NovelToon NovelToon
After We Died

After We Died

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Transmigrasi
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nongnong

Lima orang tewas dalam malam yang sama.

Setelah perang berdarah antara dua klan mafia terbesar—Dark Blood dan Darkness—pecah, semuanya berubah menjadi neraka. Dark Blood, klan yang dipimpin Anneta, jatuh ke tangan Joe, pemimpin Darkness yang terkenal kejam dan haus kekuasaan. Di malam kehancuran itu,
Anneta mati tertembak panah.
Sahabat sekaligus inti Dark Blood, Naura dan Viona dibunuh tanpa ampun. Sementara Luna dan Leo, saudara kembar yang koma, tewas terbakar di rumah sakit.

Dunia menganggap kisah mereka telah berakhir. Tapi ternyata… kematian bukanlah akhir.

Kelimanya terbangun di tubuh orang lain—anak-anak SMA yang hidupnya sangat kacau. Mereka hidup kembali dengan wajah baru, nama baru, namun dengan masa lalu yang belum selesai.

Akankah mereka mampu melanjutkan kehidupan di tubuh baru mereka? Yuk baca kisahnya agar tidak penasaran!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nongnong , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAVIAN & KEIRA

Keesokan harinya...

Di pagi yang cerah itu, kehidupan di SMA Alexander School kembali berjalan seperti biasa. Suara obrolan para siswa memenuhi koridor, sementara kantin sekolah mulai dipadati sejak jam istirahat pertama.

Di salah satu sudut kantin...

Ravian dan Keira tengah duduk berhadapan menikmati makan siang mereka. Namun, berbeda dari biasanya. Tatapan Ravian terus menyapu setiap sudut kantin, seolah sedang mencari seseorang. Keira yang menyadarinya pun meletakkan sendoknya.

"Kamu nyari siapa?" tanyanya.

"Viana." Ravian masih menoleh ke berbagai arah.

"Ngapain nyari dia?" Keira mengernyit.

Ravian menggeleng pelan.

"Aku ngomong apa barusan?"

Pertanyaan itu membuat Keira semakin bingung. Belum sempat ia menjawab pertanyaan konyol itu...

"Loh, kalian masih ada tempat?"

Suara ceria Gavin membuat keduanya menoleh. Di belakangnya sudah berdiri Adrian, Ariana, Zion, dan Ezra.

"Iya, kenapa?" tanya Keira.

"Boleh numpang semeja? Meja langganan kita lagi dibenerin."

Sebelum menjawab, Keira menoleh ke arah Ravian terlebih dahulu untuk meminta persetujuannya. Ravian pun mengangguk tanda setuju.

"Duduk aja," ucap Keira, sambil tersenyum tipis.

"Thanks!"

Gavin langsung menarik kursi tanpa sungkan, disusul anggota inti Black Demon lainnya.

Suasana meja yang semula tenang berubah jauh lebih ramai berkat ocehan Gavin yang tak pernah kehabisan topik. Sementara itu, Keira sudah beberapa kali memergoki Ravian kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh kantin.

Yang membuatnya sakit hati adalah, calon tunangannya sedang mencari seseorang. Dan orang itu bukan dirinya.

...****************...

Jam pelajaran berlangsung seperti biasa.

Namun, konsentrasi Ravian tampak buyar sejak pagi. Beberapa kali guru memanggil namanya karena ia tak menyadari pertanyaan yang diberikan.

Semua itu tak luput dari perhatian Keira. Perasaan tidak nyaman perlahan mulai mengusik hatinya.

'Apa sebenarnya yang sedang dipikirkan Ravian?'

Ting... tong...

Ting... tong...

Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi.

Saat Keira bersiap berjalan menuju parkiran, Ravian tiba-tiba menghentikannya.

"Kamu pulang duluan ya? Aku udah pesenin taksi."

"Lah? Kamu?" tanya Keira heran.

"Ada urusan," jawab Ravian singkat.

"Urusan apa?" tanya Keira lagi.

Tanpa menjawab pertanyaan Keira, Ravian sudah berlari duluan menuju motornya.

"Ravian!" panggil Keira, namun Pria itu sama sekali tidak menoleh.

"Ke mana dia?" gumam Keira.

...****************...

Sebuah mobil taksi memasuki halaman sebuah mansion megah.

"Huft..." Keira menghela napas lega.

"Dulu, sejak kejadian itu, dia tidak pernah lagi mengijinkan ku naik taksi lagi. Tapi sekarang..." lirih Keira, ia bahkan tak mampu lagi melanjutkan kalimatnya.

Keira mengangkat wajahnya lagi, pandangannya langsung tertuju pada sebuah mobil mewah berwarna putih yang terparkir rapi di halaman depan. Mobil itu jelas bukan milik Ravian.

"Siapa, ya...?" gumamnya pelan.

Suara tawa seorang wanita terdengar sampai keluar. Rasa penasarannya semakin besar saat memasuki mansion. Begitu melangkah ke ruang tamu...

"Keira?" Seorang wanita paruh baya dengan senyum hangat langsung menghampirinya.

"Wah, akhirnya pulang juga. Duduk dulu, Nak."

Beliau segera mempersilakan Keira duduk di sofa, lalu memberi isyarat kepada salah seorang pelayan.

"Tolong ambilkan minuman untuk calon menantuku."

"Baik, Nyonya Lee."

Tak lama kemudian, segelas jus dingin dihidangkan di hadapan Keira.

"Te-terima kasih, Tante."

"Sama-sama."

Nyonya Lee duduk di sampingnya sambil sesekali melirik ke arah pintu depan.

"Ngomong-ngomong... Ravian ke mana? Kok nggak pulang bareng?"

Keira menggenggam gelasnya pelan, lalu menunduk.

"Dia... Tadi menyuruhku pulang duluan naik taksi. Aku tidak tahu dia ke mana."

"Pergi?" Nyonya Lee tampak sedikit heran.

"Iya, Tante. Dia juga nggak bilang pergi ke mana. Aku pikir itu privasinya."

Mendengar jawaban itu, senyum di wajah Nyonya Lee perlahan memudar. Entah mengapa perasaannya mulai mengatakan bahwa sesuatu sedang terjadi.

"Jika sudah menikah nanti, kalian tidak boleh ada yang namanya privasi. Paham Keira," ucap Nyonya Lee lembut.

"Paham Tante."

"Kalian sedang tidak ada masalah kan? Eumm... maksud Tante, kalian tidak sedang bertengkar? Atau... ada orang ketiga?" tanya Nyonya Lee beruntun. Pertanyaan yang terakhir benar-benar membuat jantung Keira rasanya ingin meloncat.

"Hubungan kami baik-baik saja Tante. Tapi jika tentang orang ketiga, Keira harap nggak ada," jawab Keira berusaha tenang.

"Ya... Tante harap juga begitu. Soalnya Tante maunya cuma punya menantu kayak kamu. Kamu itu cantik Keira," puji Nyonya Lee, membuat pipi Keira langsung bersemu merah.

"Tante senang banget pas tahu dari Bibi kalau kamu udah banyak berubah! Terima kasih ya, Sayang," ucap Nyonya Lee dengan senyum bahagia.

"Iya, Tante."

...****************...

Meninggalkan kehangatan Mansion keluarga Lee, mari kita beralih sejenak mengikuti ke mana sebenarnya Ravian pergi sepulang sekolah.

Deru mesin Kawasaki Ninja H2 berwarna hitam membelah jalanan kota.

Brumm... bruumm...

Motor itu melaju dengan kecepatan tinggi, sesekali menyalip kendaraan lain tanpa mengurangi lajunya sedikit pun.

Beberapa menit kemudian...

Ravian menghentikan motornya tepat di depan sebuah studio tato.

Keningnya seketika berkerut begitu melihat pintu studio terkunci. Sebuah papan bertuliskan 'Closed' tergantung tepat di gagang pintu.

Ravian turun dari motornya, untuk menghampiri salah seorang pemilik toko di sebelah studio.

"Permisi. Studio ini udah lama tutup ya, Pak?"

Pria paruh baya itu berpikir sejenak. "Iya. Kalau nggak salah... dari kemarin."

Deg!

"Dari kemarin?"

"Benar, Nak. Belum buka sampai sekarang. Pemiliknya juga nggak kelihatan."

Ravian terdiam. Rasa tidak tenang mulai memenuhi pikirannya. Jantungnya terasa berdetak lebih cepat.

"Oh, begitu. Terima kasih atas informasinya, Pak."

Setelah mengatakan itu, Ravian kembali ke motornya.

Brumm...

Motor hitam itu kembali melesat meninggalkan lokasi.

...****************...

Menjelang malam...

Ravian akhirnya tiba di Mansion pribadinya. Begitu masuk, aroma masakan hangat langsung menyambut indra penciumannya.

"Kamu pulang juga, Nak."

Suara lembut Nyonya Lee terdengar dari ruang makan.

"Ayo, makan malamnya sudah siap."

"Vian belum mandi, Mom," ucap Ravian.

"Nanti aja makannya. Kamu pasti udah lapar," sahut Nyonya Lee.

Ravian akhirnya mengangguk pelan sebelum berjalan menghampiri meja makan. Di sana telah duduk Tuan Lee dan Keira.

"Silakan duduk, Vian. Mandi dan ga mandi tubuh kamu tetap wangi kok. Iya kan, Keira?," ucap Tuan Lee, dan dibalas dengan anggukan Keira.

Ravian menggeser bangkunya dan duduk. Ia memperhatikan berbagai hidangan tersaji rapi di atas meja.

"Hari ini aku sama Tante yang masak," ucap Keira sambil tersenyum kecil. "Semoga cocok."

Ravian hanya mengangguk singkat. Setelah doa makan, keempatnya pun mulai menyantap makan malam tersebut. Suasana berlangsung tenang.

Di tengah aktivitas makannya, Ravian mendadak berhenti mengunyah. Ia kembali mencicipi salah satu masakan di hadapannya.

Deg!

Ia membeku, jantungnya berdetak kencang, tatapannya berubah.

'Rasa ini... Entah mengapa terasa begitu familiar. Seolah aku pernah memakannya berkali-kali. Tapi kenapa aku sama sekali tidak mampu mengingat milik siapa rasa masakan ini?'

"Ravian?" panggil Keira. Namun, Ravian masih tak menggubrisnya.

"Masakannya nggak enak ya?" tanya Keira lirih. Wajahnya tampak cemas, khawatir Ravian tidak menyukai masakan yang telah ia buat.

Ravian langsung menggeleng. "Enak kok. Hanya saja..."

"Rasanya seperti pernah kucoba."

Keira hanya tersenyum kecil, mengira Ravian sedang bercanda.

Tak lama kemudian, makan malam pun selesai. Saat Ravian hendak berdiri meninggalkan meja makan...

"Nak."

Suara Nyonya Lee menghentikan langkahnya.

"Kapan kalian bertunangan?"

Deg!

Ravian membalikkan badan, sebelum menjawab. "Dua bulan lagi, Mom."

Nyonya Lee langsung menghela napas panjang.

"Waktu itu kamu bilang ditunda seminggu. Lalu dua minggu. Sekarang sudah lewat satu bulan, dan kamu minta ditunda lagi dua bulan?" Nada suaranya dipenuhi kebingungan.

"Menunda itu tidak baik, loh," timpal Tuan Lee sambil meletakkan cangkir tehnya.

"Nah, dengar apa kata Daddy-mu," sahut Nyonya Lee.

"Nanti Keira keburu diambil orang. Baru kamu nyesal."

"Kalau diambil orang berarti memang bukan jodohku, Mom." Ravian tersenyum tipis.

Usai mengatakan itu, ia berbalik dan melangkah meninggalkan ruang makan. Sejak pulang dari studio tato itu, pikiran Ravian sama sekali tidak berada di mansion. Melainkan terus memikirkan keberadaan seorang gadis bernama Viana.

...****************...

Keesokan harinya...

Sinar matahari pagi perlahan menyelinap masuk melalui celah tirai Apartemen Aleta. Di atas ranjang king size, Aleta membuka matanya perlahan. Sesaat ia hanya menatap langit-langit kamar. Lalu, ia merasakan sesuatu yang hangat di kedua sisinya.

Aleta menoleh ke kanan. Aura masih terlelap sambil memeluk lengannya. Ia menoleh ke kiri. Viana pun melakukan hal yang sama, bahkan pelukannya jauh lebih erat.

Sudut bibir Aleta terangkat tipis. Pelan-pelan, ia melepaskan kedua tangan sahabatnya agar mereka tidak terbangun. Setelah berhasil turun dari ranjang tanpa menimbulkan suara, Aleta berjalan menuju jendela.

Srek...

Ia membuka tirai kamarnya. Seketika cahaya matahari lembut memenuhi seluruh ruangan. Aleta lalu membuka jendelanya dan menghirup udara pagi dalam-dalam sebelum kembali menoleh ke arah tempat tidur.

Deg!

Viana dan Aura kini sudah berdiri tepat di belakangnya seperti hantu.

"Kepekaanku terhadap sekitar masih sebagus dulu," ucap Viana dengan dagu terangkat bangga. "Jangan lupakan itu, Aleta."

Aleta hanya menatap datar. Belum sempat Viana kembali membanggakan dirinya...

"Viana!" Suara Aura terdengar dari luar kamar. "Bantuin masak!"

"Iyaaa!" sahut Viana lalu berlari keluar kamar.

Sementara itu, Aleta memilih mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Tak lama kemudian...

Aroma masakan mulai memenuhi apartemen. Aura dan Viana sibuk di dapur, sesekali terdengar adu mulut kecil karena Viana diam-diam mencicipi masakan sebelum matang.

Sementara itu, Aleta yang baru selesai mandi keluar dengan pakaian santai.

Melihat masakan sudah siap, ia mengambil piring dan mulai menata seluruh hidangan di atas meja makan.

"Udah!" Aura meletakkan masakan terakhir. "Giliranku mandi!"

"Eh, enak aja!" Viana langsung menghadang di depan pintu kamar mandi.

"Aku dulu."

"Enggak, aku!"

"Kamu tadi udah masak dikit."

"Lah? Justru kamu yang lebih banyak ngicip."

"Kan quality control."

"Alasan."

Keduanya saling menatap beberapa detik.

"Suit!"

"Oke! Siapa takut."

"Batu!"

"Gunting!"

"Kertas!"

Aura mengembangkan senyum kemenangan. Sementara Viana menatap telapak tangannya sendiri dengan wajah tidak percaya. Aura terkekeh pelan sambil menepuk bahu sahabatnya.

"Yang kalah ngalah."

Dengan langkah penuh kemenangan, Aura pun masuk ke kamar mandi. Sementara Viana hanya bisa mengembuskan napas panjang.

1
Peach
bener sih tapi jawabannya... 😭😭
Nongnong 🦩: agak laen yaa 🤭🤣
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
prasaan kemarin masih lo gue deh, kok tiba-tiba udah aku kamu aja 😭😭
mana dipanggil honey lagi /Doge/
Chika
Akhirnya ktm mommy kandung 😍
Chika
Adrian lo jgn kayak Joe ya, lucu² setan /Smug/
Chika
Joe sama Anneta selucu itu kok harus pisah sihhh 😭😭
Nongnong 🦩: dulu pas author masih sama dia juga lucu tapi endingnya tetep pisah 😌
total 1 replies
Yuni
wkwkwkwk waajr sih mak nya Aleta marah/ga terima Aleta ngaku Anneta. secara kan dia ga percaya adanya reinkarnasi. Apalagi pas awal Aletanya kayak plenger bangt, siapa yg ga kesel cba. Anak tunggal udh meninggoy belasan thn trus tb² ada yg ngaku 🤣🤣
Yuni
ih udah honey aja nih 🤭
Peach
loh kok udah lopyu lopyu aja nih? udah jadian apa begimana? apa cuma aku yg ketinggalan berita?
Peach
circle ini isinya manusia lantam smua 💜
Yuni
🥀💔
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
ternyata orang seasik dan setengil joe juga bisa jahat
Nongnong 🦩: namanya juga manusia 😔
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
awas jodoh 😂🤭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
makin deket niehh
Nongnong 🦩: Adrian mah gercep
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
demen bgt sama cw yg pemikirannya begini 🤣🤭
Nongnong 🦩: Author juga demen 🤑
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
kocak umur sndiri pun tak ingat 😂🤣
Nongnong 🦩: Author juga sering kaya gtu, padahal ga reinkarnasi 🤧
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
yg ini agak lain ya, malah ngakunya wlw 😭😭
Nongnong 🦩: cari aman dulu wkwkwk
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
perempuan nyembelin
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Viana sendiri aja ributnya minta ampun. Apalagi kalu ditambah Keira sama Ravian trus Gavin Ezra. ga kebayang ribut & berantakannya bakal kayak apa 😂
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Mampus lo Ravian, siapa suruh udah bikin gue nangis tiap baca kisah lo ama Keira
Nongnong 🦩: silakan mengeluarkan kata² mutiara mu kak
total 1 replies
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Gitu deh manusia, kehilangan dulu baru menyesal
Nongnong 🦩: real .
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!