Gara-gara utang ratusan juta dan insiden tumpahan wine di restoran, hidup Dokter Namira berubah 180 derajat. Ia mendadak dilamar oleh Maxwell Ezra Tanuwijaya—CEO dingin dan asing, yang ibunya merupakan pasien VIP-nya sendiri.
Awalnya Nami pikir ini cuma pernikahan kontrak biasa di atas kertas demi uang kompensasi. Sampai akhirnya ia membaca isi Pasal 7 di dalam map hitam itu:
"Pihak Kedua wajib melahirkan seorang anak hasil hubungan dengan Pihak Pertama selama masa kontrak berlaku."
Sanggupkah Nami bertahan dalam pernikahan sandiwara yang menuntut rahim dan harga dirinya ini?
Atau ia akan hancur sebelum kontrak itu selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Naura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25 - B 1 TNJ
Cahaya matahari pagi yang menyelinap di balik celah gorden sutra itu menjadi saksi bisu atas keheningan yang mendadak terasa begitu menyesakkan.
Nami terbangun lebih dulu, namun ia tidak bisa langsung beranjak. Tubuhnya seolah terkunci oleh beban hangat yang melingkar erat di pinggangnya.
Nami menahan napas saat menyadari bahwa posisi mereka belum berubah sejak semalam.
Max masih memeluknya dari belakang dengan sangat posesif. Wajah pria itu terkubur sebagian di ceruk lehernya, membuat hembusan napas teratur Max menggelitik kulit sensitifnya.
Nami bisa merasakan detak jantung Max yang tenang namun kuat bersandar pada punggungnya.
Dengan sangat hati-hati, Nami mencoba menggeser lengan kekar Max yang mengunci perutnya.
Namun, alih-alih terlepas, Max justru melenguh rendah dan semakin mempererat pelukannya, seolah secara bawah sadar pria itu menolak untuk melepaskan "aset" berharganya.
"Max... lepas," bisik Nami lirih, suaranya serak khas orang baru bangun tidur.
Kelopak mata Max perlahan terbuka. Sepasang mata elang yang biasanya tajam dan mengintimidasi itu kini tampak sayu dan hangat.
Untuk beberapa detik, mata mereka bertemu dalam jarak yang hanya terpaut beberapa inci. Di sana, tidak ada ego CEO atau seorang dokter, yang ada hanyalah dua manusia yang sedang terjebak dalam kebingungan rasa yang tidak seharusnya ada.
Kesadaran Max pulih lebih cepat. Menyadari posisinya yang sangat tidak "bisnis", ia langsung melepaskan pelukannya dengan gerakan kaku.
Max bangkit duduk di tepi ranjang, membelakangi Nami sembari mengusap wajahnya dengan kasar.
"Aku... aku hanya refleks karena udara cukup dingin semalam," ujar Max tanpa menoleh, suaranya kembali sedingin es meskipun daun telinganya tampak memerah.
Ia segera beranjak menuju kamar mandi tanpa menunggu balasan Nami, meninggalkan Nami yang hanya bisa meremas selimut dengan jantung yang berpacu gila.
***
Suasana di meja makan pagi ini terasa sedikit berbeda. Nyonya Sofia sarapan dengan binar bahagia yang tak bisa disembunyikan, sesekali melirik putra dan menantunya dengan senyum penuh arti.
Sementara itu, kecanggungan semalam masih menyelimuti Max dan Nami seperti kabut tipis yang enggan beranjak.
Nami duduk dengan punggung tegap, berusaha fokus pada roti bakarnya untuk menghindari tatapan Max.
"Max, hari ini Ibu ada janji temu kangen dengan teman-teman yayasan jam sembilan nanti," ujar Sofia memecah keheningan sembari meletakkan serbetnya.
"Kalian teruskan makannya, ya. Ibu mau bersiap-siap dulu ke kamar."
Max langsung meletakkan garpunya dengan ketukan pelan namun tegas. Dahinya berkerut dalam.
"Tidak boleh, Bu. Ibu belum sepenuhnya pulih. Di luar terlalu melelahkan untuk kondisi Ibu sekarang."
Sofia tersenyum maklum, sudah hafal dengan sifat keras kepala putranya jika menyangkut kesehatannya.
"Ibu pergi bersama kepala pelayan dan dua perawat pribadi, Max. Sopir depan juga sudah bersiap sejak tadi. Ibu hanya duduk dan mengobrol santai, tidak akan kelelahan."
Mendengar penjelasan ibunya yang sudah mengantisipasi segala protokol keamanan medis, ketegangan di rahang Max sedikit mengendur.
Namun, pria itu tetap tidak bisa melepas kecemasannya begitu saja.
"Kalau begitu, biar aku yang antar," putus Max tidak menerima bantahan.
"Aku akan memastikan Ibu sampai di tempat tujuan dengan aman sebelum aku pergi ke kantor."
Sofia terkekeh pelan, menyerah menghadapi sikap protektif putranya. Wanita paruh baya itu kemudian mengusap bahu Nami dengan sayang sebelum melangkah pergi.
"Nami, habiskan buahnya ya, Sayang."
"Iya, Bu," jawab Nami dengan senyum manis yang tulus.
Begitu langkah kaki Ibu Sofia menghilang di balik koridor dan menyisakan mereka berdua di ruang makan yang luas, atmosfer hangat itu seketika lenyap.
Topeng domestik yang ramah langsung tanggal dari wajah Max, digantikan oleh ekspresi datar nan kaku andalannya.
Nami menghela napas pelan, hendak meraih piring berisi potongan melon yang letaknya agak jauh di seberang meja.
Namun, sebelum jemari Nami sempat menggapainya, sebuah tangan kekar dengan kemeja kantor yang sudah rapi lebih dulu menggeser piring itu hingga tepat berada di hadapannya.
Max melakukannya tanpa suara, matanya bahkan masih fokus membaca laporan bisnis di tablet genggamnya.
"Terima kasih," gumam Nami, agak canggung melihat perhatian kecil yang mendadak itu.
"Habiskan," sahut Max datar, suaranya kembali bariton dan penuh perintah.
"Aku tidak mau kau jatuh sakit dan mengganggu jadwal proyek kita. Aku butuh rahimmu dalam kondisi prima agar efisiensi waktu kontrak ini tercapai."
Laga-lagi kata 'proyek' dan 'kontrak'.
Nami tersenyum pahit di dalam hati, menarik kembali tangannya dengan perasaan yang mendadak mencelus.
Benteng "sadar diri" yang sempat agak goyah gara-gara pelukan semalam langsung tegak berdiri seketika.
Ia harus terus mengingatkan dirinya bahwa setiap perhatian kecil dari pria di hadapannya ini hanyalah bentuk investasi demi calon pewaris keluarga Tanuwijaya, bukan karena ketulusan untuk dirinya pribadi.
"Tentu saja," sahut Nami dingin, menusuk buah melon itu dengan garpunya agak keras.
"Aku akan menjaga 'aset' berhargamu ini dengan sangat baik sampai waktuku habis."
Max sempat menghentikan gerakan jemarinya di atas layar tablet. Ia melirik Nami sekilas, menyadari kilat kecewa yang tersembunyi di mata bening wanita itu, namun keangkuhan sang CEO memilih untuk mengabaikannya.
Pria itu bangkit, merapikan jasnya, lalu melangkah pergi ke kantor tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.
***
Siang harinya, rumah mewah itu menjelma menjadi ruang sunyi yang begitu lengang setelah kepergian Nyonya Sofia dan Max.
Nami berdiri sendirian di dekat jendela koridor lantai dua, memeluk dirinya sendiri. Jemarinya perlahan turun, mengusap perutnya yang masih datar dengan gerakan lembut yang sarat akan kepasrahan.
Cepatlah hadir di sini, batin Nami lirih, mengirimkan sebaris doa bisu pada rahimnya sendiri.
Tumbuhlah dengan cepat, agar tugas Ibu segera selesai dan Ibu bisa pergi dari rumah ini... sebelum hati Ibu benar-benar lumpuh oleh kehadiran pria itu.
Nami menghela napas panjang, mencoba mengusir sesak di dadanya. Ia memutuskan berjalan melewati koridor untuk kembali ke kamar.
Namun, langkah kakinya mendadak terhenti tepat di depan ruang kerja pribadi Max.
Pintu kayu kokoh yang biasanya selalu tertutup rapat dan menjadi area terlarang baginya itu kini tampak sedikit terbuka.
Celahnya hanya beberapa inci, menyisakan ruang bagi Nami untuk melihat ke dalam.
Tampaknya, Max benar-benar terburu-buru saat pergi mengantar ibunya tadi hingga melupakan protokol kerapiannya.
Nami tahu ia harus mengabaikannya. Logikanya berteriak bahwa melangkah masuk ke sana adalah tindakan yang sangat tidak sopan.
Nami mengulurkan tangan, awalnya murni hanya ingin menarik gagang pintu dan menutupnya rapat-rapat dari luar.
Namun, tepat saat matanya melirik sekilas ke dalam melalui celah, Nami tertegun.
Meja kerja Max yang biasanya bersih tanpa cela, siang ini tampak berantakan. Ada selembar kertas yang terjatuh di lantai dekat meja, dan sebuah map cokelat besar yang letaknya setengah terbuka di atas permukaan kayu mahoni tersebut.
Entah bisikan impulsif dari mana, dorongan misterius mendadak menggerakkan kaki Nami. Ia melangkah masuk, menyusup ke dalam keheningan ruang kerja Max yang dingin.
Nami membungkuk, berniat mengambil kertas yang terjatuh di lantai untuk merapikannya. Namun, begitu matanya menangkap barisan kalimat di kertas tersebut, seluruh pasokan udara di paru-parunya seketika terkunci.
Itu adalah salinan laporan kepolisian resmi. Sebuah dokumen kecelakaan fatal.
Tahun 2021.
Detak jantung Nami mendadak melompat liar.
Dengan napas yang mulai memburu pendek-pendek, Nami meletakkan kertas itu ke meja lalu dengan cepat membuka map cokelat yang setengah terbuka di hadapannya.
Di lembar pertama, sebuah foto lampiran kepolisian terpampang jelas. Foto sebuah mobil Porsche Panamera hitam milik tersangka yang ringsek parah di bagian depan akibat benturan hebat.
Namun, bukan kerusakan mobil itu yang membuat darah Nami mendadak surut hingga wajahnya pucat pasi.
Melainkan plat nomor mobil tersebut. B 1 TNJ.
Plat nomor yang hancur setengah, namun terpatri mati di dalam ingatan Nami. Karatan besi dan pecahan kaca dari plat nomor itulah yang terakhir kali dilihat Nami dari balik sela-sela kursi belakang yang ringsek, sesaat sebelum kesadarannya hilang akibat hantaman hebat lima tahun lalu.
Itu adalah rongsokan besi yang sama, peti mati yang merenggut nyawa ayah dan ibunya seketika di tempat, dan menyisakan dirinya sendirian bersimbah darah sebagai satu-satunya korban selamat.
Dada Nami mendadak dihantam rasa ngilu yang pekat. Kilasan memori malam itu, bau anyir darah, suara sirine yang berdenging, dan dinginnya jemari ibunya yang perlahan kehilangan detak—mencuat ke permukaan, membuat rongga dadanya terasa begitu sesak dan mencekik.
Sensasi dingin yang mengerikan merambat cepat dari ujung kaki hingga ke kepala.
Nami mundur satu langkah, membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan demi menahan jeritan horor yang hampir lolos dari tenggorokannya. Air matanya seketika luruh tanpa bisa dibendung.
Kenapa dokumen ini ada di sini? Kenapa berkas kecelakaan yang menghancurkan hidupku berada di atas meja kerja Max?
Pria dingin yang semalam menyentuhnya, pria yang mendekapnya dengan begitu hangat dalam keheningan malam, dan pria yang telah ia tandatangani kontrak pernikahannya demi uang satu miliar...
Nami menatap map di atas meja itu dengan tatapan ketakutan yang luar biasa. Di dalam kesunyian ruang kerja yang dingin itu, sebuah kenyataan mengerikan menghantam akal sehatnya hingga hancur berkeping-keping.
Pria yang kini menjadi suaminya, entah bagaimana, terikat erat dengan darah kematian kedua orang tuanya.