Ga ada salahnya, terbukti d karya ini kak Rii aq anggap Sangat Berhasil. semangat kak Rii, terus berkarya dan terus berkarir.....karya mu selalu aq dukung dan aq ikuti.
Enisensi klara
Rumit emang jadinya 😓
Enisensi klara
Karena imam dan Bibah yg gak bisa move on jadi membuat ammeraa dan Rayhan tersakiti ,ibarat pasangan terkhianati 😓
Enisensi klara
Hidup sebercanda itu ya mempertemukan Habibah dan imam dgn sikon yg rumit ,dgn cinta yg masih bertumbuh berkembang mrk harus menjadi besan apa gak lucu sekaligus rumit 😏😏😓😓
Enisensi klara
Kasihan. juga Habibah mengalah pergi demi kebahagiaan Rayhan dan meera dsn memilih tinggal di panti jompo 😓😓
Enisensi klara
Akhirnya semua terbongkar 😓disaat mau menjelang pernikahan ,berat ujian meera dan Rayhan 😓
Enisensi klara
Rayhan cerdas bisa tau ada sesuatu diantara ibunya dan pak imam di masa lalu 😏
Enisensi klara
Emang sebaiknya kalian gak tinggal satu atap ,walopun sementara ,karna perasaan di masa lalu kalian semakin berkembang dan akan semakin membuat tertekan ,kasihan juga anak2 kalian yg akan menikah 🙃🙃🙃
Enisensi klara
Tatapan penuh cinta ya Han ,??tatapan pak imam ke ibumu
Enisensi klara
Sikap Habibah dan imam yg gugup dan salah tingkah buat Rayhan curiga 🤔gimana kalo ketauan ya 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!