Antares Bagaskara atau yang akrab dipanggil Ares adalah seorang pria tampan dan kaya, yang baru saja bercerai dengan istrinya. Ia memiliki seorang anak laki-laki bernama Arkanio Bagaskara.
Antares atau yang akrab dipanggil Ares harus diperhadapkan dengan perceraian karena perselingkuhan istrinya. Disisi lain ia bertemu dengan Anita yang merupakan babysitter dari anaknya. Percikan asmara pun muncul diantara keduanya? Namun, semua itu tidaklah mudah. Lantas bagaimana seorang duda beranak satu memperjuangkan cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kristikitt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24 - A Day
Sebagai pasangan yang baru menikah, gue benar-benar harus membiasakan diri dengan status baru gue sekarang. Terlepas dari itu, gue sangat menikmati hidup gue saat ini. Punya suami yang ganteng banget, punya anak yang lucu banget, punya mertua yang perhatian banget sama gue, apa sih yang kurang? Pokoknya gue merasa sangat bersyukur.
Hal pertama yang gue lihat saat membuka mata adalah wajah tampan suami gue. Masih tidur, rambut masih berantakan gini ajah cakep, apalagi kalo udah mandi, udah wangi, beehhh.. makin cakep lagi deh. Makin cinta juga dong pastinya.
Baru ajah gue mau menyentuh wajah tampan suami, eh gue malah dikejutkan dengan erangan seseorang dibelakang gue. Buset! Kok gue bisa lupa yah, kalau semalam gue, Kak Ares, dan Arka tidur seranjang.
Jadi ceritanya begini,
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
Sejak semalam gue dan Kak Ares sudah berjanji untuk mengajak Arka ikut perkemahan gitu. Kegiatannya akan dimulai jam 9 pagi besok.
Kegiatan ini semacam kegiatan yang dibuat khusus untuk mengajarkan anak-anak tentang pentingnya menjaga lingkungan. Selain itu ada beberapa aktifitas, seperti berenang di sungai, menjelajah, dan lainnya. Kegiatan ini dirancang khusus untuk anak dan orang tua. Jadi, gue sendiri pun jadi sangat antusias, wkwkwk..
Arka udah girang banget semalam. Dia justru langsung menyiapkan perlengkapan untuk berenang. Melihat anak gue yang seantusias itu bikin gue jadi gemes sendiri.
"Mau Bunda bantuin gak?" Tawar gue.
"Enggak usah Bun. Arka bisa sendiri." Tolaknya. Padahal gue tahu, dia lagi kesulitan buat mengambil kacamata renang yang berada pada sebuah laci lemari yang memang agak tinggi.
Tubuh Jinwoo yang lumayan gumpal menyulitkan dirinya sendiri untuk meraih kacamata tersebut. Di tambah lagi dengan tinggi badannya yang masih tergolong pendek. Tapi, ada satu perkembangan yang bikin gue bangga sama dia. Anak gue akhirnya udah bisa ngomong R. Jadi dia udah gak nyebut namanya Alka lagi.
"Anak Bunda kok gemesin banget sih." Gemes gue sendiri. Hal itu didengar oleh Arka. "Bun, aku gak gemesin kok. Aku kan tampan." Ujarnya.
"Aduh aduh.. anak Bunda. Siapa sih yang ngajarin ngomong gituh?" Tanya gue sambil tersenyum. Sok gede banget sih kamu nak.
"Papa yang bilang gitu." Jawabnya. Oke ini sih, Like Father Like Son.
"Bunda.... tolongin." Kata Arka sambil menunjuk kacamata yang tidak dapat diraihnya. Akhirnya dia nyerah juga. Gue pun langsung mengambil kacamata tersebut dan memberikannya padanya. "Makasih yah Bunda." Ucapnya.
"Sama-sama sayang." Balas gue sambil mencubit gemas kedua pipinya.
"Arka sayang Bunda." Ujarnya yang diakhiri dengan sebuah kecupan yang mendarat di pipi gue. What a sweet son.
"Bunda sayang Arka juga." Balas gue. Tak lupa gue mengecup kedua pipi gembulnya itu
...***...
"Arka udah tidur?" Tanya Kak Ares begitu gue masuk ke kamar kami.
"Iya, udah." Jawab gue. Kak Ares kemudian langsung menutup laptop yang ada dipangkuannya dan meletakan laptop tersebut pada nakas disamping tempat tidur kami.
"Sini." Dia menepuk kedua pahanya, memberi isyarat buat gue untuk duduk diatas kedua pahanya.
"Enggak ah. Aku berat ah." Tolak gue.
"Sini." Seolah gak mendengar ucapan gue.
"Berat Sayang..." Tolak gue lagi.
"Enggak. Sini dulu."
"Gak ah."
Mendengar penolakan gue untuk ketiga kalinya membuat Kak Ares bangkit berdiri. Tubuh gue langsung didekap olehnya. "Pengen dimanjain kamu..." Ucapnya dengan nada manja. Deru nafasnya bisa gue rasakan menyentuh leher gue.
"Apasih bayi gede aku?" Tanya gue sambil balas memeluknya.
"Aku sayang kamu bangettttt....." Kalau cuman berdua doang, Kak Aresblangsung berubah manja banget sama gue. Bukannya merasa illfeel atau gimana gituh, gue justru merasa senang. Dia hanya menunjukkan sisi dirinya yang seperti ini cuman buat gue seorang.
"Aku juga sayang kamu bangeetttttt....." Balas gue.
Masih dalam keadaan berpelukkan, Kak Aresvmembawa gue ke atas ranjang kami. Ia menenggelamkan dirinya pada dada gue. Sedangkan gue memainkan rambutnya pelan. "Gimana kerjaannya di hotel?" Tanya gue.
"Lumayan banyak kerjaan sih." Keluhnya.
"Yaudah, istirahat yah sekarang." Ujar gue yang masih mengusap-usap rambutnya.
"Gak ah." Kak Ares malah menatap gue.
"Terus?" Tanya gue heran.
"Aku harus lembur."
"Lembur?"
Kak Ares menganggukan kepalanya. "Lembur sama kamu tapi." Gue sangat amat mengerti arah pembicaraan suami gue ini. Pada akhirnya gue dan suami gue pun 'lembur'.
Nolak suami itu dosa kan?
...***...
Entah semalam gue dan Kak Ares tidur jam berapa. Pokoknya rasanya capek banget deh.
"Sayang... jam berapa sih ini?" Tanya Kak Ares dengan suara serak, khas orang baru bangun tidur.
Dengan terpaksa gue membuka kedua mata gue. Menyipitkan mata ke arah jam yang tergantung di dinding kamar kami.
"Sayang!" Pekik gue kaget.
"Udah jam 9 ini!!!!" Teriakan gue sontak membuat Kak Ares langsung bangun.
"Sayang, buruan mandi. Kita telat banget ini." Kak Ares langsung menarik gue menuju kamar mandi. Btw, kami berdua sama sekali gak sadar jika kami masih sama-sama belum berpakaian. Jika kita bukan dalam keadaan terburu-buru, gue yakin 100% ritual mandi gak bakalan secepat ini.
...***...
"Bundaaa!!! Papaaaa!!! Lama banget sih." Ucap Arka ketika melihat gue dan Papanya keluar kamar.
"Arka dari tadi udah gak sabar banget buat pergi." Kata Mami. "Kegiatannya dimulai jam berapa sih?"
Baik gue maupun Kak Ares sama-sama memilih untuk gak menjawab pertanyaan Mami. "Yuk kita jalan." Ajak Kak Ares sambil menggendong Arka.
"Kalian gak makan dulu? Bangunnya udah siang gini loh. Semalam kerja keras kan?" Mami itu orangnya blak-blakan banget, bikin muka gue jadi memerah. Buset dah! Wkwkwk...
"Entar sarapannya dimobil ajah, Mi." Jawab gue.
"Oh yaudah. Hati-hati yah dijalan." Ucap Mami, kemudian mencium kedua pipi cucu kesayangannya itu.
...***...
Untungnya sejak semalam gue udah mempersiapkan segala perlengkapan yang akan kami butuhkan. Jadi, saat ini gue dan Kak Ares gak kerepotan.
Tapi sejujurnya gue agak was-was saat ini. Bagaimana jika kami terlambat? Gue bakalan kecewain anak gue dong. Dan gue gak mau itu terjadi.
"Bunda kenapa?" Tanya Arka sambil melihat gue heran.
Kak Ares melirik sebentar kearah gue. "Tenang ajah Bun." Ujarnya. Dia juga pasti gue lagi khawatir banget kalau sampai kita terlambat.
"Bunda kenapa Pa?" Tanya Arka ke Papanya.
"Bunda udah gak sabar tuh." Tentu saja itu adalah sebuah kebohongan.
"Arka juga udah gak sabar." Ujar Arka girang. Hal itu membuat gue tersenyum.
...***...
Benar tebakan gue. Kami terlambat. Rombongan yang ikut kegiatan udah berangkat sejak setengah jam yang lalu ke tempat kegiatan.
Kak Ares sempat mengusulkan untuk ikut ke tempat kegiatan, tapi ternyata enggak bisa. Gue gak begitu paham kenapa.
"Yaaa.. kita telat." Ucap gue dengan sedih.
Bisa gue lihat wajah Arka juga ikutan sedih. "Maafin Papa yah." Ujar Kak Ares sambil membawa Arka ke dalam gendongannya.
"Gak papa kok." Diluar dugaan. Anak gue justru bilang gak papa. Wajahnya yang tadi terlihat sedih sudah tergantikan dengan wajah gembira.
"Kenapa gak papa?" Tanya gue.
"Gak papa ajah." Jawabnya enteng.
"Aduhh kamu kok baik banget sih..." Ucap gue sambil mencubit kedua pipi gembulnya itu. Gue bersyukur banget punya anak sebaik dan sepengertian Arka.
"Arka mau berenang ajah." Usulnya.
"Yaudah kita ke Water Park ajah yah?" Tanya Kak Ares sambil melihat gue.
"Iya iya. Yuk." Jawab gue dengan antusias.
"Yee.. ini mah bukan cuman Jinwoo doang yang seneng, Bundanya juga seneng banget." Ujar Kak Ares sambil tertawa.
Kami pun segera menuju ke Water Park, sebuah wahana air yang pokoknya seru banget.
...***...
"Kamu bawa baju ganti kan?" Tanya Kak Ares.
"Bawa dong." Jawab gue dengan semangat. "Aku ganti baju dulu yah." Pamit gue.
"Kamu gak usah berenang ajah yah?"
"Lah kenapa?" Tanya gue gak terima.
"Baju yang kamu bawa warnanya terang kan? Yang ada pakaian dalam kamu kelihatan." Jelas Kak Ares pelan, takut melukai hati gue. "Gak papa kan?" Tanyanya lagi.
"Iya deh, gak papa." Angguk gue.
Terpaksa gue gak berenang. Tinggal suami dan anak gue ajah yang berenang. Gue bagian pantau ajah.
Karena gue kebelet, gue pun langsung ke toilet. Begitu kembali, alangkah terkejutnya gue ketika melihat suami gue yang gak pake baju, alias telanjang dada.
Aduh badan suami gue jadi tontonan dong.
Gue gak rela berbagi!
Udah gituh, ada 3 ABG genit yang sengaja mendekati suami gue yang ada di pinggir kolam.
Gue harus beraksi ini mah!
"Sayangggggg...." Teriak gue dengan suara manja, membuat Kak Ares langsung menatap gue. Kaget mungkin. Gue gak pernah manggil dia semanja ini sebelumnya.
"Kamu gak tungguin aku." Kata gue sambil mengapit lengannya.
Ketiga gadis itu langsung memincingkan mata melihat ke arah lengan Kak Ares yang gue apit.
"Ini siapa Sayang?" Tanya gue sambil menatap ketiga cewe genit itu dengan tatapan gak suka.
"Ah perkenalkan kami, Ayu, Sita, dan Kia."
Buset! Mereka bertiga itu cantik-cantik banget. Seketika gue merasa minder. Tapi gue gak mau kalah. Pokoknya ini suami gue. Jiwa protektor gue langsung berkobar.
"Kenalin saya Ares, ini..."
"Saya istrinya Mas Ares, Anita. Kalau yang disana, itu anak kami, Arka." Kata gue yang langsung memotong ucapan Kak Jinhyuk.
"Aku pikir adek kaka, ternyata suami istri, hehehe..." Ujar Ayu yang sukses membuat gue melotot menatapnya. Gue makin merapatkan lengan Kak Ares ke arah dada gue. Sengaja bikin mereka lihat semua ini. Sedangkan Kak Ares langsung bereaksi ketika merasakan 'kekenyalan' itu. Makin lengket deh gue dekepinnya. Bodo amat.
"Papaaaaaa...." Teriakan Arka membuat kami semua langsung mengalihkan pandangan kearahnya.
"Sinii!!!" Panggilnya.
"Udah dulu yah, kami nyusul anak kami dulu yah." Pamit gue yang langsung menarik Kak Ares. Masih dalam posisi lengannya yang gue dekap.
Setelah kami menghampiri Arka, otomatis gue melepaskan dekapan gue pada lengan Kak Ares. "Kok dilepas?" Protesnya, seakan tidak terima.
"Tau ah."
"Arka, Bunda kamu ngambek tuh." Gue malah dibecandain sama Kak Ares, udah gituh, gue juga dikacangin sama Arka. Dia asyik merayu Papanya buat naik perosotan bareng.
"Udah ah, jangan ngambek mulu. Aku kan milik kamu sepenuhnya." Kata Kak Ares sebelum meninggalkan gue dan asyik main sama Arka.
Meski demikian, mata gue tetap mengawasi suami dan anak gue dari predator muda. Siapa lagi kalo bukan 3 ABG itu.
Sekalinya gue lengah, eh suami gue didempetin sama mereka. Namun, begitu melihat pelototan mata gue, mereka langsung pergi. Rasain tuh.
Gue gak tenang selama si 3 cabe itu masih ada. Tapi untungnya, suami gue tipe laki-laki yang menjaga perasaan istrinya. Ia selalu menghindari 3 cabe itu. Tuh rasain! Suami gue cintanya ama gue doang.
...***...
Saat kami hendak pulang, 3 cabe itu mendekati kami. Gue menyipitkan mata melihat mereka.
"Kenapa?" Tanya gue ketus.
"Boleh nebeng pulang gak Kak?" Tanya salah satu diantara mereka.
Kak Ares menatap gue sebentar. Dia tahu kalau gue pasti bakalan menolak.
"Emangnya kalian tinggal dimana?"
Mereka menyebut lokasi rumah yang kebetulan searah sama rumah kami. Meskipun gue gak suka, tapi gue juga gak bisa biarin mereka begitu.
"Yaudah sini deh." Ujar gue.
Mereka bertiga duduk di belakang, sedangkan gue dan Kak Ares duduk didepan. Yaiyalah, masa iya gue duduk di belakang. Dalam perjalanan pulang, Arka udah kelelahan. Ia pun tertidur dipangkuan gue.
"Kakak udah lama nikah yah? Anaknya udah gede gini soalnya." Tanya salah satu diantara mereka, kalau gak salah namanya Kia.
Belum sempat gue menjawab, salah satunya udah menimpali lagi. "Kakak gak niat buat tambah anak lagi?"
"Arka udah gede loh. Udah cocok jadi kakak dong." Timpal yang satunya lagi.
Mereka bertiga terus berbicara, sama sekali gak ngasih gue kesempatan buat menjawab. Cuman Kak Ares doang yang didengerin. Bikin gue bete maksimal deh. Perjalanan yang tadinya gak begitu jauh, terasa begitu jauh. Syukurlah mereka udah turun.
"Masih ngambek nih?" Tanya Kak Ares begitu 3 cabe itu turun.
"Kamunya sih."
"Kan mereka yang nyamperin aku. Bukan aku yang nyamperin mereka. Lagian kamu sendiri kan yang ngijinin mereka buat nebeng."
Skakmat!
Bener kata Kak Ares.
"Ini lengan aku gak didempet lagi?" Tanya Kak Ares sambil memainkan lengannya. Jangan lupakan alis matanya yang ia naik turunkan, seakan menggoda gue. Sukses bikin gue malu.
"Apaan sih."
"Nih lengannya. Mumpung Arkanya bobo." Pria disebelah gue ini terus menggoda gue.
"Udah ah. Udah mau nyampe rumah juga."
"Yaudah deh. Kalo udah di kamar, kamu dempetin terus yah."
Suami gue kenapa sih?! Bikin pikiran gue jadi kemana-mana deh. Ambigu banget.
...***...
Udah jam tidur, tapi Arka gak mau tidur dikamarnya. Dia pengen tidur bareng gue sama Papanya. Disisi lain, Papanya gak mau. Duh Gusti! Papa gak mau ngalah sama anaknya sendiri.
"Arka tidur sendiri dikamar dong, kan udah gede."
"Papa juga udah gede, kenapa tidur sama Bunda?" Ngakak banget dengerin Jinwoo membalas Papanya.
"Kan itu istri Papa."
"Kan itu Bundanya Arka."
Astaga! Gue makin ngakak dong.
"Kalau sudah suami istri harus tidur sama-sama."
"Kan Arka anak Papa sama Bunda, jadi tidur sama Arka juga dong."
Pinter banget sih ngebalas Papanya.
"Yaudah.. sini tidurnya barengan ajah. Bunda ditengah yah." Gue langsung mengambil posisi di bagian tengah.
"Gak!"
"Iya!"
Papa dan anaknya gak kompak. Papanya nolak, eh anaknya malah girang. Arka langsung tiduran disamping gue.
"Nitaaa...." Rengek Kak Ares.
"Sekali-kalilah. Sama anak sendiri juga."
"Tapi ada syaratnya yah." Kak Ares tiduran disebelah gue.
"Apa?" Tanya gue.
"Lengan aku didempeti kayak tadi yah."
"Yak! Antares Bagaskara!" Pekik gue. Kak Ares malah ketawa ngakak. Becandain gue emang udah jadi hobi barunya. Suka banget bikin gue jengkel, untung gue cinta.
Pada akhirnya gue, Kak Ares, dan Arka tidur bareng. Sebelum Arka tertidur pulas, gue emang selalu pelukin dia. Tapi setelah dia tertidur, gue langsung dimonopoli sama Papanya.
Kasian anak gue. Ada di samping gue, tapi gue malah fokus ke Papanya. Jangan salahin Bunda yah nak, Papa kamu nakal sih. Untung, kami gak berbuat lebih.
...-***-...