Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cermin Retak di Jantung Pandora
Udara di dalam Core Zero mendadak terasa hampa, hanya menyisakan aroma ozon yang tajam dari jeruji laser yang mengurung Arkan. Cahaya biru elektrik dari tabung-tabung pendingin memantul di kacamata Hendra, membuatnya tampak seperti hantu tanpa jiwa. Pria yang selama sepuluh tahun melatih Liana memegang senjata, yang mengobati luka Arkan, kini berdiri sebagai dalang dari segala kiamat digital ini.
"Kenapa, Pak Hendra?" suara Liana bergetar, namun matanya menatap tajam.
"Semua latihan itu... semua bantuan di Sektor Selatan... itu semua bohong?"
Hendra tertawa kecil, melangkah mendekati konsol utama yang menampilkan persentase sinkronisasi. 99%. "Bukan bohong, Liana. Itu adalah investasi. Aku butuh kalian kuat agar bisa menembus pertahanan Elena. Dia terlalu emosional, terlalu terobsesi pada dendam pribadi. Aku butuh instrumen yang murni seperti kalian untuk mengantarkan kunci Phoenix langsung ke tanganku."
Arkan menghantamkan tinjunya ke dinding laser, namun percikan listrik bertegangan tinggi melemparkannya kembali ke lantai. "Kau membiarkan ibuku menjadi monster agar kau bisa terlihat seperti malaikat penolong bagi kami!"
"Tepat sekali, Arkan," Hendra menekan sebuah tombol, dan sebuah layar besar di atas mereka menampilkan sosok Elena Dirgantara yang terkurung di sebuah sel kaca di lantai bawah.
Wajahnya pucat, matanya kosong—ia telah dikhianati oleh arsiteknya sendiri.
"Ibumu hanyalah tameng. Sekarang, Liana... berikan perangkat 'Dead-Drop' itu padaku. Jika kau melakukannya, aku akan mematikan laser ini dan membiarkan kalian berdua pergi ke Sektor Selatan untuk hidup tenang."
Liana menatap Arkan yang berusaha bangkit, tubuhnya gemetar akibat sengatan listrik. Lalu ia menatap perangkat di pergelangan tangannya. "Jika aku memberikannya, kau akan mematikan seluruh dunia."
"Aku akan mengatur dunia, Liana. Tidak ada lagi perang mafia, tidak ada lagi kemiskinan sistemik. Semua di bawah kendali algoritma yang adil," bujuk Hendra dengan suara kebapakan yang kini terasa memuakkan.
"Jangan, Liana!" teriak Arkan. "Dia tidak akan membiarkan kita hidup! Begitu dia punya kodenya, kita hanyalah saksi yang harus dimusnahkan!"
Tiba-tiba, alarm sistem berbunyi melengking. Lampu merah berputar liar.
WARNING: EXTERNAL BREACH DETECTED. UNIT 9 HAS ENTERED THE PERIMETER.
Hendra mendesis kesal. "Varo... dia selalu terlalu cepat. Liana, putuskan sekarang! Sepuluh detik, atau Arkan akan terpanggang!"
Liana melangkah maju. Ia melepaskan perangkat 'Dead-Drop' dari pergelangan tangannya. Tangannya gemetar saat ia menyodorkannya ke arah Hendra. Namun, tepat sebelum Hendra meraihnya, Liana menatap mata Arkan dan memberikan kode rahasia melalui gerakan jemari—sebuah bahasa isyarat yang diajarkan Hendra sendiri untuk situasi "pengorbanan taktis".
Arkan mengerti. Ia menahan napas dan memejamkan matanya rapat-rapat.
Liana tidak memberikan perangkat itu ke tangan Hendra. Ia menghantamkan perangkat itu ke lantai tepat di bawah jeruji laser Arkan.
BOOM!
Perangkat 'Dead-Drop' itu ternyata telah dimodifikasi oleh Liana saat di kapal selam tadi. Bukannya berisi kode deksripsi, itu adalah pemantik gelombang elektromagnetik jarak pendek yang tidak stabil. Ledakannya tidak besar, tapi cukup untuk menciptakan feedback energi yang menghancurkan sirkuit laser pengurung Arkan.
Arkan melompat keluar dari kurungan tepat saat laser itu meledak. Ia berguling di lantai, menyambar pistol HK416 miliknya yang tergeletak, dan melepaskan rentetan tembakan ke arah konsol utama.
"TIDAK!"
raung Hendra. Ia mencoba menekan tombol Override, namun Arkan lebih cepat. Sebuah peluru mengenai bahu Hendra, membuatnya terpelanting ke belakang.
Liana segera berlari ke arah konsol, jarinya menari liar di atas keyboard.
"Arkan, sinkronisasi berhenti di 99.9%! Tapi sistemnya terkunci dalam loop! Aku tidak bisa mematikannya tanpa kode fisik dari biometrik Elena!"
"Gunakan aku!" Arkan mendekati panel pemindai, namun sistem menolak.
DNA MATCH: 50% - ACCESS DENIED.
"Harus Elena," bisik Arkan. Ia menatap ke arah lubang lift menuju sel bawah tanah. "Liana, jaga konsol ini. Aku akan menjemput ibu."
Arkan berlari menembus asap dan api menuju lantai bawah. Di sana, ia menemukan Elena yang terduduk di pojok sel kaca. Wanita yang dulu ia benci dengan segenap jiwa, kini tampak rapuh dan hancur.
"Ibu..." Arkan memecahkan kaca sel dengan tembakan.
Elena mendongak, matanya berkaca-kaca. "Arkan? Kenapa kau kembali? Hendra sudah merencanakan ini sejak awal... dia yang membunuh ayahmu, bukan aku yang memerintahkannya. Dia ingin menghapus semua keluarga Dirgantara agar dia bisa memiliki Phoenix."
"Kita bicarakan itu nanti," Arkan memapah Elena. "Aku butuh kau mematikan sistem itu. Sekarang!"
Mereka kembali ke Core Zero tepat saat pasukan Unit 9 yang dipimpin Varo meledakkan pintu utama. Pertempuran pecah di dalam ruangan antara tentara bayaran Hendra dan pasukan Varo. Di tengah hujan peluru, Arkan membawa Elena ke konsol utama.
Liana memberikan ruang bagi Elena. Tangan wanita itu gemetar saat ia menempelkan telapak tangannya ke pemindai biometrik.
DNA MATCH: 100%. ACCESS GRANTED. SYSTEM SHUTDOWN INITIATED.
Seluruh server di Pulau Pandora mulai mati satu per satu. Cahaya biru meredup menjadi kegelapan. Proyek Phoenix hancur menjadi tumpukan data sampah yang tidak berguna.
Namun, Hendra, yang bersimbah darah di lantai, tertawa parau sembari memegang sebuah pemicu kecil. "Jika aku tidak bisa memimpin dunia baru... maka dunia lama ini harus ikut terkubur bersamaku."
Hendra menekan tombol itu.
SELF-DESTRUCT SEQUENCE ACTIVATED. T-MINUS 60 SECONDS.
"Varo! Evakuasi semua orang!" teriak Arkan.
Mereka berlari menuju landasan helikopter di puncak menara. Elena tertatih-tatih, didukung oleh Arkan. Saat mereka mencapai helikopter Unit 9, Elena berhenti di depan pintu.
"Arkan... pergilah," ucap Elena lembut, suaranya terdengar seperti ibu yang Arkan ingat sepuluh tahun lalu. "Dunia tidak butuh Elena Dirgantara lagi. Aku adalah bagian dari kegelapan ini. Aku harus tetap di sini agar kalian bisa benar-benar bebas."
Ibu, jangan gila!" Arkan mencoba menariknya masuk, namun Elena mendorongnya kuat-kuat ke dalam pelukan Liana di dalam helikopter.
"Liana... jaga dia," bisik Elena. "Maafkan aku untuk Sektor Selatan."
Pintu helikopter tertutup otomatis. Varo memberikan perintah lepas landas. Dari jendela, Arkan melihat Elena berdiri tenang di tengah badai, menatap helikopter yang menjauh, tepat saat seluruh Pulau Pandora meledak dalam cahaya putih raksasa yang menelan segalanya.