NovelToon NovelToon
Istri Seksi Tuan Arnold

Istri Seksi Tuan Arnold

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Duda / Aliansi Pernikahan / Nikah Kontrak / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Putrichou

"Menikahlah dengan ku dan berikan aku keturunan. Aku akan memberikan semua yang kamu inginkan, termasuk kesejahteraan,"

Anjani tidak menyangka di usianya dua puluh tahun, harus menghadapi tawaran gila dari pria konyol yang dia bantu. Di sisi lain ia ingin memperbaiki hidup, sedangkan di sisi lain ia tidak ingin melakukan hal bodoh itu.

Namun melihat pengorbanannya Arya, keputusan besar akhirnya ia ambil untuk mereka berdua, bersiap menikah dan memberikan Arnold keturunan. Akankah mereka berdua berubah pikiran dan menjalin hubungan tanpa aliansi apapun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putrichou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BERMALAM

Hari sudah semakin sore, para warga sudah kembali ke aktivitas masing-masing sejak siang tadi. Di rumah Arya, orang tua Arnold tak kunjung pulang dan terlihat betah berlama-lama di desa.

"Kapan Mama akan kembali ke kota? Aku akan sedikit lebih lama di sini," ujar Arnold. Jasmine mencubit lengan Putranya dengan gemas.

"Pasti kamu sudah tidak sabar ya?"

Anjani melirik Arnold saat Jasmine menaikturunkan alisnya. Ia tidak paham mengapa Arnold begitu ingin kedua orang tuanya cepat kembali ke kota, padahal Jasmine sama sekali belum berniat kembali.

"Kapan kamu akan kembali? Perusahaan tidak boleh di tinggal terlalu lama," sahut Fero yang berdiri di sebelah Berta dan Kelvin. Pria itu sedang merokok, itulah kebiasaannya di kala luang.

Arnold merangkul pinggang ramping Anjani dan menunjukkan kemesraannya. Jasmine tersenyum manis, sedangkan Fero memasang wajah kesal.

"Ada Kelvin yang bisa aku andalkan."

Kelvin memutar matanya malas, hal itu sudah biasa baginya. Selalu di repot kan dalam hal apapun oleh Arnold. "Tentu saja, Tuan Arnold!" ucapnya terpaksa.

"Bagaimana kalau kalian berdua ikut pulang ke kota dan berbulan madu di sana saja?"

Arnold melirik kesal kepada Arya, pria itu menaikkan alisnya dengan santai. Anjani hanya mengangguk setengah mengerti.

"Yang di katakan oleh Kak Arya ada benarnya," Arnold memijat pangkal hidungnya. "Tapi maksudnya berbulan madu itu apa?"

Semuanya terdiam, mereka lupa kalau Anjani belum mengerti tentang hal sensitif seperti itu.

"Membuat Adik," celetuk Berta tiba-tiba dengan wajah semangat. Fero mendelik dan menyenggol perut pria di sebelahnya.

"Tutup mulut mu, Berta!" Berta menggaruk tengkuknya dan melirik Anjani yang mendelik terkejut.

Anjani melupakan tentang tujuan pernikahan mereka, ia setuju membantu Arnold begitu juga dengan Arnold yang akan membantunya. Anjani menunduk dan memainkan jarinya dengan gelisah. Itu artinya ia akan memberikan haknya sepenuhnya kepada Arnold.

"Ayo, Sayang. Kamu pasti lelah,"

Anjani menelan ludah sendiri, ia takut kalau Arnold akan melakukan hal-hal aneh. Melihat kekhawatiran Anjani, pria itu mengelus pipi sang istri dengan sangat lembut.

"Percaya kepadaku,"

Anjani akhirnya hanya pasrah dan mengikuti Arnold masuk ke dalam mobil. Arya nenatap nanar kepada sang adik yang menatapnya penuh kesediaan.

"Arya," panggil Fero menyadarkan lamunan pria itu. Arya menghela napas panjang dan mengusap wajahnya dengan gusar.

"Putra ku bukan pria yang brengsek," Arya tahu apa yang di maksud oleh Fero, ia juga mengenal Arnold sangat lama.

"Aku Paham, Om. Hanya saja aku khawatir dengan adikku," jelas Arya. Wajah khawatir pria itu tidak bisa di sembunyikan dari mereka semua. Mereka tahu, seperti apa Arya menyayangi Anjani.

Jasmine mengelus punggung arya. Ia mengerti mengapa Arya sangat khawatir, karena Anjani akan ikut Arnold ke kota dan meninggalkan desa. Tapi bukan berarti Arya tidak bisa menyusul.

"Nak, bila kamu sudah siap nanti, beritahu lah kepada Anjani."

Aku belum siap sama sekali.

"Ma, ayo pulang. Mama kan harus mengundang teman-temannya ke rumah," ajak Fero mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin Arya merasa tertekan dan memikirkan apapun. Jasmine menepuk jidatnya, ia lupa harus memberitahukan teman-temannya tentang pernikahan Arnold.

"Nak, istirahat lah. Kamu harus benar-benar pulih,"

Arya mengangguk dan menatap kepergian Fero dan istrinya. Pria itu menghela napas panjang, hari ini sangat melelahkan. Arya menatap rumahnya faham datar dan merasa tidak ada yang perlu di sembunyikan sekarang.

...****************...

"Aku akan membersihkan diri,"

Arnold terkekeh melihat wajah memerah Anjani, gadis itu sejak tadi gelisah dan cemas entah kenapa. Arnold mengerti apa yang di pikirkan oleh gadis itu, tapi ia memilih diam dan terduduk di sisi ranjang. Kamarnya sudah di sulap menjadi kamar pengantin, Kelvin benar-benar menyiapkan semuanya dengan baik.

Anjani mengembuskan napas panjangnya dan menatap penampilannya dari cermin kamar mandi. Dengan masih memakai baju pengantin, Anjani menggelengkan kepalanya.

"Apa yang kamu pikirkan, Anjani!" gumamnya sedikit mencubit pipinya.

Anjani membersihkan wajahnya dengan cepat, tapi setelah itu ia kebingungan. Resleting baju berada di punggung, Anjani mendengus kesal karena tangannya tak sampai.

TOK ....

"Anjani, kamu baik-baik saja?"

Anjani terkejut, "Hm ... Iya, Arnold."

Arnold yang berada di depan pintu mengetuk keningnya. Hampir setengah jam Anjani belum keluar. "Aku masuk,"

"Arnold, jangan ...."

Anjani memejamkan matanya saat pintu kamar mandi terbuka lebar. Ia lupa mengunci pintunya. Arnold terdiam sejenak melihat fresh face Anjani dari pantulan cermin.

"Kemari, aku akan membantumu." ucap Arnold dengan cepat. Anjani hanya pasrah dan menatap wajah mereka di cermin wastafel. Anjani merasa gugup, ia tidak pernah berduaan dengan siapapun.

"Maaf merepotkan,"

Arnold tersenyum tipis. "Kalau butuh bantuan, jangan diam saja." tegur pria itu dengan mengelus tengkuk Anjani dengan usil.

"Arnold!" pekik Anjani.

Arnold bergegas keluar dan menatap pantulan dirinya di cermin rias. Ia harus mengatakan sesuatu kepada Anjani sebelum terlambat.

"Arnold, bersihkan lah diri mu."

Arnold menoleh dan di buat menelan Saliva oleh Anjani. Gadis yang ia nikahi sekarang berada tepat di depannya, dengan pakaian yang tipis dan tembus pandang. Arnold dapat melihat dengan jelas lekuk tubuh gadis itu.

"Hanya ada ini di kamar mandi. Aku lupa membawa baju,"

Arnold mendekat dan menatap lekat mata Anjani. Ia benar-benar tersihir dengan kecantikan gadis di hadapannya.

CUP ....

Anjani membulatkan matanya. Ia terkejut setengah mati karena Arnold tiba-tiba mencium bibirnya tanpa aba-aba. Arnold menahan dagu sang istri dan sedikit melumat bibir ranum itu. Anjani yang bingung, langsung memukul dada telanjang pria itu. Ia kehabisan napas.

"Maaf, aku reflek." kata Arnold mengusap bibir Anjani yang di penuhi air liurnya. Anjani merasakan pipinya memanas dan tubuhnya juga tidak baik.

"Anu ... Aku sedikit kedinginan," gumam Anjani. Arnold mengeluarkan kemejanya dan meminta Anjani untuk berganti. Arnold tidak akan melakukan dengan cepat.

Setelah berganti pakaian kembali, Anjani mendekati Arnold yang terdiam di teras kamar. Mendudukkan dirinya, dan memejamkan matanya sejenak.

"Ada yang ingin aku katakan." Anjani melirik kembali dan mengangguk. "Aku ingin pernikahan kita permanen,"

DEG ....

"Apa?"

Arnold mengangkat tubuh Anjani agar duduk di atas pangkuannya. "Aku ingin pernikahan kita tanpa di dasari aliansi apapun, Sayang. Tanpa ada kontrak nikah atau apapun itu,"

"Tapi kamu bilang ...."

"Benar, aku menginginkan keturunan dengan mu tapi aku berubah pikiran. Aku awalnya berniat membuat janji kontrak, tapi aku berubah pikiran." sela Arnold membuat Anjani terdiam sebentar.

Itu artinya ia salah mengartikan. Ia mengira Arnold menawarkan tawaran itu kepadanya, dengan janji kontrak nikah. Anjani menjadi bingung harus merespons apa kepada pria di hadapannya.

"Aku menyukai mu, Anjani."

Arnold langsung mencium kembali, meraup ganas bibir ranum yang benar-benar membuatnya kecanduan. Anjani tanpa sadar, mengalungkan tangannya di leher dan membalas ciuman itu dengan pelan.

Arnold menyunggingkan senyum manis dan merapatkan tubuh mereka. Anjani tak menolak, sentuhan yang di berikan oleh Arnold membuat terbuai bukan main.

"Ayo kita di dalam saja,"

Anjani digendongnya ke dalam dan menidurkannya secara perlahan di ranjang mereka. Hawa dingin itu berubah menjadi panas penuh sensasi. Melihat Anjani yang yang menolak sentuhannya, membuatnya semakin senang bukan main.

"Tahan sebentar, Sayang."

1
partini
pesikopet dia mah ,najani the next korban berikutnya OMG moga aja ga methong
partini
tekdung
partini
dua puluh tahun masih SMA Thor sehhh
partini: ok ,, soalnya jarang sih Thor di tempat ku lulus SMA umur 20th kebanyakan 18 dan 19 th
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!