Regan Saputra mati dalam kebangkrutan dan pengkhianatan.
Di detik terakhir, bibirnya hanya menyebut satu nama. Nara Wulandari. Wanita yang gagal ia lindungi.
Namun, kematian justru membawanya kembali ke 14 Maret 1993.
Regan terbangun di kamar kontrakan kumuh. Dia kembali menjadi pemuda miskin 19 tahun dengan isi dompet 12 ribu rupiah.
Tidak ada kepanikan, hanya senyum tipis seorang predator yang siap memburu.
Regan bersumpah tidak mengulang kesalahan yang sama.
Berbekal ingatan sejarah, ia mengakuisisi aset rawa yang kelak menjadi pusat kota dan menyiapkan jaring pengaman sebelum krisis moneter menghantam Indonesia.
Target utamanya jelas. Menghancurkan Dion Hartawan sampai tidak bersisa, dan memberikan dunia kepada Nara.
Dulu ia kalah telak. Kini ia bertindak sebagai penguasa bayangan yang mengendalikan perputaran ekonomi.
Kematian mengubahnya dari seorang pecundang menjadi monster bisnis.
Siap melihat bagaimana 12 ribu rupiah berubah menjadi kerajaan triliunan rupiah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UaOnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Mimpi Siang Bolong
Regan duduk di kursi plastik ruko Menteng yang baru ia kuasai. Layar monitor tabung empat belas inci di depannya memancarkan cahaya hijau kusam, berkedip kedip memantulkan bayangan wajah mudanya. Bunyi melengking dari modem dial up berkecepatan 14.4 Kbps merobek ruang kerja pengap tanpa pendingin udara itu. Bau besi hangat dari mesin komputasi berbaur dengan uap solar jalanan Jakarta tahun sembilan puluh tiga.
Herman menyeka keringat di tengkuknya menggunakan handuk kecil. Pria makelar itu menatap deretan kabel tembaga yang berserakan di lantai tegel dengan dahi berkerut dalam.
"Gue nggak paham sama otak lu, Re," ucap Herman, melempar puntung rokoknya ke asbak kaleng. "Gedung Menteng ini bisa lu sewakan ke bank atau kantor garmen dengan untung jutaan sebulan. Kenapa lu malah bawa mesin rongsokan ini? Lu bikin CV Net Baru Indonesia cuma buat jualan kabel?"
Regan tidak mengalihkan pandangan dari baris kode kaku di layar. "Sepuluh tahun lagi, Bang, seluruh transaksi perbankan, dokumen negara, dan komunikasi bisnis di Jakarta berjalan di atas kabel tembaga ini."
Herman tertawa hambar. "Lu mimpi siang bolong. Orang kirim surat pakai Pos Indonesia, kalau buru buru ya pakai telex atau faks. Wartel Telkom laku keras di tiap tikungan gang. Siapa yang mau bayar mahal cuma buat baca tulisan di layar monitor? Dapat duit dari mana usaha kayak begini?"
"Dari langganan bulanan para korporasi yang butuh kecepatan data," balas Regan datar. "Saat pengusaha lain masih harus kirim kurir naik motor menerobos macetnya Thamrin cuma buat antar laporan keuangan, klien gue cuma butuh waktu satu menit lewat mesin ini."
Herman menggelengkan kepala, mengambil segelas air putih dingin yang sudah berembun. "Tapi biayanya gila, Re. Lu sewa jalur telepon khusus dari Telkom ini harganya menyedot sisa kas kita. Lu nggak takut modal kita habis sebelum dapat klien pertama?"
"Modal itu alat bertaruh, Bang, bukan pajangan laci," jawab Regan tanpa mengalihkan pandangan.
Langkah kaki tegas terdengar dari arah tangga besi. Nara muncul dengan kaos polo putih dan celana denim gelap. Tas kanvasnya tersampir di bahu kanan, sementara tangan kirinya memeluk map jepit berisi dokumen legalitas perusahaan. Rambut hitamnya yang diikat ekor kuda bergoyang seiring langkahnya yang cepat.
Gadis itu tidak membuang waktu untuk berbasa basi. Ia menarik kursi kayu ke sebelah meja Regan, menaruh map jepitnya dengan ketukan keras.
"Ini berkas pendaftaran CV Net Baru Indonesia dari kantor wilayah perindustrian," ucap Nara, menunjuk lembar kertas berstempel basah. "Gue udah urus legalitasnya. Tapi lu tahu kan? Izin penyelenggaraan jasa telekomunikasi dari departemen pariwisata, pos, dan telekomunikasi itu birokrasinya rumit. Kita butuh koneksi orang dalam."
Regan mengambil dokumen itu, memindai nama perusahaan barunya. Kepuasan dingin mengalir di nadinya. "Izin itu keluar minggu depan, Ra. Penanggung jawab di departemen pos sedang pusing karena data audit internal mereka bocor ke bursa. Gue cuma perlu mengirim satu dokumen kecil untuk melancarkan tanda tangan mereka."
Nara menyipitkan mata, bersedekap dengan gestur menyelidik. "Lu pakai taktik gertakan suap lagi?"
"Gue pakai fakta, bukan suap," jawab Regan tenang. Ia memutar tubuhnya menghadap Nara, memangkas jarak privasi di antara mereka. Bau sabun melati dari kulit Nara meredam bau minyak pelumas mesin di ruangan. "Gue membantu mereka merapikan kebusukan mereka sendiri sebelum menteri tahu. Itu namanya barter keuntungan."
Nara memandangi jendela, bibirnya menegang. "Gue selalu ngeri setiap kali lu ngomong soal masa depan bisnis seakan lu yang punya jalannya, Re. Tapi pembukuan kas lu ini gila. Lu habiskan sisa uang tunai dari Sukardi buat borong unit komputer IBM tiruan dari Glodok?"
"Infrastruktur digital butuh fondasi fisik, Ra," kata Regan.
"Tapi lu melupakan biaya operasional cadangan," kejar Nara, jarinya mengetuk ujung pensil ke meja. "Gue udah hitung tagihan listrik ruko ini, biaya pasang telepon dinas, sampai uang bensin Herman. Kas kita sisa empat juta lima ratus ribu rupiah. Kalau minggu depan kita nggak dapat pemasukan, kita nggak bisa bayar gaji kurir."
"Kita nggak butuh kurir fisik, Ra. Kita butuh jaringan," ucap Regan, jarinya menunjuk modem kotak abu abu di bawah meja.
Pintu ruko di lantai bawah terbuka kasar, memutus obrolan mereka. Suara benturan daun pintu menabrak dinding terdengar keras hingga ke lantai dua. Langkah kaki berat berdegum menaiki anak tangga dengan terburu buru.
Koh Aliong masuk dengan kaos dalam putih dan celana pendek kain. Pria paruh baya penguasa toko grosir komputer Glodok itu datang bersama dua kuli angkut berbadan tegap yang memanggul dua kardus besar berisi sirkuit elektronik dan modem eksternal US Robotics.
Aliong melempar nota tagihan berwarna merah ke atas meja kerja Regan.
"Mas Regan, ini sisa barang pesanan lu," dengus Aliong, menyeka dahi dengan sapu tangan handuk kusam. "Gue anter sendiri karena gue mau pastiin lu bayar tunai siang ini. Totalnya delapan juta rupiah. Gue denger dari orang pasar, lu bikin usaha jaringan komputer. Lu gila ya? Bisnis jualan angin kayak begini nggak bakal bertahan tiga bulan. Mana duitnya? Jangan bilang lu mau utang."
Herman melirik Regan, wajahnya menegang cemas. Tangannya yang memegang asbak kaleng mendadak kaku. Sisa modal tunai di laci meja ruko mereka tidak akan cukup jika mengikuti angka di nota itu.
Regan berdiri perlahan. Ia tidak menyentuh nota merah tersebut. Kedua tangannya masuk ke saku celana jeans, wajahnya sedingin es, memindai penampilan Aliong dari ujung rambut hingga sandal jepitnya.
"Delapan juta untuk modem US Robotics tipe lama yang firmware utamanya cacat?" tembak Regan tanpa mengubah oktaf suaranya.
Aliong tersentak, langkah kakinya mundur setengah tindak. "Lu jangan asal bicara! Ini barang impor langsung dari Singapura! Kualitas nomor satu di pasar Glodok!"
"Barang impor yang ditolak oleh Telkom dua minggu lalu karena gagal uji sertifikasi frekuensi," potong Regan cepat. Kalimatnya tajam memaku kaki Aliong. "Stok ini sudah mendekam di gudang bawah tanah lu selama tiga bulan. Kalau badai hujan besok malam merendam kawasan Glodok, seluruh sirkuit ini berkarat dan lu kehilangan delapan juta mutlak."
Wajah Aliong berubah pucat pasi, bintik bintik keringat dingin bermunculan di pelipisnya. Rahasianya telanjang bulat di depan anak muda belasan tahun. Stok itu memang barang tolakan proyek pemerintah yang sedang ia bersihkan demi menyelamatkan likuiditas tokonya.
"Lu... lu tahu dari mana soal Telkom?" suara Aliong turun drastis, keangkuhannya patah seketika.
"Gue tahu lu butuh uang tunai sebelum giro kosong lu jatuh tempo di Bank Dagang Negara besok senin jam sepuluh pagi," lanjut Regan santai. Ia mengambil tumpukan uang tunai senilai empat juta rupiah dari laci, meletakkannya di atas nota merah. "Empat juta rupiah. Tunai. Ambil uang ini sekarang, atau lu bawa pulang lagi rongsokan ini dan tunggu penagih utang bank datang menyegel toko lu."
Dua kuli angkut di belakang Aliong saling pandang, bingung melihat bos mereka mendadak gemetar.
Aliong menatap tumpukan uang di meja, lalu menatap mata predator Regan. Ego dagangnya hancur lebur diinjak realita finansial yang ia sembunyikan. Dengan gerakan cepat, ia menyambar uang empat juta itu tanpa menghitungnya lagi.
"Lu keterlaluan, Re," desis Aliong serak. Ia memberi isyarat keras pada kulinya untuk menaruh kardus, lalu bergegas turun tangga setengah berlari.
Herman menghembuskan napas lega, bersandaran ke dinding tripleks. "Gila. Lu memeras harga barang impor sampai setengah harga cuma pakai modal omongan."
Nara tidak ikut bersenang diri. Gadis itu melangkah menghampiri kardus yang baru diturunkan, membuka plester perekatnya, lalu memeriksa nomor seri sirkuit di dalamnya. Jari jemarinya aktif mencatat pergerakan inventaris baru ke dalam buku ledger kas miliknya.
"Hitungan lu tajam, Re," kata Nara tanpa mendongak, pensil kayunya bergerak lincah di atas kertas buram. "Lu menekan Aliong tepat di ulu hati keuangannya. Tapi lu baru saja memicu perang harga di Glodok. Koh Abun dan jaringan distributor besar nggak akan diam melihat anak kuliahan memotong jalur pasokan mereka."
"Koh Abun masih sibuk menghitung sisa kerugian akibat pembatalan utang Wirawan kemarin, Ra," balas Regan tenang. "Dia tidak punya waktu untuk melihat ruko kecil di Menteng ini."
"Tapi pasar komputer Glodok itu sensitif," Nara berdiri, melipat tangannya di dada. "Begitu Aliong cerita ke pedagang lain kalau ada anak muda yang tahu isi perut bank mereka, nama lu akan jadi incaran. Mereka akan mencari tahu siapa di belakang CV Net Baru Indonesia."
Regan berjalan mendekati jendela ruko, menatap hamparan atap rumah penduduk Jakarta tahun sembilan puluh tiga yang rapat di bawah sana. Sinar matahari siang membakar aspal Menteng, menimbulkan uap panas yang mengaburkan pandangan sejauh mata memandang.
Ini momen napas tenang yang ia butuhkan. Otak pria lima puluh delapan tahun di dalam dirinya mengingat gelombang besar berikutnya. Tahun depan, krisis finansial global akan mengguncang pasar berkembang, memicu kepanikan modal. Pengusaha konvensional yang hanya bertumpu pada garmen dan semen akan kelabukan mencari instrumen likuiditas baru. Internet, jaringan yang saat ini ditertawakan sebagai mainan akademisi, akan menjadi ruang pelarian modal paling aman bagi para taipan baru.
Regan memutar tumitnya kembali menghadap Nara. "Biarkan mereka perang harga di pasar fisik, Ra. Kita membangun jalan tol digital. Saat mereka menyadari nilainya, mereka harus membayar tarif sewa jalur ke CV Net Baru Indonesia."
Nara menaruh pensilnya. Ketegangan di bahunya mengendur, digantikan oleh sorot mata yang penuh rasa takjub terselubung. "Lu selalu selangkah lebih cepat dari ketakutan gue."
"Gue nggak punya waktu buat kalah, Ra," kata Regan, suaranya rendah namun berbobot berat.