Di tengah dinginnya kota New York, pernikahan megah Adiba Abbey dan Raynazh Leon Osborn hancur berantakan dalam waktu semalam.
Di dalam kamar griya tawang keluarga Osborn yang remang dan mabuk oleh atmosfer perayaan, sebuah kesalahan fatal terjadi.
Adiba menyerahkan segalanya kepada pria yang dia kira adalah sang suami yang baru saja mengikat janji suci bersamanya di altar.
Namun, tepat di detik-detik pelepasan yang intim, sebuah suara asing yang bergetar hebat meloloskan nama Adiba.
Kesadaran menghantamnya bak badai es; pria yang baru saja menidurinya bukanlah Raynazh, melainkan sang adik ipar, Louis Enver Osborn.
Pengkhianatan tak sengaja yang dipicu oleh kegelapan dan alkohol ini meruntuhkan dinding pernikahan mereka, menyeret Louis dan Adiba ke dalam jurang penyesalan, dendam, dan rahasia kelam yang mengancam kehancuran total dinasti Osborn.
_🌷_
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
Cangkir porselen berisi teh herbal hangat itu berdenting halus saat Adiba meletakkannya kembali ke atas tatakan. Di ruang tengah griya tawang Long Island, aroma esensial lavender berpadu dengan wangi kayu manis dari teh, menciptakan atmosfer yang begitu menenangkan. Namun, bagi Adiba, ketenangan itu perlahan mulai terkikis oleh rasa penasaran yang menggelitik sejak mereka meninggalkan area dapur.
Adiba membetulkan posisi duduknya di sofa beludru, menatap pria jangkung di hadapannya dengan pandangan menyelidik yang santai.
"Kapan sebenarnya kau kembali ke New York, Gio? Kenapa tidak memberitahuku sama sekali? Tiba-tiba saja kau muncul di lorong cokelat swalayan."
Giorgio yang sedang menyesap tehnya perlahan menurunkan cangkir tersebut. Sepasang mata sehitam jelaga miliknya menatap Adiba dengan ketenangan yang menghanyutkan, menyembunyikan binar kepuasan yang teramat pekat.
"Dua hari lalu, Junior," jawab Giorgio, suaranya baritonnya terdengar begitu renyah. "Aku ke New York murni karena urusan mendesak klan Chiellini di Manhattan. Jadwalku sangat padat, dan aku hanya sebentar di New York. Aku akan kembali ke Paris seminggu lagi."
Adiba mengangguk-angguk paham, namun ada sedikit rasa sesal yang melintas di wajahnya. "Hanya seminggu? Singkat sekali. Lalu, di mana kau tinggal sekarang? Kau punya penthouse di sekitar kawasan ini?"
"Tidak," sahut Giorgio santai, menyandarkan punggung tegapnya ke sandaran sofa. "Aku tidak sempat mengurus properti pribadiku di sini karena kedatanganku yang mendadak. Aku menginap di hotel di pusat kota."
Mendengar jawaban itu, Nyonya Abbey yang duduk di sisi lain sofa langsung meletakkan majalah dinding digitalnya. Ibu mana yang tega membiarkan sahabat lama sekaligus penyelamat selera makan putrinya menggelontorkan uang di hotel sementara rumah aman mereka memiliki belasan kamar kosong yang tak terpakai?
"Menginap di hotel?" sela Eleanor dengan nada suara yang sarat akan keramahan keibuan. "Giorgio, itu terdengar sangat tidak efisien. Hotel di Manhattan sangat bising, dan hotel di sekitar Long Island ini terlalu formal. Rumah ini sangat luas, George sedang berada di kota untuk beberapa hari ke depan, dan kami punya banyak kamar tamu yang kosong. Sebaiknya kau menginap saja di sini selama sisa seminggu ini."
Bagi Giorgio Chiellini, tawaran Eleanor laksana hembusan angin segar yang paling dinantikannya di tengah gurun manipulasi yang sedang dia bangun.
Sudut bibir Giorgio perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman lebar yang teramat menawan namun menyimpan kegilaan yang absolut.
Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, batin Giorgio berteriak dengan tawa kemenangan yang gila.
Kenapa Tuhan begitu baik mengatur segalanya menjadi semudah ini? batinnya bersorak.
Papan catur yang dia rancang tidak memerlukan banyak gerakan paksaan; klan Abbey sendiri yang membukakan pintu gerbang benteng mereka agar sang predator bisa melangkah masuk dan tidur tepat di samping sang mangsa.
"Apakah itu tidak merepotkan, Nyonya Abbey?" tanya Giorgio, berpura-pura sungkan dengan nada suara yang teramat sopan.
"Sama sekali tidak, Nak. Justru kami yang senang karena Adiba punya teman mengobrol agar dia tidak bosan," balas Eleanor dengan binar mata tulus.
Namun, di seberang meja, mendengar kata 'menginap' dilemparkan ke dalam percakapan mendadak membuat tubuh Adiba menegang.
Rasa santai yang tadinya menyelimuti dirinya seketika menguap, digantikan oleh rasa canggung yang teramat pekat yang tiba-tiba menyerang seluruh sarafnya.
Giorgio yang memiliki kepekaan insting seorang pemburu, langsung menangkap perubahan mikro pada raut wajah Adiba.
Pria itu menatap Adiba yang kini mendadak salah tingkah, memandangi cangkir tehnya seolah-olah benda porselen itu adalah hal paling menarik di bumi.
Kau mengingat tentang kita, Sayang? batin Giorgio tersenyum gila, tatapan matanya mengunci Adiba dengan intensitas yang sanggup membuat kulit meremang.
Ada sebuah babak dalam empat bulan masa pacaran kontrak mereka di Seattle yang sengaja mereka kubur dari pembicaraan santai tadi.
Masa-masa di mana status 'pacaran' itu tidak lagi sekadar candaan orientasi, melainkan bulan-bulan di mana batas-batas moral di antara dua anak muda yang matang terbakar habis. Masa di mana mereka melakukan hal-hal yang teramat intim, jauh melampaui batas hubungan senior dan junior biasa.
Pipi Adiba tiba-tiba saja memerah padam. Semburat merah itu menjalar cepat hingga ke ujung telinganya.
Pikirannya mendadak terlempar pada ingatan-ingatan kilat yang panas. Giorgio yang jeli tidak perlu menebak lagi; dia tahu persis apa yang sedang berputar di dalam kepala Adiba saat ini. Karena jujur saja, Giorgio pun sama—dia mengingat setiap jengkal malam-malam itu dengan presisi yang mengerikan.
Empat bulan bukan waktu yang sebentar untuk sepasang kekasih yang tinggal di kota sedingin Seattle. Selama empat bulan berpacaran itu, Adiba pernah frustrasi mencari pelarian dari obsesi nya pada Louis Osborn di New York, telah puluhan kali menginap di penthouse mewah milik Giorgio di dekat kampus.
Di atas ranjang luas berseprai sutra hitam milik Giorgio, mereka pernah melakukan hal-hal intim yang membuat Adiba saat ini merasa seolah udara di ruang tengah mendadak habis.
"Kenapa wajahmu memerah, Adiba? Apakah suhu di ruangan ini terlalu panas untukmu?" tanya Giorgio, memancing dengan nada suara yang teramat polos namun matanya berkilat penuh maksud tersembunyi.
Adiba tersedak air liurnya sendiri.
Dia melirik tajam ke arah Giorgio, mencoba memberi isyarat lewat matanya agar pria itu menutup mulutnya. "Ada Mami, Gio. Jangan membahas hal yang memalukan," bisik Adiba setengah mendesis, suaranya tertahan di tenggorokan.
Eleanor yang tidak menyadari ketegangan bernuansa sensual di antara dua anak muda itu hanya tersenyum tipis. "Mami akan ke belakang sebentar untuk menyuruh kepala pelayan menyiapkan kamar tamu utama di sebelah kamarmu, Adiba. Nikmati teh kalian."
Begitu sosok Eleanor menghilang di balik koridor menuju area pelayan, keheningan di ruang tengah mendadak berubah menjadi sesuatu yang teramat intimidatif.
Giorgio meletakkan cangkirnya dengan bunyi ketukan yang lambat. Dia memajukan tubuh tegapnya, menopang siku di atas lutut, mendekatkan wajah tampannya hingga Adiba bisa mencium aroma maskulin bercampur wangi tembakau mahal yang menguar dari tubuh Giorgio.
"Kenapa harus merasa memalukan?" bisik Giorgio, suaranya kini berubah menjadi lebih rendah, berat, dan sarat akan maksud yang vulgar.
"Apakah kau sedang memikirkan bagaimana caramu mendesah di bawahku saat salju turun di Seattle? Atau... kau merindukan bagaimana jemariku mengunci kedua tanganmu di atas kepala tempat tidur kita penthouse-ku?"
Deg.
Wajah Adiba terasa seperti terbakar mendengar kalimat blak-blakan yang keluar dari bibir Giorgio. Kata-kata itu begitu vulgar, membangkitkan memori sensual yang membuat bulu kuduknya berdiri. "Giorgio! Jaga bicaramu! Itu sudah masa lalu!"
"Masa lalu?" Giorgio terkekeh rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat berbahaya sekaligus seksi.
Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu berdiri, merapikan kemejanya, lalu menatap Adiba dari ketinggian dengan tatapan predator yang lapar.
"Sesuatu yang pernah terjadi di antara kulit kita tidak akan pernah menjadi masa lalu, Adiba. Kamar kita bersebelahan sekarang. Mari kita lihat, sejauh mana kau bisa menahan diri dari ingatan-ingatan panas itu selama seminggu ke depan."
Giorgio berbalik, melangkah pergi menuju kamar tamu barunya dengan keanggunan seorang penguasa yang tahu bahwa mangsanya telah terkunci di dalam labirin yang dia ciptakan sendiri.
Sementara Adiba tetap terduduk di sofa, memegangi dadanya yang berdegup kencang, terjebak di antara rasa canggung dan gairah masa lalu yang mendadak dibangunkan secara paksa.
Langkah kaki Giorgio yang menjauh menuju kamar tamu utama menyisakan keheningan yang mencekam di ruang tengah.
Adiba masih terduduk kaku, mencengkeram tepi sofa beludru dengan jemari yang gemetar. Dadanya bergemuruh hebat, bukan hanya karena kata-kata yang baru saja dibisikkan Giorgio, melainkan karena sebuah kebenaran mutlak yang teramat kelam dan rahasia—sebuah rahasia yang selama ini dia simpan rapat dari dunia, bahkan dari Louis Osborn.
Kebenaran yang sesungguhnya di balik kesucian yang diagung-agungkan klan Abbey adalah: Adiba telah menyerahkan dirinya untuk pertama kali dalam hidupnya kepada Giorgio Chiellini, bertahun-tahun yang lalu di bawah langit Seattle yang dingin.
Selama empat bulan masa pacaran yang penuh dosa itu, Adiba yang rapuh dan hancur karena cintanya pada Louis di New York telah menjadikan Giorgio sebagai pelarian terbaiknya.
Di atas ranjang penthouse mewah milik Giorgio, dalam balutan gairah yang membakar, Adiba menyerahkan mahkota berharganya kepada sang senior tanpa sisa.
Giorgio-lah pria pertama yang menyentuh setiap jengkal tubuhnya, pria pertama yang mengukir noda di atas lembaran sucinya.
Namun, saat masa empat bulan itu berakhir dan untuk menghadapi realitas perjodohannya, rasa panik mendadak menyerang jiwanya.
Klan Abbey tidak akan pernah menerima dirinya yang sudah tidak suci, dan ego Adiba menolak untuk terlihat cacat di hadapan Louis Osborn jika suatu saat pria itu menyentuhnya.
Di sinilah letak kesempurnaan manipulasi Giorgio Chiellini.
Dengan ketenangan seorang iblis yang berkedok malaikat pelindung, Giorgiolah yang mengatur segalanya.
Dia membawa Adiba secara rahasia ke sebuah klinik bedah rekonstruksi terbaik. Giorgio yang membiayai, Giorgio yang memegang tangannya, dan Giorgio-lah yang mengantar Adiba melakukan operasi keperawanan untuk mengembalikan keutuhan fisik selaput darahnya hingga kembali sempurna tanpa cacat.
Maka, bercak darah yang terlihat di sprei putih pada malam pengantin jahanam bersama Louis Osborn beberapa minggu lalu, sebenarnya bukanlah bukti keperawanan alami Adiba. Itu adalah mahakarya medis yang dirancang oleh tangan dingin Giorgio Chiellini bertahun-tahun yang lalu.
Louis Osborn mengira dia adalah pria pertama yang merobek kesucian Adiba, tanpa pernah tahu bahwa dia hanyalah pria kedua yang menyentuh selaput buatan yang dijahit atas perintah Giorgio.
Adiba memejamkan matanya, merasakan keringat dingin membasahi tengkuknya.
Di kamar sebelah, Giorgio Chiellini menutup pintu kamar tamunya perlahan.
Pria itu bersandar pada pintu, menatap langit-langit kamar dengan senyuman gila yang teramat puas.
Semua bidak catur telah terkunci. Louis mengira dia telah menodai Adiba, Arthur mengira janin itu adalah penerus Osborn, dan Adiba mengira Giorgio hanyalah masa lalu yang menolongnya.
Padahal, sejak bertahun-tahun lalu hingga detik ini, Adiba Abbey tidak pernah sedetik pun lepas dari genggaman sang predator murni.