Semua orang bilang Laras sial.
Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, ia dicampakkan dalam semalam begitu putri kandung yang sesungguhnya—**Tiara**—pulang lewat tes DNA. Dan ketika Tiara menolak menikahi "duda tua beranak tiga dari kampung" yang lamarannya sudah diterima, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi nama baik.
Sebuah desa asing. Seorang lelaki dingin dan pendiam. Tiga anak yatim yang kurus, waspada, dan salah satu balita yang bahkan belum bisa bicara. Semua menyangka Laras "menikah turun derajat" dan pasrah pada nasib.
Tak ada yang tahu—rumah termewah satu-satunya di desa itu adalah miliknya. Bahwa lelaki pendiam bernama **Arya** itu adalah **mantan perwira Kopassus** yang disegani para jenderal, seorang **konglomerat yang menyamar** di balik peternakan sapi.
Dan tak ada yang menyangka: duda "tua" yang katanya dingin itu justru **memanjakan istrinya setiap hari**—diam-diam, dengan tindakan, sampai membuat seluruh desa iri.
Sedikit demi sedikit, Laras membalik keadaan. Ia besarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius. Ia permalukan satu per satu orang yang pernah memandangnya rendah. Ia bangkit dari "ibu tiri kampungan" menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.
Tapi keluarga yang membuangnya belum menyerah. Tiara masih menginginkan segalanya yang "seharusnya" jadi miliknya. Dan rahasia asal-usul ketiga anak itu—darah keluarga konglomerat **Adiwangsa**—bisa mengubah segalanya…
*"Kamu menikahiku karena terpaksa," katanya suatu malam. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25: Rendang Pertama
Seminggu setelah aku menemukan surat Yolanda, aku memutuskan membuat rendang.
Bukan untuk meminta maaf. Bukan juga untuk memancing Arya menjelaskan. Aku hanya membutuhkan sesuatu yang bisa dikerjakan dengan kedua tangan, sesuatu yang punya awal, proses, dan hasil yang tidak disembunyikan di saku mantel.
Bang Gino mengirim beberapa kilogram daging sapi sesuai harga internal rumah. Aku mencatatnya tetap sebagai pengeluaran dapur agar tidak membiasakan diri mengambil barang peternakan tanpa hitungan.
Sejak pagi, dapur penuh aroma santan, cabai, serai, daun jeruk, lengkuas, dan rempah yang ditumis perlahan. Aku memakai panci tebal terbesar yang ada. Api dijaga kecil agar santan tidak pecah dan bumbu meresap tanpa membuat daging keras.
Bayu duduk di belakang pagar pengaman dapur sambil memandangi panci.
“Kapan matang?” tanyanya untuk kelima kali.
“Kalau ditanya terus, tambah lama.”
“Api bisa dengar?”
“Bisa. Dia tersinggung.”
Bayu langsung diam dan menatap kompor dengan curiga.
Raka yang sedang mengerjakan soal di meja makan mendesah. “Mbak Laras cuma ingin kamu berhenti bertanya.”
“Kak Raka merusak rahasia dapur.”
Sasa ikut duduk di dekat mereka sambil memeluk stoples permen. Dia mencoba memberikanku satu permen melalui sela pagar, mungkin mengira semua masakan akan lebih cepat matang jika diberi gula.
“Tidak perlu, Sayang. Rendang tidak pakai permen.”
Sasa bersikeras mengulurkan tangan. Aku mengambil satu butir agar dia puas, lalu menyimpannya di saku celemek. Anak itu tersenyum lebar dan kembali menggoyang-goyangkan stoples.
Sambil menunggu rendang menyusut, aku membuat kue talam sederhana dari tepung beras dan santan. Bayu bertugas menyusun daun pisang. Raka menimbang bahan karena perhitungannya paling akurat. Sasa membantu dengan cara memindahkan sendok dari satu mangkuk ke mangkuk lain sampai lantai harus disapu dua kali.
“Kenapa harus diaduk terus?” tanya Bayu.
“Supaya bagian bawah tidak gosong.”
“Kalau capek?”
“Gantian.”
Dia mencoba memegang spatula dengan kedua tangan, tetapi panci terlalu tinggi. Aku memindahkan sedikit bumbu ke wajan kecil yang sudah dingin, lalu membiarkannya mengaduk di meja. Raka mencatat jumlah santan dan waktu masak tanpa kusuruh.
“Untuk apa dicatat?” tanyaku.
“Kalau besok rasanya berbeda, Mbak Laras bisa lihat yang berubah.”
Aku menatap catatannya. Berat daging, jumlah santan, dan waktu mulai api sudah tertulis rapi. Anak sepuluh tahun itu baru saja memberiku bentuk pertama resep baku tanpa menyadarinya.
“Simpan bukunya,” kataku. “Jangan sampai kena kuah.”
Raka memindahkannya ke rak tinggi. Aku tidak menyebut catatan itu rahasia. Saat itu belum ada bisnis yang perlu dilindungi, hanya sebuah keluarga yang sedang belajar memasak bersama.
Menjelang siang, warna rendang berubah gelap dan minyak rempah mulai keluar. Aromanya melewati jendela, halaman, lalu entah bagaimana sampai ke rumah Bu RT.
Dia muncul di depan pintu sambil membawa wadah kosong.
“Saya cuma mau mengembalikan kotak,” katanya.
“Kotaknya sudah dikembalikan kemarin.”
Bu RT menatap wadah di tangannya. “Berarti saya salah bawa.”
Matanya tidak pernah meninggalkan panci.
Aku tertawa dan menyendokkan sedikit rendang ke piring. “Coba.”
Bu RT meniup daging, menggigit, lalu memejamkan mata. “Laras, ini keterlaluan.”
“Terlalu pedas?”
“Terlalu enak. Kenapa baru sekarang kamu bikin?”
Belum lima belas menit, dua ibu lain datang. Setelah itu muncul tiga orang lagi dari arah warung. Masing-masing mengaku kebetulan lewat, meski semuanya membawa wadah.
Aku membagikan porsi kecil untuk dicicipi. Beberapa orang langsung bertanya apakah masih ada yang bisa dibawa pulang.
“Jangan gratis,” kata Bu RT. “Bumbunya banyak, masaknya berjam-jam.”
Seorang ibu mengeluarkan uang. “Saya beli setengah kilo.”
“Saya pesan untuk pengajian Jumat,” kata yang lain.
“Kalau Lebaran bisa dua kilogram?”
Permintaan datang begitu cepat hingga aku mengambil buku tulis dari lemari. Aku menghitung biaya daging, santan, bumbu, gas, kemasan, dan waktuku. Harga pertama yang kusebut membuat semua orang tetap mengangguk.
“Pesanan di atas satu kilo pakai uang muka,” kataku. “Supaya saya bisa membeli bahan.”
Salah satu ibu tertawa. “Dengan tetangga saja hitung-hitungan?”
Aku tersenyum. “Justru supaya pesanan tetangga tidak lupa saat belanja bahan sudah dilakukan.”
Bu RT langsung membelaku. “Benar. Kalau mau gratis, masak sendiri.”
Uang muka mulai berpindah tangan. Aku mencatat nama, jumlah, tanggal, dan nomor WhatsApp. Tidak besar, tetapi semuanya jelas. Tidak ada kata nanti, tidak ada keluarga dulu, dan tidak ada hak orang lain yang hilang di tengah jalan.
Bu RT menawarkan sudut warung saudaranya untuk titip jual dua kali sepekan. Aku tidak langsung menyetujui. Kami menghitung potongan warung, biaya wadah, daya tahan makanan, dan jam pengambilan. Aku juga menegaskan bahwa pesanan hanya dibuat sesuai kapasitas dapur agar kebersihan dan rasa tetap terjaga.
“Kamu pernah jualan?” tanya Bu RT.
“Belum.”
“Tapi hitungannya seperti orang sudah rugi dua kali.”
“Aku hanya tidak mau rugi pertama kali.”
Para ibu tertawa, lalu menyetujui harga dan jadwal uji coba.
Saat anak-anak makan siang, Bayu menambah nasi dua kali. Sasa mencelupkan ujung jarinya ke kuah yang sudah dibuat tidak pedas untuknya, lalu menjilatnya. Bahkan Raka yang biasanya makan secukupnya meminta satu potong tambahan.
“Enak?” tanyaku.
“Lumayan,” jawab Raka.
Piringnya bersih sampai tak tersisa bumbu.
Arya pulang menjelang Magrib. Dia berhenti di dapur ketika mencium aroma rendang, lalu melihat panci yang hampir kosong.
“Sisakan untukku?”
Aku mengangkat tutup wadah di meja. “Dua porsi.”
Dia mencuci tangan, duduk, dan makan tanpa banyak bicara. Satu piring habis. Dia mengambil nasi lagi, menuangkan kuah rempah, lalu menghabiskan piring kedua.
“Enak,” katanya.
“Hanya itu?”
“Sangat enak.”
Aku menuangkan teh untuknya. Jari kami bersentuhan ketika dia menerima gelas. Tidak ada permintaan maaf besar atau penjelasan mendadak tentang surat. Namun tatapannya menetap pada wajahku, dan aku tidak lagi memalingkan muka.
Sisa dingin di antara kami mencair di atas meja makan.
Di teras, Bu RT sedang membantu menyusun catatan pesanan. Uang muka yang diterima dimasukkan ke dalam baskom enamel agar tidak tercampur dengan uang rumah. Lembar-lembar rupiah kusut memenuhi dasarnya.
“Kalau rasa ini konsisten, kamu harus jualan,” kata Bu RT. “Titip di warung dulu. Nanti kalau pesanan banyak, baru pikirkan tempat sendiri.”
Aku menatap nama-nama di buku dan uang hasil masakanku.
Selama ini aku berpikir kemandirian harus dimulai dari pekerjaan besar di kota, studio, atau mikrofon. Ternyata ia juga bisa bermula dari panci, buku pesanan, dan orang-orang yang bersedia membayar hasil tanganku.
Aku bisa memperoleh penghasilan sendiri.
Pikiran itu baru menyala ketika sebuah wajah muncul di celah pintu pagar.
Seorang perempuan berpakaian modis yang belum pernah kulihat berdiri di sana, matanya terpaku pada panci rendang dan baskom berisi uang.