NovelToon NovelToon
Geranium

Geranium

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: you see me

Aku Abhinav Ruchir mencintaimu dengan cara yang mungkin membuatmu sesak aku menginginkan seluruh perhatianmu, seluruh waktumu, dan seluruh duniamu hanya untukku. Cintaku padamu seperti geranium yang tumbuh liar ia menuntut ruang untuk terus berada di dekatmu, terkadang melupakan batasan, hanya karena ia takut kehilangan tempatnya di sisimu.

Aku tahu caraku mencintaimu mungkin terasa dominan. Aku tidak ingin berbagi satu detik pun darimu dengan dunia lain, karena bagiku, kamu adalah satu-satunya nutrisi yang membuat hatiku tetap bertahan hidup. Ada kalanya aku merasa egois karena ingin memilikimu seutuhnya.

Namun, inilah caraku menjaga hubungan ini tetap bersemi dengan memegangmu seerat mungkin, meski aku tahu keegoisan ini mungkin akan melukai kita berdua.

Biarkan aku menjadi orang yang paling 'membutuhkanmu' di dunia ini. Bukan karena aku lemah, tapi karena di antara segala kesibukanmu, aku selalu ingin menjadi alasan utama mengapa kamu harus pulang dan tetap tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon you see me, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

Langkah kakinya menjauh, meninggalkan aku di ambang pintu rumah yang kini terasa asing dan penuh dengan kenangan pahit. Rumah yang dulu mungkin menjadi tempat berteduh, kini telah berubah menjadi sebuah penjara yang sunyi, di mana setiap sudutnya menyimpan trauma atas apa yang ia rencanakan dan lakukan terhadap orang-orang di sekitarku.

​Pintu tertutup dengan bunyi dentuman yang berat, menandakan bahwa kini aku benar-benar terisolasi di dalam "neraka" yang ia siapkan.

​Aku melangkah masuk dengan kaki yang terasa berat. Setiap langkah di atas lantai rumah ini seolah menginjak memori yang hancur. Dia meninggalkanku sendirian dengan perintah yang dingin.

Abhi " Istirahatlah di kamar dan besok kita akan bicara."

​Aku tahu, itu bukan perintah untuk beristirahat. Itu adalah waktu tunggu yang ia berikan sebelum ia memulai fase berikutnya dari permainannya. Dia pergi untuk menyelesaikan "urusannya" mungkin untuk memastikan bahwa sisa-sisa perlawanan dari rekan-rekanku di rumah sakit benar-benar telah padam, atau mungkin untuk mematangkan rencananya untuk pernikahan yang ia paksakan itu.

​Di dalam kamar yang temaram, aku merebahkan diri di atas ranjang. Tubuhku masih menolak untuk bergerak, sakit di sekujur persendianku adalah pengingat konstan atas kekejamannya. Namun, pikiranku justru berputar kencang.

​Dia merasa telah menang. Dia merasa telah mematahkan semangatku hingga aku tak lagi mampu beranjak. Dalam kesunyian ini, aku mulai mengamati sekeliling. Aku mencari celah entah itu ponsel yang mungkin ia tinggalkan, kunci cadangan, atau sekadar bukti fisik atas "urusan" apa yang sedang ia selesaikan di luar sana.

​Jika dia pikir aku akan tidur dan menunggu hari esok dengan pasrah, dia salah besar. Malam ini adalah satu-satunya kesempatan bagiku untuk mencari celah dalam sistem keamanannya. Sebelum dia kembali esok pagi untuk "berbicara," aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Dokter Akhtar dan staf lainnya.

Kelelahan fisik dan trauma yang mendalam akhirnya menarikmu ke dalam tidur yang lelap, sebuah pelarian singkat dari kenyataan yang menyesakkan. Namun, pagi hari tidak membawa ketenangan ia membawa kesadaran akan nasib yang masih menggantung di tangan pria itu.

​Cahaya matahari yang menembus celah gorden kamar terasa terlalu terang, seolah mengejek kondisi hatiku yang hancur. Aku terbangun dengan tubuh yang terasa kaku, bekas-bekas kekasaran semalam masih membekas di kulit dan ingatan. Sunyi. Rumah itu terasa sangat sepi, menandakan dia belum kembali atau mungkin dia sengaja membiarkanku terjaga dalam ketakutan untuk menunggunya.

​Aku bangkit dari tempat tidur dengan tertatih. Setiap gerakanku adalah perjuangan, namun aku tidak membiarkan diriku runtuh. Aku teringat ucapannya semalam "Besok kita akan bicara."

​Pikiran itu memaksaku untuk bertindak. Jika aku ingin bertahan, aku tidak bisa lagi menjadi korban yang menunggu nasib. Aku harus mencari tahu apa yang terjadi di luar sana. Dengan sisa tenaga yang ada, aku mulai mengamati kamar tersebut mencari apa pun yang bisa memberiku petunjuk atau akses, sebelum dia kembali untuk menjemput "bicara" yang dia janjikan.

​Tiba-tiba, suara kunci pintu utama yang diputar terdengar. Langkah kakinya yang tegas dan terukur menggema di lorong, semakin mendekat ke arah kamar. Dia sudah kembali.

​Jantungku berdegup kencang. Waktuku untuk mencari petunjuk habis. Dia berdiri di depan pintu, dan sebentar lagi dia akan masuk untuk memulai "pembicaraan" yang dia rencanakan.

1
Umi Fitriani
semangat thorr
you see me: Terima kasih kakak /Whimper/😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!