Pernikahan adalah hal yang diinginkan banyak orang, sayangnya pernikahan Aina Putri Arman tak semulus seperti yang di harapkan sebelumnya.
Calon suaminya tidak datang dan akhirnya, Davian Kin Sanjaya menggantikan posisi calon suami Aina di pelaminan.
Adakah sesuatu yang membuat calon suami Aina tidak hadir dalam pernikahannya sendiri?
Lalu bagaimana kehidupan rumah tangan Davian dan Aina selanjutnya?
Sekuel dari Takdir Janda Muda.
Ini adalah cerita hiburan semata, semoga suka😊🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Ungkapan
Davian terdiam di dalam mobil, meninggalkan setengah hatinya di dalam sana bersama pria lain. Ia berharap setengah hatinya itu akan kembali, memeluknya, menjatuhkan kesedihannya pada dadanya, maupun pundaknya.
Akan tetapi kemungkinan besar lainnya akan selalu ia terima walau hatinya akan terluka seperti yang pernah ia alami sebelum-sebelumnya.
"Kenapa kakak melakukan itu?" tanya Aluna iba. Saat ini wanita itu sedang duduk disebelah kemudi dan menatap sayu Davian.
"Karena memang itu yang harus aku katakan," Davian melirik Aluna dengan senyum. Senyum yang seakan tiada beban yang ia pikirkan.
"Dia istrimu, bagaimana jika dia memilih Alee dan meninggalkan dirimu begitu saja?"
"Berarti dia bukan jodohku!" tukas Davian cepat.
Mendengar jawaban Davian yang terlihat pasrah membuat Aluna menggigit bibir bawahnya dan gemas dengan sikap kakaknya itu.
"Apa yang membuatmu berpikir dia bukan jodohmu? Sedangkan dia sudah ditakdirkan untuk menikah denganmu kak! Setidaknya perjuangkan dia dan bawa kembali dia kemari!" Aluna merasa sudah tidak sabar lagi. Ingin rasanya ia kembali ke dalam dan menarik tangan Aina agar kembali pada kakaknya.
"Hei, santai lah! Kenapa jadi kau yang marah!"
Aluna mengetatkan rahangnya dan mengepalkan kedua tangannya.
"Kakak, apa kau tidak mencintainya?"
Davian memutar tubuhnya hingga ia menghadapi pada Aluna dan memegang kedua tangan adiknya itu.
"Dengarkan kakak. Saat kakak mengucap janji pernikahan, saat itu kakak sudah menjadikan dia istri sah dan seumur hidup dia akan menjadi tanggung jawab kakak, jasmani maupun rohani. Tapi jika kakak bukan pilihan hatinya, maka kakak tidak akan pernah mengikat hatinya dan memilih membiarkan wanita itu pergi bersama yang ia cintai. Kakak bukan pemaksa. Ingat itu!" Davian memepuk punggung tangan Aina meyakinkan bahwa tidak ada orang lain yang bisa merubah keputusannya.
Apa yang bisa Aluna lakukan selain menghela napas dalam dan membiarkan Davian berbuat sesuai keinginannya.
"Alright. Aku akan selalu mendukung kakak," Aluna memilih mengalah jika bicara dengan Davian, karena itu pasti keputusan terbijak versi seorang Davian Kin Sanjaya." Ngomong-ngomong, bagaimana kalian saat sekamar berdua? Apa kalian begitu mesra?" Aluna cekikikan di sebelah Davian membuat pria itu jadi mengingat kehidupannya selama lima bulan terakhir.
"Apa tidak ada pembahasan lain?" sanggah Davian tak ingin membahas hal aneh seperti pertanyaan Aluna baru saja.
"Nope. I want to see my brother happy, so jika kalian bahagia dengan pernikahan mendadak kalian, maka aku pun ikut senang. Tapi jika kalian masih berjauhan, mungkin aku akan turun tangan membantu kalian lebih dekat. Bagaimana?"
"Turun tangan?" dahi Davian terlihat berkerut bingung.
Melihat kebingungan kakaknya membuat Aluna menyeringai lebar.
"Menilik dari wajahmu, aku rasa aku dibutuhkan dalam hal ini," jari telunjuk Aluna mengarah pada jantung Davian." Aku yakin kau belum seakarab seperti pasangan suami istri lain kan?" kembali dia cekikikan di sebelah Davian membuat Dav menepis tangan Aluna dan membiarkannya berspekulasi sendiri.
Brak
Sebuah suara dari luar mobil membuat atensi mereka mengarah pada suara yang di sana.
Davian dan Aluna segera keluar dari mobil saat mereka melihat Aina keluar dari restoran dan Alee mengejarnya dari belakang.
"Ada apa, Na?" tanya Davian saat istrinya sudah dekat pada dirinya dengan berurai air mata.
"Davian, tolong kembalikan Aina kepadaku. Kau tahu apa yang terjadi pada resepsi pernikahan kami bukanlah murni dari kesalahanku sendiri, aku masih mencintainya, Dav!"
Tatapan Dav jatuh pada Aina yang juga menatapnya." Aina, apa keputusanmu?"
"Aina, kau harus ingat yang pernah kita alami sebelumnya, kita selalu bersama dalam suka maupun duka!" nada suara Alee begitu memelas membuat Aina menjatuhkan air mata dengan derasnya.
"Hentikan! Aku sedang bicara pada istriku, biarkan dia menjawabnya!" tangan Dav menangkup pipi Aina.
"Apa yang dia lakukan padamu sampai kau menangis?"
Alee tidak terima jika tangan Dav menyentuh dagu runcing Aina, ia hendak mendekat pada mereka tapi Aluna menahannya.
"Izinkan mereka bicara. Mereka suami istri ingat itu Lee!"
"Katakan!" ucap Dav sekali lagi.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku akan bersamamu karena kau suamiku Dav,"
"Aina!" ucap Alee dengan tubuh meluruh dan berlutut di atas paving.
Tanpa izin Dav merengkuh tubuh Aina dalam pelukannya.
"Kau bisa mendengar sendiri keputusan Aina. Kau bisa pergi dan mulai hidup barumu kembali sekarang!" ucap Dav pada Alee dengan tangan masih menahan Aina di pelukannya.
"Kakak, bawa Aina pergi dari sini, aku akan menenangkan Alee!"
Dav mengangguk kemudian menuntun Aina masuk ke dalam mobil.
"Alee aku mohon kau jangan seperti ini! Kain terlihat kacau sekali,"
Alee masih belum berhenti menatap mobil Dav yang pergi membawa kekasih hatinya menjauh dari kehidupannya, kehidupan yang entah bagaimana nantinya ia jalani tanpa Aina.
"Kau pulanglah. Aku bisa mengurus diriku sendiri!" Alee berusaha berdiri dan meninggalkan Aluna dengan berjalan kaki.
Merasa tak tega, Aluna pun mengikutinya lagi.
"Please. Biarkan aku mengantarmu sampai rumahmu dan memastikan kau tidak akan melakukan apapun saat kau sendiri!"
Tiada jawaban dari Alee. Segera Aluna mencegat taxi dan mengajaknya masuk ke dalam taxi yang telah berhenti.
Bagaimanapun juga akan bahaya jika pria itu ditinggal sendiri. Aluna takut Alee melakukan sesuatu yang buruk pada dirinya sendiri.
**
"Minumlah!" Dav menyodorkan segelas air putih yang baru saja ia tuang dari teko.
Aina menyeruput minuman jernih itu hingga tandas menyisakan gelasnya saja. Ia menarik napas dalam dan berusaha untuk tenang.
"You okay?"
Aina mengangguk. Keputusan yang begitu berat baginya namun memang itulah yang seharusnya. Davian suaminya sejak lima bulan lalu, dan Alee... dia hanya masa lalu yang akan menjadi sebuah kenangan manis yang tak akan pernah ia lupakan. Dan Dav... adalah masa sekarang dan masa depannya.
"Maaf jika aku memilihmu. Jika kau ingin meninggalkan diriku, maka aku juga menghargai keputusanmu,"
"Apa yang kau katakan?" Dav merengkuh kembali tubuh Aina dan mencium puncak kepalanya. Tak dipungkiri dia begitu senang dengan keputusan yang dibuat Aina. Ingin rasanya dia mendekap erat tubuh itu dan tak akan melepasnya.
Tiba-tiba mata Dav terbuka dan melepas tubuh Aina kemudian menatapnya.
"Kau tidak mengambil keputusan karena kau mengasihani ku ataupun sebagai ucapan terima kasihmu karena aku sudah banyak menolongmu bukan?"
Melihat ekspresi yang ditunjukkan wajah Dav membuat Aina ingin tertawa dan kali ini tak menahan tawanya.
"Seharian aku menangis, dan terima kasih kau sudah membuatku tertawa!"
"Apa ada yang lucu dari kalimatku?" Dav bingung.
Aina menggeleng." Hanya wajahmu saja yang lucu saat mengatakan itu."
"Ok. Terserah kau mau menilai wajahku selucu apa. Tapi yang jelas, saat ini ... aku mencintaimu!"
Mendengar ungkapan Davian membuat Aina membuka lebar matanya dan merasakan kecupan sayang pada punggung tangannya dari bibir merah muda milik Davian, suaminya.
untuk penjahatnya tidak di hukum
jd kurang gereget dan kurang puas endingnya..