NovelToon NovelToon
Tuan Muda Harta Langit

Tuan Muda Harta Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:95.9k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita Gao Rui, murid sekte terkuat yang sekaligus salah satu pemilik Kelompok Dagang Harta Langit. Salah satu kelompok dagang besar dan paling berkembang di Kekaisaran Zhou...
Simak petualangannya di sini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ulang Tahun Nyonya An Ra

Tidak lama kemudian… suara-suara perlahan mereda. Percakapan di seluruh aula ikut menurun, seolah ada kesepakatan tak tertulis di antara para tamu. Semua perhatian mulai tertuju ke arah panggung utama di bagian depan ruangan.

Acara… akhirnya dimulai. Dari balik tirai besar berwarna emas gelap, sekelompok pelayan muncul lebih dulu, berdiri berbaris rapi di sisi kiri dan kanan. Lalu, diiringi alunan musik yang kembali dimainkan dengan lebih khidmat, dua sosok berjalan perlahan ke depan.

Patriark keluarga Shou, Shou Dong. Di sampingnya… seorang wanita anggun dengan wajah lembut namun berwibawa. Istrinya, An Ran, yang malam ini menjadi pusat perayaan.

Di belakang mereka, barisan keluarga Shou dan keluarga An mengikuti. Dari yang tua hingga yang muda, semuanya mengenakan pakaian terbaik mereka. Aura kebangsawanan terpancar jelas dari setiap langkah yang mereka ambil.

Tepuk tangan mulai terdengar. Pelan… lalu semakin ramai, memenuhi seluruh aula.

Gao Rui sedikit tertegun. Ini pertama kalinya ia melihat tata cara seperti ini. Dalam dunia yang ia kenal, penghormatan biasanya ditunjukkan dengan kekuatan atau keberanian. Namun di sini… semuanya dilakukan dengan aturan, dengan simbol, dengan cara yang terasa begitu terstruktur.

Ia sempat tampak bingung sejenak. Namun hanya sebentar. Melihat semua orang ikut bertepuk tangan dengan ritme yang sama, ia segera menyesuaikan diri. Tangannya ikut bergerak, meski matanya tetap mengamati setiap detail di depan.

Shou Dong dan An Ran berjalan hingga ke kursi utama di atas panggung. Setelah keduanya duduk, barisan keluarga di belakang mereka ikut mengambil posisi masing-masing. Seolah mengikuti isyarat tak terlihat, para tamu pun mulai duduk kembali.

Suasana kembali tenang. Seorang pembawa acara melangkah ke depan. Ia membungkuk hormat, lalu mulai membawakan acara dengan suara yang jelas dan terlatih. Kata-katanya mengalir rapi, memuji keluarga Shou, menyambut para tamu, dan menekankan pentingnya malam ini.

Tak lama kemudian, ia mempersilakan Shou Dong untuk memberikan sambutan. Patriark itu berdiri. Posturnya tegap, wajahnya tenang, namun suaranya memiliki kekuatan yang membuat seluruh ruangan langsung hening.

Ia tidak langsung berbicara panjang. Namun setiap kata yang keluar… terasa berat. Ia berbicara tentang perjalanan hidupnya. Tentang bagaimana ia membangun keluarga Shou hingga sebesar sekarang. Dan di tengah semua itu… ia menyebut satu nama berulang kali. An Ran.

Ia memuji istrinya. Bukan dengan kata-kata berlebihan, tapi dengan kalimat sederhana yang justru terasa lebih tulus. Tentang bagaimana wanita itu selalu berada di sisinya, dalam masa sulit maupun saat kejayaan.

Beberapa tamu terlihat mengangguk pelan. Yang lain… tersenyum. Ketika ia selesai berbicara, tepuk tangan kembali memenuhi ruangan. Kali ini… lebih hangat.

Shou Dong kembali duduk di samping An Ran. Wanita itu hanya tersenyum tipis, namun matanya jelas menunjukkan kebahagiaan yang tulus.

Gao Rui memperhatikan semua itu dalam diam.

“Jadi… ini cara mereka menunjukkan kekuatan,” pikirnya. “Bukan hanya dengan pedang… tapi juga dengan hubungan.”

Di meja mereka, beberapa orang mulai berkomentar ringan.

“Patriark Shou Dong memang pandai berbicara…”

“Tak heran keluarga Shou bisa berkembang sejauh ini…”

Cao Ren hanya tersenyum kecil, tidak ikut berkomentar. Namun matanya… tetap memperhatikan panggung.

Acara kemudian berlanjut. Pembawa acara kembali maju, lalu dengan suara yang sedikit lebih bersemangat, ia mengumumkan bagian yang paling dinanti. Pemberian hadiah.

Suasana di aula berubah lagi. Kini bukan lagi khidmat… tapi penuh antisipasi. Satu per satu perwakilan keluarga dipanggil ke depan. Mereka berjalan dengan membawa hadiah masing-masing. Kotak-kotak indah, peti kecil, bahkan ada yang membawa benda yang dibungkus kain sutra mahal.

Setiap hadiah dibuka atau diperkenalkan secara singkat. Permata langka. Ramuan berharga. Senjata berkualitas tinggi. Semua menunjukkan satu hal… kekuatan dan kekayaan dari pemberinya.

Shou Dong dan An Ran menerima semuanya dengan senyum yang terjaga. Mereka mengucapkan terima kasih dengan sopan, tidak berlebihan, namun cukup untuk menjaga kehormatan setiap tamu.

Gao Rui memperhatikan dengan seksama. Ia mulai mengerti. Ini bukan sekadar pemberian hadiah. Ini adalah… pernyataan posisi. Semakin berharga hadiah itu, semakin jelas niat dan kekuatan di baliknya.

Di tengah itu semua, Cao Ren sesekali melirik ke arah Lan Suya. Senyumnya masih sama… seolah menunggu sesuatu. Dan akhirnya… nama Lan Suya dipanggil.

Beberapa orang di meja langsung menoleh. Bahkan beberapa tamu di meja lain ikut memperhatikan.

Lan Suya berdiri dengan tenang. Tanpa terburu-buru, ia melangkah ke depan. Setiap langkahnya anggun, terukur, dan penuh kendali. Ia tidak mencoba menarik perhatian… namun justru itulah yang membuatnya menonjol.

Di tangannya, ia membawa sebuah kotak perhiasan berwarna hitam. Permukaannya halus, namun dihiasi ukiran naga yang sangat detail. Ukiran itu tampak hidup… seolah bisa bergerak jika diperhatikan terlalu lama. Cahaya lentera memantul di permukaannya, memberikan kesan mewah namun juga misterius.

Gao Rui menatap kotak itu sekilas. Ia tahu isi di dalamnya.

Di meja undangan, Cao Ren menyandarkan dagunya pada tangan, matanya sedikit menyipit. Senyumnya… perlahan melebar.

Lan Suya berhenti beberapa langkah di depan panggung. Ia sedikit menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan, lalu mengangkat wajahnya kembali dengan senyum yang lembut dan terlatih.

“Patriark Shou Dong,” ucapnya terlebih dahulu, suaranya tenang namun cukup jelas untuk terdengar oleh mereka yang berada di sekitar panggung. “Sudah lama tidak bertemu. Semoga Patriark selalu dalam keadaan sehat.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang tetap ramah.

“Dan selamat ulang tahun untuk Nyonya An Ran. Semoga kebahagiaan selalu menyertai keluarga Shou.”

Ia memang sengaja menyapa Shou Dong lebih dahulu. Dalam dunia seperti ini… urutan adalah segalanya.

Shou Dong menatapnya. Tatapan itu dalam, sulit ditebak. Namun setelah beberapa detik, pria itu hanya tersenyum tipis… tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Senyum yang sopan. Namun juga… dingin.

Lan Suya tidak menunjukkan perubahan sedikit pun di wajahnya. Seolah respon seperti itu sudah ia perkirakan sejak awal. Tanpa menunggu lebih lama, ia dengan halus menggeser posisinya sedikit ke samping… menghadap An Ran.

Senyumnya berubah, lebih hangat, lebih hidup.

“Nyonya Ran benar-benar terlihat semakin cantik malam ini,” ucapnya dengan nada tulus namun tetap terjaga. “Keanggunan seperti ini… memang sulit ditandingi.”

Beberapa tamu di sekitar mulai memperhatikan lebih seksama.

Lan Suya kemudian mengangkat kotak hitam di tangannya dengan kedua tangan.

“Ini adalah sedikit tanda hormat dari saya. Semoga Nyonya Ran berkenan menerimanya.”

An Ran tersenyum lembut. Tangannya yang halus menerima kotak itu dengan gerakan yang anggun.

“Terima kasih, Nyonya Ya,” ucapnya pelan.

Di kejauhan, Gao Rui memperhatikan semua itu tanpa berkedip. Malam ini… benar-benar menjadi pelajaran baginya. Setiap kata, setiap senyum, setiap gerakan… semuanya memiliki makna. Tidak ada yang benar-benar sederhana di tempat seperti ini.

Ia menarik napas pelan.

“Jadi ini dunia mereka…” pikirnya.

Di atas panggung, An Ran perlahan membuka kotak tersebut.

Klik.

Suara kecil itu entah kenapa terasa begitu jelas di tengah aula yang perlahan menjadi sunyi. Dan saat tutup kotak itu terbuka... cahaya. Sebuah kilau lembut langsung memantul keluar, seolah menolak untuk tetap tersembunyi. Di dalamnya… terbaring sebuah kalung emas yang dikerjakan dengan sangat halus. Rantai emasnya tampak tipis namun kuat, dengan pola ukiran yang rumit.

Namun yang benar-benar mencuri perhatian… adalah liontinnya. Sebuah batu berwarna biru keunguan.

Warnanya tidak sepenuhnya biru… tidak juga ungu. Namun perpaduan keduanya menciptakan kilau yang dalam, seperti langit senja yang perlahan tenggelam. Saat terkena cahaya, batu itu seolah hidup… berdenyut pelan dengan cahaya dari dalam.

“...”

Untuk sesaat… tidak ada suara. Lalu...

“Indah sekali…”

“Itu… batu apa…?”

“Aku belum pernah melihat warna seperti itu…”

Bisikan mulai terdengar dari berbagai arah. Beberapa tamu bahkan tanpa sadar berdiri sedikit dari kursinya, mencoba melihat lebih jelas.

Gao Rui menyipitkan mata. Ia sudah melihat kalung itu sebelumnya… namun di bawah cahaya aula seperti ini, keindahannya terasa jauh lebih nyata.

An Ran sendiri… terlihat benar-benar terkejut. Matanya sedikit membesar, jarang terlihat pada wanita setenang dirinya. Ia mengangkat kalung itu perlahan dari dalam kotak, memperhatikannya dari dekat.

“Ini…” gumamnya pelan.

Ia menoleh ke arah Lan Suya. Untuk pertama kalinya sejak acara dimulai… ekspresi di wajahnya tidak sepenuhnya terjaga.

“Hadiah ini… bagus sekali.”

Lan Suya hanya tersenyum tipis.

“Tidak sebanding dengan kehormatan yang Nyonya berikan dengan mengundang saya,” jawabnya halus.

Di sisi lain panggung, Shou Dong akhirnya mengalihkan pandangannya ke kalung itu. Kali ini… senyumnya sedikit berbeda.

Di meja tamu Cao Ren yang sejak tadi bersandar santai, kini perlahan menegakkan tubuhnya. Matanya menyipit, senyumnya kembali muncul. Namun kali ini… ada sesuatu yang berbeda di dalamnya.

“Menarik…” gumamnya pelan.

Sementara itu, Gao Rui mengepalkan tangannya perlahan di atas meja. Ia tidak tahu persis apa nilai dari kalung itu. Namun dari reaksi semua orang… ia tahu satu hal. Hadiah itu… bukan sekadar perhiasan. Hadiah juga melambangkan status pemberinya.

1
adek Darma
kok up ny cmn keseringan 1eps truss thorrr
budiman_tulungagung
masih satu mawar 🌹
Armoire
Aduh duh duh duh duh... Author nya paling pinter bikin readers mati penasaran... Lagi seru2 nya malah "To be continued" 😭😭😭😭
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Rui emang numero uno 🔥🌽
Nanik S
Naga Baja... apakah akan mengubah Kerjasama Patriak Shoi dan Harta Langit terus berlanjut
Nanik S
Gao Rui... membuat kejutan gak main main....Bahkan tidak sebanding dg Emas dan Permata ..Baru Naga Baja
Arie Chaniago70
kapan Thor Gao rui ini melanglana buana seperti gurunya,,,masak main dikandang aja nggak paten,,,jadi kurang Greg ceritanya
Eka Haslinda
hadiah pertama.. hadiah kedua.. ketiga.. owalaahhhh buanyak.. gak payu lagi hadiah rumah dagang Naga Emas 🤣🤣🤣
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor .............
tariii
ayo, Rui.. kamu mau kasih hadiah apa? yg pasti harus lebih wowwww dari si cincaooooo itu yaaa...😂😂
will
klo ada pil anti miskin..mau donk gao rui 🤭👍
Heri Victor Purba
maen kali ceritanya bah.. bikin dag dig dug ser.. jalan ceritanya macam jalan kelok 44 .. gas thor
y@y@
⭐👍🏾🌟👍🏾⭐
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehe...hadiah yg melebihi hadiah orang lain🤣👍👍
Zainal Arifin
joooooooosssss 😍😍🤭
indrawanto djiwanto
hadiah pertama berarti ada hadiah lanjutan. hadiah kedua pil utk membantu kultivasi, hadiah ketiga pil kecantikan.
Jeffie Firmansyah: Bisa jadi pil kecantikan tuk istrinya
total 1 replies
Maz Shell
lagi update terbaru
sam
Jagoan turun tangan
Arie Chaniago70
🙂🙂🙂🙂🙂👍👍👍👍💪💪💪💪🍩🍩🍩🍩☕☕☕🌹🌹🌹
y@y@
👍🏿💥👍🏼💥👍🏿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!