Seorang gadis polos kehilangan harta warisannya akibat kelicikan saudara tiri, ia dipaksa menikah dengan seorang pria dari keluarga perwira tinggi, namun pria tersebut pergi di hari pernikahan hingga akhirnya adik pria tersebut yang notabene seorang duda harus menyelamatkan nama besar keluarga dengan menyembunyikan identitas aslinya. Ayah gadis itu pun seorang tentara tapi seolah tak pernah menyayanginya.
Saat tau kabar kabur tentang identitas pria tersebut. Ibu tiri gadis itu menyesal dan iri setengah mati.
Kesakitan yang di alami gadis itu membuatnya trauma hingga sangat waspada dan sulit percaya. Kini pria tersebut harus berjuang sekuat tenaga untuk menembus tembok pertahanan hati istrinya yang selalu berpura-pura di balik tingkah randomnya, padahal ia tidak tau.. siapa pria yang bersamanya saat ini.
SKIP bagi yang tidak tahan dengan KONFLIK.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Ulah nakal.
Pertemuan anggota begitu terkesan dengan pertemuan nobar malam ini, suasana ramai dan penuh kekeluargaan. Canda, tawa, rasa bagaikan saudara, kekenyangan, semua bertumpuk menjadi satu.
Hanya Bang Reigar saja yang merasa semua berbeda. Ia begitu gelisah memikirkan istrinya. Sesekali ekor mata emangnya melirik ke arah dalam rumah. Jelas istrinya itu akan marah karena sistem televisinya hanya tersambung pada ponselnya dan kesemuanya adalah film horror.
"Ijin, Danton. Apa semua mau di bereskan sekarang??" Tanya salah seorang anggota.
"Nggak usah. Khusus sampah saja kalian rapikan biar nggak di acak-acak anjing liar. Sisanya besok saja setelah nyawa kalian terkumpul utuh dan siap di tanyai malaikat." Jawab Bang Reigar sambil melirik beberapa anggota plus bersama adiknya yang masih asyik bernyanyi dengan karaokenya. "Oiya, kalau masih ada yang mau lanjut, silakan. Kalian butuh apa? Minta sama Letnan Rakit..!!"
"Siap. Terima kasih, Danton."
"Ya sudah.. Saya tinggal dulu, ya. Nggak perlu di jelaskan, kan?? Arahan langsung sama DankiBan" Kata Bang Reigar.
"Siap..!!"
~
"Ini apa?? Aman, tidak??" Tanya Bang Rakit saat diam-diam Prada Danu membawa minuman tradisional dari puncak yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Ya tu*k gunung, Dan."
"Saya tau, tapi efeknya apa???" Tanya Bang rakit lagi.
"Anget aja, Dan. Sekarang kan lagi cuaca dingin." Jawab Prada Garo.
"Ya wes, sikat..!!"
:
Nada suara Bang Rakit dan lainnya makin tak terkendali. Bang Reigar pun semakin pusing karena Jill sama sekali tidak mau membuka pintu kamar.
"Abang mana tau isi chanel TV nya hanya ada sekumpulan hantu." Kata Bang Reigar.
"Kenapa TV rusak begini di beli???" Respon Jilly pada akhirnya.
"Yaa.. Itu.. Nanti Abang ngomong sama pemilik tokonya, deh." Janji Bang Reigar.
"Jill mau bicara sendiri."
"Iyaa.. Mau bicara sendiri, mau berdua.. Terserah mu lah." Jawab Bang Reigar.
"Ya sudah, masuk..!! Pakai sandi..!!" Perintah Jilly.
"Apalagi ini, Tuhan??? Pakai sandi segala."
"Level tertinggi dalam wadah kesatuan padahal tidak penting tapi kalau tidak ada level ini, saudara pun bisa jadi musuh." Kata Jilly.
Bang Reigar terhenyak sejenak kemudian berjalan menuju lemari hias dan mengambil dompetnya. Dari sana ia mengeluarkan lembaran uang merah lalu menyelipkan di celah bawah pintu kamar. "Sudah benar??"
Pintu pun terbuka, Jilly melipat kedua tangan di depan dada dengan wajah datar tanpa reaksi. Untuk sesaat keduanya saling menatap sampai kemudian Jilly mengambil lembaran uang itu dan menyimpan dalam rok mininya. "Okeeyy, Om.. Silakan masuk." Jill menarik garis senyumnya.
"Nggak usah ngoceh aneh-aneh, dek. Mau plester bibirmu??"
"Aduuuhhh.. Kebelet ken**ng nih." Bang Rakit berjalan sempoyongan melewati pintu samping rumah sambil membawa gelas yang masih terisi tiga perempat di atas meja dapur.
Tak sengaja ia melihat Abangnya sedang 'merayu', sekelebat rasa panas terasa menjalar hingga ubun-ubun kepala, tapi ia berusaha sadar bahwa wanita yang sudah menarik perhatiannya itu adalah istri Abangnya sendiri. Ia pun segera masuk ke dalam kamar mandi.
"Masuk..!!" Perintah Bang Reigar.
"Mau pi**s dulu. Ikuuutt???" Tanya Jill setengah mengejek. Tatapan itu seakan menantang pria yang setelah ini akan menjabat sebagai Komandan Kompi.
Tak ingin kehadirannya mengganggu, Bang Rakit berjalan cepat untuk menjauh.
"Cepat, masih banyak Om-om di luar." Mau tak mau Bang Reigar membiarkan istrinya menuju kamar mandi.
Dengan nakalnya tangan Jill mencubit dada Bang Reigar. Seketika itu juga sekujur tubuh Bang Reigar merespon cepat kelakuan istrinya yang usil itu.
"Aseemm.. Bertingkah betul kau, dek. Nggak takut Abang telan bulat-bulat??" Jawab Bang Reigar.
Beberapa menit di dalam kamar mandi, Jilly melihat ada segelas air minum. Tanpa pikir panjang, Jill langsung meneguknya. Seketika itu juga kerongkongannya terasa panas hingga sampai dada.
Detik berganti detik, kepala Jill mendadak terasa sakit. Perutnya mual tapi tidak ada yang keluar dari lambungnya. Entah apa yang terjadi, bayangan Bang Reigar seakan berputar-putar di kepalanya, ia teringat bagaimana cara Bang Reigar menatap dan mendekapnya.
Merasa Jill tak kunjung kembali, Bang Reigar langsung menyusulnya. "Kenapa lama sekali?" Tanyanya.
Tapi, saat Jill mendongak dengan pipi memerah, Bang Reigar merasa ada sesuatu yang aneh apalagi kemudian istrinya meneguk habis minuman dari gelasnya.
"Apa ini???" Selidik Bang Reigar sambil memastikan aroma gelas tersebut. "J****k, darimana kau dapat minuman ini??????" Umpat Bang Reigar lalu mencengkeram dagu istrinya untuk memastikan keadaannya saat ini.
"Abang Reigaarr, kenapa kau ganteng sekali??? Jill kan jadi suka. Tapiiii.. Kenapa harus om-om, sih??" Tangan Jill tanpa sadar mulai bertingkah nakal.
"Kau ini ngoceh apa sih, Jill?? Sadar.. Sadaar, dek..!!!" Bang Reigar menepuk pipi istrinya agar bisa lekas sadar. Ia kesal karena setiap moment kebersamaan dengan sang istri tidak seratus persen karena keinginan dan kesadarannya sendiri. "Bisakah kau sadar?? Kenapa bisa mabok begini???? Abang tidak mungkin memaksamu sekali lagi, kan?? Abang ingin kau sendiri juga sadar akan kewajibanmu, bukan karena keterpaksaan atau di bawah tekanan." Katanya sambil mencekal tangan Jill.
"Jill nggak mabok, Jill masih sadar." Jawab Jilly kemudian naik ke atas kursi lalu melompat menubruk Bang Reigar.
Tentu saja dengan posisi tersebut, kini Bang Reigar harus menggendongnya hingga mereka berdua jadi berhadapan. Tak ingin ada yang melihat hal itu, Bang Reigar membawa Jill ke dalam kamar.
"Kalau nggak mabok, kenapa kelakuanmu seperti ini??"
"Daripada Reina yang lompat, lebih baik Jill duluan. Letnan Reigar itu...... Punya aku." Celotehnya kemudian mengecup bibir Bang Reigar berkali.
Bak gayung bersambut, Bang Reigar menarik pinggang mungil itu makin rapat ke tubuhnya. Satu kecupan membalas kecup si pemilik bibir merah muda yang sedari tadi tak hentinya terus menggoda dan menguji kesabarannya itu. Nafasnya memburu, naf*unya bergejolak menepia amarah dan rasa kesal perkara minuman dan pakaian minim sang istri. Semua berganti rasa sayang dan rindu karena tingkah manja sang istri.
"Abang juga punya batas pertahanan diri, tapi sama kamu, semua jebol total, nggak kuat lihat kelakuan Nyonya Reigar.. Boleh kan, kalau Abang lepas kendali?? Kamu yang mulai, harus kamu juga yang selesaikan." Bisiknya.
"Sandinya donk, Oomm..!!"
Bang Reigar mengambil uang di dalam dompetnya. "B*****t, darimana kamu belajar nakal??" Ia pun menjepit uang tersebut, tapi saat Jilly membuka bibirnya, Bang Reigar juga membuka bibirnya dan menyambar bibir Jill.
.
.
.
.
Bang Huda sabar yaaa...
bang rakit semoga kau juga dapa wanita yg sholeha..amin🙏
dosa klo cinta sm istri abang sendiri🙏
Jilly : ( pipi udah semerah tomat) 🤣🤣🤣🤣🤣
bayangke sambil ngekekkk/Kiss//Kiss/
lanjt mba Nara👍👍👍
kyknya ada tanda-tanda nih dr Jill... ati² ya Bang Reigar🤭🤭🤭