NovelToon NovelToon
Dunia Akan Lebih Baik Jika Kita Bersama

Dunia Akan Lebih Baik Jika Kita Bersama

Status: tamat
Genre:Romantis / Poligami / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika / Tamat
Popularitas:108.5k
Nilai: 5
Nama Author: Liu woile

Denisa tak menduga perjalanan cinta jarak jauhnya dengan Rayend berakhir dengan kenyataan kalau Denisa lah menjadi orang ketiga di pernikahan Rayend. Lalu pertemuan tidak sengaja dalam sebuah kecelakaan membawa Denisa bertemu sosok lelaki yang selanjutnya selalu muncul tiap Denisa mengalami kesusahan. Lelaki itupun mulai menunjukkan ketertarikan kepada Denisa. Namun Disisi lain lelaki itu juga mempunyai trauma masa lalu yang kelak akan mempengaruhi hubungan cintanya dengan Denisa. Sanggupkah mereka terus bersama menghadapi setiap masalah yang silih berganti menggoyahkan hubungan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liu woile, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Khawatir

Waktu menunjukkan pukul 19.15. Catra sudah berulang kali menelpon Denisa. Saat dia tiba dirumah pukul 18.30 dan Denisa belum sampai di rumah. Saat beberapa kali menelpon Denisa tapi tak diangkat Catra mencoba menelpon Gilang untuk menanyakan Denisa jalan dari bengkel jam berapa. Dan Gilang pun tak menjawab panggilan ponselnya. Padahal sebenarnya pada saat pertama kali Catra menelpon Denisa masih ngobrol bersama Gilang. Dan saat itu Denisa baru bergegas pulang.

" Sebentar lagi juga non Denisa sampai rumah" Hibur Bu Ratni melihat kegelisahan Catra.

" Iya Bu, tapi ini sudah jam setengah delapan. Kemarin naik angkutan umum dia sudah sampai jam segini. Ini naik motor malah belum sampai. Saya takut ada apa-apa" ujar Catra. Pikirannya melayang pada kejadian malam saat dia menemukan Denisa terluka akibat Kecelakaan.

" Doakan saja biar tak terjadi apa-apa" ujar Bu Ratni. Dalam hati dia merasakan perhatian tulus Catra untuk Denisa. Bu Ratni dapat melihat kalau Catra ada hati untuk Denisa.

Tepat pukul 19.50 terdengar bunyi pagar di buka. Catra bergegas ke depan, dilihat nya Denisa sedang memasukkan motor nya ke garasi. Catra memandang dengan lega tapi wajahnya tersisa wajah tak nyaman.

Dia terus lekat memandang Denisa yang melepas helm dan jaketnya. Denisa merasa salah tingkah dipandangi sedemikian rupa.

" Aku pulang " ujar Denisa sambil berjalan ke arah Catra.

" Telat sekali kamu sampai rumah? apakah macet?" tanya Catra sambil melangkah bersama ke dalam.

" Ehm ,tadi aku keluar bengkel jam hampir jam 7." ujar Denisa

" Kok lama? kan kamu pulang kerja jam 5"

" Ngobrol dulu sama Gilang. Bukannya dia mengemban misi dari kamu buat membujuk aku meneruskan kasus?" ujar Denisa sambil berjalan kearah Catra.

Catra tak berdaya " Lain kali kabarin aku ya. Kalau tidak bisa pulang tepat waktu. Aku khawatir. Tadi terbayang kejadian kecelakaan malam itu." ujarnya murung.

Denisa merasa bersalah. Tadi dia berpesan kepada Gilang untuk tidak mengangkat telp Catra. Dan dirinya juga memang tidak berniat mengangkat telpon Catra tadi dijalan. " Aku minta maaf sudah membuat kamu khawatir " ujarnya pelan.

" Ya sudah kamu bersih-bersih dulu sana"

" Kamu makan lah terlebih dahulu. Jangan menunggu aku sudah makan" ujar Denisa sebelum berlalu menuju kamarnya. Sebenarnya Denisa belum makan tapi dia berkata seperti itu supaya Catra makan lebih dulu. Karena Denisa mulai paham Catra berdisiplin makan sebelum jam 7 malam.

Catra tertegun sesaat hatinya merasa tak senang. Ditunggu untuk makan bareng malah berkata sudah makan diluar.

Sementara Denisa yang mau memasuki kamar bertemu Bu Ratni. " Mas Catra khawatir banget sama kamu. Lain kali kabarin ya non. Ibu kasihan liat nya" ujar Bu Ratni sambil tersenyum.

Denisa mengangguk pelan " Oh iya Bu, ajak Catra makan malam ya. Saya sudah makan diluar tadi. Saya permisi Bu " Denisa pun berjalan memasuki kamar.

Di balik pintu Denisa menarik nafas. Cerita Gilang tentang Catra mengusik pikiran nya. Denisa hanya tak mau memberi harapan apapun karena memang belum ada rasa apapun dihatinya untuk catra. Denisa baru putus dengan Rayend. Dia merasa terlalu cepat merasakan cinta lagi. Takutnya hanya sebagai pelarian hatinya yang terluka dan kesepian.

Denisa menggeleng pelan. Kenapa harus ke ge-eran sendiri. Bahkan Catra pun tidak atau belum pernah berkata apapun. Sepertinya Denisa harus segera pindah dari rumah ini dan mencari tempat kost. Semakin lama disini khawatir membuat suasana semakin tidak enak.

Denisa segera mandi dan sengaja tidak keluar kamar lagi. Tubuhnya lumayan lelah. Biasanya berkendara dari kantor ke rumah hanya 15 menit. Dikarenakan tinggal dirumah Catra ini, Denisa harus menempuh perjalanan satu jam lebih. Setelah mandi Denisa berbaring di ranjang dan membuka ponselnya tak lama langsung dia terlelap.

Saat Denisa terlelap Bu Ratni masuk kamar Denisa atas suruhan Catra. Ketika melihat Denisa sudah terlelap Bu Ratni tak tega membangunkannya. Dia keluar dan melapor pada Catra. Akhirnya Catra memutuskan melihat Denisa juga dikamar. Catra duduk di sisi ranjang memandang Denisa yang terlelap.

Catra menyadari sepenuhnya saat ini dia memiliki rasa yang berbeda untuk Denisa. Tapi dia tak tahu sejak kapan rasa itu ada dihatinya. Walau belum terlalu lama mengenal Denisa tapi naluri nya mengatakan kalau Denisa baik dan layak untuk dirinya.

Setelah puas memandangi wajah Denisa yang terlelap Catra pun mematikan lampu dan keluar dari kamar Denisa. Malam ini catra melewatkan makan malamnya karena nafsu makan nya hilang begitu saja. Mungkin karena tidak ditemani Denisa.

Hampir tengah malam saat Denisa terjaga dari tidurnya. Perutnya terasa sangat lapar. Perlahan dia turun dari ranjang dan menyalakan lampu. Dia merasa sedikit heran karena tadi merasa belum mematikan lampu. Perlahan Denisa membuka pintu dan melangkah ke arah meja makan. Dilihatnya meja makan sudah kosong. Lalu Denisa melangkah ke dapur.

Denisa membuka lemari es dan Melihat apa ada makanan yang bisa dimakan?. Denisa menggaruk kepalanya ketika melihat bahan mentah semua. Apakah disini tak ada mie instan pikirnya.

Setelah bingung sekian lama didepan lemari es yang terbuka akhirnya Denisa memutuskan untuk membuat susu hangat saja. Denisa menutup pintu lemari es hendak berbalik mengambil panci susu. Tapi dia kaget ketika tubuhnya menabrak sesuatu dan itu adalah Catra.

" Hai masih belum tidur?" sapa Denisa sambil tersenyum malu.

" Kamu juga belum tidur?"

Denisa menggoyang kan kedua tangannya

" Tidak, aku sudah tidur cuma merasa haus saja"

" Mau minum apa.? air putih?"

Denisa menggeleng " Mau buat susu hangat saja" dan Denisa mengambil panci susu dan menuang susu untuk dihangatkan.

Catra memandang Denisa dari belakang. Merasa tak ada pergerakan dibelakangnya Denisa menoleh.

" Kamu mau susu juga? tanya Denisa

" Boleh. Aku lapar " ujar Catra sambil memegang perutnya.

" Lho tadi kamu makan malam nya sedikit?"

" Tadi tidak jadi makan "

" Lho kenapa?" tanya Denisa terheran.

" Mendadak tidak nafsu makan "

" Jangan pakai nafsu kalo mau makan"

" Gimana mau berselera makan. Yang ditunggu untuk makan bareng malah udah makan diluar. Ya langsung anjlok nafsu makan"

" Maaf ya.." sesal Denisa " Gimana kalau sekarang kita makan?"

" Kamu mau makan lagi ?"

" Iya, aku lapar"

" Kamu belum makan juga?" ujar Catra sambil memajukan bibirnya. Denisa merasa gemas melihat Catra manyun.

" Iya , maaf tadi maksudnya biar kamu makan duluan tidak perlu nunggu aku selesai mandi, Eh malah aku ketiduran. Lelah banget berkendara, "

" Tapi mau makan apa? Masakan Bu Ratni sudah dikasih ke petugas kebersihan kompleks."

" Kita keluar yuk, cari nasi goreng gerobakan" ujar Denisa.

" Apa?, nasi goreng gerobakan?"

" Iya , kita keluar naik motor yuk, " ajak Denisa

" Kamu yakin, mau keluar malam gini naik motor?"

" Iya yakin. Dari pada jalan kaki kan belum tau lokasi nya dimana dekat sini yang ada nasi goreng gerobakan"

" Coba kita cari di jalan semangka. Sepertinya disana walau malam tetap ramai" ujar Catra " Ambil helm dan jaket ya"

Lalu mereka mengambil jaket dikamar masing. Catra mengeluarkan motor dan membonceng Denisa. Mereka hendak berkeliling mencari pedagang makanan.

Udara malam yang dingin membuat Denisa melipat tangan didepan dadanya. "Dingin sekali anginnya ya, Apakah ini mau hujan ? " gumam Denisa

" Kamu kedinginan? " Catra sesaat menghentikan laju motornya. Dan menoleh kebelakang. Dia melihat Denisa tersenyum sambil tangannya masih terlipat didepan dada. " Sini peluk aku. Dan kamu duduknya lebih maju" ujarnya

Denisa menuruti nya. Pada dasarnya Denisa memang tidak tahan hawa dingin jadi dia pun melingkarkan tangannya ke perut Catra dan merapatkan duduknya.

" Nah seperti ini, Gadis pintar " ujar Catra sambil sedikit mengelus tangan Denisa yang ada di perutnya. Lalu dia melanjutkan mengendarai motor. Ketika menemukan warung tenda yang menjual nasi goreng pun mereka berhenti.

" Mau makan dimana? disini atau dirumah?" tanya Catra sambil melihat sekeliling. Dia tidak terbiasa makan di warung tenda seperti ini.

" Makan disini saja ya " jawab denisa

1
Elly Supriaty
Bravo Author dari pertama baca sampe akhir aku sangat suka novel mu thor ,....
smg sll sehat thor ,sll sukses dengan karya mu yg semangkin greget ,ku tunggu karya mu yg lain ...
Author its the best 💪💪💪👍👍👍❤❤❤❤
Wahyu Dwi Ardiah Miswari
Trimakasih atas karyanya author......semakin maju n sukses dlm berkarya, saya tunggu karya selanjutnya.
Wina Faujji
dari awal sampe akhir cerita nya saya suka, saya tunggu karya mu yg baru...
Yuli Yuliah
sukses buat author,happy ending
Wahyu Dwi Ardiah Miswari
saya suka....saya suka ceritanya Thor. Sukses sll ya thor. gbu
Yuli Yuliah
Thor kemana dirimu
Isri Nurhidayah
hamil kali Denisa nya
Wina Faujji
ngak ada visual nya ya thor
Yossi Yosvizar
Haadeh delisa kenapa dibikit ribet sendiri pikiran jelek hrs segera di konfirmasi jd ngga salah paham .rumah tangga hrs salibg terbuka dgn apa yg mengganjal dihati dan pikiran 😔😔😔
Yossi Yosvizar
thor catra jgn dibikin jd orang yg ribet kasian denisa hrs sabar dan kuat.😔😔
Isri Nurhidayah
semoga bukan masalah baru
Wahyu Dwi Ardiah Miswari
ceritanya bagus....semangat thor .
Yossi Yosvizar
Denisa tipe perempuan hebat tp ngga sadar kalau dia hebat walau penuh kekurangan
Wahyu Dwi Ardiah Miswari
aku suka thooor
Yuli Yuliah
kok blm up Thor,aku dah bolak balik intip nih
Tera Dwi Retina
selaluuuu menungguuu
Wahyu Dwi Ardiah Miswari
ikut seneng baca nya thor.....
Wahyu Dwi Ardiah Miswari
banjiiiiirrrr......tapi seneng
Tera Dwi Retina
akhirnya aaaaaa
Wina Faujji
akhirnyaaa ..... semangat terus ya thor..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!