NovelToon NovelToon
Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Mengejar Si Cinta Sampai Ke Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:870
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Rasyid adalah calon Bupati muda yang dikelilingi wanita-wanita cantik yang mengincar posisi Istri Bupati.

Tetapi hati Rasyid sudah terpaut pada Ami, gadis desa lulusan SMA yang benar-benar tak tertarik padanya.

Perjuangan Rasyid untuk mendapatkan Ami, dibantu oleh ajudan setianya, Andre.

Ketika Rasyid sudah mendapatkan Ami, lawan politik menyerang hingga mereka dipisahkan takdir.

Andre hadir untuk mengisi posisi kosong itu tanpa niat buruk.

Namun, ketika keadaan kembali seperti semula, Ami memutuskan kembali ke desa, mencari ketenangan hingga dijemput kembali oleh lelaki pilihannya.

~~Kita bisa merencanakan sesuatu, namun takdir yang menentukan akhirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tegas

Meski perdebatan tadi belum benar-benar selesai, jadwal kampanye tetap harus berjalan. Dunia politik tidak memberi waktu bagi siapa pun untuk terlalu lama tenggelam dalam urusan pribadi.

Akhirnya, dengan suasana yang masih dingin, Rasyid dan Paman Badri tetap berangkat menuju lokasi kunjungan berikutnya.

Sepanjang perjalanan, mobil terasa sunyi. Andre yang duduk di depan bahkan tidak berani banyak bicara. Paman Badri menatap keluar jendela dengan rahang mengeras. Sementara Rasyid memilih diam sambil memikirkan terlalu banyak hal sekaligus. Tentang Ami. Tentang keluarganya. Dan tentang sejarah lama yang ternyata masih menjadi luka bagi pamannya sampai sekarang.

Begitu rombongan tiba di lokasi acara, sambutan masyarakat langsung ramai seperti biasa. Warga berkerumun meminta foto, bersalaman, dan meneriakkan dukungan. Namun di tengah keramaian itu, langkah Rasyid sedikit terhenti. Karena di dekat panggung utama Nadin sudah berdiri di sana. Perempuan itu tersenyum begitu melihat kedatangannya.

Paman Badri yang turun lebih dulu tampak sedikit lega melihat Nadin hadir. Seolah masih berharap hubungan mereka bisa berubah. Namun justru saat itulah Rasyid memutuskan untuk mengakhiri semuanya dengan jelas.

Sepanjang acara berlangsung, Nadin beberapa kali mencoba mendampingi Rasyid seperti biasanya. Tetapi kali ini, sikap Rasyid jauh lebih menjaga jarak. Ia tetap sopan. Tetap menghormati. Namun tidak lagi memberi ruang untuk kesalahpahaman.

Dan setelah acara selesai, saat mereka sempat berdiri berdua di belakang gedung pertemuan, akhirnya Rasyid bicara langsung. “Nadin.”

Perempuan itu menoleh dengan harapan kecil di matanya.

“Ada yang perlu saya tegaskan.”

Senyum Nadin perlahan memudar melihat keseriusan wajah Rasyid.

“Saya tidak ingin memberi harapan yang salah.” Suasana mendadak sunyi.

Nadin mencoba tersenyum kecil meski jelas gugup. “Mas sebenarnya nggak perlu sampai seformal ini.”

“Tapi saya harus jujur.” Tatapan Rasyid tetap tenang. “Saya tidak menyukai kamu seperti yang diharapkan keluarga kita.” Kalimat itu terasa lebih tajam karena diucapkan sangat langsung.

Nadin terdiam cukup lama. Meski sebenarnya ia sudah memahami sejak percakapan mereka sebelumnya, mendengarnya secara terang-terangan tetap terasa menyakitkan.

Rasyid melanjutkan pelan, “Kamu perempuan baik. Dan saya nggak mau kamu terus menunggu sesuatu yang nggak akan bisa saya balas.”

Nadin menunduk kecil sambil tersenyum pahit. “Karena perempuan itu?”

Rasyid tidak menjawab. Namun lagi-lagi diamnya sudah cukup jelas.

Nadin menghela napas panjang. Entah kecewa atau lelah. “Dia beruntung sekali dicintai sedalam itu.”

Kali ini Rasyid akhirnya bicara. “Bukan.” Tatapannya melembut samar. “Saya yang beruntung bisa mengenalnya.”

Jawaban itu membuat Nadin benar-benar sadar bahwa ia sudah kalah bahkan sebelum benar-benar memulai. H ati Rasyid memang tidak pernah berpindah dari perempuan desa itu sejak awal.

Malam itu, setelah acara kunjungan selesai, Rasyid memenuhi undangan makan malam dari Pak Hakim. Awalnya ia mengira itu hanya pertemuan biasa membahas dukungan kampanye. Namun begitu memasuki ruang kerja megah milik pengusaha itu, Rasyid langsung menyadari suasananya berbeda.

Di sana sudah ada Pak Hakim duduk dengan wajah serius. Sementara Nadin berada tak jauh darinya. Perempuan itu tampak diam, tetapi sorot matanya menunjukkan harapan besar pada pembicaraan malam ini.

“Silakan duduk, Syid,” ujar Pak Hakim ramah.

Rasyid menurut. Setelah beberapa basa-basi soal politik dan perkembangan elektabilitas, akhirnya pembicaraan mulai mengarah pada hal yang sebenarnya.

Pak Hakim menatap Rasyid cukup lama sebelum berkata pelan, “Kamu tahu saya sangat mendukung pencalonanmu.”

Rasyid mengangguk sopan.

“Dan saya juga tahu,” lanjut pria itu, “masa depanmu di politik bisa sangat besar.”

Nada bicaranya tenang, tetapi penuh perhitungan. “Saya punya relasi.”

“Saya punya media.”

“Saya punya jaringan pengusaha sampai pusat.” Tatapannya mulai lebih tajam. “Dan semua itu bisa saya gunakan untuk mendukung kamu.”

Rasyid mulai memahami arah pembicaraan itu. Namun ia tetap diam.

Pak Hakim lalu melirik putrinya sekilas sebelum kembali menatap Rasyid. “Syaratnya sederhana.” Suasana mendadak terasa berat. “Saya ingin kamu serius dengan Nadin.”

Nadin menunduk pelan.

Sedangkan Rasyid perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan rahang mulai mengeras.

Pak Hakim melanjutkan tanpa ragu, “Semua bantuan akan saya berikan asal kamu mau dengan putri saya.” Beberapa detik sunyi. Lalu kalimat berikutnya terdengar jauh lebih tegas. “Tapi kalau tidak…” Pak Hakim menatap lurus ke mata Rasyid, “…maka saya akan mundur.”

Ruangan mendadak terasa dingin. Nadin tampak menahan napas menunggu jawaban Rasyid.

Sementara laki-laki itu sendiri terdiam cukup lama. Karena ia tahu ancaman itu bukan main-main. Kalau Pak Hakim menarik dukungan, dampaknya akan besar untuk pencalonannya. Pendanaan kampanye bisa terganggu. Relasi politik bisa berubah. Bahkan peluang kemenangan dapat menurun drastis.

Dan di luar sana, ribuan orang berharap padanya. Namun perlahan, Rasyid mengangkat pandangan. Tatapannya tenang. Terlalu tenang untuk situasi seberat itu.

“Pak Hakim,” suaranya rendah tetapi jelas, “saya sangat menghargai semua dukungan Bapak. Tapi saya tidak bisa menjadikan pernikahan sebagai transaksi politik.”

Wajah Pak Hakim langsung berubah sedikit dingin. “Ini bukan transaksi.” Nada suaranya mulai berat. “Ini tentang masa depan.”

“Justru karena itu saya harus jujur.” Rasyid melirik sekilas pada Nadin sebelum kembali ke ayahnya. “Saya tidak mencintai putri Bapak.”

Nadin langsung menahan napas. Meski sudah menduganya, mendengar kalimat itu di depan ayahnya tetap terasa memalukan.

Namun Rasyid melanjutkan dengan hormat, “Dan saya tidak ingin menyakiti beliau dengan hubungan yang tidak tulus.”

Malam ini, ketika Rasyid menolak Nadin, ia sebenarnya tidak hanya menolak sebuah perasaan atau hubungan pribadi, tetapi juga secara tidak langsung kehilangan dukungan penting dari Pak Hakim yang sejak awal menjadikan Nadin sebagai jembatan kepentingan.

Keputusan itu membuat posisi Rasyid menjadi jauh lebih rentan karena sebelumnya ia berada dalam lingkaran bantuan dan kekuatan yang disediakan oleh Pak Hakim, namun kini semua itu terputus akibat pilihan yang ia ambil sendiri, sehingga ia harus menghadapi kenyataan bahwa penolakannya terhadap Nadin berarti juga penolakan terhadap aliansi politik dan dukungan strategis yang melekat di dalamnya.

Dari titik ini Rasyid berdiri sendirian di tengah konsekuensi besar, antara mempertahankan prinsip atau cinta yang ia yakini, atau menghadapi proses sulit untuk membangun kembali pengaruh dan kekuatannya tanpa perlindungan yang sebelumnya ia miliki.

Paman Burhan benar-benar murka, suaranya tajam menahan amarah yang hampir meledak saat menatap Rasyid tanpa sedikit pun ruang untuk kompromi, “Kau benar-benar menghancurkan semuanya, Syid,” kalimat itu bukan sekadar luapan emosi, tapi juga peringatan bahwa keputusan Rasyid telah merobohkan rencana yang selama ini disusun rapi, membuat hubungan antar pihak yang sebelumnya terikat kepentingan kini retak dan sulit diperbaiki.

Sementara Rasyid sendiri harus berdiri menerima konsekuensi penuh dari pilihannya tanpa bisa lagi bersembunyi di balik alasan atau dukungan siapa pun, karena dalam pandangan Paman Burhan, apa yang dilakukan Rasyid bukan hanya soal menolak Nadin, tetapi juga mengabaikan seluruh keseimbangan yang sudah dibangun dengan susah payah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!