Hai All, ini adalah karya keduaku.
Sesuai sama judul di atas kali ini aku akan membuat karya tentang dunia permantanan.
Willo, gadis pendiam dan terkesan cuek dan aromantis terkejut saat dia tau ternyata bos di tempatnya bekerja adalah Mantan "Pacarnya" yang super ngeselin.
Willo ingin menghindar dan resign dari tempatnya bekerja namun dirinya tak bisa lepas dari jeratan mantan.
So this is it , Willo story : Hi, Ex - Boyfriend ! 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SheisUgly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUKA-SUKA AUTHOR
Cewek BATAK itu luarnya aja yang keliatan keras. Coba dalami hatinya. Kau tau bika ambon??? Kek gitulah spesialnya, udah lembut, enak, di rindukan pulak !
🌷WillonaSiregar🌷
🦌🦌🦌🦌
Semua pegawai hari ini terlihat sibuk. Aku dan Gina lalu lalang di ruangan yang luas memiliki 2 monitor besar yang menampilkan index saham dari semua Bursa Saham dunia.
Kabarnya juga Flowchart akan menggelar kerjasamanya dengan sebuah Production House yang besar dari Amerika untuk menggarap proyek game tokoh animasi mereka.
Animasi superhero yang biasa aku tonton kalau lagi gabut. Di sela-sela aku bekerja, aku masih terbayang-bayang wajah Kai saat tidur bersebelahan denganku. Aku yakin Kai tidak melakukan sesuatu padaku. Pelukan Kai terasa sangat nyaman.
Kalau begini gimana bisa move on. Kalau Kai punya pacar aku pasti bisa move on segera.
"Dari tadi lo ngelamun terus. Senyum-senyum lagi kayak orang kasmaran aja" Ledek Gina yang mungkin penasaran dengan kelakuanku akhir-akhir ini.
"Aku enggak kasmaran kok....." Mataku lalu fokus ke monitor lagi dengan bibir menyunggingkan senyum.
Istirahat siang telah tiba saatnya, aku berpisah dari temanku untuk makan siang di Pantry. Aku ingin suasana tenang dan damai. Pantry di kantor lumayan sepi, cuma ada 3 OB dan kalau istirahat mereka semua ke cafe.
Aku memakan salad buah dengan nyaman. Salad buah di kantor memang enak untuk mencuci mulut apalagi di cuaca yang panas begini. Aku masih saja membayangkan Kai. Padahal Kai belum tentu memikirkan aku.
"Willo...." Pandu masuk ke ruang pantry dan menyapaku. Lengkap dengan senyum manisnya.
"Iya Pak..." Balasku mengangguk.
"Kenapa kamu malah makan siang di sini?? Enggak ke cafe....??" Tanya Pandu dengan memencet dispenser air panas.
"Disini nyaman Pak..."
"Kamu mau kopi??? Sekalian aku buatin..." Tawar Pak Pandu. Pandu itu bos idaman, dia sangat perhatian dengan pegawainya.
"Enggak perlu Pak, saya sudah kenyang makan salad buah...." Aku menolak tawaran Pandu dengan halus.
"Apa aku boleh duduk di sini???"
"Tentu saja Pak...." Ini kan kantor dia, tidak perlu minta ijin kan...?
Pandu menggeret kursi itu lalu mendudukinya.
"Kamu suka salad buah???" Pandu melirik ke mangkuk kecil salad buahku.
"Iya Pak, saya suka banget apalagi kalau panas begini..." Aku menyendok salad buah itu kemudian memakannya. Begitu menyegarkan.
"Hari ini kami menandatangani kontrak besar dengan Maxwell..." Pandu membuka pembicaraan serius.
Aku hanya mengangguk tanda mengerti.
"Satu persatu impianku terwujud. Dari kantor yang kecil sekarang kami bisa mempunyai perusahaan yang besar." Pandu menerawang jauh.
Aku hanya menatap Vice Presiden di depanku ini.
"Aku sebenarnya tak punya kemampuan di bidang IT"
Pernyataan santai Pandu membuatku tergelak sedikit. Dia tak paham IT?? Bukankah dia sekampus dengan Kai saat di Massachusetts dulu??? Oh dia ambil jurusan yang lain maybe...!
"Kau pasti bertanya-tanya kan??" Pandu melihat air muka ku yang terkejut paling.
"Tidak...."
"Aku dulu mengambil jurusan seni" Pandu menyesap kopinya.
"Benarkah??" Ekspresi ku mungkin terlihat seperti Ha Ji Won bilang jinnjaaa????
Pandu terkekeh melihat wajahku.
"Kamu enggak percaya?"
Aku mengangguk
"Aku bertemu dengan Kai saat dia sedang melukis di taman. Dia melukis seorang wanita."
Aku menduga itu Kenzie. Dan aku memperoleh fakta baru jika Kai bisa melukis.
"Kami berteman dan tak ku sangka dia progammer yang hebat. Sebuah perusahaan IT terkenal di Washington pernah menawarkan pekerjaan padanya. Tapi dengan percaya diri dia menolak tawaran itu. Dia bilang : Untuk apa aku membuat game jika aku bisa menghasilkan uang dari bisnisku sendiri. Dia membuka mataku dan aku ikut bergabung bersamanya" Pandu bercerita dengan senyum tersungging di wajahnya. Aku tau hatinya pasti terenyuh mengingat perjuangannya mendirikan FLOWCHART.
"Tapi bukankah Anda berkuliah di bidang Seni?? Apa menariknya mendirikan perusahaan berbasis IT??" Aku makin ingin mendalami ini. Seorang yang menyukai seni, kenapa bisa mendirikan perusahaan berlatar belakang IT. Jelas ini bukan bidangnya. Tapi bukan Pandu namanya kalau dia tak memberikan jawaban yang mengejutkan.
"Membangun sebuah perusahaan bukankah juga sebuah seni???? Aku tertarik belerja dengan Kai karena dia bisa membuat program, aplikasi, alat yang bisa memudahkan manusia" Pandu menyesap tehnya lagi.
"Lalu jika Kai yang membuatnya, Anda????" Aku mulai lancang sebenarnya menanyakan ini.
Dia terbahak.
"Bukankah aku nomer dua disini???"
Aku ikut tertawa. Iya, dia hanya wakil Kaisang.
"Semangat ya Willo. Kalau kamu bosan punya bos menyebalkan seperti Kai, kamu bisa cari pekerjaan lain." Dia terkekeh kemudian mengambil sesuatu dari balik jasnya.
Sebuah amplop berwarna coklat. Dan Pandu menyerahkan amplop itu padaku.
"Ini surat rekomendasi dari GYG (Jiwayji) Corp. Kamu bisa melamar pekerjaan di sana jika kamu sudah mulai bosan dengan...." Dia mendekatkan wajahnya ke depan wajahku.
"Kai...." Dia pun menyeringai seperti menyebut nama setan. Aku tertawa...
"Aku masuk kantor dulu..." Pandu bangkit dari duduknya dan menepuk bahuku.
"Lo ada di sini Bang?? Sama Willo??" Entah sejak kapan Kai ada di pantry itu. Aku dan Pandu saling berpandangan dan Kai memandang heran ke arah kami.
"Iya, aku bikin kopi. Ternyata ada Willo di sini.."
"Bang, gue akan ke Amerika. Bantu gue siap-siap.." Kai ternyata kemari mencari Pak Pandu.
Dan dia akan ke Amerika ????????
Ada rasa sesak di hati ini. Kepergian Kai ke Singapura dan Beijing beberapa waktu lalu tak membuatku sedih. Tapi kenapa kepergian Kai saat ini membuatku?????
Mereka berdua pergi tanpa menghiraukan ku.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Jam 20.00 aku baru pulang karena harus memperbarui sistem dulu di kantor bersama temanku yang lain. Kantor Flowchart sepi. Hanya ada security di depan kantor berjaga.Tapi beberapa lampu ruangan masih Menyala. Katanya tadi Bang Gio dan Gading mau ngerjain project bareng.
Go-Car pesananku belum juga datang. Aku menunggu lagi dengan berjalan mondar-mandir.
"Sejak kapan lo akrab sama Pandu??" Suara Kai tiba-tiba terdengar di keheningan.
Aku sedikit terkejut dengan pertanyaan nya.
"Sejak gue bekerja disini. Kami tidak terlalu akrab. Cuma pernah ngobrol di jam istirahat" Aku masih berjalan mondar mandir dengan kedua tangan ku masukkan ke saku jaket hoodieku. Dan tentu saja kepalaku terbungkus hoodie dengan rambut tergerai.
"Pandu laki-laki yang Baik. Dia orang yang gue percaya selama ini." Pandangan Kai menerawang ke langit Lepas yang gelap. Aku pandangi siluet wajahnya. Dengan bibir berwarna merah seperti tak pernah merokok, rambut model curtain haircut belah pinggir, hidung mancung, kulit putih bersih. Dia masih nampak seperti Kaisang yang aku kenal 8 tahun yang lalu.
"Lo enggak pengen deketin Pandu??" Aku yang masih fokus memandang wajahnya dari samping seketika terkejut dengan pertanyaan Kai yang menohok dadaku.
"Apa??" Aku bereaksi.
Senyum manisnya terbit.
"Usia Pandu lebih tua 3 tahun dari gue. Dia kayaknya cocok sama lo. Lo juga pernah bilang kan kalau lo pengen pacar kayak Pandu"
Alisku terangkat sebelah. Kapan aku ngomong kayak gitu. Aku cuma bilang kan kalau Kai harusnya niru style nya Pandu. Bukan pengen pacar kayak Pandu. Salah denger Deh Bang Kai.
"Gue enggak pernah bilang begitu??" Aku seketika kesal di tuduh dketin Pandu. Aku kan enggak suka ama Pandu.
"Gue seneng kalau lo bisa melupakan gue..."
"Tapi gue enggak pengen nglupain lo !"
Apes banget kenapa aku bisa berteriak spontan gini??? Perasaan ku sepenuhnya berkata jika aku memang tak ingin melupakan Kai. Aku masih berharap padanya. Kini aku panik dengan pengakuan spontan yang tak sengaja aku katakan.
"Kenapa???"
Aku bingung harus jawab apa.
"Jangan bilang lo salah ngomong. Semua orang punya alam bawah sadar yang..."
"Bang, gue balik ya. Taksi online gue udah dateng !"
Aku harus mengucap alhamdulillah banyak-banyak karena Taksi online yang aku order datang di saat yang tepat. Aku tak ingin Kai tau perasaan ku. Meskipun Kai dan Kenzie sudah lama berakhir, namun aku tak yakin perasaan Kai akan serupa denganku.
Aku bukan tipe Kai.
Aku masuk ke dalam mobil dan segera pergi dari sana.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Seminggu ini aku selalu mencari celah untuk tak bertemu Pandu atau Kai. Aku masih tak ingin jika bertemu dengan Kai, dia akan membahas itu. Dan jika aku bertemu Pandu, Kai akan menyangka aku modus ke Pandu.
Aku kan tak punya ketertarikan khusus dengan Pandu. Aku tau dia tampan, mapan, baik, perhatian, sopan terhadap pegawai, aku hanya sebatas kagum bukan tertarik.
Kusandarkan badan ke kursi kerjaku dan menatap ke langit-langit ruanganku. Aku ingat jika Pandu memberikan surat rekomendasi pekerjaan untukku. Apa aku coba melamar kerja di sana ya???
"Willo, kamu di panggil bos sekarang di ruangannya." Nancy memberitahuku kemudian berlalu dari sisiku.
Dia bosku, dia pemilik perusahaan ini. Menghindar sejauh apapun dia bisa kok panggil aku.
Aku beringsut dari kursi dan berjalan menuju ruangannya tepat di atasku. Suara sepatu ku yang menghentak tangga nyaring terdengar.
Pintu otomatis terbuka dan seperti biasa kalau dia manggil aku, dia malah fokus main game di IPAD nya.
"Bos panggil saya...?" Tanyaku setelah dia tak merespon kedatanganku.
Kai malah menyentakkan ponselnya dan dengan gila dia bermain lagi. Jagoannya mungkin menang karena teriak Yess !!
"Lo hari sabtu ini jogging??" Dia bertanya dengan asik main game.
"Maunya gitu bos." Jawabku seraya mengerucutkan bibir meliriknya.
Perasaanku enggak enak nih.
"Sabtu jam 07 pagi anterin gue ke bandara !" Lamat-lamat kudengar perintahnya.
"Apa bos?"
"Lo boleh pergi !"
Apa??? Dia aja merintah tanpa memandang yang di perintah. Tadi dia bilang suruh nganterin dia???
Bodoamat lah, ntar kalau aku lupa dia juga nelpon !!
.
.
.
.
.
"Willo !! Gue udah di depan kosan lo nih. Lo dimana??" Suara teriakan Kai langsung terdengar saat aku menerima telponnya. Aku masih menjemur pakaian di balkon paling atas kosan dan aku tak melihat jelas nama si penelpon di layar karena silau. Aku kira Mama atau Papa yang telpon, ternyata si Bang_ Ke
"Lo bang???" Kataku jengah.
"Gue sekarang di kosan lo nih. Mendingan lo nyamperin gue sekarang !" Kai memutus sambungan telpon
Aku menuruni anak tangga dan terlihat Kai sedang berdiri nyender di bagian depan mobil Range Rover hitamnya.
"Lo ngapain pagi-pagi kesini??" Tanyaku malas.
"Gue kemarin kan bilang ke lo buat nganterin gue ke Bandara. Lo bolot enggak merhatiin atau gimana si??" Dia berkata dengan wajah tanpa dosa mengataiku bolot.
"Makanya lo kalau ngasih perintah pegawai yang bener dong. Jangan ngomong sama main game gitu ! Enggak sekali dua kali lo begitu !" Dengusku sebal.
"Lo enggak pernah baca peraturan pertama perusahaan. Kalau bos enggak pernah salah?? Jika bos salah, maka balik ke peraturan pertama. Simple kan??"
Rahangku ternganga karena ada peraturan begitu di FLOWCHART.
"Mending sekarang lo siap-siap deh nganterin gue. Masa ke Bandara pakai piyama gambar pikachu??"
Tanpa membantah aku langsung masuk ke kamar kos dan bersiap-siap mengantar Kai.
🦌🦌🦌🦌🦌
"Pesawat lo jam berapa Bang??" Tanyaku setelah Kai memarkir mobilnya di parkiran Bandara Internasional.
"Jam 12.30. Ini masih jam 10.30." Kai melihat jam tangan yang aku lihat itu jam mahal.
"Buruan lo cek in deh. Takutnya schedulnya maju" Aku melepas sabuk pengaman untuk turun dari mobil.
Tapi Kai buru-buru mencekal lenganku. Aku menoleh ke arah Kai yang menatapku sayu.
"Kenapa Bang??"
"Lo seneng gue pergi?? Nyuruh gue cek in"
Aku memutar bola mata, tak percaya dengan tuduhan Kai.
"Lah, gimana sih?? Gue kan ngingetin lo...!"
Kai menghela nafas dan menyandarkan kepalanya di sandaran jok mobil.
"Lo enggak siap pergi??? Lo enggak suka kerjasama dengan Maxwell??" Aku melirik Kai.
Tapi dia hanya diam.
"Pak Pandu bilang ke gue kalau proyek ini sangat berharga...." Aku ingat pembicaraan ku dengan Pandu di pantry semingguan yang lalu.
"Gue seneng ke Amerika tapi gue....."
"Yakin dong Bang..." Aku meneruskan kalimat Kai yang menggantung. Aku harus mendukung segala Usahanya untuk memajukan FLOWCHART. Dia sudah bekerja keras selama ini melebihi ekspektasiku.
"Ayo kita turun. Gue nggak mau lo dimarahi Pandu.."
Ajakku kali ini. Pandu sebenarnya enggak akan marah sih dengan kelakuan Kai.
Kai menggeret lenganku sekali lagi. Sentakkan tangannya yang mencengkeram lenganku membuat jarak kami menjadi sangat dekat. Desiran aneh melanda relung jiwaku. Aku pernah berpacaran dengannya dulu tapi tak pernah sedekat ini.
Tangan Kai merenggut tengkukku dan bibir kami menempel. Aku tak sempat mengelak. Dan aku hanya bisa pasrah dia menciumku. Rasanya hangat dan dalam. Saat pacaran pun kami tak pernah sejauh ini.
Aku berusaha melepas, tapi Kai malah menekan lebih dalam. Aku hanya memejamkan mata. Menikmati sensasi ciuman pertamaku.
Akhirnya kami saling melepaskan ciuman itu setelah oksigen yang kami hirup sesak di paru-paru.
"Jangan bilang soal Pandu lagi," Dia melonggarkan pelukan dan akan membuka pintu mobil.
Aku masih terbawa sensasi dan tak bisa membalas ucapannya.
"Gue berangkat ya. Jaga diri lo baik-baik" Kai membuka pintu mobil dan membuka juga pintu belakang untuk mengambil kopernya.
Aku masih terpaku di dalam mobil tak menyangka dengan apa yang Kai lakukan padaku.
*Apa ini mimpi?????
🌷🌷🌷🌷🌷
Thanks ya yorobun untuk segala bentuk dukungan berupa like vote komen dan doanya. Saya sangat menghargai itu.
See you next*......
tadi diawal juga ada. situasinya lagi tegang/kaget tp tiba tiba ada kata tergelak.
sejauh ini sukaa😍 semangat kakk