Dunia Sarah Wijaya jungkir balik setelah mendapat pelecehan dari seorang pria yang begitu ia segani dan hormati.Sebanyak asa yang mebumbung angan seakan sirna menjadi sebuah kemalangn. “Pergi! Menjauhlah dari hidupku selamanya”.Sarah wijaya “Jangan membenci takdir,maaf,kalau aku hanya singgah bukan untuk menetap”.Lingga Pratama. Tiada tebusan yang paling berharga atas rasa sakit tidak dianggap oleh seorang yang begitu diharapakn kehadirannya.Waktu telah merubah segalanya,membawa Lingga dalam penyesalan tam berujung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Hada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Hancur seketika hidup Sarah dibuat oleh seorang Lingga pratama. Jemarinya mencengkeram kuat penuh amarah dan dendam. Lingga adalah pria yang paling Sarah benci seumur hidup.
“Semua gara-gara kamu, Lingga, dasar brengsek! Bajingan!” batin Sarah mengeram penuh dendam.
Sore harinya,Bu Maryam baru ngeh kalau putrinya tidak kluar. Kamar yang terkunci dan tertutup rapat, serta tidak ada bekas sepatu atau pakaian kotor hari itu membuat ibu dari satu anak itu yakin kalau Sarah memang tidak baik-baik saja.
Perempuan itu mengetuk pintu pintu kamar putrinya. Berkali-kali tak ada sahutan, membuat perempuan itupun masuk dengan membukanya pelan.
“Sarah, kamu di dalam? Ibu masuk ya!” Seru perempuan itu mendekati ranjang yang nampak berantakan. Sarah sebelumnya tidak pernah begini jika meninggalkan kamar. Ibunya semakin yakin kalau putrinya tengah ada masalah.
“Kemana dia, kenapa pergi tidak pamit?” guman Bu Maryam bertanya dalam hati. Merogoh ponsel di saku dasternya, lalu melakukan panggilan ke nomor putrinya.
Perempuan itu menoleh kala mendengar deringan telpon itu ada di meja belajar yang cukup tak enak di pandang mata. Ponsel Sarah terdampar di bawah tumpukan buku dan barang lainnya. Sarah meninggalkannya begitu saja, artinya dia tidak pergi jauh. Kalau pergi pasti ponsel kesayangannya itu tidak mungkin tidak di bawa.
Usut punya usut Sarah tengah menyendiri di taman belakang. Tepatnya pinggir kolam kesayangan pak Regan. Ia duduk termenung sembari menutup kedua telinga dengan earphones. Tidak begitu jelas yang dia dengarkan. Namun, ia ingin bersembunyi di sana sambil menangis.
“Kalau hidupku tidak berguna lagi,percuma aku ada di sini. Ibuku pasti malu punya anak seperti diriku.” batin Sarah dalam kebimbangan. Ia ingin sekali pergi dan menghilang, tetapi bagaimana dengan kuliahnya. Ia bahkan begitu bersemangat dan rajin agar bisa segera lulus tepat waktu. Bahkan lebih cepat di semester tujuh.
Rasanya kepala Sarah semakin berdenyut kalau memikirkan itu semua. Sialnya, ia mendadak mual dan muntah. Perempuan itu menepi tepat di pinggir kolam sembari mual-mual.
“Mbak Sarah sakit?” Sapa seseorang dari balik punggungnya. Ia pikir itu adalah tempat ternyaman, dan terhening di luasnya halaman rumah itu. Namun, suara di belakang dirinya mematahkan argumen itu. Mau merasa terusik, tidak pantas mengingat dirinya hanya menumpang.
“Eh, mas Naka?” Sarah terperangah mendapati putra kedua pak Regan yang super kalem itu tiba-tiba muncul di belakangnya.
Pemuda itu memang beda, ia selalu ramah menyapa dirinya walau status strata mereka berdeda. Sama persih seperti kedua orang tuanya yang sangat amat bersahaja.
“Iya, mampir bentar mbak, mbak Sarah sakit? Kok aku liat tadi mual-mual di situ?” tanya Naka kepo. Memperhatikan wajah gadis di depannya yang terlihat pucat.
“Kurang enak badan,” jawabnya tersenyum. Tidak mungkin juga ia berkata jujur. Ia bahkan tidak begitu peduli kalaupun dirinya sakit dan pucat. Sarah benar-benar putus asa.
“Sudah minum obat?” tanya Naka memastikan.
“Nanti saja,” jawab Sarah mengangguk dengan senyuman.
Naka pun pamit ke dalam, ia berujar mengambil obat untuk Sarah di rumahnya. Merasa kasihan setelah melihat Sarah muntah-muntah dan terlihat begitu pucat.
“Cari apa, Ka? Kamu sakit?” tanya Lingga mendapati adiknya di dekat kotak obat.
“Obat buat Sarah, dia kayaknya sakit, kasihan dia mual-mual di kolam belakang. Mana wajahnya pucat banget,” jawab Naka sembari sibuk mengobok kotak obat.
Lingga hanya merespon datar. Tidak begitu peduli dengan cuitan adiknya yang tidak penting itu. Ia pun berlalu begitu saja. Namun, saat hendak menaiki tangga. Handphone di tanganya berdering menandakan sebuah panggilan masuk. Pria itu menerimanya sambil berjalan keluar untuk mendapatkan sinyal yang bagus.