Cwen Arabelle, seorang anak berusia 7 tahun lelah mendengar mama dan ayahnya bertengkar, akhirnya berusaha menjodohkan mamanya dengan seorang guru di sekolahnya yang terlihat masih sangat muda.
"Paman, paman mau tidak menjadi papa untuk Cwen?" tanya Cwen memamerkan gigi kelincinya kepada guru favoritnya di sekolahan.
"Paman tenang saja, Cwen akan segera meminta mama dan ayah berpisah agar paman bisa menikah dengan mama dan menjadi papa untuk Cwen."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KUJODOHKAN MAMA DENGAN PAK GURU MUDA : Bagian 15
Ansel menghela napasnya, entah sudah keberapa kali ia mencoba tidak memotong topik yang sedang dibicarakan antara keluarganya dan juga keluarga Bella. Lagi-lagi masalah perjodohan itu, Ansel sudah pernah berbicara kepada kakak perempuannya yang tinggal di Singapore. Menceritakan masalahnya, dan persis seperti yang Ansel harapkan saat ia bercerita kepada kakaknya itu.
Kakaknya mengatakan.
“Kalau kamu tidak suka dengan perjodohannya, kamu berhak nolak, kalian berbeda bahasa juga, kan? Bella tidak bisa bahasa Indonesia dan kamu pun tidak bisa bahasa Jerman, kalau seperti ini, bagaimana caranya kalian bisa dekat jika berkomunikasi juga tidak bisa.”
Hari ini Ansel akan dengan tegas menolak, bukannya Ansel tidak menghargai ayah dan bundanya, bukan juga karena ia tidak suka dengan keluarga Bella. Tapi karena ia tidak suka dengan perjodohan itu, katakan saja Ansel belum siap secara batin untuk menikah dengan Bella.
“Bagaimana Ansel, kamu mau belajar bahasa Jerman dulu sambil mencoba pendekatan atau mau tunangan dulu lalu mulai belajar bahasa Jerman di Jerman langsung?” pertanyaan ayahnya langsung membuat lamunan Ansel buyar.
Tunggu? Apa tadi? Belajar bahasa Jerman di Jerman langsung? Maksudnya Ansel harus meninggalkan pekerjaan sebagai gurunya di sini? Kalau itu, tentu saja Ansel Akan langsung menolak, menjadi guru adalah impiannya, dan Ansel tidak bisa meninggalkan pekerjaan yang sangat dicintainya ini, belum lagi Ansel tidak bisa meninggalkan satu muridnya yang paling spesial.
“Maaf yah, bukannya Ansel tidak menghargai niat baik ayah dan juga kelaurga Bella, tapi Ansel benar-benar tidak bisa menerima perjodohan ini, Ansel juga tidak mau jika harus meninggalkan pekerjaan yang sangat Ansel sukai di sini,” ucap Ansel dengan suara tegasnya.
Hening. Ruangan di sana mendadak sangat hening begitu Ansel dengan tegasnya menolak perjodohan itu. Ansel tidak bisa, benar-benar tidak bisa, apalagi perbedaan bahasa mereka yang akan semakin menyulitkan mereka di masa depan nanti, lagi pula Ansel tidak tertarik dengan Bella.
“Kenapa?”
Bukan. Bukan ayah atau bunda Ansel yang bertanya? Tapi mama Bella, rupanya mama Bella sedikit paham dengan apa yang Ansel katakan, yang intinya Ansel menolak perjodohan putrinya dengan Ansel.
Ansel sendiri sedikit terkejut mengetahui mama Bella ini cukup paham apa yang mereka bicarakan dan juga langsung paham penolakan tegas Ansel. Karena selama ini, mama Bella ini terlihat sangat pendiam, bahkan lebih banyak diam.
Ansel menarik napasnya dalam-dalam sebelum menjawab mengapa ia menolak perjodohan ini. Ansel berusaha untuk menjawab dengan jawaban yang cukup memuaskan dan tidak menyakiti pihak keluarga paman Angga.
“Sebelumnya, maafkan Ansel paman, bibi dan juga Bella,” Ansel melirik Bella sebentar yang di mana gadis itu hanya diam saja, “Ansel tidak bisa menerima perjodohan ini karena perbedaan bahasa diantara Ansel dan Bella, itu sudah cukup menjelaskan bagaimana ke depannya jika kita mennginginkan komunikasi, dan yang paling utama adalah, Ansel tidak bisa meninggalkan pekerjaan Ansel di sini, menjadi guru adalah impian Ansel sejak Ansel kecil, lagipula Bella terlihat tidak setuju juga dengan perjodohan ini, semoga penjelasan Ansel ini cukup untuk membuat paman dan bibi mengerti,”
Paman Angga langsung tersenyum lembut, tidak ada raut marah ataupun kecewa yang Ansel lihat, “Paman juga minta maaf karena memaksakan kehendak ini, memaksakan perjodohan ini. Paman sangat mengerti dengan penolakan yang Ansel katakan, dan untuk ini, paman dan bibi akan langsung membatalkan perjodohan ini,”
Ansel menghela napas lega. Akhinya. Tanpa perlu drama atau pemaksaan yang lebih, paman Angga membatalkan perjodohan itu, Ansel juga melihat wajah lega ayah dan bundanya, orang tuanya juga langsung meminta maaf kepada paman Angga dan juga bibi, bahkan kepada Bella yang lebih banyak diam, tidak tertarik dengan pembahasan mereka.
***
Ansel pulang ke apartemennya dengan pikiran yang sudah lebih jernih, ia tidak perlu lagi memikirkan masalah perjodohan itu sampai harus mengganggu tidur malamnya. Rasanya lega sekali, membuat Ansel tanpa sadar tersenyum sepanjang perjalanan menuju apartemennya.
Tapi senyum itu tidak bertahan lama.
Karena ketika Ansel baru saja sampai di depan pintu apartementnya. ia langsung di hadapkan dengan suara tangisan dari apartement yang di tempati jenia, bahkan pintu apartemennya pun terbuka lebar.
“Permisi!”
Tidak ada sahutan, Ansel malah mendengar suara tangisan Cwen yang begitu keras, karena panik, dan Ansel tidak berfikir lagi, ia masuk ke dalam apartemen itu dan menutup pintunya, kakinya melangkah cepat menuju sebuah pintu yang sedikit terbuka.
Begitu ia membuka pintunya ,ia melihat Jenia yang tengah berbaring di ranjang dan Cwen yang menangis histeris memeluk tubuh ibunya.
Ansel langsung berjalan mendekat, “Cwen ada apa?”
Cwen yang mendengar suara Ansel langsung melepaskan pelukan dari mamanya dan berbalik menatap Ansel, masih dengan tangisannya.
“Pak guru, tolong mama, tolong mama pak guru,” Cwen kembali menangis histeris, Ansel menatap Jenia yang tertidur kaku di atas ranjang, dan Ansel baru sadar jika di sekitaran mulutnya terdapat busa.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Ansel langsung menggendong tubuh Jenia dan memerintahkan Cwen agar mengikutinya, ia tidak mungkin meninggalkan Cwen di apartement sendiri, juga menitipkannya kepada tetangga yang di mana jam segini mereka masih berada di tempat kerjanya.
Cwen berlari mengikuti Ansel dari belakang, tangisannya masih juga belum berhenti membuat beberapa orang yang sedang berada di lobby memusatkan perhatiannya kepada Ansel yang sedang menggendong Jenia juga kepada Cwen yang berlari di belakang Ansel sembari menangis.
Ansel langsung memasukkan Jenia ke dalam mobil, di susul oleh Cwen yang masuk tanpa diperintah, Ansel sendiri memastikan keamanan dulu untuk keduanya agar selama perjalanan, tidak ada hal lebih buruk yang terjadi.
Sebenarnya Ansel panik, tapi ia berusaha keras terlihat tenang agar tidak semakin membuat Cwen histeris.
“Cwen jaga mama selama kita dalam perjalanan ke rumah sakit, oke!”
Cwen hanya mengangguk, lalu mendekatkan duduknya dan memeluk mamnya, kembali menangis. Ansel langsung menginjak pedal gas, tidak punya waktu, ia memutuskan ke rumah sakit terdekat yang tidak terlalu besar.
“Mama,” teriak Cwen semakin histeris.
Ansel yang sedang menyetir menjadi gagal fokus, ia melirik lewat kaca spionnya dan terkejut melihat ada lebih banyak busa yang keluar dari mulut Jenia, tubuhnya sedikit kejang membuat Ansel langsung menginjak gasnya, mempercepat laju mobilnya agar cepat sampai di rumah sakit.
Semakin Cwen menangis histeris, semakin Ansel panik, ia bahkan langsung memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk ruangan UGD.
Melihat ada mobil yang berhenti di depan sana, beberapa orang perawat paham dan langsung membawa brangkar rumah sakit tepat ke arah mobil yang berhenti itu. Sudah di pastikan jika ada mobil yang berhenti di sana, seseorang dalam keadaan darurat dan membutuhkan pertolongan yang cepat.
“Pak guru mama, hiks,” Ansel menarik Cwen ke dalam gendongannya begitu ia selesai membaringkan Jenia di atas brangkar. Ansel berjalan cepat mengikuti para perawat yang membawa lari brangkar Jenia ke UGD.
seru ceritanya