kisah ini menceritakan seseorang yang menggunakan santet untuk guna-guna orang lain dengan menggunakan santau.
Siap. Ini narasi yang bisa kamu pake buat sinopsis/blurb Noveltoon _Kutukan Santau_:
---
*NARASI*
Santau. Racun yang dikirim lewat angin, menumpang di makanan, menyelip di tatapan mata.
Katanya tak berbekas, tapi membusukkan tubuh dari dalam dan pada akhirnya orang tu lah yang akan tersakiti
pesan:
*"Santau itu perjanjian. Sekali kau lepas, dia akan pulang menagih nyawa. Kalau bukan nyawa musuhmu... ya nyawamu sendiri."*
_Siapa yang menggunakan santau, pada akhirnya dia yang akan mendapatkan balasannya._
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23
Tamu-tamu mulai bersalaman, satu per satu meninggalkan rumah dengan wajah lebih tenang. Ada yang menepuk bahu Kadir, ada yang berbisik "Hati-hati, Pak." Tapi tak ada yang berani bertanya terang-terangan dan Samsul menghampiri kadir untuk mengucapkan belasungkawa."yang sabar ya dir...! Midah sudah tenang disana dan jaga anak kau baik-baik"ucap samsul penuh makna.
Kadir hanya mengangguk, Ia tahu malam ini bukan akhir. Tapi setidaknya, untuk malam ini, keluarganya bisa tenang untuk acara tahlilan istrinya. ayahnya berdiri terakhir, menepuk pelan kepala Ayu.
"Bentengmu kuat malam ini, Nak. Jangan kau runtuhkan sendiri besok." Ayu mengangguk. Buku Yasin di pangkuannya terasa lebih ringan.
Samsul menoleh ke arah Ayu yang masih duduk diam dengan mukena putihnya. Ia tersenyum menyeringai lalu berbisik pelan,
"Kuat ya. Ayahmu hebat bisa jaga kau sampai selamat."Ayu membalas dengan anggukan kecil. Senyumnya belum kembali, tapi matanya sudah tidak kosong seperti tadi pagi.
Kadir menarik napas panjang begitu rumah kembali sepi. Ia menoleh ke arah anak dan menantunya dan tatapannya mengarah ke ayu."Bentengmu kuat malam ini, Nak. Jangan kau runtuhkan sendiri besok."
Ayu mengangguk. Buku Yasin di pangkuannya terasa lebih ringan, seolah beban semalam ikut terangkat bersama doa-doa yang baru saja dilantunkan.
Wati merapikan tikar dan piring yang belum sempat disentuh tamu dan dibantu suaminya. iparnya yang lain mematikan lilin satu per satu, menyisakan satu di dekat foto Midah. Cahaya kecil itu masih menyala, pantulannya jatuh tepat di wajah Midah yang tersenyum tenang.
Kadir menatap foto itu lama."Tenanglah,,,,,buk!. Malam ini anak-anakmu aman".Di luar, gerbang berderit pelan tertiup angin. Tidak ada suara langkah, tidak ada tawa aneh. Hanya suara air menetes dari genteng ke tanah basah.
Suara air dari genteng makin jelas sekarang. "Tetes... tetes..." jatuh ke tanah basah di luar, berulang, seperti ada yang menghitung waktu.
Ayu merasa Buku Yasin di pangkuannya makin hangat. Padahal ruangan masih dingin akibat hujan yang berhenti barusan. sejak lilin dimatikan satu-satu dan cuma ada satu yang menyala kecil di depan foto Midah.
Wati berhenti merapikan tikar. Tangannya gantung di udara.
"Pak... pintu belakang tadi, sudah Wati kunci kan?".Kadir tidak langsung menjawab, dia dengar tapi pikirannya entah kemana. Tidak ada yang berisik karena cucu- cucu kadir sudah masuk ke kamar. Tapi bau anyir yang semalam sempet muncul di dapur, sekarang samar-samar balik lagi. Bukan bau bangkai tapi Bau besi karatan.
Iparnya yang paling muda yang bernama Amer nyengir gugup, "Ah, perasaan aja kali, Kak Wati. Habis baca-baca doa gitu kan memang suka merinding."
Tapi Ayu tau, Merinding kali ini beda seperti ada yang berdiri di balik punggungnya, nahan napas dan ayu hanya bisa melafalkan doa-doa supaya mahkluk itu tidak masuk ke tubuhnya.
Kadir akhirnya mengangguk pelan.
"Besok pagi kita panggil Pak Ustad dari Seberang. Santau yang menyasar itu sudah tertolak malam ini, Tapi yang mengirim... dia tau kita tidak akan bisa tidur."
Di luar gerbang, suara derit itu balik lagi....Pelan, dan Kali ini diikuti suara sesuatu jatuh ke tanah ."bruk". seperti ember kosong.
Ayu mengenggam Buku Yasin lebih erat.
"Pak, kalau bentengnya runtuh besok... apa yang terjadi sama ayu?"Kadir menoleh. Matanya menatap tajam ayu, tapi ada kehangatan dan kasih sayang yang tidak bisa dia sembunyikan.
"Itu tidak akan terjadi, Selama kau masih mau memegang imam dan taqwamu, Allah akan selalu melindungmu." ucap kadir
"malam ini lebih baik kita tidur, agar besok bisa mempersiapkan segalanya dan kamu Wati, temani adikmu dulu tidur". Ucap kadir
"Baik pak".setalah mengatakan itu, Wati langsung mengajak ayu untuk ke kamarnya. saudara dan iparnya pun masuk ke kamar masing-masing.
Kesunyian malam itu tidak kosong.
Setelah lampu kamar ayu mati, yang ketinggalan cuma suara napas Ayu yang belum rata dan bunyi kayu dipan tua yang sesekali ngerik kalau ada yang bergerak sedikit.
Di luar, langkah Kadir udah berhenti. Tapi bukan berarti dia tidur. Dari celah pintu, Ayu bisa melihat bayangan bapaknya masih duduk di kursi bambu depan pintu, punggungnya tegak, golok kecil itu ditaruh di pangkuan.
Ayu pura-pura tidur. Tapi tangannya masih menggenggam tangan wati di bawah selimut.
"Kak..." bisik Ayu pelan, takut suaranya keburu pecah.
"Hmm?" jawab Wati
"Kalau aku kenapa-kenapa besok...tolong jagain bapak ya".desis ayu pelan
Wati langsung melek dikegelapan dan duduk setelah mendengar kata-kata adiknya
"Ngomong apa kamu....dek?. Semuanya akan baik-baik saja dan kamu akan selamat, teruslah berdoa, supaya Allah selalu melindungimu
Tapi Ayu tidak menjawab. Karena di luar, ada suara lain yang nyelip di antara hening.
Suara kayak orang nyeret ranting di tanah basah. _Sret... sret... sret..._
Berhenti tepat di depan pagar.
Langkah Kadir terdengar lagi dan Kali ini pelan, tapi hati-hati. tidak ada suara pintu dibuka. Cuma bunyi napas berat, terus satu kalimat pelan."Kalau bukan manusia...! pulanglah. Kalau manusia, bicaralah."
Setelah itu, hening lagi.
Tapi kali ini heningnya yang berbeda. seperti ada yang menahan napas bareng mereka bertiga. Ayu menutup mata. Kali ini bukan karena mengantuk. Dia mulai baca pelan-pelan di dalam hati, yang diajarin Kadir pas kecil: _Qul a'udzu birabbil falaq..._
Dan untuk malam itu, ketegangan yang terjadi perlahan hilang dan suara orang mengaji di surau mulai terdengar. Kadir akhirnya masuk kamar dan perlahan-lahan matanya terpejam,