NovelToon NovelToon
Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Kultivasi
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: Girenda Dafa Putra

Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.

Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.

Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misteri Huan Zheng

...Chapter 15...

"Kau tahu," ucap Huan Zheng suatu malam, duduk di atas tumpukan dokumen negara yang belum ia tandatangani—karena ia sengaja menumpuknya agar terlihat sibuk padahal sebenarnya ia hanya terlalu malas untuk membacanya, "raja asli kerajaan ini sudah sembuh sejak dua minggu lalu. Tapi dia memilih untuk tetap di tempat tidurnya, berpura-pura sakit, karena dia ingin melihat seberapa jauh kau bisa membawa kerajaannya." 

Ling Xu yang sedang menulis surat perintah untuk membangun irigasi baru berhenti, pulpennya bergetar di antara jari-jarinya. 

"Apa?" 

Huan Zheng menguap, lalu menambahkan dengan nada yang sama datarnya seperti sedang melaporkan cuaca.

"Dia bilang, 'Biarkan mereka melanjutkan. Aku sudah tua. Kerajaan ini butuh pemimpin yang muda dan lapar—bukan pemimpin yang hanya kenyang dan lupa.'" 

Ling Xu terdiam. 

Ia menatap lilin yang menyala di atas mejanya, lalu menatap Huan Zheng yang sudah setengah tertidur di tumpukan dokumen, lalu menatap langit-langit istana yang retak di beberapa tempat, dan untuk sesaat, ia merasakan sesuatu yang aneh di dadanya.

Bukan wabah Kanker yang lapar, bukan dendam yang membara, melainkan sesuatu yang hangat dan asing, seperti matahari yang muncul setelah hujan selama seribu tahun. 

"Huan Zheng," panggilnya pelan, "besok kita eksekusi para pengkhianat. Aku sudah punya daftar namanya. Dan setelah itu... kita pergi. Kerajaan ini harus kembali pada raja aslinya." 

Huan Zheng tidak menjawab dengan kata-kata. 

Ia hanya mengangkat tangan kirinya sedikit, memberi isyarat acuh yang—anehnya—terasa seperti persetujuan yang tulus.

Eksekusi para pengkhianat berlangsung di halaman belakang istana, di bawah langit yang kelabu seperti abu, dan Ling Xu—untuk pertama kalinya dalam hidupnya—tidak menyembunyikan wajahnya di balik topeng atau tudung. 

Ia berdiri di hadapan puluhan pria dan wanita yang selama bertahun-tahun menjarah kerajaan ini dari dalam, mengambil beras dari mulut anak-anak, merampas tanah dari petani yang sudah tidak punya apa-apa lagi selain tanah itu, dan ketika algojo istana—seorang pria tua dengan tangan gemetar—maju dengan pedangnya yang berkarat, Ling Xu mengangkat tangan. 

"Bukan dia," ucapnya, suaranya datar tapi terdengar sampai ke barisan paling belakang, 

“Aku sendiri yang akan melakukannya." 

Dan satu per satu, para pengkhianat itu tewas.

Bukan oleh pedang, bukan oleh racun, melainkan oleh benang-benang abu-abu kehijauan yang keluar dari ujung jari Ling Xu, benang-benang wabah Kanker yang ia pelajari untuk dikendalikan setelah berminggu-minggu bergulat dengan suara-suara di kepalanya yang berbisik tentang kebinasaan. 

Mereka berteriak, mereka memohon, mereka mengutuk, tapi Ling Xu tidak mendengar apa pun—yang ia dengar hanyalah detak keping-keping Lintang yang berpindah tangan, dari dada para pengkhianat ke telapak tangannya, satu per satu, seperti hujan yang jatuh ke tanah yang haus. 

150 keping, lalu 300, lalu 600, lalu 988—dan ketika pengkhianat terakhir, seorang panglima perang dengan tingkat Lintang Bawah Tingkat Ketiga yang sama dengannya, jatuh ke tanah dengan mata masih terbuka, Ling Xu sudah berdiri di atas tumpukan keping yang berdenyut-denyut di telapak tangannya, dengan 988 pecah Lintang Kemanusiaan yang baru saja ia rampas, dan di sampingnya, Huan Zheng—yang sejak tadi hanya duduk di atas batu dengan tangan di saku—menghela napas panjang. 

"7700," ucap Huan Zheng tiba-tiba, suaranya malas seperti biasa tapi matanya tidak lagi malas—matanya berbinar dengan cara yang aneh, seperti bintang yang tiba-tiba memutuskan untuk tidak lagi bersembunyi di balik awan, "aku sekarang punya 7700 keping. Sedikit lagi menuju Lintang Umum Tingkat Kesembilan. Sedikit lagi." 

Ling Xu menoleh, keringat di dahinya bercampur dengan darah.

Bukan darahnya, karena ia tidak terluka sedikit pun—dan untuk sesaat, ia melihat sesuatu di balik topeng malas Huan Zheng, sesuatu yang selama ini ia coba abaikan tapi sekarang mulai terlalu jelas untuk diabaikan. 

"Huan Zheng," panggilnya, suaranya serak karena lelah tapi juga karena rasa ingin tahu yang sudah mengendap terlalu lama, "bagaimana kau bisa membudidayakan keping Lintang? Aku sudah bertanya pada setiap tabib yang kutemui, membaca setiap kitab yang bisa kubaca, bahkan bertanya pada roh-roh di hutan—dan tidak ada satu pun dari mereka yang tahu. Seolah-olah kemampuan itu... tidak ada. Seolah-olah kemampuan itu hanya ada padamu." 

Huan Zheng tidak menjawab segera. 

Ia berdiri perlahan, merasakan setiap butir debu yang menempel di jubahnya, lalu berjalan mendekati Ling Xu dengan langkah yang sama malasnya seperti saat ia berjalan ke medan perang dulu—lambat, tanpa tergesa-gesa, seperti orang yang tahu bahwa dunia akan menunggu. 

"Kau ingin tahu, Nona Racun?" jawabnya akhirnya, dan untuk pertama kalinya, nada malas dalam suaranya tidak terasa dibuat-buat—terasa nyata, seperti luka lama yang tidak pernah benar-benar sembuh.

"Baik. Aku akan memberitahumu. Tapi tidak di sini. Tidak di atas tumpukan mayat yang masih mengeluarkan wewangian Kanker." 

Ia berbalik, berjalan meninggalkan halaman eksekusi yang perlahan diselimuti kabut sore, dan di belakangnya, Ling Xu berdiri diam dengan 988 keping di tangan kanannya dan seribu pertanyaan di kepalanya, sementara di kejauhan, raja asli yang sudah sembuh dari sakitnya berdiri di balkon istana, menangis tanpa suara, karena ia tahu bahwa dua orang asing yang menyelamatkan kerajaannya akan segera pergi—dan tidak akan pernah kembali.

Perjalanan melintasi kota-kota darat para Dewa terasa seperti berenang di lautan yang dasarnya tidak pernah disentuh.

Setiap wilayah memiliki aturannya sendiri, setiap pejabat memiliki ambisinya sendiri, dan setiap malam Ling Xu tidur di penginapan yang berbeda dengan jumlah keping Lintang di dadanya yang terus bertambah seperti air pasang yang tidak pernah surut. 

Dari Lintang Bawah Tingkat Kelima ia merangkak naik ke Lintang Umum Tingkat Kedelapan setelah membasmi jaringan perdagangan budak di kota Yunning—di mana tiga puluh tujuh penjahat dengan tingkat kultivasi Lintang Umum Tingkat Keenam hingga Ketujuh tewas oleh benang-benang abu-abu kehijauannya, dan dari dada mereka ia merampas lebih dari dua ribu keping sekaligus. 

"Kau mulai terlihat seperti algojo, Nona Racun," ucap Huan Zheng suatu sore, duduk di atas genteng rumah sakit darurat sambil mengupas apel yang tidak pernah ia makan, “bukan tabib. Mana sumpahmu untuk tidak menyakiti?" 

Ling Xu yang sedang membersihkan belatinya dari darah yang masih hangat hanya tersenyum tipis—senyum yang tidak sampai ke matanya karena matanya sedang sibuk menghitung sisa keping di telapak tangannya. 

"Sumpahku untuk menyembuhkan tidak pernah melarangku untuk memotong bagian yang busuk," jawabnya.

“Dan percayalah, Huan Zheng—mereka lebih busuk dari mayat yang sudah seminggu di bawah matahari." 

Dan ketika perjalanannya mencapai kota terakhir di wilayah darat, kota Tianque yang dikelilingi tembok dari batu giok hitam setinggi seratus meter, Ling Xu sudah berdiri di ambang Lintang Esa Tingkat Kedelapan Belas, dengan lebih dari delapan ratus ribu keping berdenyut di dadanya.

Sementara Huan Zheng, yang selama berbulan-bulan hanya terlihat tidur di atas gerobak sapi yang ditarik oleh kuda betina tua, tiba-tiba menguap di tengah jalan dan dalam satu hembusan napas itu, langit di atas Tianque berubah warna menjadi ungu pucat, dan semua kultivator di radius lima kilometer merasakan tekanan yang membuat lutut mereka gemetar seperti daun kering di musim gugur. 

"Supranatural Lintang Tingkat Ketiga Puluh Dua," bisik Ling Xu, matanya terbelalak saat ia merasakan sendiri gelombang Qi yang keluar dari tubuh Huan Zheng.

Bukan Qi yang liar dan destruktif, melainkan Qi yang dingin dan terukur, seperti air danau di tengah musim salju yang terlalu dalam untuk diukur.

“Kau... kau sudah di ambang batas tertinggi Pondasi Lintang. Sebentar lagi kau akan menembus ke Langit Terang Tingkat Kesatu." 

Bersambung….

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!