Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.
***
Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : Apakah Ini Hukuman?
Aira terdiam. Ia menatap Baskara tak percaya.
"Pegunungan Maros itu tempat beberapa prajurit yang kemarin gugur itu, kan, Mas?"
Baskara mengangguk samar.
Aira tampak menahan napasnya. Ia tidak dapat menahan rasa sesak di dadanya. Baru kemarin rasanya ia melihat berita prajurit yang gugur dan kini ia mendengar bahwa Baskara juga akan ditugaskan di tempat itu.
"Ai ...."
"Ini hukumanmu atau apa? Kamu dapat hukuman dari satuanmu karena masalah kemarin?"
"Enggak. Bukan begitu ... ini nggak ada hubungannya sama masalah kemarin, Ai."
"Lalu apa? Mas kenapa dikirim tugas ketempat itu? Kenapa mendadak?" tanya Aira dengan suara bergetar.
Baskara menatap Aira. Ia menatap lekat-lekat istrinya itu seraya menarik Aira dalam dekapannya. Baskara memeluk Aira erat seraya mengusap punggung Aira. Air mata Aira tumpah sudah. Ia menangis dalam dekapan Baskara.
"Tugas memang selalu datang mendadak, Ai."
"Tapi ini nggak adil. Kenapa kamu yang harus pergi kesana? Kenapa bukan orang lain aja?" rengek Aira.
Baskara menahan napasnya. Ia mengecup puncak kepala Aira beberapa kali. Baskara melepaskan pelukannya, lalu menangkup wajah Aira dengan kedua tangannya. Kedua ibu jarinya mengusap lembut air mata Aira yang jatuh.
"Kamu tahu, bagi kami para prajurit, tugas adalah kehormatan yang harus dijunjung tinggi dan dilaksanakan sepenuh hati. Kami tahu resikonya. Aku yakin kamu pun juga tahu konsekuensi dan resiko jadi pasangan abdi negara."
Aira masih terisak beberapa kali.
"Tapi, aku nggak siap ...."
Kalimat Aira menggantung.
"Ai, seperti halnya prajurit, para istri pun juga harus siap. Siap menerima suamimu bertugas dan siap menerima kabar paling buruk."
Aira menggeleng dan kembali menangis.
"Aku takut," ucap Aira dengan suara tercekat.
Baskara menangkup wajah Aira dengan kedua tangannya. Ibu jari Baskara menyapu air mata Aira yang berderai dipipi. Baskara pun menautkan dahinya pada dahi Aira. Mereka saling diam beberapa saat. Mata mereka beradu.
Detik selanjutnya, dengan keraguan di hati, Baskara mengecup singkat bibir Aira.
"Semua akan baik-baik saja," ucap Baskara singkat coba menenangkan Aira.
Aira diam. Membeku ditempatnya. Begitu pula Baskara. Ia menatap Aira, takut jika kecupan singkatnya membuat tamparan melayang ke pipi Baskara. Namun, Aira diam. Ia masih sesekali terisak.
Mereka duduk di bibir ranjang. Diam tanpa kata.
"Ai ...." Baskara mencoba memastikan jika istrinya tidak marah.
"Aku tidur duluan."
Aira merangkak ke sisi ujung ranjang dan meringkuk di sana. Baskara menatap Aira yang masih terisak sesekali. Pria itu pun mendekat. Baskara merebahkan tubuhnya. Ia masih memberi jarak beberapa jengkal. Suasananya masih canggung, meski ini bukan kali pertama mereka tidur satu ranjang.
Baskara menoleh menatap Aira saat ia masih mendengar samar-samar isak tangis Aira.
"Ai ...."
"Hmm ...."
"Kamu masih nangis?"
Aira diam. Ia yang semula posisinya membelakangi Baskara, kini ia merubah posisinya menghadap ke arah Baskara. Aira sengaja menggeser tubuhnya, menyisakan beberapa senti di tengah.
Baskara menatap Aira, tak lama Aira mengulurkan tangan, lalu melingkarkannya dj lengan kekar Baskara.
Baskara sedikit kaget, tapi ia menyediakan bahunya untuk tempat Aira menyandarkan kepalanya.
Jari Baskara bergerak menautkan jemarinya pada Aira dan menggenggam tangan Aira.
"Kamu nggak takut, Mas?"
Baskara diam. Bohong jika ia tidak takut. Setiap tugasnya sangat beresiko dengan pertaruhan yang sangat tinggi. Baskara membuang napas kasar.
"Aku lebih takut ninggalin kamu dan nggak kembali lagi."
"Ssstt...."
Aira menempelkan jari telunjuknya ke bibir Baskara seraya menggeleng beberapa kali.
"Jangan bilang gitu."
Baskara meraih tangan Aira itu, lalu menggenggamnya sebelum ia kecup mesra dan lembut.
"Manusia nggak akan pernah tahu sampai kapan ia diberi hidup. Jadi, tolong jangan berkata begitu."
Baskara mengangguk. "Maaf."
"Janji, sesulit apapun tugasmu, kamu akan berusaha pulang."
Beberapa detik mata hitam Aira menatap mata elang Baskara. Pria itu pun mengangguk. Ia mengangkat tangannya, membiarkan Aira tidur diatas lengannya. Baskara melihat gelang yang melingkar di tangannya, lalu memperhatikan juga gelang milik Aira. Baskara mengulum senyumnya. Ia menyandarkan kepalanya di atas kepala Aira dan tanpa sadar Baskara dan Aira pun terlelap.
***
Pagi ini, Baskara bangun lebih pagi. Tangannya sedikit kebas karena semalaman Aira terlelap di lengannya. Baskara memilih melakukan aktifitas fisik di luar dengan lari pagi. Ia mengganti pakaiannya dengan baju olah raga dan mengenakan sepatu larinya. Ia menatap Aira yang tampak masih terlelap tidur. Baskara mengusap lembut puncak kepala Aira dan mengecupnya singkat sebelum ia pergi lari pagi.
Aira mengerjap-ngerjapkan mata, ia menatap ke samping dan meraba-raba sisi samping tempat tidurnya. Ia terkejut saat tidak mendapati Baskara ada di sana. Aira bangkit dari tidurnya. Ia menatap nakas dan menemukan sebuah catatan kecil.
Cantik, aku lari pagi dulu.
Pesan singkat dari Baskara yang segera membuat senyumnya mengembang. Aira bangun dan duduk di kursi rias. Ia mengambil secarik kertas dan pulpen dari dalam tasnya. Aira mulai menulis kegiatan yang akan mereka lakukan bersama hari ini.
Pintu hotel terbuka dan menampilkan Baskara yang tampak berkeringat dengan napas terengah-engah berdiri di sana.
"Lagi ngapain, Ai?" tanyanya seraya membuka sepatunya.
"Nulis."
"Tahu. Nulis apa?"
Aira menutup tulisannya saat Baskara menghampiri dan ingin melihat kegiatannya.
"Eits ... belum selesai!"
Baskara tersenyum. Ia mengacak puncak kepala Aira gemas sebelum berjalan ke kamar mandi.
"Aku mandi duluan ya. Gerah."
Baskara berjalan santai menuju kamar mandi sementara Aira kembali meneruskan tulisannya.
Sarapan.
Foto-foto.
Naik bananaboat.
Naik gondola.
Main di Paradise Sky
Makan malam di Paradise Sky Lounge.
Baskara menatap tulisan Aira di kertas kecil yang ia tinggalkan di meja. Saat ini gantian Aira yang mandi. Baskara sudah rapi dengan kaos putih tanpa lengan sebagai inner dan kemeja tipis warna biru langit sebagai outer, celana pendek, dan sandal gunung.
"Kamu nulis ini tadi, Ai?" tanya Baskara seraya menunjukkan kertas kecil yang ditinggalkan Aira.
Aira mengangguk.
Ia mengeringkan rambutnya dan mulai berdandan tipis. Aira tampil cantik dengan tanktop putih dan celana pendek hotpants dengan warna senada. Ia mengambil kain pantai warna biru laut untuk dilingkarkan di pinggangnya.
"Itu wishing list aku. Kan tinggal sehari ini liburannya, jadi harus dimanfaatkan sebelum pulang," jawab Aira.
Ia sudah siap setelah outfit check di kaca lemari hotel.
"Let's go, Babe!" ucap Aira seraya berjalan keluar kamar.
Baskara tersenyum dan menautkan jemarinya di tangan Aira seraya menggandeng tangan istrinya itu. Mereka pun berjalan menuju restoran hotel untuk menikmati sarapan pagi.
Setelah sarapan selesai, Aira sudah menyiapkan ponsel pintarnya. Ia mengabadikan setiap momen dan perjalanannya bersama Baskara.
"Kamu yakin mau naik itu?" Baskara menunjuk sebuah bananaboat yang sudah siap ditarik oleh speedboat.
Aira mengangguk mantap. Ia mengenakan pelampung yang sudah disediakan dan kembali meminta petugas untuk mengabadikan momen mereka.
Aira tidak henti berteriak saat bananaboat itu ditarik kencang dan berputar-putar. Sementara Baskara yang sudah biasa dengan hal-hal ekstrem pun hanya tersenyum geli melihat Aira yang ketakutan.
"Ah! Aku nggak mau lagilah!"
Baskara tertawa usai mereka turun dari bananaboat itu.
"Kenapa, Ai? Kamu lho yang mau tadi," ucap Baskara seraya memberikan sebotol air mineral pada Aira.
"Habis kayaknya asyik."
"Memang asyik, kan?"
Aira menggeleng. "Serem!"
Ia pun mengganti pakaiannya yang basah dengan dress putih tanpa lengan. Sementara itu Baskara tetap dengan pakaiannya karena merasa tidak terlalu basah.
Kini mereka berpindah ke arah gondola yang akan membawa mereka berkeliling Paradise Island dan melihat keindahan pulau itu dari atas.
Aira mengambil kembali ponselnya. Ia meminta Baskara berpose dan mengambil foto bersama di dalam gondola itu. Aira menyandarkan tubuhnya di dada Baskara. Sementara, tangan Baskara terentang merangkul Aira.
"Asyik ya."
"Kalau ini nggak takut?"
Aira menggeleng.
"Mas takut?"
Baskara mengerutkan dahi. "Kamu nanya atau ngejek?"
"Ya, kan, tanya. Mana tahu diam-diam takut ketinggian," ucap Aira yang tak lama ia pun tertawa dengan ucapannya sendiri.
"Nggak mungkin sih takut. Kan, mas tentara. Dulu, kenapa sih pengen jadi tentara?"
"Karena ayah."
"Disuruh ayah?"
Baskara menggeleng. "Karena pengen kayak ayah."
Aira mengangguk seraya membulatkan bibirnya.
"Kalau nggak jadi tentara, dulu cita-citanya mau jadi apa?"
Baskara berpikir sejenak. "Food vlogger."
Aira terkejut, lalu tertawa. "Hah? Kenapa jauh banget dari tentara ke food vloger?"
"Ya, nggak apa-apa, kan? Tadi kan pertanyaannya kalau nggak jadi tentara mau jadi apa? Ya itu food vlogger."
"Kenapa?"
"Soalnya aku suka makan dan jajan dijadikan konten kauaknya seru. Kalau kamu kenapa jadi dokter?"
Aira gantian diam dan berpikir sejenak. "Biar dapet suami tentara," jawabnya sebelum tertawa.
"Hah? Cita-cita apa itu?"
"Lho, kalau mas, kan, lihat ayah. Nah, aku lihat mama. Dia dokter terus suaminya tentara. Kayaknya keren."
Baskara mendengus, lalu tertawa.
"Kesampaian dong cita-citanya punya suami tentara?"
Aira mengerucutkan bibirnya.
"Bisa iya... bisa enggak."
Baskara mengernyit. "Kok gitu?"
"Iya, soalnya aku punya suami tentara sekarang. Enggak, karena aku nggak dikasih kesempatan buat milih sendiri tentara mana yang mau aku jadikan suami."
"Eh, jadi nyesel dijodohin?"
"Enggak juga. Soalnya setelah dipikir-pikir jadi dokter sibuk dan nggak sempet cari jodoh juga jadi ya. Pasrah aja sama takdirnya. Emang kayaknya takdirnya harus dijodohin."
Baskara tersenyum. Ia menatap lurus ke depan sebelum sebuah kecupan singkat nan lembut tiba-tiba mendarat di pipinya, membuat Baskara menoleh kaget.
"Nggak apa-apa, kan, kalau aku cium?"
Baskara tersenyum saat melihat wajah Aira yang mulai memerah.
"Aman. Cium lagi juga boleh."
"Ih ngarep! Oh, iya, Mas ... besok kalau ditempat tugas mas ada dokter cewek cantik gimana?"
Baskara mengerutkan dahi. "Ya, nggak gimana-gimana."
"Kalau dia suka sama mas?"
Baskara mendengus, lalu kembali tertawa. Heran dengan pertanyaan random yang diajukan Aira.
"Biarin aja."
"Eh, kok biarin?"
Baskara mengangkat tangan dan menunjukkan cincin nikahnya pada Aira.
"Aku sudah menikah."
"Kalau tetep dikejar?"
"Ya larilah."
Aira membulatkan matanya.
"Kok lari?"
Baskara tertawa melihat ekspresi kesal dan tidak puasnya Aira terhadap jawaban yang ia berikan.
"Habis kamu pertanyaannya aneh. Kalau tugas ya tugas aja. Nggak akan ada tu kesempatan buat aneh-aneh."
Aira mengerucutkan bibirnya seraya menatap kesamping. "Siapa tahu. Kan, kita jauh."
Baskara tersenyum. Ia pun mengecup pipi Aira sedikit lama dan kembali menarik Aira dalam pelukannya.
"Jauh dimata, hatinya,kan, dekat."
"Cih! Gombal!"
"Eh, kok gombal?"
"Ya habis masa ada dokter cewek ngejar-ngejar mas jawabnya cuma lari, terus kalau nanti dikejar, ketangkap gimana?"
Baskara kembali tertawa. Ia mencubit gemas pipi Aira. Entah kenapa istrinya jadi begitu menggemaskan kalau sedang ngambek begini.
"Ya harusnya gimana?"
"Diemin aja. Eh, tapi kalau dia lebih cantik dari aku gimana?"
Baskara kembali tertawa. "Sulit kalau itu."
Aira tersenyum malu-malu. Wajahnya salah memerah dan mulai salah tingkah.
"Jadi, aku yang paling cantik?"
Baskara melirik sejenak,lalu mengangguk.
"Nggak ada yang lain soalnya."
"Eh!"
_________________________