"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"
Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.
"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.
"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"
"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghilang
Kepergian Mara malam itu menyisakan kehampaan yang aneh di dalam mansion megah tersebut. Pria itu pergi bagaikan lenyap ditelan bumi, tanpa pamit, tanpa jejak, dan tanpa sebuah kabar sama sekali.
Satu hari. Dua hari. Hingga lima hari penuh berlalu.
Mara benar-benar seperti menghilang dari muka bumi.
Namun, bagi Kayna, lima hari tanpa kehadiran sosok dominan yang mencekik itu adalah sebuah anugerah tak ternilai. Untuk pertama kalinya sejak ia sadar di rumah sakit dengan ingatan yang hilang, lalu kebenaran yang sedikit demi sedikit terungkap, Kayna bisa bernapas sedikit lebih lega.
Tidak ada lagi tatapan mata tajam yang mengawasi setiap gerak-gerik tubuhnya. Tidak ada lagi sentuhan posesif . Dan yang paling penting, tidak ada lagi bisikan-bisikan manis berbalut manipulasi mengerikan yang perlahan mencoba merusak akal sehatnya.
Kayna memilih untuk tidak bertengkar dengan keheningan ini. Ia sama sekali tidak berniat bertanya kepada Maya, pelayan tegap yang tetap setia mengawasinya, atau kepada puluhan pengawal berjas hitam yang kini jumlahnya justru berlipat ganda menjaga setiap sudut mansion.
Bagi Kayna, menanyakan keberadaan Mara sama saja dengan memanggil kembali iblis yang sedang tertidur. Semakin lama pria itu lenyap, semakin lama pula ia memiliki ruang untuk menyusun kembali puing-puing kewarasannya.
Bahkan ketika Carlos dan James sesekali datang ke mansion untuk memeriksa sistem keamanan dan berkoordinasi dengan para pengawal, Kayna selalu memilih untuk bersembunyi. Dari balik tirai tipis di lantai dua, Kayna kerap melihat kedua orang kepercayaan Mara itu berjalan terburu-buru dengan raut wajah yang sangat tegang. Setiap kali langkah kaki mereka terdengar melintasi lorong utama, Kayna akan melangkah mundur ke dalam kamar, mengunci diri, dan berpura-pura tidak mendengar apa pun.
Ia tidak ingin terlibat. Ia tidak ingin menjadi celah yang bisa dimanfaatkan oleh siapa pun di lingkungan mafia yang berdarah ini.
Namun, di tengah isolasi yang disengaja itu, satu hal yang telah berhasil Kayna pastikan, kedua orang tuanya sudah aman.
Dua hari lalu, Kayna secara tidak sengaja mencuri dengar percakapan berbisik antara James dan Maya di depan pintu perpustakaan. Dari balik pintu kayu mahoni yang sedikit terbuka, suara bariton James yang ketus terdengar jelas.
Bahwa, Restoran Sunny Bless milik Erick sudah dijaga ketat oleh suruhan Mara. Mara juga sudah menempatkan satu pengawal untuk ibunya diam-diam. Sehingga Martin dan anak buahnya tidak akan bisa menyentuh mereka.
Mendengar kenyataan itu, dada Kayna yang tadinya sesak oleh kecemasan mendadak terasa begitu lapang. Ayah dan ibunya sudah dalam keadaan selamat.
Meskipun Kayna tahu betul bahwa "perlindungan" yang diberikan Mara kepada keluarganya hanyalah bentuk lain dari kontrol dan kepemilikan sang ketua mafia.
Tapi untuk saat ini, keselamatan nyawa orang tuanya adalah yang terpenting. Mara boleh saja mengurungnya di dalam sangkar emas ini, tetapi setidaknya pria itu menepati janjinya untuk tidak membiarkan keluarganya dalam bahaya.
Malam Keenam tiba. Kayna duduk di sofa empuk di ruang tengah lantai dua, mengenakan gaun tidur panjang bahan sutra berwarna krem. Di tangannya, sebuah buku sketsa mode tergeletak terbuka, namun pandangan matanya menerawang jauh menembus kegelapan di luar jendela.
"Di mana Mara sekarang? Apa yang sedang ia lakukan selama lima hari ini? Apakah situasinya separah itu?"
Pertanyaan-pertanyaan itu bermunculan secara tak terduga di dalam benaknya. Bukan karena ia mengkhawatirkan keselamatan Mara. Tentu saja tidak, Kayna membenci pria diktator itu dengan seluruh jiwanya tetapi karena ia sadar, makin parah konflik diantara mafia tersebut, makin besar bahaya yang mengintai kehidupannya. Karena ia sudah terlanjur terlibat dalam hidup Mara.
Tiba-tiba, suara derung mesin mobil-mobil bertenaga besar memecah keheningan malam.
Suara gesekan ban dengan jalanan basah terdengar tajam dari arah pelataran depan. Kayna tersentak dari lamunannya. Ia berdiri perlahan, melangkah menuju balkon yang mengarah langsung ke ruang utama lantai satu. Dari atas, ia bisa melihat pintu ganda mansion yang megah dibuka secara paksa dari luar.
Atmosfer tenang yang terjalin selama lima hari terakhir seketika hancur berkeping-keping.
Tiga sosok pria berjas hitam melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Di barisan paling depan, Carlos berjalan setengah berlari, wajahnya yang biasa tenang kini dipenuhi guratan cemas berlebih.
"Panggil dokter pribadi sekarang! Siapkan ruang Tuan Mara!" teriak James dengan nada suara yang bergetar hebat. sesuatu yang belum pernah Kayna dengar sebelumnya dari pria berdarah dingin itu.
Di belakang James, Carlos menyusul dengan langkah berat. Ia tidak sendirian. Dengan bantuan seorang lagi pengawal, James membopong Mara yang terlihat sangat mengenaskan.
Napas Kayna tertahan di tenggorokan. Matanya membelalak lebar melihat pemandangan di bawah sana.
Mara tidak berjalan melangkah dengan tegak dan angkuh seperti biasanya. Pria itu tampak menyandarkan sebagian bebannya pada bahu tegap James. Setelan jas hitam mahal berpotongan sempurna yang selalu ia kenakan kini koyak di bagian pundak dan perutnya. Kain jas itu basah kuyup, bukan hanya oleh air hujan, melainkan oleh cairan pekat berwarna merah gelap yang terus menetes ke atas lantai marmer putih bersih.
Darah. Banyak sekali darah.
Aura intimidasi yang biasanya menguar dari tubuh Mara kini berbaur dengan bau amis darah yang sangat menyengat, membumbung tinggi hingga ke lantai dua tempat Kayna berdiri kaku.
Namun, Mara mendesis pelan. Suara batuknya terdengar berat dan serak. Pria itu menolak dibantu lebih jauh. Dengan sisa tenaga yang mengerikan, ia mendorong tubuh James agar menjauh darinya.
Mara menegakkan tubuhnya kembali. Rahangnya menegang keras, menahan rasa sakit luar biasa dari luka tembak yang menganga di perut kiri dan bahunya. Tatapan matanya yang berkilat berbahaya menyapu sekeliling ruangan, hingga akhirnya... sepasang mata tajam itu menengadah ke atas.
Tepat menatap Kayna yang membeku di dekat pagar balkon lantai dua.
Keheningan yang mencekik seketika membekukan seluruh ruangan. Di bawah cahaya lampu gantung kristal yang megah, mata Mara yang dipenuhi aura kematian bertemu dengan mata Kayna yang gemetar ketakutan.
Senyuman tipis perlahan terukir di bibir pria yang sedang terluka parah itu.
Sambil melangkah pincang menyusuri anak tangga satu per satu menuju ke arah Kayna, Mara berbisik dengan suara bariton yang dalam, serak, namun sanggup menghentikan detak jantung Kayna seketika. Napasnya tercekat mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Mara.
"Lima hari aku berdarah-darah di neraka hanya untuk memastikan tidak ada satu pun bajingan yang berani menyentuhmu, Kayna..." desis Mara, jemarinya yang bersimbah darah meninggalkan jejak merah di sepanjang pegangan tangga kayu mahoni. "...dan kau bahkan tidak menyambutku kembali?"
...●Bersambung●...