Sepupu menghina, anggota klan memandang rendah, tiga tahun tanpa kemajuan. Lin Han tahu rasa pahit berada di dasar. Namun ia tidak pernah membenci jalan keabadian. Sebaliknya, ia justru semakin keras mengejarnya. Dunia Hunyuan perlahan membuka topengnya. Di balik kemuliaan keabadian tersimpan kenyataan bahwa para pendekar bisa berubah menjadi binatang, sekte suci bisa menjadi sarang ular. Lin Han pun menyadari bahwa satu satunya jalan untuk selamat adalah menjadi lebih kejam daripada mereka. Ia memutuskan untuk tidak lagi mencari pengakuan, melainkan kekuatan absolut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terobosan dan Pengakuan
Sore harinya, kamar pengantin bergetar pelan. Getaran itu tidak kuat, hanya seperti hembusan angin yang menekan dinding dari dalam. Tapi bagi siapa pun yang pernah mengalaminya, getaran semacam itu memiliki arti yang sangat jelas.
"Terobos!" Ucap Lin Han.
Lalu ledakan ledakan energi terjadi, kecil, tapi itu jelas terasa.
Lin Han membuka matanya lebar lebar. Dadanya naik turun dengan ritme yang dalam dan teratur. Di dalam Dantiannya, sesuatu yang sebelumnya hanya berupa kumpulan Qi yang tersebar dan tidak teratur, kini telah berubah. Fondasi telah terbentuk. Sebuah inti kecil dari energi murni yang padat kini berdiri kokoh di pusat Dantiannya, menjadi jangkar bagi seluruh sistem kultivasinya.
Foundation Establishment Awal.
Lin Han menatap telapak tangannya sendiri. Jemarinya ia tekuk satu per satu, lalu ia kepalkan. Kesenangan menyeruak di hati dan pikirannya. Sensasi itu asing, hampir tidak ia kenali. Sudah terlalu lama ia tidak merasakan apa apa selain kehampaan dan keputusasaan.
"Ini sebuah keajaiban." Suaranya pelan, hanya untuk dirinya sendiri. "Siapa sangka, pertemuan dengan nenek itu membawa keberuntungan dalam hidupku."
Ia mengepalkan tangannya lebih kuat. "Aku harus menemui Liu Mei. Sangat pantas rasanya untuk mengucapkan terima kasih."
Lin Han bangkit dari posisi bersilanya. Lututnya sedikit kaku setelah bermeditasi selama berjam jam. Ia merenggangkan kakinya sebentar, lalu berjalan menuju pintu dan keluar kamar.
Halaman kediaman Klan Liu cukup luas. Pohon pohon kecil ditanam di sepanjang dinding batu, dan di tengahnya ada area terbuka yang biasa digunakan untuk berlatih. Di sanalah Lin Han melihat Liu Mei.
Istrinya itu sedang berlatih pedang dengan seorang wanita muda lainnya. Pedang kayu di tangan mereka bergerak cepat, saling beradu dan menghasilkan bunyi berdentum dentum yang ritmis. Gerakan Liu Mei tajam dan efisien, tanpa gerakan yang terbuang. Wanita yang menjadi lawannya juga tidak kalah cekatan. Rambutnya yang hitam diikat ekor kuda, dan wajahnya cukup cantik dengan mata yang tajam.
Lin Han berjalan mendekat dan berhenti di pinggir area latihan. Ia hanya menonton tanpa bersuara. Adu pedang itu cukup bagus untuk ukuran praktisi tingkat Foundation Establishment.
Beberapa jurus kemudian, kedua wanita itu berhenti secara bersamaan. Liu Mei menurunkan pedang kayunya dan menoleh ke arah Lin Han. Ia berjalan mendekat, napasnya masih sedikit tersengal setelah berlatih.
"Kau sudah berhasil menerobos?" tanyanya langsung, tanpa basa basi.
Lin Han mengangguk.
Wanita muda yang tadi menjadi lawan Liu Mei ikut mendekat. Ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada, memberi hormat dengan sopan.
"Selamat atas terobosannya, Kakak Ipar. Aku Liu Jia, murid Sekte Kabut Senja. Senang berkenalan denganmu."
Lin Han membalas dengan menangkupkan kedua tangannya.
"Terima kasih, Nona Jia. Senang juga berkenalan denganmu."
Liu Mei memecahkan formalitas itu dengan nada datarnya yang biasa.
"Ayah tadi berpesan padaku. Jika kau memiliki waktu luang, segera temui beliau."
"Ini waktu yang pas." Lin Han menurunkan tangannya. "Di mana Ayah Mertua sekarang?"
Liu Mei menoleh ke arah Liu Jia. "Adik, aku akan mengantarkannya ke tempat Ayah. Tidak masalah jika aku meninggalkanmu sendiri?"
Liu Jia menggelengkan kepalanya.
"Tidak masalah, Kakak. Aku juga ingin kembali ke kamar untuk beristirahat."
Liu Mei mengangguk singkat, lalu berjalan tanpa menunggu.
"Ayo, ikuti aku."
Lin Han mengikuti langkah istrinya. Mereka berjalan melintasi halaman belakang, melewati lorong beratap, dan akhirnya tiba di sebuah ruangan di sisi timur kediaman. Pintunya terbuka, memperlihatkan Liu Bei dan Hong Jie yang sedang duduk di meja rendah sambil menyeduh teh. Aroma teh hijau yang ringan menguar keluar.
Liu Mei masuk lebih dulu. "Salam, Ayah, Ibu. Aku sudah membawa suamiku."
Lin Han melangkah masuk dan langsung menunduk hormat, kedua tangannya ditangkupkan rapat.
"Anak menantu memberikan salam pada Ayah Mertua dan Ibu Mertua."
Liu Bei mengangguk dengan senyum kecil. Hong Jie juga tersenyum tipis, meskipun ada sesuatu yang mengganjal di matanya.
"Hmm, santai saja. Ayo, duduk, minum teh dulu." Liu Bei menunjuk bantal duduk di seberangnya.
Lin Han mengangguk dan duduk di samping Liu Mei. Liu Mei menuangkan teh ke dalam cangkir kosong di depan Lin Han. Lin Han mengambil cangkir itu dengan kedua tangannya.
"Terima kasih."
Ia menyesap tehnya perlahan. Hangatnya menjalar di tenggorokan, membantu sedikit meredakan ketegangan yang tidak ia sadari.
Liu Bei meletakkan cangkirnya sendiri dan menatap Lin Han langsung.
"Aku sudah mendengar tentang cerita iblis dari Liu Mei. Ayah hanya ingin memastikan. Benarkah kau mengalami hal tersebut?"
Lin Han mengangguk. "Benar, Ayah. Seperti lukisan yang istriku tunjukkan, seperti itulah wujud nenek itu sebelum akhirnya menghilang."
Liu Bei merenung sejenak. Matanya menerawang ke arah uap teh yang mengepul dari cangkirnya. Ia menghela napas panjang, lalu berbicara lagi.
"Itu adalah nenek Liu Mei. Ibu kandungku sendiri."
Lin Han tertegun. Ia tidak menyangka bahwa iblis yang ia temui semalam adalah ibu kandung dari mertuanya sendiri.
Liu Bei melanjutkan sebelum Lin Han sempat bertanya.
"Coba jelaskan seluruhnya apa yang kau alami. Jangan ada yang dilewatkan."
Lin Han pun menceritakan semuanya. Tentang aura hitam yang memenuhi kamar. Tentang iblis yang menawarinya segalanya dengan syarat membunuh Liu Mei. Dan tentang pesan terakhir nenek itu yang menitipkan Liu Mei padanya.
Setelah Lin Han selesai, Liu Bei mengangguk pelan. Ia menuang teh lagi untuk dirinya sendiri, lalu mulai berbicara dengan nada yang lebih berat.
"Ibuku... semasa mudanya adalah seorang kultivator yang cukup kuat. Tapi ada satu teknik aneh yang ia pelajari dari sebuah sekte kecil yang sudah lama runtuh. Teknik itu memungkinkan seseorang untuk meninggalkan obsesi dan sisa kesadaran di dalam tubuh orang lain, sebagai bentuk perlindungan setelah kematian."
Liu Bei menyesap tehnya. "Dalam kasus ini, ibuku menggunakan teknik itu untuk melindungi Liu Mei. Sisa kesadarannya bersemayam di dalam Dantian Liu Mei, menutupinya dari akses kultivasi, tapi sekaligus melindunginya dari pria pria yang berniat jahat."
Ia meletakkan cangkirnya dengan pelan. "Suami suami Liu Mei sebelumnya mati karena mereka gagal dalam ujian itu. Mereka menerima tawaran untuk membunuh Liu Mei demi keuntungan pribadi. Mungkin tawaran yang diberikan kepada mereka sama dengan yang diberikan kepadamu. Wanita, kekayaan dan kekuasaan. Atau sesuatu yang mereka inginkan."
Lin Han mendengarkan tanpa memotong. Semua mulai masuk akal sekarang.
"Kau tidak memilih untuk membunuh Liu Mei." Liu Bei melanjutkan, suaranya sedikit bergetar. "Karena itu, ibuku mungkin menggunakan sisa kekuatannya yang terakhir untuk membantu menyingkirkan sumbatan di meridianmu. Dan karena ia telah benar benar pergi, tidak ada lagi yang menutupi Dantian Liu Mei. Itu sebabnya kalian berdua sekarang bisa berkultivasi kembali."
Lin Han menghela napas lega. Bukan karena ia lega mendengar penjelasan itu, tapi karena ia akhirnya mengerti bahwa ia bukan korban selanjutnya. Pilihannya pada malam itu ternyata menyelamatkan nyawanya sendiri.
Liu Bei menatap Lin Han dengan mata yang berkaca kaca. Suaranya semakin bergetar.
"Menantu, maafkan kami. Maaf jika kami tidak menjelaskan hal ini sebelum pernikahan."
Lin Han menghela napas lagi. Ia menatap teh di cangkirnya sejenak, lalu mengangkat wajahnya dan menatap Liu Bei.
"Sudahlah, Ayah Mertua. Yang lalu biarlah berlalu."
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.
"Memang benar apa yang keluarga ini lakukan sangat tidak bermoral. Ayah dan Ibu Mertua mencoba menjebak seseorang, untuk masuk ke dalam kobaran api di dalam keluarga sendiri. Kalian mengorbankan orang lain demi mencari harapan untuk putri kalian."
Liu Bei menunduk.
Hong Jie menggigit bibir bawahnya.
Liu Mei hanya diam menatap meja.
Lin Han menangkupkan kedua tangannya ke depan dada.
"Tapi sekarang... kalian semua yang ada di dalam Klan Liu adalah keluargaku. Lin Han tidak akan menuntut apa pun tentang hal ini. Kita lupakan saja apa yang sudah berlalu."
Hong Jie berkaca kaca mendengar kata kata itu. Air matanya hampir tumpah, tapi ia tahan. Ia menatap Lin Han dengan campuran rasa syukur dan rasa bersalah yang mendalam. Ia merasa sangat beruntung telah menikahkan putrinya dengan seorang pemuda seperti ini.
Liu Bei mengepalkan tangannya di atas meja. Kuku Kuku jarinya memutih. Ia mengharapkan kemarahan. Ia mengharapkan umpatan dan tuntutan. Itu akan meredakan rasa bersalahnya, karena setidaknya ia bisa membayar kesalahannya dengan sesuatu. Tapi yang Lin Han tunjukkan justru sebaliknya. Pengampunan yang tenang dan tanpa syarat.
Itu jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.
Liu Bei mengangkat wajahnya dan menatap Lin Han. Suaranya parau.
"Lin Han... terima kasih."
Hanya dua kata itu. Tapi di dalamnya terkandung seluruh beban yang selama ini ia pikul. Rasa bersalah karena telah mengorbankan tiga nyawa pria lain demi melindungi putrinya. Rasa takut bahwa kutukan itu akan terus berlanjut. Dan sekarang, kelegaan karena akhirnya semuanya berakhir.
Lin Han hanya mengangguk pelan. Ia tidak mengatakan apa apa lagi. Tidak perlu.
Liu Mei yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat wajahnya. Ia menatap Lin Han dari samping. Matanya yang biasanya dingin dan hampa, kali ini sedikit berbeda. Ada sesuatu di sana yang tidak bisa dijelaskan dengan kata kata. Bukan cinta, bukan pula kasih sayang. Tapi sebuah pengakuan diam diam.
Bahwa pria di sampingnya ini, yang ia nikahi tanpa cinta dan tanpa pilihan, ternyata layak untuk dipercaya.