NovelToon NovelToon
Istri Kepala Desa

Istri Kepala Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.

​Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 21

***

Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur Desa Sukamaju, menyisakan sisa-sisa embun yang membasahi kaca jendela rumah pribadi Bagas. Kejadian di sepertiga malam tadi meninggalkan jejak emosional yang mendalam. Bagas tidak membiarkan Laras kembali ke ranjang utama yang penuh sesak oleh anak-anak. Ia menyelimuti istrinya di sofa ruang tengah, sementara ia sendiri terjaga, duduk di lantai sambil menyandarkan kepala di pinggiran sofa, menjaga setiap tarikan napas Laras.

Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Baru saja Laras mencoba memiringkan tubuhnya, wajahnya kembali meringis. Perutnya mengeras, membentuk gumpalan yang sangat menonjol dan terasa nyeri.

"Nngghh... Mas... sakit lagi," rintih Laras, tangannya mencengkeram lengan sofa.

Bagas langsung terjaga sepenuhnya. Wajahnya yang kuyu didera kantuk seketika berubah menjadi tegang. "Masih kencang, Ras? Ini sudah pagi, tapi kok sering sekali?"

"Enggak tahu... rasanya seperti ditarik dari punggung," bisik Laras dengan keringat dingin yang mulai muncul di pori-pori dahinya.

Tanpa membuang waktu, Bagas meraih ponselnya. Ia menelepon Bu bidan desa, memohon agar wanita itu segera datang ke rumah. Ia tidak peduli jika ini masih terlalu pagi; keselamatan Laras dan calon anak ketiganya adalah segalanya sekarang.

Satu jam kemudian, Bu Bidan Siti sudah berada di dalam rumah. Suasana menjadi sangat tenang namun tegang saat stetoskop dan alat pemantau detak jantung janin ditempelkan ke perut Laras yang terbuka sedikit. Suara dug-dug-dug yang cepat memenuhi ruangan.

"Detak jantungnya bagus, kuat," ucap Bu Siti sambil melepas alatnya. Namun, wajahnya tampak serius saat menatap Bagas yang berdiri gelisah di samping sofa. "Tapi Pak Kades, ini bukan kontraksi palsu biasa. Ini Braxton Hicks yang terlalu sering karena Bu Laras stres berat dan kecapekan."

Bagas tertegun. "Maksudnya bagaimana, Bu?"

"Kondisi rahimnya tegang. Kalau dipaksa beraktivitas seperti biasa, bisa-bisa ketuban pecah dini. Bu Laras harus bedrest total. Makan, minum, kalau perlu buang air pun harus dibantu di tempat tidur. Minimal selama satu minggu ke depan sampai janinnya benar-benar tenang," tegas Bu Siti.

Bagas menelan ludah. Ia melirik Laras yang tampak pasrah.

"Tapi Bu... pekerjaan rumah... anak-anak..." Laras mencoba bersuara dengan nada parau.

"Itu tugas Pak Kades," potong Bu Siti sambil tersenyum tipis namun penuh peringatan. "Pak Kades harus pilih: mau urus rumah seminggu, atau mau bayinya lahir prematur? Bu Laras ini sudah berjuang luar biasa di kehamilan ketiga ini, Pak. Jangan ditambah beban lagi."

Setelah memberikan resep vitamin dan penguat rahim, Bu Siti pamit. Bagas mengantar sampai depan pintu dengan wajah yang seolah baru saja menerima beban seberat gunung.

**

Realita langsung menghantam Bagas tepat setelah pintu depan tertutup. Gilang dan Arka terbangun dengan suara tangisan yang bersahutan. Arka mengompol, sementara Gilang merengek minta dibuatkan nasi goreng sosis tugas yang biasanya diselesaikan Laras dalam waktu singkat sebelum matahari tinggi.

"Bapak! Acka basah! Gatel!" teriak Arka dari arah kamar.

"Bapak, Mamas lapar! Mau nasi goreng yang ada telurnya!" seru Gilang mengikuti.

Bagas menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. "Iya, sebentar! Mamas sama Adik diam dulu, Bapak lagi... lagi siapin!"

Bagas berlari ke dapur. Ia menatap kompor seolah itu adalah musuh yang harus ditaklukkan. Selama lima tahun, ia hanya tahu duduk manis dan makanan tersedia. Sekarang, ia harus berperang dengan penggorengan sambil menggendong Arka yang menangis karena celananya belum diganti.

Di ruang tengah, Laras hanya bisa mendengar keributan itu dari sofa. Ia mendengar bunyi piring pecah, suara Bagas yang mengaduh karena terkena percikan minyak, dan teriakan anak-anak yang kian kencang. Ada keinginan besar dalam hati Laras untuk bangun dan mengambil alih, namun rasa nyeri di rahimnya setiap kali ia bergerak mengingatkannya pada ancaman Bu Bidan.

Tiga jam kemudian, Bagas muncul di depan Laras dengan penampilan yang mengenaskan. Kausnya basah oleh keringat dan tumpahan susu, rambutnya acak-acakkan, dan wajahnya memerah karena uap panas dapur.

"Ras... ini buburnya. Mas... Mas nggak tahu bumbunya benar atau tidak, tapi Mas sudah coba," ucap Bagas sambil membawa mangkuk dengan tangan gemetar.

Laras menatap suaminya, ada rasa iba yang menyeruak di balik sisa kemarahannya. "Anak-anak sudah makan, Mas?"

"Sudah... tapi rumah jadi seperti kapal pecah, Ras. Mas baru sadar... baju kotor mereka ternyata sebanyak itu. Mesin cuci tadi sempat macet karena Mas salah masukkan deterjen," Bagas duduk bersimpuh di lantai samping sofa, menyandarkan lengannya yang pegal.

"Baru setengah hari, Mas rasanya mau pingsan. Kamu... kamu melakukan ini setiap hari selama lima tahun?"

****

Bersambung....

1
Paradina
😍
Heresnanaa_: Stay tune terus ya kak🙏😍
total 1 replies
arniya
mampir kak, bab pertama udh gereget sm Bagas
Heresnanaa_: Hai Kaka, terimakasih sudah mampir

happy reading yaa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!