Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.
Sampai suatu malam…
orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.
Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.
Namun di malam yang sama—
dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.
Lorenzo Moretti.
Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.
Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.
Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—
dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.
Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.
Dia salah.
Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.
Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 — Perjalanan Menuju Kegelapan
Bab 6 — Perjalanan Menuju Kegelapan
Malam akhirnya datang lebih cepat dari yang Amelia Santoso harapkan.
Langit desa dipenuhi awan gelap. Angin dingin berhembus pelan melewati pepohonan kecil di sekitar rumah kayu sederhana miliknya. Namun udara dingin itu tidak lebih menusuk dibanding perasaan takut yang memenuhi hati Amelia saat ini.
Sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan rumahnya.
Lampunya menyinari halaman kecil yang biasanya terasa hangat dan damai.
Kini semuanya terasa asing.
Amelia berdiri di depan pintu rumah sambil menggenggam tas kecilnya erat. Tangannya dingin dan sedikit gemetar.
Di belakangnya, Nenek Hana berdiri dengan mata yang sudah memerah sejak tadi.
Wanita tua itu mencoba terlihat kuat.
Namun Amelia tahu neneknya sedang menahan tangis.
“Kau benar-benar harus pergi?” suara Nenek Hana terdengar lirih.
Amelia menunduk pelan.
“Aku akan segera kembali.”
“Itu bukan jawaban.”
Amelia langsung terdiam.
Karena sebenarnya ia sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi setelah malam ini.
Pria asing yang datang kemarin berdiri di dekat mobil sambil memeriksa jam tangannya.
“Kita tidak punya banyak waktu.”
Nada suaranya datar.
Tidak ramah.
Dan membuat Amelia semakin tidak nyaman.
Raka Pradipta yang sejak tadi berdiri di dekat pagar langsung melangkah maju.
“Aku tidak suka ini.”
Tatapan tajamnya mengarah pada pria-pria berpakaian hitam itu.
“Perusahaan apa yang merekrut pekerja dengan cara seperti ini?”
Pria tadi tersenyum tipis.
“Itu bukan urusanmu.”
“Aku ingin bicara dengan Amelia sebentar.”
Pria itu tampak kesal, tetapi akhirnya mengangguk singkat.
Raka segera menarik Amelia menjauh beberapa langkah.
Wajah pria muda itu terlihat penuh kekhawatiran.
“Jangan pergi.”
Amelia langsung menatapnya lemah.
“Raka…”
“Aku serius.”
Suara Raka terdengar frustrasi.
“Hatiku tidak tenang sejak kau menerima pekerjaan ini.”
Amelia menggenggam tasnya semakin erat.
“Aku tidak punya pilihan lain.”
“Kita bisa mencari cara lain!”
“Aku sudah mencoba!”
Untuk pertama kalinya Amelia meninggikan suara.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku sudah mencoba bekerja lebih keras… menjual lebih banyak… tapi tetap tidak cukup.”
Raka terdiam.
Karena ia tahu semua itu benar.
Kemiskinan telah membuat Amelia terpojok hingga tidak punya pilihan selain mengambil risiko berbahaya.
“Aku hanya ingin Nenek sembuh…” lanjut Amelia lirih.
Raka mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Ia membenci keadaan ini.
Membenci dirinya sendiri karena tidak mampu membantu lebih banyak.
Namun sebelum ia sempat bicara lagi—
“Kita harus pergi sekarang.”
Pria berpakaian hitam tadi kembali mendekat.
Amelia menatap rumah kecilnya sekali lagi.
Tatapannya perlahan menuju Nenek Hana.
Air mata wanita tua itu akhirnya jatuh.
“Hati-hati di sana…”
Kalimat sederhana itu langsung membuat dada Amelia terasa sesak.
Ia segera memeluk neneknya erat.
“Aku akan pulang.”
Nenek Hana menggenggam tangan cucunya kuat-kuat seolah takut kehilangan.
“Jangan terlalu percaya pada siapa pun.”
Amelia mengangguk pelan meski matanya mulai basah.
Beberapa detik kemudian…
ia akhirnya melepaskan pelukan itu.
Dan berjalan menuju mobil hitam yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Saat pintu mobil tertutup—
Amelia merasa seperti dunianya ikut tertutup bersama suara itu.
Mobil mulai melaju meninggalkan desa kecil tersebut.
Amelia menoleh ke belakang melalui kaca jendela.
Rumah kayunya terlihat semakin jauh.
Nenek Hana dan Raka masih berdiri di depan rumah sambil memandang mobil itu pergi.
Entah kenapa…
perasaan Amelia semakin tidak tenang.
Perjalanan berlangsung sangat sunyi.
Dua pria berpakaian hitam duduk di depan tanpa banyak bicara. Sementara Amelia duduk sendirian di kursi belakang sambil memeluk tas kecilnya.
Lampu-lampu jalan kota mulai terlihat saat mereka keluar dari area desa.
Ini pertama kalinya Amelia pergi sejauh ini seorang diri.
Dan rasa takutnya semakin besar.
“Apa pekerjaannya benar-benar aman?” akhirnya Amelia memberanikan diri bertanya.
Pria di kursi depan meliriknya melalui kaca spion.
“Asal kau patuh.”
Jawaban itu langsung membuat Amelia tidak nyaman.
“Aku akan bekerja apa?”
“Kau akan tahu nanti.”
Amelia kembali diam.
Hatinya mulai mengatakan sesuatu yang buruk.
Namun sekarang semuanya sudah terlambat.
Mobil terus melaju hingga akhirnya memasuki area kota besar yang ramai dan penuh cahaya.
Mata Amelia membesar kagum sekaligus gugup.
Gedung-gedung tinggi berdiri di mana-mana.
Lampu neon memenuhi jalanan malam.
Orang-orang berpakaian mewah berjalan di trotoar.
Dunia ini sangat berbeda dari desa kecil tempatnya tinggal.
Namun semakin jauh mereka masuk ke pusat kota…
suasana justru mulai terasa aneh.
Mobil berhenti di depan sebuah gedung besar dengan lampu redup.
Beberapa pria bertubuh besar berjaga di depan pintu.
Tatapan mereka membuat Amelia merinding.
“Kita sudah sampai.”
Jantung Amelia langsung berdetak lebih cepat.
“Apa ini tempat kerjanya?”
“Turun.”
Nada suara pria itu terdengar seperti perintah.
Amelia perlahan turun dari mobil.
Begitu memasuki gedung, aroma parfum mahal bercampur asap rokok langsung memenuhi udara.
Musik pelan terdengar dari dalam.
Namun entah kenapa tempat itu terasa menakutkan.
Beberapa wanita muda duduk di sofa sambil mengenakan pakaian mahal dan riasan tebal.
Tatapan mereka kosong.
Lelah.
Dan sedih.
Perasaan Amelia semakin buruk.
Seorang wanita berambut merah berjalan mendekat sambil memperhatikan Amelia dari atas sampai bawah.
“Yang ini masih baru?”
“Iya.”
Wanita itu tersenyum tipis.
“Cantik juga.”
Amelia langsung merasa tidak nyaman saat wanita itu menyentuh dagunya.
“A-aku sebenarnya akan bekerja apa?”
Semua orang mendadak diam beberapa detik.
Lalu wanita berambut merah tadi tertawa kecil.
“Kau belum tahu?”
Jantung Amelia terasa tidak tenang.
Pria yang membawanya ke sana langsung menyerahkan sejumlah uang pada wanita tersebut.
“Dia milik kalian sekarang.”
Kalimat itu membuat tubuh Amelia membeku.
“Maksudnya…?”
Wanita berambut merah itu tersenyum samar.
“Selamat datang di neraka, gadis desa.”
Dan saat itulah…
Amelia akhirnya sadar—
dirinya telah dijual.
Tubuh Amelia langsung melemas.
Wajahnya pucat pasi.
“A-apa…?”
Ia mundur perlahan sambil menatap pria yang tadi membawanya dari desa.
“Kalian bilang ini pekerjaan…”
Pria itu hanya tersenyum dingin.
“Itu memang pekerjaan.”
“Tapi bukan pekerjaan seperti yang kau bayangkan.”
Beberapa wanita di ruangan itu mulai memandang Amelia dengan rasa kasihan.
Karena mereka tahu…
gadis polos seperti Amelia biasanya tidak akan bertahan lama di tempat seperti ini.
“Aku ingin pulang…”
Suara Amelia mulai bergetar.
Namun wanita berambut merah tadi langsung mencengkeram dagunya kasar.
“Sudah terlambat.”
“Aku tidak mau di sini!”
Amelia mencoba melepaskan diri.
Tetapi salah satu pria besar segera menahan lengannya kuat-kuat.
“AARRH— lepaskan aku!”
“Jangan membuat masalah,” bentak pria itu kasar.
Air mata Amelia mulai jatuh tanpa bisa ditahan.
Ia benar-benar takut.
Tempat ini terlalu mengerikan.
Dan orang-orang di dalamnya membuatnya merasa seperti barang dagangan.
“Aku mohon… biarkan aku pulang…”
Tidak ada yang peduli.
Pria yang membawa Amelia tadi bahkan sudah pergi setelah menerima uangnya.
Meninggalkan Amelia sendirian di tempat asing itu.
Wanita berambut merah menghela napas panjang.
“Bawa dia ke kamar atas.”
“Aku tidak mau!”
Amelia memberontak panik.
Namun tenaganya kalah jauh.
Ia diseret menuju tangga besar sambil menangis ketakutan.
Beberapa wanita hanya bisa menunduk sedih melihatnya.
Karena mereka pernah berada di posisi yang sama.
Kamar di lantai atas terlihat mewah.
Namun terasa dingin dan menyesakkan.
Begitu Amelia didorong masuk, pintu langsung dikunci dari luar.
Brak!
Amelia buru-buru berlari menuju pintu lalu memukulnya panik.
“Tolong! Tolong buka!”
Tidak ada jawaban.
“Aku mohon…”
Tubuh Amelia perlahan jatuh terduduk di lantai.
Tangisnya pecah.
Ia memeluk dirinya sendiri sambil gemetar hebat.
Bayangan Nenek Hana terus muncul di pikirannya.
Kalau neneknya tahu dirinya dijual seperti ini…
wanita tua itu pasti akan hancur.
“Aku ingin pulang…”
Suara Amelia lirih dan penuh putus asa.
Namun malam itu…
tidak ada seorang pun yang datang menolongnya.