Kehidupan setiap orang tidak sama, jodoh, maut rezeki. Semua orang mendapatkan kadar yang berbeda.
Syaren, terpaksa menikah dengan Dimas, demi melindungi kakaknya, Yumna. Dia tahu, pernikahan ini bukan hal yang indah, Dimas hanya menginginkanya, hanya untuk bersenang-senang.
Bagaimana nasib Syaren? Apakah dia bisa menua bersama Dimas? Atau garis kehidupannya mengujinya lebih kejam lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Pengalaman Indah
"Kalau pria dan wanita berduaan di satu ruangan, yang ketiganya syetan bi!!" Teriak Syaren."
"Nda apa-apa ada Syetan, kan ada Romeo yang jagain non dari Syetan," seru Anik.
"Bibi!" Teriak Syaren. Tapi percuma, Anik dan Ainah tetap pergi.
"Hey, cepat masak!! Apa kau yang akan aku masak!" Seru Dimas.
Syaren segera memulai memasak. Dia memasak dua porsi telur dadar dan satu piring capcai ngasal, karena ia masak asal-asalan. Dimas memandangi Syaren yang sibuk memasak. Setelah selesai, Syaren langsung menata makanan yang dia masak, di meja makan.
Dimas mengikuti Syaren.
"Apa ini?" Tanya Dimas.
"Makanan!!" Sahut Syaren.
Syaren membawa dua piring nasi, dia duduk, dan mulai menikmati makannya.
Dimas memandangi Syaren yang begitu menikmati, makananya. "Hei, kau tak menawariku?"
"Tuan, ini makanannya. Jika anda mau silakan makan, kalau tidak, mending anda pulang sana." seru Syaren.
"Sialan! Dia berani padaku, awas kau!" gerutu batin Dimas, dia tetap berusaha mengukir senyuman di wajahnya.
Dimas langsung duduk dan mulai makan. Dia terus melihat Syaren yang terus melahap makanannya, Dimas, meraih telor dan sayurnya dan mulai menyendok makanannya, dan perlahan memasukan makanan itu kemulutnya.
Dimas tersenyum, dia makan dengan lahap, entah karena makanannya enak, atau karena memang lapar. Masakan Syaren habis dia makan, piring Syaren di ambil Dimas, lalu dia pindahkan separunya ke piringnya.
Syaren menggeleng melihat hal itu. Syaren memandangi wajah Dimas.
"Terima kasih," ucap Dimas.
Syaren terkejut dengan ucapan Dimas. Melihat Keadaan, Dimas, sangat mudah untuk di kerjai, karena tidak ada Joan di samping Dimas, pikiran nakal Syaren muncul.
"Jangan terima kasih doang! Balas kek!" Seru Syaren.
"Balas dengan apa? Ciuman?" Goda Dimas.
"Otak mesum!! Antar aku belanja!" Pinta Syaren.
"Apa? Aku tak pernah! dan aku tak mau!!" Jawab Dimas, langsung.
"Benarkah ... tadinya aku ingin menunjukan padamu, bagaimana orang-orang di bawah seperti kami menghabiskan waktu dengan calon suami mereka," goda Syaren.
Dimas menatap tajam kearah Syaren. "Dia ingin mengerjaiku, baiklah, sampai mana kamu ingin mempermalukan aku, ingat saja, setelah menikah, aku yang berkuasa," Dimas menggerutu dalam hati.
"Kalau begitu, ayoo, aku siap mengantarmu."
"Benarkah?" Wajah Syaren nampak sangat bahagia.
Dimas memganggukan kepalanya.
"Tunggu sebentar." Syaren langsung berlari menuju lantai atas, tidak lama ia kembali, membawa satu lembar baju.
"Ganti bajumu sayang," pinta Syaren, dengan nada yang begitu manja.
"Apa? Aku tidak mau, bajuku masih bagus sayang ...." sahut Dimas.
"Kalau kau pakai baju begini ke pasar, yang ada aku susah belanja."
Dimas terpaksa membuka jasnya, perlahan dia melepas baju atasaannya.
Syaren terkejut melihat Dimas yang begitu santai, melepas baju, di depan matanya. Matanya dengan jelas melihat tubuh Dimas. "Kenapa kau ganti baju di depan mataku? Di sana kamar tamu, kau bisa ganti baju di sana!"
"Apa bedanya?" Goda Dimas. Dia langsung memakai baju kaos, yang Syaren bawa, untuknya.
"Wah ... kamu tampan sekali sayang."
"Sayang?! Bagus juga, kau ada kemajuan."
Syaren sangat puas, mengerjai Dimas. "Seru juga mengerjai mahkluk luar angkasa ini." batin Syaren.
Dimas menatap tajam pada Syaren. "Dia sangat puas mengerjaiku, lakukan apa yang kau suka, karena setelah menikah, aku yang melakukan apa yang aku suka." batin Dimas.
Syaren menyadari, tatapan mata Dimas. "Wah, kamu sangat ganteng memakai pakaian biasa." rayu Syaren.
Dimas mendekati Syareh, kini mereka berdua berdiri berhadapan. "Benarkah, kau harus memberi aku hadiah."
"Hadiah?" Syaren berpikir.
"Iyaaa," tanpa aba-aba, Dimas langsung menyatukan bibirnya dan bibir Syaren.
Syaren refleks mendorong tubuh Dimas, agar menjauh darinya.
"Kau!!" Wajah Dimas terlihat kesal.
"Bukan begitu maksudku, aku akan memberimu kamu hadiah, yaitu pengalaman baru, ayo kita berangkat." Syaren berharap Dimas tidak marah.
"Boleh juga."
Syaren merasa sangat lega. "Aku pamit sama bibi ya," ucapnya.
Syaren mendatangi para pembantunya. "Bi, aku sama Dimas pergi."
"Iya non," jawab ketiga pembantu bersamaan.
"Sayang ... yukk berangkat!" Seru Syaren.
Dimas langsung meraih kunci mobilnya.
"Sayang ... pakai mobil butut aku ya, pleas ...." rengek Syaren
Dimas mengalah. "Ayoo kita lihat, sejauh mana kekurang ajaran kamu, sama aku." batin Dimas.
Mereka berdua melangkah bersama, keluar rumah.
"Sayang, kamu yang nyetir ya." pinta Syaren, dia melemparkan kunci mobilnya, pada Dimas.
Dimas langsung menagkap kunci mobil yang Syaren lempar. Mereka berdua langsung masuk kedalam mobil.
"Sayang ... kamu itu laki-laki pertama, yang naik mobil ini," ucap Syaren.
Dimas memasang senyuman di wajahnya, menutupi kekesalannya.
"Ayo jalan sayang, nanti aku beritahu arahnya." seru Syaren.
Dimas perlahan, mulai melajukan mobilnya.
pertama kali juga Dimas menyetir mobil yang bukan miliknya. Syaren dan Dimas pergi meninggalkan rumah Syaren.
Beberapa saat, setelah Syaren dan Dimas pergi, Reyhan pulang, dia bingung, karena ada mobil Dimas di halaman rumahnya. Reyhan langsung masuk, dia langsung menuju ruang keluarga, hatinya begitu kacau, saat melihat baju Dimas ter onggok di sofa.
Reyhan panik, dia segera menuju tangga, perkiraannya, Syaren dan Dimas ada di kamar Syaren.
"Tuan Rey," sapa Neneng.
"Iya Bi," Reyhan menghentikan langkahnya.
"Non Syaren dan calon suaminya, pergi ke pasar."
Reyhan lega, mendengar kalau Syaren dan Dimas kepasar. Perasaannya tenang kembali.
"Iya bi, saya mau istirahat dulu." Reyhan kembali melanjutkanlangkahnya, untuk menuju kamarnya.
***
Di pasar.
Syaren sangat puas mengerjai Dimas, dia yakin, Dimas tidak pernah melakukan hal ini. Sedang Dimas mengukir senyuman di wajahnya, namun hatinya mengutuki Syaren, merencanakan pembalasan yang setimpal.
Kekesalan Dimas makin memuncak, Syaren membawanya makan di warung pinggir jalan. Dimas terlihat takut memakannya.
"Sial! Sepertinya dia ingin membunuhku, dengan makanan ini. Tapi kita lihat nanti." gerutu batin Dimas, dia mulai menyendok makanannya, memasukkan sendok yang berisi makanan ke mulutnya.
"Hem, enak, tidak buruk." Dimas menikmati makanan yang dia makan.
"Bagaimana sayang?" Tanya Syaren.
Dimas menjawab dengan senyumannya, dia kembali memakan makanannya.
"Ya Tuhan ... mengapa senyumannya begitu manis," batin Syaren.
Selesai makan mereka langsung pulang.
Mobil Syaren terparkir di halaman rumah, mereka masih bertahan dalam mobil.
"Makasih sayang ... ini pengalaman pertamaku, dan ini pengalaman yang indah," ucap Dimas. Dia memandangi wajah Syaren, Syaren juga membalas pandangan Dimas.
Syaren berusaha tersenyum, menutupi perasaannya saat ini. "Kenapa hatiku? Apa yang terjadi di dalam sana? tak bisa di ajak kompromi?" Batin Syaren.
Dimas semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Syaren. Syaren bagai terhipnotis, dia juga semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Dimas, seakan ada magnet yang menarik keduanya.
Semakin dekat, hingga kedua bibir itu bertemu, tenggelam pangutan mereka. Merasa ada sesuatu yang aneh dalam dirinya, Syaren menarik wajahnya. "Ayoo masuk kedalam, sepertinya di dalam ada kak Reyhan." ucapnya berusaha untuk tenang.
Mereka berdua masuk kedalam rumah, terlihat Reyhan duduk santai di sofa yang ada di ruang tamu itu.
"Hei Dimas," sapa Reyhan.
"Hai kak Reyhan ... sepertinya aku harus membiasakan untuk mulai memanggilmu kakak," sapa Dimas"
Reyhan tersenyum, menanggapi ucapan Dimas.
"Aku permisi dulu, aku mau kedapur." sambil meng isyarat pada belanjaan yang dia pegang. Syaren meninggalkan Dimas dan Reyhan.
"Mari duduk," kata Reyhan,
Dimas duduk di sofa tamu. Reyhan baru sadar, melihat baju kaos yang Dimas kenakan, adalah miliknya.
"Eh, itu kan bajuku? Syaren keterlaluan, kaos kesayanganku," batin Reyhan.
Reyhan berusaha tenang, walau hatinya kesal. "Supermarket mana tadi Dim?" Tanya Reyhan.
"Kepasar," sahut Dimas.
"Apa?? Pasar??" Reyhan tidak menyangka, Syaren benar-benar menyeret seorang petinggi Emanuel Group ke pasar.
"Maafin adik aku Dim, dia pasti lupa siapa kamu." Reyhan merasa bersalah karena ulah Syaren.
Dimas hanya mengukir senyuman di wajahnya. "Saya izin pamit," serunya.
"Iya Dimas, makasih ya sudah mau melayani keusilan Syaren," seru Reyhan.
"Tunggu!" Syaren datang membawa baju yang di kenakan Dimas sebelumnya.
"Ini baju kamu sayang," Syaren menyerahkan baju Dimas.
"Oh iya, terima kasih." Dimas menerima bajunya yang Syaren serahkan padanya.
"Sama-sama sayang, hati-hati ya." Syaren sengaja memeluk Dimas, di depan mata Reyhan.
"Syaren!!" Reyhan berteriak, menegur adiknya itu.
Syaren sengaja membuat kakaknya kesal, dia semakin mengencangkan pelukannya pada Dimas.
"Ya ampun Syaren ...." Reyhan semakin kesal dengan kelakuan Syaren.
Syaren menarik kedua ujung bibirnya, membuat senyuman yang sangat dia paksakan, menanggapi kakaknya itu.
Syaren kembali memandang Dimas. "Hati-hati di jalan sayang ...." seru Syaren.
Melihat wajah Reyhan yang nampak tidak senang. Sedang Syaren terbersit pikiran untuk mengerjai kakaknya itu. Syaren medekatkan wajahnya pada wajah Dimas.
Cup!
Satu ciuman dari bibir Syaren mendarat di pipi Dimas, setelah melakukan itu, Syaren langsung kabur dari hadapan Reyhan, dia berlari kelantai atas dan langsung bersembunyi di kamarnya.
"Syaren!" Teriak Reyhan. Dia sangat marah melihat kelakuan adiknya itu.
"Hem ... ternyata hal ini yang membuatmu, mengajukan syarat agar kita menikah, ternyata kakakmu begitu kolot!! Kau memelukku saja, dia marah bukan kepalang, baiklah Syaren, aku pastikan kamu menderita karena membuatku repot, dengan syarat yang kamu ajukan padakaku." Batin Dimas.
Dimas menatap wajah Reyhan, dan wajah Syaren bergantian.
"Aku tidak sabar untuk menyiksa kamu, sedang kau Rey, kita lihat, apa kau bisa melepaskan adikmu dari cengkramanku," lirih hati Dimas.
gampil bingittt