NovelToon NovelToon
Dijodohkan Dengan Presdir Arogan

Dijodohkan Dengan Presdir Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Karina Dyah Pramesti, it-girl global sekaligus putri kandung Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, harus menelan pahitnya kehancuran karier di Korea Selatan akibat skandal politik yang menjebaknya.
-
Dipulangkan paksa ke tanah air, Karina tidak punya pilihan selain tunduk pada misi terakhir ayahnya: Pernikahan Politik.
Demi menyatukan kekuatan militer dan supremasi ekonomi, Karina dijodohkan dengan Darma Mangkuluhur, pewaris klan Cendana yang dingin dan ambisius. Di tengah kemewahan yang menyesakkan dan intrik kekuasaan antara dua keluarga raksasa, Karina harus memutuskan—menjadi bidak catur yang pasrah, atau bangkit menjadi penguasa baru untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan impiannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31

***

Malam telah meluruh sempurna di langit Jakarta, namun di kediaman Menteng, atmosfer justru mulai memanas. Darma Mangkuluhur melangkah masuk ke dalam Master Suite dengan bahu yang sedikit tegang. Setelan jas mahalnya masih melekat sempurna, namun dasinya sudah dilonggarkan sebuah tanda langka bahwa Sang CEO Hutomo Group itu baru saja melewati hari yang panjang dan melelahkan.

Namun, rasa lelah itu menguap seketika saat matanya menangkap sosok Karina yang sedang menunggunya. Istrinya itu tidak sedang tidur. Karina duduk di tepi ranjang dengan gaya yang sangat provokatif. Ia mengenakan lingerie sutra berwarna merah marun yang kontras dengan kulit pualamnya yang bercahaya. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai acak, dan aroma vanilla bercampur matcha tipis menguar dari tubuhnya.

Darma terdiam di ambang pintu. Matanya yang tajam langsung menggelap, kabut gairah menyelimuti tatapannya dalam hitungan detik.

"Kamu belum tidur?" suara Darma terdengar lebih parau dari biasanya.

Karina menyunggingkan senyum nakal, menyandarkan kedua tangannya di belakang tubuh hingga dadanya membusung lembut. "Menunggu dividen saya, Mas. Katanya pebisnis yang baik tidak pernah menunda pembayaran, bukan?"

Darma berjalan mendekat, meletakkan sebuah kotak beludru hitam kecil di atas nakas. "Apresiasi untuk performamu semalam di depan kamera. Buka."

Karina membukanya dengan satu tangan. Sebuah kalung berlian emerald berkilau indah di sana. "Cantik. Tapi Mas tahu kan?

Perhiasan ini cuma benda mati. Saya butuh sesuatu yang lebih... hidup malam ini."

Darma terkekeh rendah, suara maskulinnya bergetar di ruangan yang sunyi itu. "Saya baru pulang kerja, Karina. Kamu tidak kasihan melihat suamimu yang lelah ini?"

Karina bangkit, melangkah mendekat hingga dada mereka hampir bersentuhan. Jemari lentiknya merayap di dada bidang Darma, membuka satu per satu kancing kemeja suaminya dengan gerakan yang sangat lambat, menyiksa kesabaran pria itu.

"Mas kelihatan capek banget, apa nggak sebaiknya tidur saja? Nanti malah pingsan di tengah jalan," bisik Karina dengan nada mengejek yang sensual. "Kasihan 'Beruang Es' saya, staminanya ternyata cuma segini?"

Darma menangkap pergelangan tangan Karina, menariknya hingga tubuh mereka menempel tanpa celah. "Saya punya cadangan energi khusus untukmu, Karina. Dan matcha yang kamu makan seharian ini... sepertinya akan membuatmu terjaga sampai subuh. Jangan menyesal kalau besok kamu tidak bisa turun dari ranjang ini lagi."

Karina tidak gentar. Keberanian yang entah datang dari mana mungkin sisa adrenalin kesuksesannya semalam membuatnya ingin memegang kendali.

"Karena Mas sudah kasih hadiah aku, malam ini aku yang kasih hadiah lebih spesial ke Mas," ucap Karina dengan suara yang menggoda.

Perlahan, ia mendorong bahu Darma hingga suaminya itu terduduk, lalu merebah di atas ranjang. Dengan gerakan yang sangat berani, Karina naik ke atas perut berotot suaminya. Ia duduk di sana, menatap Darma dari posisi atas, mendominasi pandangan pria itu.

Darma hanya terdiam, membiarkan istrinya melakukan apa yang ingin ia lakukan. Matanya tidak lepas dari wajah Karina, menikmati setiap inci perubahan ekspresi istrinya yang kini tampak begitu agresif.

"Mas... diam saja, ya. Biarkan aku yang memimpin kali ini," gumam Karina.

Malam telah meluruh sempurna di langit Jakarta, namun di dalam kamar utama kediaman Menteng, atmosfer justru kian menderu panas. Darma Mangkuluhur duduk bersandar pada kepala ranjang, membiarkan kemejanya terbuka lebar, menampakkan deretan otot perut yang keras dan kokoh.

Matanya yang tajam, yang biasanya hanya menatap angka-angka bursa, kini mengunci sosok Karina yang berada di atas tubuhnya.

Karina, dengan keberanian yang dipicu oleh sisa-sisa euforia kemenangan mereka, mencoba memegang kendali sepenuhnya. Ia duduk di atas pangkuan Darma, tangannya yang gemetar merayap perlahan ke dada bidang suaminya.

"Tadi di depan kamera, Mas bilang aku adalah pusat strategi Mas..." bisik Karina parau, wajahnya memerah saat ia mulai memberikan ciuman-ciuman kecil di sepanjang rahang tegas Darma. "Sekarang, aku ingin tahu... apa strategi Mas kalau aku yang memegang kendali malam ini?"

Darma tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengerang rendah, sebuah suara bariton yang sangat maskulin, saat merasakan gigitan kecil Karina di lehernya. Tangannya yang besar meremas pinggang ramping Karina, seolah menandai wilayah kekuasaannya.

"Tunjukkan pada saya, Karina. Seberapa jauh kamu bisa memimpin..." bisik Darma serak.

Karina memejamkan matanya rapat-rapat saat ia mulai melakukan penyatuan itu. Meskipun ini bukan lagi yang pertama, rasa sesak dan penuh yang luar biasa itu tetap membuatnya tersentak. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan rintihan yang hendak meledak.

"Nnhhh... ahh... Mas... pelan..." lenguh Karina. Suaranya pecah, bergetar di antara rasa nikmat dan sedikit sisa ketegangan yang masih ia rasakan.

Darma menggeram, kepalanya mendongak ke belakang saat merasakan kehangatan yang menjepitnya dengan begitu pas. "Jangan berhenti, Ayin. Teruslah bergerak..."

Karina mulai bergerak dengan ritme yang ia ciptakan sendiri. Awalnya kaku dan lambat, namun seiring dengan panas tubuh yang kian membakar, gerakannya menjadi lebih berani. Ia bergerak naik turun di atas tubuh Darma yang tetap kokoh bak batu karang, tak tergoyahkan oleh guncangan apa pun.

"Ahhh! Mas Darma... hnggh... Mas..." Karina merintih kencang. Kepalanya mendongak, memperlihatkan leher jenjangnya yang berkeringat. Rambut hitamnya yang panjang tergerai acak di bahu Darma, menciptakan pemandangan yang begitu erotis bagi sang suami.

Setiap sentakan yang dilakukan Karina membuat peluh membasahi punggung dan dadanya, hingga gaun tidur sutra tipis yang ia kenakan menempel lekat pada lekuk tubuhnya.

"Mas... Mas kenapa diam saja... ahhh... respon aku, Mas!" pinta Karina di sela napasnya yang memburu.

Darma hanya memberikan erangan-erangan pelan yang penuh kepuasan. Ia sangat menikmati pemandangan di depannya melihat sang Global Idol yang dipuja jutaan orang kini sedang bersusah payah, berkeringat, dan merintih hanya untuk memberikan kenikmatan padanya. Bagi Darma, ini adalah puncak dari segala bentuk kepemilikan.

"Kamu melakukannya dengan sangat baik, sayang... ngggh... jangan berhenti," sahut Darma dengan suara yang pecah oleh gairah.

Waktu seolah memuai. Sudah lebih dari satu jam Karina berusaha menaklukkan suaminya. Ia sudah mencapai pelepasannya berkali-kali tubuhnya gemetar hebat, kakinya terasa lemas, dan pandangannya mulai kabur karena gelombang kenikmatan yang terus menghantamnya. Namun, Darma masih tetap stabil, masih tetap menuntut, seolah energinya memang benar-benar tidak terbatas.

"Mas... ahh... aku... aku sudah lelah... hiks... Mas kenapa belum..." rintih Karina, ia jatuh lemas di dada bidang Darma, napasnya tersengal-sengal seperti orang yang baru saja berlari maraton. "Hah... hah... Mas beneran robot ya? Kenapa... kenapa Mas nggak capek-capek?"

Darma tertawa rendah, sebuah suara yang terdengar sangat seksi dan berbahaya di tengah kesunyian malam. Ia membelai punggung Karina yang basah oleh keringat dengan lembut, namun penuh penekanan.

"Saya sudah bilang, Karina. Matcha yang kamu makan seharian ini... itu investasi energi untuk saya," bisik Darma tepat di telinga Karina, membuat wanita itu merinding hebat. "Sesi pemanasanmu sudah cukup. Sekarang, biar saya yang menunjukkan bagaimana cara mengeksekusi dividen ini sampai tuntas."

Darma menatap Karina yang sudah kelelahan di atasnya. Rambut istrinya berantakan, wajahnya memerah karena kenikmatan dan keletihan yang luar biasa.

"Sesi pemanasanmu sudah selesai, Ayin?" tanya Darma dengan suara yang sangat dalam dan serak. "Kenapa berhenti? Katanya mau memimpin?"

"Mas... hiks... lelah... aku sudah tidak kuat lagi," bisik Karina, menyandarkan kepalanya di dada Darma yang naik turun teratur.

"Shhh, Ayin... kamu tidak tahu seberapa seksinya kamu malam ini saat mencoba menguasai saya," gumam Darma.

Tiba-tiba, dengan satu gerakan sigap yang membuat Karina terpekik kecil, Darma membalikkan posisi mereka. Kini Karina berada di bawah kungkungan tubuh besarnya. Darma menatap istrinya dengan tatapan predator yang sudah siap menyantap mangsanya habis-habisan.

"Sekarang, giliran saya yang mengambil dividen yang sesungguhnya," ucap Darma otoriter.

Tanpa memberikan waktu bagi Karina untuk bernapas, Darma kembali memulai serangan yang jauh lebih intens. Setiap sentakan Darma terasa begitu dalam, membuat Karina merintih antara nikmat dan perih yang bercampur menjadi satu.

"Ahh... mas... ini terlalu besar... sangat penuh di dalam... nnhhh!" jerit Karina kecil, jemarinya mencengkeram sprei hingga jemarinya memutih.

Darma tidak memberikan ampun. Kekuatan fisiknya benar-benar terasa seperti badai yang menghantam Karina. Ia memacu ritme dengan kecepatan yang membuat Karina kehilangan kesadaran akan sekelilingnya. Yang ada hanya suara kulit yang beradu, napas yang memburu, dan rintihan manja istrinya.

"Katakan kamu milik siapa, Karina!" tuntut Darma sambil menciumi bahu Karina yang berkeringat.

"Shhh... ahh... milik... ahhh... milik Darma... ahh Mas!" rintih Karina pasrah, tubuhnya melengkung menerima setiap gempuran suaminya yang seolah tidak punya tombol off.

"Lagi, Ayin... sebut nama saya!"

"Darma... Mas Darma... ahhh!"

Malam itu, Menteng menjadi saksi bagaimana Sang Kulkas Berjalan benar-benar membakar habis energi istrinya. Karina yang tadinya ingin memimpin, kini hanya bisa pasrah menjadi kuda liar yang dikendalikan oleh penunggangnya. Meskipun tubuhnya terasa remuk dan otot-ototnya menjerit karena kelelahan, Karina tidak bisa menolak gelombang kenikmatan yang terus diberikan Darma tanpa henti.

Darma sangat menikmati momen itu momen di mana ia bisa melihat wanita yang dipuja dunia ini hanya bisa merintih dan memohon di bawah kendalinya. Baginya, ini adalah kemenangan yang jauh lebih manis daripada kesepakatan bisnis triliunan rupiah mana pun.

Hingga fajar hampir menyingsing, barulah Darma membiarkan Karina terlelap dalam pelukannya, dalam kondisi yang benar-benar habis tak berdaya, sementara ia sendiri masih terjaga, menatap miliknya dengan rasa kepemilikan yang mutlak.

****

Bersambung

1
aku
karina megang lengannya darma, tangan kanan darma melingkari pinggang karina. aku blm nemu gambarannya 😭😭
Tika maya Sari
kak update yg banyak* 🤣
Heresnanaa_: stay tune ya kak 😚❤️
total 1 replies
Nessa
sokooooooorrrrrrr
aku
makan tuh ego! 😌
aku
next 😁
Tika maya Sari
di tunggu kelanjutan nya kak
Nessa
👍🏻👍🏻
aku
udah pak gk usah puyeng. udh terkabul tuh mau mu.
mbk karin keren. pkirin diri sm calon debay aja mbk. yg lain biarin. 😁
olyv
jiaaaahhhhh.....otewe darma junior 😍
Nessa
wah setelah ini ayin pasti hamil 😄
Ivy
darma cembokur nih yee 🤭
Ivy
darma 😤😤😤
Ivy
😭😭😭🤣🤣🤣🤣nantangin
olyv
hareudang euy 🤭🤪
olyv
gaassslah ayin 🤭😂
Ivy
humm angel 🤔 ulet² Keket kah
Ivy
gemushhh bangett 🥰🥰🥰
olyv
astgaa kamu main api salah orang angel 😂
olyv
sukses darma bikin karina cemburu 😂😂
olyv
🤣 niceeeeeee.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!