NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Alyra

Suami Dadakan Untuk Alyra

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Hamil di luar nikah
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lylia Yuu

“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”

Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.

Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.

Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SDUA 31

"Masalah serius?" Alisnya terangkat tinggi, ada sorot cemas dalam tatapan menuntut tanya.

"Cukup serius, sehingga Andi kewalahan dan memintaku untuk segera datang," sahut Pria yang sudah memakai setelan jas rapi.

"Apa ada hubungannya dengan kasus yang menyeret namaku? Publik mengulik latar belakangku, sehingga mereka mengetahui hubungan yang ingin kita tutup rapat-rapat ini?" rasa cemas mulai menyergap dada, perempuan hamil itu menunduk dalam, jemari saling bertautan. "Apa semua ini akan berdampak buruk bagi proyekmu?"

Sosok yang biasa berperangai tanpa ekspresi itu kini mengulas senyum tipis, ia memundurkan kursi lalu bangkit dari duduknya, melangkah pelan mendekati istrinya.

"Kamu nggak perlu khawatir, semuanya akan aman terkendali," katanya menenangkan, tak ada sorot dingin, pagi itu Erlan menatap cukup lembut. "Aku akan membereskan masalahku, juga masalahmu. Kamu tenang aja, istirahat, sementara baik-baik di sini. Kurangi scrol sosmed."

"Erlan ...." tak lagi memakai panggilan formal, Alyra mengimbangi, mulai memanggil sang suami dengan nada hangat. "Apa kamu juga berpikir kalau aku memplagiat karya Stefani Aurora?"

"Tentu saja ...." Erlan sengaja menggantung kalimat, menatap penuh wajah ayu yang terus menunduk dalam. Kemudian ia tersenyum tipis. "Tentu saja aku sama sekali nggak pernah berpikir seperti itu. Alyra ...."

Ia raih kedua pundak tertutup kaos longgar, mencengkram cukup erat, namun tak sampai membuat empunya merasakan sakit. "Aku mempercayai kemampuanmu, aku sepenuhnya percaya padamu."

Mendengar itu, indera pendengaran terasa meleleh oleh suara hangat penuh dukungan. Alyra merasa secercah harapan telah menghampirinya, setidaknya, dari ratusan ribu orang yang mencela masih ada satu insan yang mempercayai dirinya.

"Kamu jujur?" matanya berusaha menembus iris legam berkaca-kaca, tak ada keraguan maupun dusta pada netra tegas pemilik nama Erlan.

"Heem." Erlan mengangguk tanpa ragu. "Makanya, kamu baik-baik di sini. Jangan bertingkah selama aku pergi," pesannya tegas pada sang istri.

"Di luar, ada sopir bernama Simon. Kalau mau keluar untuk membeli sesuatu atau pun sekadar melepas penat, minta dia untuk mengantar." Ia menunjuk dengan dagu sosok bertubuh cukup besar, tingginya hampir mencapai 190 cm, berdiri di dekat pintu utama, menunggu perintah dari bosnya. "Nanti akan ada seseorang untuk menemanimu di sini, namanya Tamia."

"Tamia?" alis tipis itu mengerut penuh tanya.

"Iya. Unik 'kan namanya?" Erlan menaik turunkan kedua alisnya. "Aku pergi paling lama dua atau tiga hari, setelah masalah terselesaikan, aku akan segera pulang."

"Kamu janji?"

Ujung bibir sedikit pucat itu terangkat samar, satu tangannya meraih pucuk kepala Alyra, mengusap lembut, tatapannya hangat. "Iya, aku janji."

.

.

.

Matahari sudah merangkak tinggi begitu Erlando Pradana tiba di rumah produksi — tempatnya bekerja.

Hari itu suasana kantor masih terlihat tenang, namun tidak dengan wajah-wajah para staf yang dipenuhi ekspresi cemas, panik, dan gugup. Semua orang tak bersuara, menyambut dan menyapa Erlan dengan senyum yang dipaksa.

"Apa yang sebenarnya terjadi, Andi?" Erlan berjalan tegas, memasang raut wajah serius, tak ada senyuman ramah sedikitpun.

Sang asisten mengimbangi langkah cepat sang tuan, berjalan dengan membawa tab dan beberapa dokumen penting di tangan.

"Proyek mendatang yang ditangani tim kita mendadak bocor di media. Cast aktor dan aktris sudah tersebar, padahal kita belum membahasnya dengan investor," jelasnya tanpa terbata. "Sebagian besar pemegang saham protes karena tidak menyetujui pemilihan main caracter untuk film tersebut."

"Siapa cast yang dirumorkan bergabung?"

"Zidny Andara dan Mikki Revano—"

"Apa?!" Erlan menghentikan langkah tepat di depan pintu lift sudah terbuka. Ia menoleh, menatap tajam asistennya. "Kenapa bintang problematik seperti mereka bergabung dalam proyek berharga tim kita?"

"Maaf, Pak. Begitulah berita yang sudah tersebar," ujar Andi. "Saya sudah menghubungi beberapa kenalan reporter dan memberi berita eksklusif untuk menutup rumor proyek itu."

Erlan menarik napas panjang, tangan terangkat melonggarkan dasi di bagian atas. "Kerja bagus untuk penanganan darurat," ucapnya memberi apresiasi atas kinerja baik sang asisten. "Untuk berjaga-jaga, hubungi pengacara, jelaskan segala kendala kita, persiapan dini lebih baik untuk mengurangi kerugian. Lalu hubungi agen aktor dan aktris itu, segera selesaikan dengan klarifikasi," titahnya tegas, lalu kembali melangkah masuk ke dalam lift.

"Baik, Pak." Andi menyanggupi.

Setibanya di ruang kerja yang berada di lantai atas, Erlan membuka pintu dengan tegas. Namun, langkahnya seketika terhenti saat mendapati dua orang telah menunggunya di dalam. Seorang pria paruh baya dengan rambut yang dipenuhi uban duduk dengan tenang, sementara di sofa seberangnya duduk sosok wanita cantik dengan riasan tebal dan penampilan yang mencolok.

"Papa, Stefani?" matanya membulat sempurna.

"Hai, Erlan." Pemilik nama Stefani itu melambaikan tangan, bibirnya tersenyum lebar.

"Duduklah, ada yang ingin Papa bicarakan." Dirham Pradana berkata dengan nada rendah, namun tajam.

Setelah putra keduanya duduk di sofa, Dirham menatap cukup lama, ekspresinya sulit ditebak.

"Stefani akan bergabung di sini. Dia ditugaskan memimpin tim kreatif untuk membantu proyekmu," ucap pria paruh baya itu.

"Apa?" Erlan menatap tak setuju. "Untuk apa dia bergabung di timku? Aku sudah punya kandidat penulis—"

"Siapa?" sergah Dirham tajam. "Istri tak bergunamu itu? Kau ingin merekrut Alyra setelah dia ditendang dari tempat kerjanya?" Tatapannya meremehkan.

"Jangan libatkan dia dalam proyek manapun. Papa nggak setuju!" tolaknya mentah-mentah. "Apa kata para investor bila tahu seorang plagiarisme bekerja dalam naungan perusahaan Pradana Group. Mau taruh di mana muka Papamu ini, hah? Jangan pernah menyebut namanya selama rapat, dan bila perlu ... Rahasiakan pernikahan kalian. Papa nggak sudi direndahkan karena memiliki menantu jahat seperti dia, ingat itu!"

"Apa Alyra pelaku kriminal? Mengapa dia dianggap jahat?" Erlan menatap tajam netra legam sang ayah, tak ada sorot getar seperti biasa kala bertatap muka dengan Dirham Pradana.

"Apa sebutan untuk pelaku plagiarisme? Dia mengklaim karya dan kerja keras orang lain sebagai hak paten, apa namanya kalau bukan jahat?" Dirham menatap menantang.

"Belum ada bukti kuat bahwa Alyra melakukan plagiat, terlalu dini untuk menghakiminya," sahut tegas seorang Erlan.

"Lalu menurutmu ... Stefani yang plagiat? Penulis memiliki nama besar, diakui di dalam maupun di luar negeri. Puluhan karyanya sukses, Erlan. Kamu meragukan dia? Temanmu sedari remaja, kamu tidak mempercayainya?" Dirham menaikkan intonasi suara yang ditekan.

"Om, sudah, nggak apa-apa. Wajar bila Erlan membela istrinya dan tidak mempercayai saya—"

"Tidak, Fani. Om tidak terima gadis sehebat kamu direndahkan seperti ini." ia tatap lembut sosok wanita cantik, wajah tertunduk, sorot matanya sendu.

Stefani mulai bermain picik, menjual raut wajah sedih, merasa diperlakukan sebagai pelaku, padahal menurut Dirham, gadis itu adalah korban dan sang menantu-lah yang bertindak kejam.

Erlan hanya menatap biasa saja, enggan lagi bersuara, tak mau berdebat lebih jauh dengan ayahnya.

"Pokoknya Papa nggak mau tau. Tanda tangani kesepakatan, dan biarkan gadis sehebat Fani bergabung dengan perusahaan kita. Papa tidak menerima penolakan." putusnya sudah digaris bawahi, tidak bisa diganggu gugat.

Erlan memejamkan mata, tak ada yang bisa dilakukannya, posisinya belum memiliki cukup kuasa untuk menghentikan kehendak ayahnya.

'Akhirnya ... Aku bisa selangkah lebih dekat dengan Erlan. Rencana pertama ... Sukses, hihihi.' ia terkekeh dalam hati, namun wajah tetap terlihat suram, sedih, seolah menyimpan sejuta rasa tak enak hati.

.

.

.

Sementara di tempat lain, Alyra duduk di dalam ruang tamu yang cukup luas, berdinding krem cerah dengan sentuhan cahaya lampu-lampu hias, membuat ruangan yang hanya ia huni sendiri itu terasa lebih hangat.

Sengaja ia nyalakan semua lampu di ruangan, untuk mengurangi rasa takut sebab di dalam rumah sendirian. Sesungguhnya, wanita itu memang sedikit penakut.

Hari-harinya cukup santai, ia sudah makan siang dibelikan oleh Simon di sebuah resto yang menyajikan menu masakan padang.

Wanita hamil itu duduk selonjor di sofa seraya menonton sebuah drama favorite. Sudah ketiga kalinya ia menonton ulang, sebab sangat menyukai alur dalam cerita. Bungkus camilan ringan berada dalam dekapan, ia tampak begitu menikmati masa pengangguran.

"Ternyata menganggur semenyenangkan ini, hihihi." ia terkikik sendirian, sesaat melupakan huru-hara media yang terus-menerus mengkritik dirinya.

Mendadak, bel rumah berbunyi, membuat perempuan berpenampilan sederhana itu mengernyit.

"Siapa siang bolong begini bertamu?"

*

*

Bersambung.

1
partini
jajat sekali kalian,,tapi orang selalu berhasil wehhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!