Abiyasha Harsha Pranacipta kehilangan ingatannya lima tahun lalu karena sebuah insiden kecelakaan hebat. Selama itu pula ia berusaha mengembalikan ingatannya mengenai wanita yang selalu muncul dalam mimpi buruknya.
Yasmine Abichara, seorang sekretaris direktur baru sebuah perusahaan besar di Jakarta merasa kaget ketika mengetahui bosnya adalah pria dimasa lalu yang ingin ia lupakan. Timbulnya benih-benih cinta di hati Yasmine membuatnya bertanya-tanya, mampukah ia mencintai Abiyasha saat pria itu memiliki hubungan erat dengan masa lalunya? Dan bagaimana hubungannya dengan Rio saat Yasmine tahu sejak awal tidak ada cinta untuk pria itu sedikitpun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuanitaaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
|Bagian 23|
"Kau mau makan siang bersamaku?"
Kalimat itu terngiang pada benak Yasmine. Ia menunggu di teras kantor dan celingak-celinguk menunggu Abiyasha. Pria itu bilang agar Yasmine menunggu di sini sebentar selama pria itu mengambil mobilnya yang terparkir di basement.
Yasmine menunggu dengan bingung. Kenapa pula ia harus ikut dengan pria itu untuk makan siang dan menunggunya di sini? Ia ingat tatapan beberapa karyawan kantor yang terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya ketika Yasmine berjalan di belakang Abiyasha tadi. Lalu bagaimana jika ada yang tahu Abiyasha mengajaknya makan siang? Bagaimana kalau mereka tahu Yasmine sedang menunggu pria itu di sini?
Ah, tidak! Tidak! Ia tidak mau cari masalah dengan melakukan hal konyol semacam itu. Yasmine harus kembali ke kantor, menyusun laporan lagi, dan dengan begitu tidak akan ada hal buruk yang terjadi padanya.
Yasmine membalikkan badan bersamaan dengan klakson mobil yang berbunyi nyaring. Yasmine mendesah. Gagal sudah acaraku melarikan diri! Singa itu pasti tidak akan membiarkanku melakukannya.
"Mau ke mana kau?"
Yasmine menoleh, ia melihat Abiyasha yang terlihat lebih santai dari sebelumnya. Pria itu melepaskan jas dan dasinya sehingga hanya ada kemeja berwarna navy yang melekat pada tubuhnya. Yasmine membayangkan betapa panasnya berselimut dalam pakaian mahal itu. Abiyasha keluar dari mobil sedannya. Pria itu mendekati Yasmine dan berdiri tepat di depannya.
"Tidak hanya ingin mengambil sesuatu yang tertinggal di dalam sana," kata Yasmine sambil membuang muka. Ia takut pria itu akan mengetahui kebohongannya.
Abiyasha memasukkan tangannya ke dalam saku. Ekspresinya tidak percaya. Ia tahu Yasmine ingin melarikan diri. Abiyasha tersenyum. Saat semua orang ingin sekali sekedar makan siang dengannya, Yasmine malah ingin pergi. "Oh ya? Apa yang tertinggal?"
"Sesuatu yang penting," jawab Yasmine.
"Sepenting apa dengan nyawamu?" Tanya Abiyasha mengangkat alisnya.
"Apa?" Yasmine melongo bingung.
"Kalau nyawamu tidak terancam hanya karena kau tidak membawa benda itu lebih baik kau ikut denganku secepatnya. Aku lapar sekali." Abiyasha meraih tangan Yasmine. "Karena kalau aku tidak biru-buru makan, aku bisa melahapmu. Cepat."
"Apa?" Yasmine mengernyit.
"Cepat masuk." Abiyasha menyeret tangan Yasmine. Tidak kasar tapi cukup tegas untuk membuat wanita keras kepala itu masuk ke dalam mobilnya.
"Tapi, Pak. Saya tidak ingin makan siang," kata Yasmine saat pria itu sudah menyusulnya masuk ke dalam mobil.
"Tapi aku ingin. Apa kau tidak tahu betapa laparnya aku?"
Mobil berjalan pelan. Keluar dari gerbang kantor dan berbaur dengan kendaraan lainnya. "Lalu? Apa saya harus selalu menuruti perintah anda. Kalau anda ingin makan dan saya tidak, apa saya harus ikut makan juga?"
Abiyasha tersenyum simpul. "Tentu saja. Kau pikir bagaimana?"
Yasmine melongo. Borju gila satu ini benar-benar! Sejak dulu sikapnya tidak pernah berubah. Selalu bossy dan tidak pernah memikirkan hati orang lain.
"Kenapa anda mengajak saya? Kenapa bukan pegawai anda yang lainnya?" Tanya Yasmine kesal. Akhirnya ia menghempaskan tubuhnya pada jok di belakangnya. "Anda, kan, punya banyak sekali pegawai di kantor anda."
"Kau bawel sekali."
Yasmine berdecih. Ia bersedekap tangan.
"Kan aku sudah pernah bilang saat memintamu satu ruangan denganku, aku perlu memanggil mereka kalau butuh sesuatu. Sedangkan kau ada di depanku dan aku hanya perlu menjentikkan jariku padamu. Jadi lebih efisien mana?" Abiyasha masih belum bisa menghilangkan senyum di wajahnya.
"Kalau begitu, di mana kita akan makan siang?"
"Kau tahu Le Quartier? Itu restoran kesukaan Ibuku. Kebetulan aku juga kenal pemiliknya!" Jelas Abiyasha.
Yasmine menatap Abiyasha dengan horor karena pria itu menyebutkan nama restoran mewah yang menyediakan makanan Eropa ala Perancis. Yasmine pernah beberapa kali melewati Restoran itu. Dan ia sama sekali tidak pernah berpikir untuk makan siang di sana. Rio juga tidak pernah mengajaknya makan di sana. Sayangnya, ia lebih senang makan di tempat biasa. Tempat itu lumayan mewah. Terlebih untuk dirinya. "Hah? Apa anda tidak merasa melakukan pemborosan hanya untuk sekedar makan siang?"
Abiyasha menggeleng. "Aku sedang ingin makan di sana. Itu juga langganan beberapa orang di kantorku."
Merasa kalah, akhirnya Yasmine membuang muka ke arah jendela. Ia membuka kaca tersebut. Lalu merasakan sejuknya angin semilir yang menerpa sedikit wajahnya. Wanita itu tersenyum. Melakukan hal itu lebih baik daripada harus berdebat dengan Abiyasha. Ia memikirkan cara agar pria itu tidak memperlakukan Yasmine sesuai apa yang ia inginkan.
Ah, ya. Ada satu cara.
"Baiklah. Saya bersedia makan siang dengan anda. Dengan satu syarat." Yasmine menoleh ke arah Abiyasha. Lama-lama ia jadi bisa tersenyum licik seperti apa yang sering Abiyasha lakukan.
Abiyasha berdecih. "Hei, Nona. Kalau boleh kuingatkan disini yang berperan sebagai bosnya adalah aku."
"Kalau begitu biarkan saya menjadi bos dalam sehari." Kata Yasmine, nadanya terdengar menantang. "Saya sudah menyelamatkan anda dan perusahaan anda, kan, Pak Abi? Beberapa jam tidak akan membuat anda kelimpungan. Saya janji."
Abiyasha tertawa. "Baiklah. Hari ini kau bosnya. Apa syaratmu?"
"Hanya satu. Biarkan saya yang memilih di mana tempat kita akan makan."
Abiyasha mengernyit dalam. "Kenapa?"
"Saya tidak mau ada orang lain yang salah paham dengan makan siang kita," Yasmine mengatakannya dengan menatap jalanan dihadapannya.
"Kau malu keluar denganku atau kau tidak ingin pacarmu yang sok itu tahu tentang makan siang kita?"
Yasmine terdiam sejenak. "Bukan keduanya. Tapi bukankah aneh kalau seorang Direktur perusahaan mengajak sekretarisnya makan berdua saja? Apa anda yakin tidak apa-apa dengan pendapat mereka?" katanya mengemukakan alasannya.
Abiyasha mengangkat bahu. "Aku sama sekali tidak peduli."
Kesal karena pria itu menyepelekan argumennya. Yasmine menambahkan. "Tapi saya peduli," katanya gusar. "Ah ya, perlu saya tambahkan, Rio bukan pria yang sok. Dia baik, sangat baik malahan."
"Baiklah. Suka-sukamu sajalah!" balas Abiyasha, ia malas menanggapi Yasmine. "Selama makanan itu tidak membuat pencernaanku terganggu aku tidak masalah."
"Percayakan saja pada saya!" kata Yasmine sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Tapi sayangnya aku ragu dengan pilihanmu. Aku ragu kau ingin balas dendam padaku."
"Pokoknya kita makan siang sesuai permintaan saya, oke? Jangan berhalusinasi yang tidak-tidak."
Abiyasha menggaruk tengkuknya. "Seandainya kau jadi sekretaris direktur lain, aku yakin atasanmu itu akan buru-buru terkena darah tinggi. Kau benar-benar bawel."
Yasmine tersenyum. "Baiklah, saya anggap itu tadi sebagai 'ya'. Sekarang saya akan mengambil alih kendali dari sini!" kata Yasmine sok. "Lima meter lagi kita belok kanan lalu di persimpangan jalan sana kita belok kiri."
Abiyasha menatap Yasmine dengan tidak suka sampai ubun-ubun, tapi pria itu tetap menuruti permintaan wanita aneh di sampingnya.
Abiyasha memang berniat menjadikannya bos sehari.
...***...
...Bab ini kupersembahkan untukmu,...
...yang merencanakan untuk...
...kehidupan yang lebih baik bersamamu....
...IG : @_yuanitaaw...
Dulu aku punya keinginan menulis biografi (kisah hidupku pribadi)...pengen berbagi pengalaman & pembelajaran hidup.... tapi.... sulit.... mo mulai darimana.... makanya salut sama novelis2 sptmu....yg bisa menuangkan ide secara bebas....meski mungkin sambil merasa tertekan yaa.... tipa hari kayak yg dikejar2 biar bisa up.... hahaha...
semangat Yuanita....
bikin gemezzzz deh.....😣😣😣😣