NovelToon NovelToon
Sangkar Merah

Sangkar Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:752
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Aletha merupahan remaja yang sangat senang akan dunia malam. Ia juga merupakan anak konglomerat yang terkenal di kota Metropolitan. Tapi kini dirinya harus di hadapkan dengan perjanjian kontrak dengan Danny yang sepertinya menguntungkan? atau malah merugikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Operasi Senyap—29

Setelah menganalisis seluruh data yang diretas oleh Samuel, Danny mendapati bahwa peta kekuatan di atas papan catur ini telah bergeser. Organisasi hitam yang mengelola Elysium Project memang memiliki jaringan yang gurita, namun Dirgantara Group—dengan seluruh kekuatan finansial, pengaruh politik global, dan divisi militer bawah tanahnya—berada satu tingkat lebih kuat dan dominan. Danny memegang kendali atas teknologi dan logistik yang jauh lebih superior.

Malam itu juga, setelah memastikan tim medis menangani Aletha yang masih tak sadarkan diri di Royal Suite The Savoy, Danny tidak tinggal diam. Ia segera memerintahkan beberapa tim pengintai elitnya untuk bergerak ke titik koordinat fasilitas laboratorium bawah laut tersebut. Mereka memasang satelit pemantau mandiri, menyadap frekuensi internal, dan mengawasi setiap jengkal pergerakan di sana untuk mencari celah sekecil apa pun.

Waktu eksekusi ditentukan dengan presisi tinggi. Danny tidak ingin membuang waktu satu hari pun setelah mengetahui fakta bahwa calon ibu mertuanyanya sedang menderita di bawah tekanan para bajingan. Tugas penyusupan pertama diserahkan sepenuhnya kepada Ody.

Pukul 03.00 pagi, waktu di mana garis kewaspadaan manusia berada di titik paling rendah. Keadaan di dalam fasilitas laboratorium Elysium Project tampak sunyi, hanya menyisakan dengung dari mesin penyaring oksigen bawah laut. Sebagian besar penjaga malam baru saja berganti shiff, dan para ilmuwan tawanan telah lama terlelap di dalam kamar asrama mereka yang dingin setelah dipaksa bekerja belasan jam.

Di bawah kegelapan koridor barat, sebuah siluet hitam bergerak nyaris tanpa suara. Ody.

Mengenakan pakaian khusus berbahan nanofiber yang mampu menyerap gelombang radar dan membiaskan cahaya, Ody bergerak seperti hantu. Di pergelangan tangannya, sebuah alat pelumpuh sinyal siber berukuran mini yang dirancang oleh Samuel terus bekerja, menciptakan looping visual pada setiap kamera CCTV yang ia lewati. Di layar ruang kendali musuh, koridor itu tampak kosong dan aman.

Dengan langkah yang sangat ringan, Ody berhenti di depan pintu asrama bernomor 104—kamar milik Jessica Kusuma Adinata.

Pip. Klik.

Hanya butuh waktu empat detik bagi Ody untuk meretas kunci digital pintu tersebut. Begitu pintu bergeser terbuka, ia langsung menyelinap masuk dan menguncinya kembali. Di atas ranjang besi yang sempit, tampak seorang wanita paruh baya bertubuh kurus sedang tertidur lelap dengan guratan lelah yang mendalam di wajahnya. Wajah yang sangat mirip dengan Aletha, namun tampak jauh lebih tua karena tekanan batin selama dua tahun terakhir.

Ody tidak memiliki banyak waktu untuk ragu. Ia melangkah mendekat, mengeluarkan sebuah tabung kecil berisi gas bius khusus dosis tinggi yang tidak berbau. Dengan gerakan cepat dan taktis, Ody membekap hidung dan mulut Jessica dari belakang.

Wanita paruh baya itu sempat tersentak kecil, matanya terbuka sayu selama satu detik, namun dosis bius yang tepat langsung membuat kesadarannya lumpuh total tanpa sempat mengeluarkan suara sedikit pun. Jessica kembali terkulai lemas di atas kasur.

Dengan cekatan dan kekuatan fisik yang sudah terlatih di kamp militer, Ody mengangkat tubuh kurus Jessica ke atas bahunya. Ia memastikan posisi kepala wanita itu aman, lalu berbalik menuju pintu.

Operasi pelarian dimulai. Ody melesat cepat menyusuri rute darurat yang sudah dipetakan oleh Samuel. Setiap kali radar internal atau sensor gerak fasilitas berkedip, Samuel dari pusat komando bawah tanah London langsung mematikan arusnya selama sepersekian detik—memberikan ruang bagi Ody untuk lewat seperti bayangan.

Ody berhasil menembus pintu keluar darurat di bagian belakang dermaga logistik, di mana sebuah kapal selam mini taktis milik Dirgantara Group sudah menunggu dalam keadaan mesin menyala tanpa suara. Begitu tubuh Jessica berhasil dimasukkan ke dalam kabin, kapal selam itu langsung melesat membelah kegelapan air laut, menuju ke daratan Inggris.

Dua jam setelah pelarian dramatis itu, fajar mulai menyingsing di wilayah pinggiran London. Sebuah mobil van hitam kedap suara melaju tenang masuk ke dalam pekarangan sebuah mansion pribadi yang terisolasi dari pemukiman warga—kediaman rahasia milik Samuel dan Ody selama bertugas di Eropa.

Pintu van terbuka. Ody turun dengan napas yang sedikit memburu, lalu dibantu oleh Samuel, mereka membopong tubuh Jessica yang masih berada di bawah pengaruh bius masuk ke dalam kamar utama mansion.

Mereka membaringkan Jessica di atas ranjang yang jauh lebih layak, bersih, dan hangat. Samuel segera memasangkan alat pemantau kesehatan di pergelangan tangan Jessica untuk memastikan kondisi fisik wanita itu stabil setelah proses pembiusan.

"Bagaimana kondisinya?" tanya Ody sembari melepas rompi taktis hitamnya yang berat.

"Kadar oksigen dan detak jantungnya stabil. Efek biusnya akan hilang sekitar tiga sampai empat jam lagi," jawab Samuel sembari menatap layar laptopnya yang menampilkan indikator medis Jessica. "Keputusan yang bagus untuk membawanya ke sini dulu, Ody. Jika kita langsung membawanya ke hadapan Nona Aletha dan Mr. Danny dalam kondisi linglung seperti ini, situasinya bisa menjadi sangat kacau."

Ody mengangguk, berjalan menuju jendela dan menatap ke luar. "Dia sudah ditawan selama dua tahun, Sam. Dibohongi bahwa keluarganya sudah mengikhlaskannya mati, dan dipaksa bekerja di bawah tanah. Begitu dia bangun, dia pasti akan mengalami disorientasi yang hebat. Kita harus menjelaskan pelan-pelan siapa kita, agar dia tahu bahwa dia sudah aman dan berada di pihak yang benar."

"Ya," sahut Samuel, ekspresinya berubah serius. "Gue udah kirim laporan singkat ke Mr. Danny kalau operasi extraction berhasil total tanpa memancing kecurigaan musuh. Mr. Danny minta kita menahan Nyonya Jessica di sini sampai siangnya. Dia mau memastikan Nona Aletha benar-benar siap secara mental untuk pertemuan ini."

Sementara itu, di The Savoy, jarum jam baru saja menunjukkan pukul 08.00 pagi.

Aletha perlahan membuka sepasang matanya yang terasa sangat berat. Rasa pening menjalar di kepalanya saat kesadarannya kembali utuh. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar hotel yang megah, bukan ruang komando bawah tanah yang dingin.

Begitu ingatan tentang nama ibunya yang berstatus Active/Alive kembali berputar di otaknya, Aletha langsung tersentak kaget. Ia mencoba bangkit berdiri dari kasur dengan tergesa-gesa, namun tubuhnya masih terlalu lemas karena syok semalam.

"Jangan dipaksain buat langsung berdiri," sebuah suara bariton yang berat dan tenang terdengar dari arah samping tempat tidur.

Aletha menoleh cepat. Di sana, duduk di sebuah kursi santai, ada Danny Atonio. Pria itu masih mengenakan pakaian hitam semalam, matanya tampak sedikit merah karena tidak tidur sekejap pun demi menjaga Aletha dan memantau operasi Ody. Di tangan Danny, ada segelas air putih hangat.

Danny mengulurkan gelas itu, membantu Aletha untuk duduk bersandar pada kepala ranjang dan meminum airnya perlahan.

"Dan... Mama, Dan... yang semalam itu beneran?" tanya Aletha, suaranya parau, bergetar hebat dengan mata-nya yang mulai berkaca-kaca. Ego yang angkuh benar-benar runtuh, menyisakan sosok anak perempuan yang rapuh dan merindukan ibunya. "Mama gue masih hidup? Lo gak lagi bohongin gue kan lewat kontrak sialan ini?"

Danny menaruh gelas kosong di meja nakas, lalu dengan gerakan yang sangat lembut namun kokoh, ia menggenggam kedua tangan Aletha yang dingin dan gemetar. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata Aletha, menyalurkan seluruh kepastian yang ia miliki.

"Gue gak pernah bohong soal hal ini, Aletha," ucap Danny, nadanya sangat dalam dan bersungguh-sungguh. "Gue punya kabar baru buat lo. Dan gue mau lo dengerin gue baik-baik, tanpa perlu panik atau pingsan lagi."

Aletha menahan napasnya, mencengkeram erat jemari tangan Danny. "Apa, Dan? bilang ke gue."

Danny mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat menenangkan—senyuman yang belum pernah ia berikan kepada siapa pun di dunia ini selain wanita di depannya.

"Pukul tiga pagi tadi, orang-orang gue di bawah pimpinan Ody udah berhasil menyusup ke fasilitas itu. Mereka udah ngevakuasi nyokap lo dari sana tanpa luka sedikit pun," jelas Danny tenang. "Saat ini, nyokap lo ada di tempat aman di mansion Samuel. Ody lagi mendampingi dia buat memulihkan kesadarannya setelah efek obat bius."

Mendengar kalimat itu, air mata yang sejak semalam tertahan di pelupuk mata Aletha akhirnya runtuh deras membasahi pipinya. Kali ini, itu bukan air mata duka duka sedalam palung laut, melainkan air mata kebahagiaan dan rasa tidak percaya yang luar biasa masif. Ibunya benar-benar selamat. Ibunya sudah berada di daratan yang sama dengannya.

Danny maju mendekat, menarik tubuh Aletha ke dalam pelukan hangatnya, membiarkan gadis itu menangis sepuasnya di dadanya untuk melepaskan seluruh sisa trauma yang tersisa.

"Siang ini, setelah kondisi lo dan nyokap lo sama-sama stabil, gue sendiri yang bakal bawa lo ke mansion itu buat jemput dia," bisik Danny tepat di telinga Aletha, sembari mengusap rambut maroon tunangannya dengan penuh kasih. "Petualangan kita di Eropa baru dimulai, Aletha. Dan gue pastikan, setelah hari ini, gak bakal ada lagi warna hitam atau air mata kesedihan di dalam hidup lo."

1
azrinasarah
LANJUTT PLUSSS😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!