NovelToon NovelToon
Repeatedly Hurt

Repeatedly Hurt

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Tamat
Popularitas:13.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Nidati

Andara Agustin, gadis malang yang tidak diinginkan keberadaannya. Kehadirannya dianggap sebagai kesialan. Kalau bukan karena wasiat sang Nenek, Dara pasti sudah pergi dari keluarga yang memperlakukan dirinya tak lebih dari sampah.

Namun, takdir Tuhan membawa Dara pada seorang Raffaza Alfarezo. Presdir Perusahaan Gerdion, pria dingin dan arogan. Kesalahan satu malam yang mereka perbuat menghasilkan sosok makhluk kecil yang tak bersalah. Akan tetapi, Raffa sudah memiliki kekasih bernama Khanza Abir yang sangat dicintainya.

Siapa sangka justru sang kekasihlah yang meminta Raffa menikahi Dara, lantas bagaimana sikap Dara setelah mengetahui pria yang telah menghamilinya memiliki kekasih yang baik hati. Apa Dara tega menyakiti hati wanita lain demi anaknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nidati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Taoge dan Mangga

"Dara."

"Fera."

Serentak mereka memanggil satu sama lain. Tidak menyangka bisa bertemu di pasar. Padahal setahu Dara, Fera tidak akan mau diajak ke swalayan, apalagi pasar tradisional. Aneh jika seorang Fera berada di sana

"Lo ngapain di sini? Sama siapa?" tanya Fera melirik sebentar pada Oma, lalu kembali menatap Dara.

"Di pasar ya pasti belanja, masa berenang," sinis Oma.

Fera menghiraukan ucapan Oma, dia tetap menatap Dara meminta jawaban.

"Oma," ucap Dara pada Fera yang dibalas lipatan di dahi gadis tersebut.

"Oma? Bukannya Nenek lo udah meninggal ya." Fera menggigit jari mengingat mendiang Nenek-Dara.

"Sembarangan! Saya masih sehat didoakan mati. Kualat kamu," ucap Oma.

"Bukan gitu gue kan taunya neneknya Dara udah meninggal," ujar Fera.

"Ayo Dara kita pulang." Oma menarik tangan Dara meninggalkan Fera. Siapa Oma yang berani menarik Dara seenaknya meninggalkan Fera dalam kebingungan.

"Lo hutang penjelasan sama gue, Dar." teriak Fera yang didengar oleh Dara karena jarak mereka belum terlalu jauh.

Fera melanjutkan masuk ke pasar untuk belanja keperluan restoran meski itu bukan tugasnya, tapi setidaknya ia bersyukur karena bisa bertemu dengan Dara. Namun, pertanyaan mengenai Oma mengisi pikiran Fera. Setahunya nenek-Dara sudah meninggal, lantas siapa yang bersama Dara tadi. Penampilan Dara juga tidak seperti biasanya.

"Ahh ... pusing tujuh keliling pala barbie," monolog Fera.

Sedangkan Dara dan Oma sudah dalam perjalanan pulang.

"Tadi, siapa?" tanya Oma.

"Teman Dara namanya Fera anaknya memang gitu ceplas-ceplos," ujar Dara memberitahu agar Oma tidak salah paham pada Fera.

"Oma gak suka. Bicaranya gak bisa di saring. Bicara sama orang tua pakai lo gue. Gak ada sopan santun sama sekali. Kamu gak usah deket-deket sama dia," nasihat Oma.

"Dia temen baik Dara, Oma. Dara gak bisa ngejauhin tanpa alasan yang jelas."

"Nanti kamu bisa ketularan gak bener," sanggah Oma tidak mau kalah.

"Oma, Dara gak punya teman selain Fera cuma dia tempat Dara mencurahkan isi hati. Tanpa Fera Dara bukan siapa-siapa."

"Kamu Dara Alfarezo, ingat Dara suami kamu seorang presdir kamu bisa bergaul dengan siapapun yang memiliki tata krama dan sopan santun. Bukan dia."

Dara tersenyum miris bahkan tidak ada yang tahu Dara menyandang nama belakang suaminya, jadi untuk apa Dara menghindar dari Fera. Nama itu hanya tulisan tak memiliki arti sama sekali. Dara pun enggan menyandang nama tersebut.

"Dara dan Fera sudah lama bersahabat dan Dara tahu luar dalam Fera Oma gak usah khawatir."

Sisa perjalanan dihabiskan dengan suasana yang canggung. Dara tidak bermaksud demikian terhadap nasihat Oma, tapi ia tidak bisa jika harus menuruti perkataan Oma yang hanya memandang Fera dari luar tanpa tahu bagaimana baiknya Fera pada Dara.

Tiba di rumah Oma dan Dara menata belanjaan dibantu oleh Mbok Sumi. Oma tidak cerewet seperti biasanya terkesan diam. Dara menjadi serba salah. Jika Oma berubah sikap hanya karena menolak perkataan Oma tadi. Dara berpikir agar Oma tak lagi marah padanya, kemudian sebuah ide muncul tak kala mata Dara menangkap sebungkus taoge.

"Oma beli taoge," girang Dara mengambil plastik berisi taoge.

"Kita masak taoge ya Oma," seru Dara mencari perhatian Oma.

"Kamu gak boleh makan tauge nanti bayinya kecil." Oma merampas taoge dari Dara. Niat hati ingin mendapat perhatian malah mendapat omelan. Nasib nasib.

"Ayolah Oma cuma mitos jangan dipercaya, ya ... ya ...," rengek Dara. Ia bahkan jijik sendiri dengan sikapnya yang seperti kanak-kanak karena ini pertama kalinya Dara merengek karena dilarang. Dulu Dara hanya bisa menangis dan menerima, serta memendam keinginan. Sekarang perlahan mulai berubah.

"Kalau tidak percaya tanya Mbok Sumi," perintah Oma. Dara menatap Mbok Sumi yang gelagapan menjawab perkataan Oma.

"Iya, Nduk. Orang dulu percaya kalau makan taoge bayinya jadi kecil," ucap Mbok Sumi tidak berani menyangkal Oma.

"Itu, 'kan dulu." Dara tidak mau kalah.

"Nurut kata Oma. Nih mangga, sana makan jangan ganggu konsentrasi Oma." Memberikan mangga pada Dara untuk mengalihkan perhatiannya pada taoge.

Dara sempat lupa dia membeli mangga, dengan berbinar Dara mengambil mangga tersebut.

"Pakai sambal rujak lebih enak," gumam Dara.

"Jangan terlalu pedas, gak baik." Dara mengangguk menjawab perkataan Oma. Dara membuat bumbu rujak kemudian mengupas mangga tersebut. Mencolek mangga ke dalam sambal dan memasukkan ke mulut. Uhh ... sensasi asam dan pedas tercampur menjadi satu. Dara membawa mangga ke belakang rumah di sana sangat asri karena terdapat pepohonan rindang dan berbagai bunga. Dara hanya sempat melihatnya dari atas balkon, maka dari itu sekarang ia ke sana. Mumpung Mama tidak ada di rumah. Beliau selalu pergi entah kemana meskipun di rumah ada Oma. Dara tak perlu takut mendapat perkataan tajam dari Mama. Untuk hari ini Dara aman.

Siang hari di bawah pohon dengan angin sepoi-sepoi serta menikmati rujak mangga. Begitu enak dan nyaman. Beban Dara seakan menguap begitu saja. Untuk sesaat Dara bisa hidup dengan nyaman tanpa adanya gangguan.

"Apa yang kau lakukan di sini," teriak Raffa. Dara menatap kedatangan Raffa dengan bingung, pasalnya ini masih siang untuk Raffa pulang. Pria itu selalu pulang sore hari. Ada gerangan apa Raffa pulang di jam segini. Menghampiri Dara pula, tidak seperti biasanya.

"Mas," panggil Dara memastikan jika penglihatannya memang tidak salah. Mendapat tatapan sinis dari Raffa membuat Dara yakin jika yang berdiri dihadapannya memang Raffa sang suami.

"Saya tanya apa yang kau lakukan di sini," ulang Raffa. Ia pulang karena tiba-tiba ingin makan tumis taoge masakan Oma, maka tadi ia sempat meminta Oma untuk membeli taoge dan saat ke dapur ternyata tumis taoge belum matang. Terpaksa Raffa pergi ke belakang sekedar menghirup udara segar. Siapa sangka ia bertemu dengan Dara yang asik dengan makanannya.

"Makan rujak," beo Dara.

Raffa melihat mangga dan sambal yang bersandingan. Lidahnya kelu ingin mencicipi rujak mangga. Air liurnya sudah berkumpul ingin merasakan mangga muda tersebut, tapi egonya lebih tinggi untuk meminta pada Dara. Raffa balik masuk rumah menghampiri Oma.

"Oma, masih ada mangga?" tanya Raffa.

"Ada tuh di kulkas." Raffa membuka kulkas dan mengeluarkan satu buah mangga. Raffa menyerahkan mangga tersebut kepada Oma yang tengah memegang spatula.

"Apa?" tanya Oma bingung karena diberi mangga.

"Buatkan rujak mangga," ucap Raffa.

Mendengar hal tersebut. Oma mengembalikan mangga ke Raffa, kemudian fokus pada tumis taoge.

"Kamu yang ngidam, Oma yang repot," sungut Oma.

"Aku gak ngidam cuma ingin aja," sangkal Raffa.

"Apa buktinya? Kamu yang minta tumis taoge sekarang minta rujak mangga dah pasti kamu ngidam."

"Please Oma yang cantik yang baik bikinin Raffa rujak ya."

Kemana sikap arogan, keras kepala, sinis dan egois milik Raffa. Semua sirna tergantikan mimik wajah memelas ingin menangis.

"Kalau ada maunya dipuji-puji. Kalau gak ada, bandelnya minta ampun."

Raffa meringis mendengar sindiran Oma.

***

Happy reading.

Di tempat kalian lagi musim buah apa nih. Kalau ada mangga boleh tuh lempar sebiji ke author 😂 hayo siapa yang mau rujak mangga.

Salam sayang dari aku.

1
sekar
aku tebak fera
sekar
heh berbelit Belit gitu aja Mulu marah banting pintu pergi,harga diri diinjak Suami dan mertua
sekar
berjuang hnya buat org yg mau diperjuangkan dan kata2nya tidak menghina dan merendahkan,itu sama saja dengan menykiti secara mental walau bukan fisik,sungguh aku ga suka dgn suami dara ini
Ran Aulia
Terimakasih kak, ceritanya bagus 😍😍😍👍👍👍
Nur Halima
Luar biasa
Sella Xhu
pasang koplak 🤣
Sella Xhu
thor... ada cerita buat reza sma fera gaaa
heheh
Sella Xhu
Luar biasa
EndRu
Thor
beneran ayah dihukum 20 tahun ..
heran ..
emang melakukan pembunuhan berencana?😀
EndRu
ooh bar tahu aku Thor..
kalau sakit Karena alergi itu pengobatannya juga pakai dibius
EndRu
Oma bisa diajak curhat ini .
EndRu
a trauma kah?
EndRu
di sini agak heran aku nih. masa ada keributan gitu. Bu Lastri sampai ga denger. ga nolongin. apa bi Lastri lagi g ada di rumah
YK
salah paham terus raffa ini. buruk banget karakternya...
YK
seharusnya sikap ini yg dara lakukan ke keluarganya bukan ke suaminya. gak fair.
YK
memang terlalu bodoh. kan bisa lari dulu sama pembokatnya. trus balik pas pembacaan wasiat dari pengacara. Tokoh utamanya LUAR BIASA BEGONYA.
YK
ya Allah, kenapa ada tokoh yang GOBLOKNYA MINTA AMPUN kayak gini ya???
YK
raffa ini sangat buruk tabiatnya. apa harus disandingkan sama dara? terlalu maksa kayaknya..
YK
maaf ya, umur 25 tahun TERLALU TUA utk bersikap seperti Dara.
Christine Youngran: yupsss tua bangetttt..kecuali dia emang ada bego² ya bawaan lahir..
total 1 replies
YK
umur 25 tahun sudah terlalu dewasa utk diperlakukan kyk gini. seharusnya lebih muda lagi, Thor. 21 atau 22 masih pantas lah.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!