NovelToon NovelToon
Belunggu Pernikahan

Belunggu Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:45.2k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"

Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.

Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.

Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Maya yang tadinya sudah siap mengayunkan spatula mendadak berhenti. Ia menoleh ke arah jendela, melihat Dion yang sedang duduk di kursi taman dengan wajah lesu mungkin masih trauma dengan bayang-bayang kepiting kemarin.

"Ah! Mas benar juga!" Maya memukul telapak tangannya sendiri. "Dion kan belum aku beliin baju baru yang banyak biar kalau di sekolah dia jadi anak paling stylish se sekolahan! Kasihan anak aku, masa bajunya itu-itu saja, nanti disangka bapaknya bangkrut."

Dafa, yang masih memegang sekring listrik di balik tembok, mengembuskan napas lega seolah baru saja lolos dari maut. Arlan pun tersenyum tipis, merasa misinya berhasil.

"Ya sudah, Mas berangkat kerja dulu ya. Ini kartu kredit tambahan, limitnya sudah Mas naikkan. Belanja apa saja yang kamu mau, asal jangan belanja bumbu dapur aneh-aneh dulu, oke?" Arlan mengecup kening Maya dengan lembut.

"Siap, Mas 'Dompet Berjalan' kesayanganku! Hati-hati ya cari uangnya, yang banyak biar aku yang habiskan!" balas Maya dengan kedipan mata centilnya yang legendaris.

Dua jam kemudian, mal terbesar di pusat kota gempar. Maya datang layaknya angin puting beliung. Dion ditarik ke sana kemari, dari butik baju anak bermerk hingga toko mainan yang harganya bisa buat bayar kontrakan setahun.

"Dion, kamu mau robot yang ini? Atau yang segede kulkas itu?" tanya Maya sambil menunjuk robot raksasa di etalase.

"Mama, yang kecil saja cukup..." bisik Dion takut-takut.

"Gak ada! Cowok itu harus punya mainan yang gagah! Mbak, bungkus semuanya! Kirim ke alamat rumah Dirgantara!" perintah Maya tak terbantahkan sambil menyodorkan kartu hitam Arlan yang berkilau.

Setelah urusan Dion selesai, barulah "neraka" belanja yang sesungguhnya dimulai. Maya masuk ke butik tas mewah. Ia melihat-lihat koleksi terbaru dengan mata yang lebih tajam daripada mata elang.

"Mbak, tas yang warna kuning ini kenapa mahal sekali?" tanya Maya pada pelayan toko.

"Ini kulit asli pilihan, Nyonya..."

"Alah, masa kulit doang harganya segini? Ya sudah, aku ambil tiga! Satu buat aku, satu buat Bi Mina, satu lagi buat cadangan kalau yang satu kotor!" Maya tertawa riang. Ia merasa sangat bahagia, seolah-olah menguras saldo Arlan adalah hobi paling mulia di dunia.

Namun, di tengah keasyikannya mencoba sepatu hak tinggi, langkah Maya terhenti. Di depannya berdiri seorang pria tampan dengan pakaian serba hitam dan wajah yang tampak datar dan dingin. Pria itu adalah itu adalah Devan, yang entah bagaimana tiba-tiba bisa berdiri di depannya.

Maya menghentikan gerakannya yang hendak mencoba sepatu hak tinggi bertahtakan kristal. Ia mendongak, menatap pria jangkung di hadapannya itu dari bawah ke atas. Alih-alih merasa terintimidasi oleh aura dingin pria itu, mata Maya justru menyipit penuh selidik, lalu sedetik kemudian berubah menjadi binar jenaka.

"Wah, wah... Mas ini siapa ya?" tanya Maya sambil berkacak pinggang, masih dengan satu sepatu hak tinggi di kaki kanan dan sandal dari toko yang baru saja di cobanya. "Apa Mas pegawai di toko ini?"

Pria itu, Devan, pengacara dingin yang biasanya bisa membungkam lawan bicaranya hanya dengan satu tatapan, mendadak kehilangan kata-kata. Ia menatap Maya seolah ingin menguliti wanita cantik yang ada di depannya itu.

Selain seorang pengacara terkenal Devan juga merupakan seorang pengusaha muda yang sukses dan kaya raya.Saat itu Devan yang baru sebulan ini kembali di Indonesia ,hendak membeli kado ulang tahun untuk adik perempuan nya di toko dimana Maya berada sekarang.

Devan menarik napas dalam, mencoba mempertahankan martabatnya yang nyaris runtuh hanya dalam satu kalimat tanya dari Maya. Seumur hidupnya, ia dikenal sebagai pengusaha bertangan dingin dan pengacara yang tak pernah kalah. Namun hari ini, ia di kalahkan oleh seorang wanita cerewet di depannya ini.

Devan memijit pangkal hidungnya, mendengar ocehan Maya yang seakan tak pernah lelah berbicara itu.

" Oh ya..mas tolong di bungkus sandal dan sepatu itu ,aku mau yang itu." Ujar Maya sembari menunjuk ke arah Devan yang di kiranya pegawai di toko itu.

Tak sabar melihat Devan yang hanya mematung ,Maya dengan tak sabar menarik tangan Devan ke arah rak sepatu dan sandal itu. Sementara para pegawai lainnya yang berada di situ terkejut dan syok melihat Bos mereka yang di kira seorang pegawai toko itu.

" Mbak..." Seorang pegawai wanita yang baru saja akan menjelaskan ke Maya tapi tiba-tiba terhenti setelah mendapat kode dari Devan untuk tidak membuka mulut.

Pegawai toko tersebut langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Ia melirik Devan yang memberikan tatapan tajam nan dingin, sebuah kode mutlak yang artinya."Jangan ada yang bergerak atau kalian saya pecat."

Devan terpaksa mengikuti tarikan tangan Maya. Ia menatap tangannya yang digenggam erat oleh wanita bar-bar ini. Seumur hidup, tidak ada yang berani menarik-narik Devan Alister seperti kambing yang mau dibawa ke pasar, apalagi menjadikannya pelayan pribadi.

" Terimakasih.." Ucap Maya tulus sembari mengambil paper bag di tangan Devan,ia lalu menarik tangan Dion yang sejak tadi hanya melongo melihat tingkah Maya. Keduanya pun keluar dari toko meninggalkan Devan yang masih berdiri kaku.

Di kantor ponsel Arlan terus berbunyi, sebuah notifikasi kartu kredit .

Arlan sedang menatap layar monitor saat ponselnya bergetar tanpa henti di atas meja kerja. Drrt... Drrt... Drrt...

"Transaksi Rp 45.000.000 - Butik LV"

"Transaksi Rp 72.000.000 - Butik Dior"

"Transaksi Rp 120.000.000 - Toko Mainan Impor"

Arlan menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran, mengusap wajahnya yang lelah namun sebuah senyum tipis terukir di sana. "Dia benar-benar berniat membuatku jatuh miskin dalam sehari," gumamnya pelan.

Di sisi lain , Devan Alister masih mematung di tengah butik miliknya sendiri. Aroma parfum mewah Maya yang sempat tertangkap indra penciumannya seolah masih tertinggal di udara, beradu dengan rasa tidak percaya yang memenuhi dadanya.

Tangannya masih sedikit terasa hangat bekas tarikan paksa wanita itu.

"Wanita itu..." Devan bergumam pelan, suaranya sangat rendah hingga terdengar seperti desisan. "Berani sekali dia memperlakukanku seperti kurir barang."

Beberapa pegawai toko tampak berdiri mematung di pojokan, tidak ada yang berani bernapas keras. Mereka tahu Bos besar mereka ini punya reputasi yang bisa membuat lawan bisnisnya gemetar hanya dengan satu surat somasi, tapi hari ini mereka justru melihat Bos mereka sendiri dititipkan belanjaan sepatu oleh seorang pelanggan yang dikawal anak kecil.

"Tuan Devan... maafkan kami," ucap sang manajer toko yang akhirnya memberanikan diri mendekat dengan wajah pucat. "Kami ingin menjelaskan tadi, tapi..."

"Diam," potong Devan tajam. Matanya menatap pintu keluar mal tempat Maya baru saja menghilang. "Cari tahu siapa dia. Di mana dia tinggal, aku ingin informasi tentang wanita itu sudah ada di meja ku besok pagi."

"Ba-...baik, Tuan!"

Devan melirik ke arah kantong belanjaan berlogo butiknya yang masih tertinggal ,kado untuk adiknya yang tadi sempat terabaikan karena "tugas dadakan" dari Maya. Sebuah seringai tipis muncul di wajah datarnya. Menarik. Setelah sebulan kembali ke Indonesia dan hanya menemui rekan bisnis yang membosankan, akhirnya ada sesuatu yang bisa menghibur ego nya yang baru saja dicabik-cabik.

1
Amilawati
AQ belom bacah tpw liat komentar ya duluh,klw komentar ya bagus baru baca,tpw pas bacah komentar ya teryata cerita kurang cocok sama aku,AQ ndk suka SM perempuan lemah,bodoh ndk murahn
SisAzalea
Thor,sudah ku hadiahkan secangkir kopi utkmu..
jangan coba2 mengubah keputusan Arlan yg kemaren ya
SisAzalea
jawapan yg sangat tepat
Agunk Setyawan
pelakor ko minta lebih
Anonim
anying jantungan
SisAzalea
tq author,love you more,sudah ku hadiahkan utkmu secangkir kopi dan bunga utk episode ini.
Agunk Setyawan: 🤣🤣🤣 othornya langsung gercep karna bnyak komen
total 1 replies
Anonim
deg deg deg ... AI awokawok
Agunk Setyawan
iya Farah penjahat ko bisa bahagia sedangkan Maya menderita trus ibu Widya juga sama orang tua egois 🤮
SisAzalea
pokoknya Arlan harus tanggungjawab sama bayi nya saja, tidak harus pada ibu nya,biar Farah dgn Rafael saja🤣..
farah nggak boleh menempati posisi maya ya..tidak ..jika itu berlaku,ini novel author yg terakhir aku baca.
SisAzalea
yesss yesss tq Dion..aunty love you more..
Lee Mba Young
Maya masih sakit hati tp pelakor bhgia melahirkan Dan dpt laki orang 🤣. happy ending.
mnding jadi pelakor cukup tidur ma laki orang hamil trus minta tanggung Jawab tanpa Ada karma penderitaan sprti istri sah Maya yg mnderita di selingkuh i🤣.

hidup pelakor pokok nya menang banyak.
Lee Mba Young
kok enak ya jd Farah. pelakor Mang hidup nya selalu enak jmn sekarang. kl bgitu mnding jd pelakor drpd istri sah.
istri sah tersakiti tp pelakor bisa akhir bhgia dng laki orang bhkan melahirkan bayi 🤣.
SisAzalea
hiburan nya cukup berlima saja ya, Devan - Maya+ Dion+ Arlan - Nadine
farahnya dirumah sama ibu Widya aja
SisAzalea
Thor, please..jgn Arlan dgn Farah..biar jodoh mereka org lain saja,
membaiki hubungan bukan beerti harus mulakan yg sememangnya sudah rosak dari awal,cukup dgn hanya memaafkan lalu bertanggung dgn baik keatas bayi tersebut.🙏
SisAzalea
seharusnya enggak perlu rasa bersalah,
SisAzalea
kerna terlalu mikir ttg perasaan sendiri.. ketinggian khayalan nya,ingin di cintai,ingin memiliki yg tak seharusnya 🤭
SisAzalea
Farah terlalu lemah,sudah di nasihati oleh Maya namun masih tetap gagal nuruti,tidak becus urus emosi dan stress sendiri..
SisAzalea
ya benar,sangat benar...dgn kehadiran Farah disitu bukan beerti keadaan/suasana atau situasi boleh berubah menjadi lebih baik justru mungkin sebaliknya.
Anonim
DEG DEG DEG SAKIT JANTUNG KAH?
Anonim
AWOKWOK deg deg deg GOBLOK.. lu sakit ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!