Di kota megah yang dipenuhi gemerlap lampu malam dan dosa, nama Aragon De Hartmann dikenal sebagai raja mafia paling kejam dan tak tersentuh. Di balik kekuasaan, uang, dan darah yang mengalir di tangannya, Aragon hidup dalam kegelapan.
Sementara itu, Aurora, seorang gadis panti asuhan yang sederhana dan lembut, berjuang hidup sendirian setelah panti tempat ia dibesarkan terancam ditutup oleh kelompok kriminal. Demi menyelamatkan anak-anak kecil di sana, Aurora nekat mendatangi seorang pria yang paling ditakuti di seluruh kota, dia adalah Aragon De Hartmann.
Pertemuan mereka seharusnya hanya sebuah transaksi.
Namun, tatapan mata Aurora yang hangat perlahan menghancurkan dinding dingin di hati sang mafia. Untuk pertama kalinya Aragon mulai merasakan sesuatu yang hampir ia lupakan, yaitu cinta dan harapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alistia Haka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 25
Di belakangnya, Aragon turun dari mobil. Anak-anak yang tadinya ribut langsung membeku dan menatap pria tinggi itu dengan gugup.
Aragon memakai setelan jas yang rapi dan mantel besar menggantung di bahunya.
Aurora buru-buru berdiri. “Jangan takut.”
Para suster yang mendampingi anak-anak menyapa dengan ragu. Langkah mereka tersendat, gugup dan takut, mendapati betapa kuat dan mengintimidasi aura yang dipancarkan oleh Aragon.
Melihat anak-anak panti asuhan selamat, berpakaian serba baru, serta mendengar tawa lega yang perlahan terbit dari bibir para suster, Aurora membalikkan badan. Ia menatap Aragon dengan sorot mata yang kini dipenuhi ketetapan hati.
“Ada yang harus saya bicarakan,” ujar Aurora lirih namun tegas.
Aragon hanya mengangguk samar, seolah sudah bisa membaca isi kepala wanita itu. Tanpa sepatah kata pun, Aragon berjalan lebih dulu membelah lobi hotel.
“Mari, ikut bersama kami,” sahut Hank ramah, bergerak sopan menunjukkan jalan menuju area yang lebih privat.
Aurora mengalihkan pandangannya kembali pada anak-anak. Senyumnya terkembang tulus. “Ayo masuk, Anak-anak.”
Seketika itu juga, anak-anak langsung berlarian masuk ke dalam hotel bintang lima milik Aragon. Langkah-langkah kecil mereka menggema di atas lantai marmer yang mengilat, mengagumi langit-langit tinggi yang dihiasi lampu kristal megah.
“Tunggu, Aurora…” Panggilan itu membuat langkah Aurora terhenti. Suster Teresa menarik pelan dan lembut pergelangan tangannya, menahannya agar tidak langsung menyusul Aragon.
Aurora menoleh, mendapati Suster Teresa, Suster Paulin, dan Suster Magdalena mengerumuninya dengan wajah cemas.
“Kami sangat khawatir,” bisik Suster Paulin, matanya bergerak gelisah menatap kemegahan sekeliling mereka.
“Bagaimana bisa kau memberikan tempat sebagus ini untuk kami? Petugas hotel tadi bilang, satu hotel ini sengaja dikosongkan hanya agar kami semua bisa beristirahat dengan nyaman.”
Aurora tertegun. Jantungnya mencelos. “Sampai sejauh itu?”
Ketiga suster itu mengangguk cepat secara bersamaan.
“Aurora, bukannya kami tidak bersyukur,” Suster Magdalena menimpali, suaranya gemetar. “Tapi, siapa sebenarnya pria itu? Apakah kau benar-benar mengenalnya? Kami takut… kami sangat takut dia akan menyakitimu.”
“Benar, Nak. Kami takut pria itu meminta bayaran yang aneh-aneh. Zaman sekarang banyak sekali berita mengerikan… bagaimana kalau dia berniat mengambil organ tubuhmu?” Suster Teresa mulai terisak, menyuarakan ketakutan terbesarnya yang terdengar ekstrem namun tulus karena rasa sayang yang begitu besar.
Mendengar kekhawatiran yang polos sekaligus mengerikan itu, Aurora buru-buru menggenggam tangan Suster Teresa. Ia memaksakan sebuah senyuman hangat demi menenangkan mereka.
“Tidak, Suster. Demi Tuhan, tidak ada yang seperti itu. Kalian tenanglah,” bujuk Aurora lembut, mencoba menelan bulat-bulat rasa bersalah yang mendadak mengganjal di tenggorokannya. “Aku… aku bekerja di perusahaannya. Dia bos yang baik, jadi dia bersedia membantu kita yang sedang kesulitan. Wajahnya memang terlihat dingin dan tidak ramah, tapi dia baik.”
Aurora mengusap lengan Suster Teresa menenangkan. “Sekarang, Suster masuk saja, istirahat dan temani anak-anak, ya? Aku harus mengurus beberapa hal terkait pekerjaan dengan beliau.”
Para suster saling pandang, masih menyisakan sedikit keraguan.
“Tapi, kau tidak melanggar perintah Tuhan, kan, Nak?” tanya Suster Magdalena tiba-tiba, menatap lurus ke dalam manik mata Aurora.
Pertanyaan itu laksana hantaman keras bagi Aurora. Senyumnya sempat membeku sejenak sebelum akhirnya mengembang kembali, meski sarat akan keraguan tersembunyi.
Jauh di dalam lubuk hatinya, Aurora sendiri tidak tahu apakah keputusan menjual kebebasannya demi sebuah pernikahan kontrak ini termasuk pelanggaran di mata Tuhan atau tidak.
Namun, demi ketenangan jiwa orang-orang yang telanjur dianggapnya sebagai keluarga, Aurora memantapkan anggukan kepalanya.
“Tuhan itu Maha Penyayang, Suster. Makanya, Dia mengirimkan bantuan ini lewat jalan yang tidak terduga,” bohong Aurora, berharap Tuhan sudi memaafkan kalimatnya malam ini.
———
Karena ingin memastikan para suster dan seluruh anak-anak dalam keadaan tenang terlebih dahulu, Aurora terpaksa tertahan lebih lama di lantai tempat mereka menginap.
Aurora membantu membagikan makan malam, menidurkan anak-anak yang masih gelisah akibat kejadian siang tadi, serta menenangkan beberapa anak yang menangis diam-diam karena takut kehilangan panti asuhan mereka.
Baru hampir satu jam kemudian, Aurora keluar dari kamar hotel. Begitu pintu lift terbuka di lobi utama, langkahnya langsung terhenti mendapati Hank masih berada di sana.
Pria itu berdiri tegak di dekat area lounge. Penampilannya tetap rapi seperti saat pertama kali mereka bertemu. Tidak ada tanda-tanda bosan ataupun kesal, meski jelas-jelas ia telah menunggu cukup lama. Aurora pun merasa sedikit tidak enak hati.
“Maaf, saya—”
“Tidak masalah, Nona Aurora,” potong Hank ramah sebelum Aurora sempat menyelesaikan kalimatnya. “Ruangan Tuan Aragon tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang.”
Aurora mengernyit bingung. “Hah?”
“Hanya orang-orang tertentu yang mendapat izin langsung dari beliau,” Hank berjalan pelan ke arahnya, “dan untuk tamu khusus, mereka harus masuk bersama saya.”
“Serius?” Aurora berkedip.
“Sangat serius.”
Melihat ekspresi Aurora yang mendadak tegang seperti hendak memasuki markas organisasi rahasia, Hank nyaris tersenyum. “Percayalah, saya sudah bekerja untuk Tuan Aragon selama separuh dari usia saya dan bahkan saya masih harus meminta izin sebelum memasuki beberapa ruangannya.”
“Itu tidak terdengar normal.”
“Tidak ada yang normal dari Tuan Aragon.” Aurora tidak bisa membantah kalimat itu.
“Selamat malam, Tuan Hank.”
“Selamat malam.”
“Dokumen rapat sudah kami kirimkan.”
“Saya akan memeriksanya.”
“Baik, Tuan.”
————
Beberapa menit kemudian, mereka memasuki lift pribadi yang terletak jauh dari area publik hotel. Lift itu bergerak naik dengan cepat tanpa berhenti di lantai mana pun.
Di dalam keheningan lift, Aurora diam-diam memperhatikan Hank. Semakin lama, ia menyadari satu hal; seluruh pegawai yang mereka lewati selalu menundukkan kepala dengan hormat. Bukan hanya kepada Aragon, tetapi juga kepada Hank.
Aurora memperhatikan interaksi yang ia ingat dengan heran. Tatapan para pegawai terhadap Hank penuh rasa hormat, bahkan sebagian terlihat gugup seolah pria di sampingnya ini memiliki kekuasaan yang tidak kalah besar dari para direktur perusahaan.
Hank yang menangkap basah tatapan itu menoleh. “Mengapa menatap saya seperti itu?”
“Karena tadi para pegawai itu, mereka semua tampak takut pada Anda.”
“Mereka tidak takut kepada saya.”
“Mereka takut.”
“Sedikit, mungkin iya. Tapi mereka takut karena saya tangan kanan Tuan Aragon.”
Aurora menggeleng kecil. Kini ia mulai mengerti. Aragon mungkin adalah sang raja, tetapi Hank adalah sosok yang memastikan seluruh kerajaan tetap berjalan. Tangan kanan, orang kepercayaan, dan mungkin satu-satunya manusia yang bisa bertahan di dekat Aragon selama bertahun-tahun tanpa mengalami gangguan mental. Tak heran jika banyak orang menyebut Hank sebagai bayangan Aragon Hartmann, atau seperti yang sering dibisikkan para pegawai: belahan jiwa profesional Aragon Hartmann.
Tak lama kemudian, mereka tiba di lantai paling atas. Koridor yang mereka lewati jauh lebih sunyi dibanding bagian hotel lainnya. Karpet tebal membungkam suara langkah kaki, sementara lampu kristal memantulkan cahaya keemasan di sepanjang lorong.
Di ujung sana, berdiri sebuah pintu besar berwarna hitam dengan aksen emas. Hank berhenti di depannya, menempelkan kartu akses khusus, dan terdengar bunyi klik pelan.
Suara itu pelan namun terdengar begitu tegas di dalam hati Aurora. Di dalam sana semuanya akan berubah. Kehidupan dan segala hal yang menyangkut Aurora.
Bersambung
Lanjut kak jangan di gantung