NovelToon NovelToon
Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sandiwara di Dunia Nyata

Sinar matahari pagi yang menembus kaca griya tawang lantai tiga puluh dua itu terasa sangat hangat, tetapi bagi Nayla Putri, kehangatan itu justru terasa seperti hawa panas yang siap memanggang harga dirinya.

Sejak pukul enam pagi, Nayla sudah terjaga. Dia berdiri di depan cermin wastafel kamar mandi utama, menatap penampilannya yang mengenakan daster batik longgar bermotif mega mendung pakaian ternyaman yang selalu dia pakai di kontrakan, tetapi mendadak terasa sangat tidak estetik di dalam kamar mandi berlapis marmer hitam ini.

"Oke, Nayla. Tarik napas, embuskan," gumamnya pada diri sendiri, mencoba menenangkan debaran jantungnya. "Hari ini cuma hari pertama dari sembilan puluh hari sandiwara gila ini. Lu pasti bisa."

Namun, kalimat penyemangat itu tetap gagal mengusir rasa gugup yang mengikat perutnya sejak semalam. Rumah mewah ini terlalu besar, terlalu sunyi, dan terlalu asing untuk seseorang seperti dirinya. Bahkan aroma ruangan yang wangi dan mahal saja sudah cukup membuat Nayla merasa seperti orang yang salah tempat.

Ia melirik ke arah kamar utama yang luas itu. Di sisi ranjang king size, selimut tampak rapi tanpa bekas dipakai. Sementara di lantai dekat sofa, Gibran masih tertidur dengan satu tangan menutupi wajahnya.

Nayla langsung panik.

“Ya ampun!” bisiknya cepat.

Tanpa membuang waktu, ia berjalan tergesa menghampiri pria itu lalu jongkok di sampingnya. Jemarinya mengguncang pelan bahu Gibran.

“Mas … Mas Gibran … bangun,” desisnya setengah berbisik.

Gibran hanya mengerang kecil tanpa membuka mata.

“Mas, bangun dulu! Bahaya!” Nayla mulai mengguncangnya lebih kuat.

Pria itu akhirnya membuka mata perlahan dengan wajah kusut dan suara serak khas baru bangun tidur.

“Apaan sih, Nayla … masih pagi.”

Nayla membelalakkan mata kesal. “Ini bukan soal pagi! Kalau ibu Anda masuk sekarang terus lihat Anda tidur di lantai, habislah kita!”

Ucapan itu membuat Gibran langsung tersadar. Ia bangkit setengah duduk sambil mengusap wajahnya kasar.

“Sial … gue lupa.”

“Iya, Anda lupa. Tapi saya enggak mau ikut mati dibunuh ibu mertua galak gara-gara sandiwara kita kebongkar di hari pertama.”

Gibran menatap Nayla beberapa detik, lalu tiba-tiba tertawa kecil melihat kepanikan wanita itu.

Sementara Nayla justru makin sebal.

“Jangan ketawa! Cepat mandi,dan siap- siap!"

Nayla memutuskan untuk keluar kamar terlebih dahulu

Begitu keluar dari kamar, aroma mentega gurih dan roti panggang langsung menyergap indra penciumannya. Langkah kaki Nayla terhenti di dekat meja bar dapur yang bergaya minimalis.

Di sana, Renata Mahardika sudah tampil modis dengan setelan tunik sutra berwarna salem, lengkap dengan celemek renda putih yang terikat rapi di pinggangnya.

Di atas meja marmer, sudah tersaji piring-piring berisi roti bakar, telur mata sapi yang bentuknya bulat sempurna, potongan avokad segar, dan dua cangkir kopi yang mengepulkan asap tipis.

"Eh, menantuku sayang sudah bangun!" seru Renata dengan mata berbinar begitu melihat Nayla. Wanita paruh baya itu meletakkan sepasang penjepit roti, lalu menghampiri Nayla dengan langkah riang.

"Aduh, pakai daster batik begini kelihatan lokal banget ya, eksotik! Gibran mana, Sayang? Kok belum keluar?"

Nayla menelan ludah, mendadak gugup. "Eh ... itu, Ma ... Mas Gibran masih di kamar, sepertinya baru selesai mandi," jawab Nayla ragu, mengutuk fakta bahwa dia terpaksa berbohong lagi. Faktanya, semalam setelah Renata masuk ke kamar tamu, Gibran terpaksa mengendap-endap masuk ke kamar utama tempat Nayla tidur, lalu menggelar selimut dan bantal di atas lantai marmer di samping ranjang besar Nayla demi mengelabui sang mama jika tiba-tiba ada inspeksi mendadak.

Tepat pada saat itu, pintu kamar utama terbuka. Gibran melangkah keluar dengan penampilan yang sudah rapi: kemeja kerja berwarna biru dongker yang lengannya digulung hingga siku, celana kain abu-abu, dan rambut yang masih agak basah. Dia tampak segar, meskipun ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya akibat semalam harus tidur di atas lantai yang keras dan dingin.

"Pagi, Ma," sapa Gibran, suaranya serak-serak basah khas bangun tidur.

"Pagi, Anak ganteng Mama yang hobi nikah diam-diam," sindir Renata dengan senyum penuh arti. "Sini duduk, sarapan dulu sama istri kamu. Mama sengaja bangun pagi-pagi buat masakin menantu Mama."

Gibran melirik Nayla, lalu mengambil posisi duduk di salah satu kursi bar.

Nayla dengan canggung ikut duduk di kursi sebelahnya, menjaga jarak sekitar sepuluh sentimeter dari suaminya. Namun, tatapan mata Renata yang mengawasi mereka dengan jeli bak elang yang sedang mengincar mangsa, membuat Gibran langsung menyadari bahwa jarak sepuluh sentimeter itu adalah sebuah kesalahan taktis yang fatal.

Dengan gerakan yang sangat halus namun mengejutkan, Gibran menggeser kursinya hingga merapat ke kursi Nayla. Lengan kokohnya sengaja disampirkan di sandaran kursi Nayla, membuat tubuh mereka hampir menempel sepenuhnya.

"Sayang, tolong ambilkan roti bakarnya, dong," ucap Gibran dengan nada suara yang sengaja dibuat selembut beludru, lengkap dengan senyuman manis berlesung pipit yang selama ini menjadi senjata andalannya untuk menaklukkan para klien bisnis.

Nayla membeku. Bulu kuduknya meremang mendengar sebutan Sayang yang keluar dari mulut pria yang dua hari lalu pingsan di terasnya dalam kondisi bau alkohol. Dia menoleh ke arah Gibran, menatap suaminya dengan pandangan yang berteriak: ("Lu mau gue racunin pakai selai kacang, ya?!")

Namun, demi melihat Renata yang langsung tersenyum lebar sambil menangkupkan kedua tangan di pipi karena gemas, Nayla terpaksa menarik napas dalam-dalam dan memaksakan sebuah senyuman termanis yang bisa dia ciptakan.

"Ini, Mas Gibran Sayang ... roti bakarnya. Pakai mentega yang banyak ya, biar makin ... subur," jawab Nayla dengan nada yang sengaja dibuat mendayu-dayu, sambil meletakkan selembar roti bakar ke atas piring Gibran dengan sedikit tekanan yang agak berlebihan, seolah-olah sedang menaruh surat peringatan pertama dari kantor pajak.

Gibran mengerlingkan matanya, menahan tawa sekaligus jengkel karena tahu istrinya sedang menyindirnya secara halus.

"Terima kasih, Istriku yang penuh perhatian."

"Aduh, aduh! Mama bisa diabetes bukan karena gula roti bakar ini, tapi karena melihat kalian berdua yang manis banget begini!" Renata berseru heboh, mengambil cangkir kopinya dengan wajah puas. "Papa kamu itu memang keterlaluan, masa mencurigai anak sendiri bersandiwara.

Jelas-jelas aura pengantin barunya terasa sampai ke dapur!"

Gibran tersenyum tipis, lalu mulai mengunyah roti bakarnya. "Hari ini Mama jadi mau ajak Nayla jalan-jalan?"

"Jadi, dong! Hari ini jadwal Mama adalah merombak total penampilan menantu Mama supaya kalau ada acara makan malam keluarga besar Mahardika, tidak ada satu pun tante-tante nyinyir kamu yang berani meremehkan Nayla," ujar Renata bersemangat, lalu menatap Nayla dengan serius. "Nayla sayang, hari ini kamu tidak usah masuk kantor, ya? Mama sudah minta Gibran buat buatkan surat izin cuti darurat dari agensinya."

Nayla langsung tersedak potongan telur mata sapi yang baru saja dikunyahnya.

"Uhuk! Uhuk!

1
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
SANG
Hadi💪👍
falea sezi
lanjut q kasih nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!