NovelToon NovelToon
MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Duda
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."

​Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Perburuan Murka

BAB 25: Perburuan Murka

​Setelah Rania keluar dari ruangan dengan membawa perintah untuk memburu Luna dan Dika, keheningan di dalam ruang kerja CEO seketika pecah. Devano mengamuk layaknya singa yang terluka. Pria bertubuh tegap itu menendang kursi kerja jati di dekatnya hingga terguling dan menghantam dinding dengan bunyi debuman yang keras. Tangannya menyapu kasar vas bunga kristal mewah di atas meja sudut hingga pecah berkeping-keping di atas lantai marmer.

​Napas Devano memburu kencang, dadanya naik turun dengan ritme yang tidak beraturan. Wajah tampannya merah padam disulut oleh kobaran api cemburu, amarah, dan rasa terhina yang teramat luar biasa.

​"Bisa-bisanya... bisa-bisanya wanita penyakitan seperti itu menipu dan mempermainkanku!" desis Devano dengan suara bariton yang bergetar hebat. Di dalam hatinya, dia terus merutuk dan mengutuk nama Luna Maharani. Dia merasa harga dirinya sebagai seorang pria alpha telah diinjak-injak karena mengira Luna lebih memilih kabur bersama Dika daripada menuruti perintahnya.

​Namun, anehnya, di balik amarah yang membakar itu, ada secercah rasa takut yang menyelinap di sudut dada Devano yang paling dalam—sebuah ketakutan yang tidak ingin dia akui, bahwa Luna benar-benar pergi dan tidak akan pernah kembali lagi ke dalam hidupnya.

​Di saat yang sama, Rania berjalan terburu-buru menuju toilet kantor di ujung koridor lantai tiga puluh. Setelah memastikan ruangan toilet itu sepi dan aman, dia segera mengunci diri di dalam salah satu bilik, lalu dengan tangan gemetar karena bersemangat, dia menghubungi nomor ponsel Siska.

​Hanya dalam dua kali nada sambung, telepon langsung diangkat.

​"Bagaimana, Rania? Apakah rencananya berhasil?" suara Siska terdengar sangat menuntut dari seberang telepon.

​Rania tersenyum licik, wajahnya dipenuhi rasa puas. "Sukses besar, Kak Siska! Saya sudah memutarbalikkan fakta tentang Pak Dika yang menolong Luna subuh tadi. Saya bilang ke Tuan Devano kalau mereka berdua kabur bersama membawa barang-barang Luna. Sekarang Tuan Devano sedang mengamuk hebat seperti orang gila dan menyuruh seluruh keamanan memburu mereka!"

​Di seberang sana, Siska langsung tertawa puas, suara tawa yang sarat akan kebencian murni. "Bagus sekali, Rania! Biar mampus si anak tiri itu! Mau dia sakit kek, mau dia mati di jalanan kek, yang penting dia tidak ada lagi di kantor untuk mengganggu jalanku kembali pada Mas Devano! Sesuai janjiku, bonus uang besar sudah aku transfer ke rekeningmu siang ini."

​"Terima kasih banyak, Kak Siska. Saya akan terus memantau situasi di sini," jawab Rania dengan mata berbinar-binar memikirkan uang haram tersebut. Ternyata, selama ini Rania adalah ular bermuka dua yang merusak hidup Luna dari dalam kantor demi uang.

​Sementara itu, di dalam ruang kerja CEO, Devano baru saja mencoba menenangkan dirinya dengan bersandar di tepi meja yang masih basah oleh tumpahan kopi. Tiba-tiba, pintu ruangan besar itu terbuka tanpa ada ketukan sama sekali.

​Hadi, kepala keamanan sekaligus detektif kepercayaan Devano, melangkah masuk dengan langkah kaki yang tegap. Wajah pria paruh baya itu tampak sangat serius, tidak ada sedikit pun keraguan di matanya. Di tangan kanannya, Hadi membawa sebuah map hitam tebal yang terkunci rapat.

​Devano mendongak dengan tatapan mata yang menyala merah. "Hadi! Apakah kamu sudah menemukan di mana Dika menyembunyikan perempuan jalang itu?!" bentak Devano, langsung menagih informasi.

​Namun, Hadi tidak langsung menjawab. Dia melangkah mendekat, lalu meletakkan map hitam tebal itu tepat di hadapan Devano.

​"Tuan Devano, saya datang bukan untuk membawa kabar pelarian mereka," ujar Hadi dengan suara berat dan tenang. "Saya datang untuk menyerahkan hasil penyelidikan subuh tadi mengenai almarhum ayah Luna, Mahardika Maharani... seperti perintah Anda semalam."

​Devano tertegun. Amarahnya sedikit tertahan oleh keseriusan wajah Hadi. Dengan tangan yang masih bergetar halus, Devano membuka kunci map hitam tersebut dan mengeluarkan tumpukan berkas di dalamnya.

​"Apa maksudnya ini, Hadi?" tanya Devano, matanya mulai membaca lembar demi lembar dokumen keuangan lama.

​"Tuan Devano, saya sudah memeriksa ulang semua rekening judi milik almarhum Mahardika dua tahun lalu," jelas Hadi dengan tegas. "Dan hasilnya... semua bukti transaksi kekalahan judi yang dulu diserahkan oleh Siska kepada Anda saat proses perceraian... ternyata semuanya palsu."

​Deg.

​Jantung Devano seolah berhenti berdetak dalam sedetik. Dia mendongak, menatap Hadi dengan pandangan tidak percaya. "Palsu?!"

​"Benar, Tuan. Uang miliaran milik perusahaan ayah Luna tidak pernah habis di meja judi," lanjut Hadi, menjatuhkan bom kebenaran yang menghantam telak batin Devano. "Uang itu sengaja ditransfer secara bertahap ke sebuah rekening rahasia di luar negeri atas nama Siska Maharani dan ibunya, Bu Rahma. Mereka memalsukan dokumen untuk menjebak Mahardika seolah-olah bangkrut karena judi, hingga membuat pria itu terkena serangan jantung dan meninggal dunia. Luna sama sekali tidak tahu apa-apa, dia justru menjadi korban yang paling dihancurkan di rumah itu."

​Devano membeku, tubuh tegapnya mendadak terasa lemas tak bertulang. Kertas-kertas di tangannya terlepas, berserakan di atas meja. Kenyataan ini menghantam dadanya begitu sesak, membuat paru-parunya seperti kehabisan udara.

​Namun, kalimat Hadi berikutnya benar-benar meruntuhkan seluruh dunia Devano ke tingkat yang paling dasar.

​"Dan satu hal lagi, Tuan Devano..." suara Hadi terdengar melembut, dipenuhi rasa iba. "Subuh tadi, Rumah Sakit Pusat Kota memberikan laporan kepada tim keamanan kita. Pak Dika tidak membawa Luna kabur untuk bersenang-senang. Dika mendobrak rumah Luna dan menemukan gadis itu sudah dalam kondisi koma karena dehidrasi parah, demam tinggi menyentuh angka 40 derajat, dan infeksi paru-paru akibat dikunci di dalam kamar tanpa diobati oleh ibu tirinya. Saat ini, Luna sedang berjuang antara hidup dan mati di dalam ruang ICU... bukan melarikan diri."

​Jedarrr!

​Kata-kata Hadi bagai petir di siang bolong yang menyambar tepat di atas kepala Devano. Pria berkemeja hitam itu terhuyung mundur hingga tubuhnya membentur kursi kerjanya sendiri. Wajahnya yang tadi merah murka, kini seketika berubah menjadi seputih kain kafan.

​Penyesalan yang teramat sangat, rasa bersalah yang teramat pekat, dan rasa sakit yang tak berdarah mendadak menghujam lubuk hatinya yang paling dalam. Selama ini... dia telah melampiaskan dendam, menghina, menginjak-injak harga diri, bahkan merenggut kesucian wanita yang sama sekali tidak bersalah. Dan sekarang, wanita itu sedang sekarat di ruang ICU akibat ulah kejam keluarganya... dan juga karena tekanan siksaan kerja darinya.

​Devano mencengkeram dadanya yang terasa begitu ngilu dan perih, menyadari bahwa dia telah menjadi iblis paling berdosa bagi malaikat yang rapuh bernama Luna Maharani.

1
Sarbina Sarbina
apa sih maunya di devano ini 😏
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!