Aku benci sekali padanya! Dia lelaki paling menyebalkan yang pernah aku temui. Ucapannya selalu menyakiti hati, tingkahnya kasar dan juga egois! Paket komplit sebagai pria pemenang nominasi paling di benci sejagat.
Tapi kenapa semuanya kini berubah?
Mungkinkah aku jatuh cinta pada lelaki ini? Pangeran berhati dingin bernama Melviano Mahaprana Gunardi?
Tak mungkin!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecewa.
Semalaman aku tak bisa tidur, yang kulakukan hanya berbaring di atas ranjang dengan mata yang terus terbuka.
Aku menghitung bunyi detik jam hingga bosan. Sampai akhirnya ada setitik sinar dari jendela kamar, aku pun melirik jam dan terkejut karena ternyata sudah pagi.
Fix aku semalaman tak tidur sama sekali.
Aku bangun dan berjalan gontai menuju kamar mandi, lalu mencuci muka ku. Saat melihat pantulan wajahku di cermin, aku menghela napas.
Lingkaran mataku menghitam seperti panda, dan ada memar di pipiku. Ini pasti memar akibat tamparan keras dari Melsa, semalam.
Saat keluar dari kamar mandi, aku menoleh ke arah kamar Vian. Aku pun berjalan mendekat.
Semalam, saat aku pulang, dia sudah tertidur. Aku tak berani membangunkannya.
Mungkin sekarang dia sudah bangun.
Aku membuka pelan pintu kamar Vian, tanpa mengetuknya. Lalu mengintip ke dalam dan melihat Vian masih berbaring di ranjangnya, tubuhnya miring membelakangi pintu, membuatku tak bisa melihat wajahnya.
"Dia sudah bangun belum ya?" tanyaku lirih pada diri sendiri.
Akhirnya aku menutup kembali pintu kamar Vian, dan berjalan menuju kamarku.
"Mbak Fafa!"
Aku menoleh dan melihat Pak Slamet berjalan dengan terburu-buru.
"Ada apa Pak?"
"Mbak Fafa nggak apa-apa kan? maaf semalam saya nggak bisa jemput."
Aku tersenyum, "nggak apa-apa."
"Nanti jam 8 kita ke kantor polisi ya Mbak, Mbak Fafa di minta ke sana untuk memberikan kesaksian."
Aku mengangguk. Lalu berjalan kembali menuju kamar untuk mengambil handuk dan baju ganti. Aku harus bersiap-siap ke kantor polisi.
Setelah semuanya selesai, aku bersiap-siap untuk pergi bersama Pak Slamet. Saat melewati kamar Vian, lagi-lagi aku mendekat dan mengintip ke dalam. Dia masih tertidur dengan posisi yang sama.
"Mas..." Panggilku, lirih.
"Mas Vian... aku pergi ke kantor polisi ya..."
Tidak ada jawaban.
Aku menghela napas lagi sambil menutup pintu kamar Vian lalu berjalan menuju lantai satu, Pak Slamet pasti sedang menungguku.
"Fafa!" Tiba-tiba Rama muncul dan berlari ke arahku. Tangannya terbuka lebar seolah ingin memelukku.
Aku menghindar, dan dia sadar lalu memasukkan tangannya ke saku celananya.
"Aku dengar, semalam Melsa menyerangmu."
Aku menghela napas lagi sambil mengangguk. Kalau Rama sampai tahu, kemungkinan semua orang di Bulan Departemen store juga akan segera tahu.
"Kamu nggak apa-apa?"
"Pipiku sedikit memar..." Aku terdiam, tiba-tiba aku teringat Vian. Saat wajahku penuh luka cakar, dia merawat ku dengan sangat lembut. Vian bahkan meniup lukaku yang terasa perih karena di olesi salep. Tapi sekarang, Vian bahkan tak menemui ku. Dia nggak peduli... kenapa?
"Fa?"
Panggilan Rama membuyarkan lamunanku.
"Lalu?"
"Uh? Ehm.. hanya memar saja karena di tampar Melsa." Aku mengelus pipiku yang masih terasa sakit. "Untunglah ada Adnan dan Pak Slamet yang datang, tepat waktu."
"Adnan itu, security yang menolongmu?"
"Iya, sekarang dia masih di rumah sakit, lukanya lumayan parah karena di keroyok semalam."
"Lalu sekarang, kamu mau kemana?"
"Ke kantor polisi."
"Aku temani ya."
Aku mengangguk setuju. Aku sebenarnya memang butuh ditemani. Aku takut berada di kantor polisi sendirian. Ya ada Pak Slamet si, tapi tetap saja aku butuh seseorang untuk menemaniku. Aku berharap itu Vian.
Sebelum pergi, aku menoleh dan kembali melirik kamar Vian yang masih tertutup rapat.
"Apakah kau tidak khawatir padaku?" lirihku.
...*...
"Fafa.. Fafa maafkan aku ya, aku khilaf..." Dengan tangan yang masih di borgol, Melsa bersujud di kakiku memohon ampun.
"Kumohon cabut gugatannya..." Pintanya sambil menangis.
Aku hanya diam sambil menatap tajam ke arahnya. Tak ada rasa kasihan sama sekali di hatiku walaupun Melsa menangis meraung-raung dan menciumi kakiku.
Aku menggeser kaki ku, agar Melsa tak bisa menjangkaunya. Aku risih karena dia terus memeluk kaki ku dengan erat.
Beberapa Polisi mendekat dan membantu Melsa agar bangun dari lantai. Kemudian mendudukkannya di sebuah kursi yang letaknya tak jauh dari ku.
Aku di persilahkan duduk berhadapan dengan seorang Polisi yang sibuk dengan mesin ketik manual yang sangat besar yang ada di mejanya.
Rama langsung duduk di sampingku dan mulai bicara.
"Pak, tolong hukum Melsa sesuai dengan perbuatannya. Dia sudah melakukan tindak penganiayaan dan hampir melakukan pelecahan kepada teman saya."
"Baik Pak. Kita akan proses masalah ini sesuai hukum." Jawab Pak Polisi yang ada di depanku.
Lalu dia mulai menanyakan beberapa pertanyaan tentang data pribadiku dan banyak hal lainnya lagi. Aku menjawab secukupnya, dan setelah itu aku langsung pergi. Aku tak suka berada di sana terlalu lama. Apalagi terus menerus mendengar teriakan Melsa dari balik jeruji besi.
"Kau mau makan dulu? Yuk kita makan." Ajak Rama saat kami sudah berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang.
Aku menggeleng masih dengan mulut tertutup.
"Tadi kamu belum sarapan kan?"
Aku menatap Rama, 'tau dari mana dia?'
"Aku sedang tak selera." Ucapku.
"Jangan begitu Fa, kalau sampai kamu sakit bagaimana?" Rama terus menerus merayuku agar aku mau makan bersamanya.
Aku menggeleng, "aku... makan di rumah saja." Ucapku sambil terus menatap keluar jendela mobil.
Akhirnya Rama terdiam, sepertinya dia sudah capek merayuku agar makan.
Aku terus memandang keluar jendela mobil sambil sesekali menghela napas.
Rasanya ada yang salah, dadaku terasa sesak. Aku memukul pelan dadaku agar sedikit merasa lega, tapi aku malah merasa semakin sesak. Hampir saja air yang menggenang di pelupuk mataku terjatuh. Buru-buru aku mengusapnya. Aku malu jika Rama sampai tahu aku sedang menahan tangis. Aku tidak mau dia bertanya ini dan itu yang aku sedang tak ingin bicarakan.
Aku hanya ingin sendiri.
Aku hanya ingin Vian.
Walaupun bicaranya kasar dan suka membentak, entah kenapa aku malah ingin berada di dekatnya saat ini.
Walaupun terlihat marah, tapi dia selalu memperhatikan aku.
Tapi kenapa sekarang dia menjauhiku? kenapa dia seperti tak peduli padaku? kenapa dia meninggalkan aku semalam dan tak menemui ku sampai sekarang?
Kenapa? kenapa???
Aku kembali memukul dadaku dengan pelan.
Sesak sekali rasanya.
...*...
"Ayo kita makan!" Rama menarik ku menuju dapur saat kami telah sampai di rumah Vian.
"Aku.. aku belum lapar."
"Nggak ada alasan! kamu harus makan!" Rama mendorongku hingga terduduk. Di meja makan telah tersedia beberapa makanan yang sangat nikmat. Tapi aku sama sekali tak ingin memakan semua itu. Aku tak ada selera.
"Mbok Yem sengaja memasak semua makan ini! kamu pasti suka." Rama menyendok nasi ke piring lalu mengambil beberapa lauk pauk dan meletakkannya di atas nasi lalu menyerahkan semuanya kepadaku.
"Makan." Perintahnya.
"Ck!" Aku berdecak kesal. Kenapa Rama jadi suka perintah-perintah kaya Vian. Yah, mereka memang sepupu. Mungkin sikap diktator dan suka memaksa memang menurun di keluarga ini.
Aku menyendok sedikit nasi dan memasukkannya ke dalam mulutku.
Rama terlihat lega dan puas karena berhasil membuatku makan.
"Nah gitu dong! tugas pertama ku berhasil!" Ucapnya sambil menjetikkan jari.
"Tugas?"
"Iya." Rama duduk di sampingku.
"Kau tahu, Vian hampir tiga bulan ini tak pernah mengajak aku bicara. Tapi tadi pagi dia meneleponku agar menemanimu ke kantor polisi." Rama terlihat senang. "Dia juga berpesan agar aku menyuruhmu makan, karena dari semalam kamu nggak makan apapun sampai tadi pagi."
Aku terdiam.
"Makasih ya Fafa... berkat kamu, sedikit demi sedikit Vian mulai memaafkan aku dan mau bicara lagi denganku. Aku senang!"
Aku masih terdiam mendengarkan Rama yang terus bicara tak berjeda.
"Rama."
"Ya?"
"Bisa kah kau pulang sekarang? aku lelah. Ingin istirahat."
Rama mengangguk lalu beranjak dari duduknya. "Kau istirahat saja di rumah hari ini, nanti aku akan menelpon Pak Handoyo dan meminta ijin untukmu." Lalu Rama berlalu meninggalkanku yang masih terdiam di meja makan.
Aku menyingkirkan piring yang masih penuh dengan makanan, aku hanya makan satu suap tadi.
Aku berpikir dan mulai mencerna kata-kata Rama barusan.
Kenapa Vian harus menyuruh orang lain untuk menemaniku? kenapa dia sendiri bahkan tak mau bicara denganku?
Prang!! Prang!!
Aku terkejut dan menoleh ke arah kamar Vian yang ada di lantai dua.
Mbok Yem berlari tergesa-gesa mendekatiku, wajahnya terlihat sangat ketakutan.
"Mbak..."
"Mas Vian kenapa Mbok?" tanyaku.
"Dari semalam Den Vian marah-marah Mbak, Saya nggak tahu kenapa. Dari pagi malah Den Vian mulai membanting vas-vas bunga, gelas dan barang-barang lainnya hingga pecah."
Aku bangun dari dudukku dan langsung berlari menuju kamar Vian yang ada di lantai dua.
Tanpa mengetuk pintu aku membuka pintu kamarnya dengan lebar.
"Kamu sedang apa?!" Tanyaku khawatir.
Kamar Vian sangat berantakan, lantainya penuh dengan pecahan kaca.
"Pergi dari sini!!!" Vian berteriak padaku.
Aku tersentak, jantungku berdebar-debar tak terkendali. Baru kali ini aku mendengar suara Vian yang sangat menakutkan.
"Mas..."
"Aku bilang pergi!!!" Vian melempar sebuah gelas ke arahku, aku menghindar dengan cepat.
"Mas! kamu gila ya! kenapa melempar aku dengan gelas?!"
Vian menatapku tajam, "jangan muncul lagi di hadapanku! aku nggak mau bertemu denganmu lagi!" Geramnya.
.
.
.
#plis like, rate, fav and vote ya...
i luv u..🤗