Menjadi istri kontrak Sagara bukanlah hal mudah bagi Amara. Pria itu masih mencintai kekasihnya yang menghilang seminggu sebelum pernikahan mereka, sementara pernikahan ini hanyalah kesepakatan demi kepentingan masing-masing.
Mereka berjanji untuk tidak saling jatuh cinta. Namun kebersamaan perlahan mengaburkan batas itu.
Di tengah hubungan yang semakin rumit, Denisa kembali sebagai bom waktu yang siap menghancurkan pernikahan mereka kapan saja. Belum lagi Dirga, kakak Sagara, yang misterius dan terus berusaha menjauhkan Amara dari adiknya seolah menyimpan rahasia besar tentang dirinya.
Saat cinta, pengkhianatan, dan rahasia keluarga mulai terungkap, mampukah Amara dan Sagara bertahan pada perjanjian mereka? Atau perpisahan memang sudah menunggu sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Setyowati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengganti?
Perjalanan menuju apartemen Dirga diselimuti keheningan yang canggung. Tak ada yang benar-benar berniat memulai percakapan. Namun, sesekali mata mereka saling melirik, lalu buru-buru menghindar.
Amara masih kesulitan menerima kenyataan bahwa Dirga adalah Kak Tama yang hilang enam tahun lalu. Semakin dipikirkan, semakin ia merasa aneh pada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia tak menyadari kemiripannya sama sekali.
Yang berbeda dari Dirga dan Kak Tama adalah bentuk tubuhnya. Tama yang dulu dikenalnya berisi, pipinya bulat, dan senyumnya selalu cerah. Sedangkan Dirga sekarang lebih tinggi, tegap, dengan rahang yang tegas dan sorot mata yang dingin. Selebihnya, mereka tetap orang yang sama. Bahkan, cara memahami dirinya pun masih sama.
Semua tentang Dirga benar-benar mengambil alih pikirannya dari kekacauan di depan apotek. Kepalanya terasa penuh oleh berbagai pertanyaan yang menumpuk. Ia pun memijat pelipisnya perlahan.
"Kalau ada yang mau kamu tanyakan, aku siap jawab," ucap Dirga memecah keheningan.
Amara menoleh. Dadanya menghangat sesaat. Begitulah Tama yang ia kenal dulu. Selalu tahu apa yang sedang mengganggu pikirannya bahkan sebelum ia mengucapkannya.
"Mas Dirga..." ucap Amara menelan ludah, "Kenapa tiba-tiba menghilang?"
Sontak saja, ekspresi Dirga berubah sangat tipis namun Amara menyadarinya.
"Aku sibuk kuliah S2 sambil bantu keluarga membangun bisnis. Setelah itu, aku lanjut S3," jawab Dirga tenang. "Nggak ada waktu lagi ke vila. Lagian udah lama vila itu memang disewakan karena ada kebutuhan tertentu."
Amara mengangguk pelan.
"Tapi kenapa harus hilang kontak juga?" tanya Amara lagi, "Apa aku pernah bikin salah?"
Dirga menggenggam kemudi sedikit lebih erat.
"Waktu itu HP-ku rusak. Semua kontak hilang. Nggak sempat back up," jawab Dirga datar dan dingin seakan menutupi sesuatu
"Oh..." sahut Amara membulatkan bibir.
Meski jawaban Dirga terasa begitu singkat dan tidak cukup menjawab pertanyaannya, tetapi Amara memilih diam. Mungkin, memang ada alasan yang tak ingin dibagikan oleh lelaki itu. Toh, dulu mereka hanya dekat, bukan sebagai siapa-siapa.
Keheningan kembali memenuhi mobil. Hingga beberapa menit kemudian Dirga kembali bersuara.
"Nggak ada lagi yang mau ditanyain?" tanya Dirga penasaran.
Amara menoleh bingung, "Ha?"
Tepat saat itu ponsel Amara berdering. Nama Sagara muncul di layar. Ia pun sempat menatap layar itu beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat panggilan.
"Halo," sapa Amara cuek.
"Amara..." sahut Sagara dengan suara lemah.
Jantung Amara langsung berdegup tak nyaman.
"Mas Aga, kenapa?" tanya Amara cepat.
"Hehe..."
Terdengar tawa kecil Sagara namun samar-samar disertai rintihan dan desisan.
"Aku kecelakaan," ucap Sagara dengan suara tenang.
Wajah Amara langsung memucat, "Mas Aga, jangan bercanda."
"Aku serius," jawab Sagara masih dengan nada bercanda.
"Nggak mungkin!" sanggah Amara tak mau percaya meski hatinya sudah kepalang takut luar biasa.
"Terima vcall-ku," suruh Sagara.
Detik berikutnya Sagara mengirim panggilan video dan Amara buru-buru menerimanya.
Saat layar terbuka, napas Amara seolah berhenti. Ia sampai terperangah melihat kaca mobil pecah berserakan dan menyisakan bagian runcing di tepi. Selain itu, bagian depan mobil ringsek menghantam pohon dan masih mengeluarkan asap-asap tipis dari mesin. Pemandangan itu tentu membuat darahnya seakan membeku.
"Mas Aga!" teriak Amara mulai berkaca-kaca, "Putar kameranya!"
"Aku nggak apa-apa kok," ucap Sagara terlampau santai, "Tolong bantu aku pulang."
"PUTAR KAMERANYA!" ulang Amara tak mengindahkan ucapan Sagara.
Amara sudah tak mampu menyembunyikan kepanikannya. Sementara, Dirga yang mendengar langsung menoleh.
"Ada apa?" tanya Dirga penasaran.
Amara menunjukkan layar ponselnya.
Raut wajah Dirga berubah seketika menjadi dingin dan tegang.
"Ga," suara Dirga terdengar rendah, "Shareloc!"
Sagara tak menjawab. Namun, ia hanya tertawa.
"Kalau emang mau mati, gue siap bantu lo," lanjut Dirga tak dapat menahan diri lagi.
Dirga menggertakkan rahangnya namun Sagara masih tertawa.
"Share lokasi atau gue bongkar rahasia pernikahan lo?" ancam Dirga tak mau berlama-lama.
Tawa Sagara perlahan meredup.
"Bongkar aja!" ucap Sagara mendadak terdengar hampa, "Kalau gue nggak dapat warisan juga nggak masalah."
Dirga langsung terdiam.
Amara pun ikut menegang.
"Gue kira dengan gue sukses bisa bikin Denisa balik dan bahagia ," lanjut Sagara lirih, "Sekarang, dia udah nggak menginginkan gue lagi."
Amara menunduk. Entah kenapa, dadanya terasa sesak. Bahkan, sangat sesak seolah ada sesuatu yang perlahan diremas dari dalam.
"Goblok!" bentak Dirga, "Lo mau lari dari tanggung jawab? Amara mau lo telantarin?"
Tak ada jawaban. Hanya suara napas Sagara yang terdengar samar.
Amara menggenggam ponselnya erat. Lalu, tanpa sadar mengambil alih kamera. Air matanya mulai jatuh.
"Mas..." suara Amara bergetar, "Kalau memang mau mati, minimal ceraikan aku dulu."
Dirga menoleh, sedangkan Sagara juga membeku.
Lalu, Amara melanjutkan sambil menyeka air matanya dengan kasar, "Aku nggak mau dikenang sebagai istri yang gagal sampai suaminya lebih memilih mati karena perempuan lain."
Amara memberi jeda hingga sunyi sempat menyelimuti panggilan itu beberapa detik.
"Mau kamu anggap aku istri atau bukan, tapi secara hukum aku tetap istrimu. Apa pun yang kamu lakukan, orang tetap akan menghubungkannya sama aku," tegas Amara berusaha lebih tenang.
Sagara tersenyum miris, "Kalau aku mati, semua hartaku jadi milikmu."
"Kalau aku menikah sama kamu karena harta, dari awal udah kukuras dan kutuntut banyak hal, Mas!" sentak Amara kesal.
Tangis Amara akhirnya pecah sambil melanjutkan dengan suara bergetar hebat, "Aku cuma mau kamu bertanggung jawab atas semua perjanjian kita. Kalau semuanya sudah selesai, silakan mati dengan cara sesukamu!"
Sagara tak bisa menjawab cukup lama.
Hingga akhirnya, terdengar suara seraknya.
"Kalau saja Denisa menginginkanku seperti Raka menginginkanmu. Mungkin, aku masih punya alasan untuk bertahan dan menunggu," tutur Sagara dengan suara merendah penuh kepiluan.
Kalimat itu menghantam Amara tepat di dadanya—perih, sangat perih. Karena baru kali ini ia menyadari sebesar itu cinta Sagara. Bahkan, di ambang maut pun yang ada di pikiran Sagara tetap Denisa.
"Mas..." panggil Amara dengan suara mengecil.
Namun belum sempat Sagara berkata apa-apa, mendadak layar tiba-tiba terguncang hebat sebelum pada akhirnya gelap.
BRAK!
Lalu, terdengar jelas suara orang-orang berteriak.
"Astaga! Darahnya banyak!"
"Kakinya kejepit!"
"Masih hidup nggak?!"
"Parah banget benturannya!"
"MAS AGA!" jerit Amara pecah.
Namun panggilan mendadak terputus kaena baterai ponsel Sagara habis.
Dunia Amara seperti ikut runtuh. Tangisnya langsung pecah tanpa bisa ditahan lagi. Setelah menangisi kehilangan Nenek, inilah pertama kali ia benar-benar kehilangan kendali.
"Mas Dirga, Gimana ini...?" rengek Amara sambil meremas lembut lengam Dirga.
Dirga segera menepikan mobil. Tangannya terlihat gemetar saat mengambil ponsel. Ia pun menghubungi seseorang.
"Lacak Sagara!" ucap Dirga hanya dua kata.
Namun suara Dirga itu terdengar penuh ancaman sekaligus kecemasan.
Lalu, tak sampai satu menit, sebuah notifikasi masuk. Dirga pun memeriksa pesan, kemudian langsung memutar balik mobil. Mesin pun meraung dan mobil melesat membelah jalan.
"Mas..." suara Amara masih bergetar, "Mas Aga beneran mau bunuh diri?"
Dirga menatap jalan di depannya. Meski pikirannya menerawang entah ke mana.
"Entahlah," jawab Dirga dengan rahang mengeras, "Kalau urusannya Denisa, dia memang bisa segila itu."
Amara terdiam. Ia pun memandangi pohon-pohon dan rumah jalan yang berlari di balik kaca.
Lalu, tanpa sadar, Amara bertanya pelan,"Secinta itu ya?"
Dirga mengembuskan napas panjang. "Bukan."
Amara menoleh.
"Sebuta itu, iya," lanjut Dirga lebih dingin.
Amara terdiam. Dadanya kembali terasa berat.
"Kalau begitu... Apa aku nggak punya kesempatan untuk menggantikan Denisa? Minimal biar Mas Aga nggak seputus asa ini lagi," tanya Amara benar-benar polos.
Ciiittt!
Mobil mendadak berhenti di pinggir jalan. Begitu mendadak hingga tubuh Amara terdorong ke depan dan untung saja tertahan sabuk pengaman. Jantungnya pun berdegup kencang.
Amara pun menoleh dan mendapati Dirga sedang menatapnya. Tatapan itu berbed, sangat berbeda. Tak ada kemarahan. Tak ada keterkejutan biasa.
Melainkan, sesuatu yang jauh lebih rumit. Sesuatu yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.
Mata Dirga menelusuri wajah Amara seolah ingin memastikan bahwa pertanyaan tadi benar-benar keluar dari bibirnya. Sejenak, hening menguasai suasana di antara mereka. Namun justru keheningan itu terasa jauh lebih menyakitkan.
Untuk pertama kalinya, Amara melihat luka di mata Dirga. Dan entah mengapa, jantungnya mendadak berdebar tidak nyaman seolah tanpa sengaja ia baru saja menyentuh rahasia terbesar yang selama ini disembunyikan Dirga darinya.