Ada cinta yang tumbuh… bukan untuk dimiliki sepenuhnya, tapi untuk bertahan di hati yang sudah retak.
~ Zahra ~
Zahra menikahi Adnan, seorang duda yang kehilangan istrinya karena maut lebih dulu memanggil. Ia tahu, sejak awal, bahwa ia bukan cinta pertama. Ia hanya perempuan yang datang setelah sebuah kisah agung berakhir. Namun Zahra tetap memilih bertahan, menanam kasih di tanah hati yang sebagian masih ditumbuhi bayang-bayang masa lalu.
Setiap sudut rumah menyimpan kenangan yang bukan tentang dirinya dan Adnan.
Lalu sampai kapan sebuah hati sanggup bersabar?
Sampai kapan cinta bisa hidup tanpa benar-benar dimiliki?
Di antara kesetiaan, keikhlasan, dan luka yang tak pernah benar-benar sembuh… Zahra harus memilih: tetap berusaha mencintai, atau pergi menyelamatkan dirinya sendiri.
Sebab terkadang…
yang paling menyakitkan bukan tidak dicintai,
melainkan dicintai setengah hati oleh seseorang yang masih hidup di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon picisan imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Posisi yang sulit
Beberapa saat kemudian, Zahra di bawa ke ruang obgyn atas permintaan dokter spog. Riuh suara Brankar yang didorong cepat setelah keluar dari IGD menuju ruang obgyn untuk melakukan USG dan pemeriksaan lanjutan.
"Ayo, Pak. Masuk sekalian–" pinta seorang perawat yang melihat Faqih tak melanjutkan langkahnya saat berada di depan poli kandungan.
"Maaf, Sus. Tapi saya bukan suami pasien. Melainkan hanya kerabat jauh saja yang tak sengaja bertemu disini."
Suster terlihat bingung. "Lalu siapa penjamin pasien disini?"
"Niatnya saya mau langsung menghubungi keluarga pasien."
"Kalau begitu silahkan hubungin keluarga. Dan tolong bapak tetap di sini ya, sampai wali dari pasiennya datang."
Faqih hanya mengangguk. Sang perawat pun masuk. Keheningan di lorong khusus calon pasien yang menunggu giliran pun ia rasakan. Karena pasien terakhir telah pulang sekitar hampir satu jam yang lalu. Sehingga hanya menyisakan kursi-kursi yang telah kosong. Faqih duduk di salah satunya sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Saat ponsel di nyalakan ia melihat ada beberapa panggilan dari Nuha.
"Ya ampun... Maaf ya, Neng. Nanti Aa telfon baliknya."
Faqih mengabaikan panggilan tak terjawab itu. Kemudian ia lebih memilih menelfon Abinya. Deru nada sambung terdengar beberapa kali. Hingga suara Abi Rahmat terdengar di sebrang.
"Assalamualaikum?"
"Walaikumsalam, Bi."
"Faqih? Belum selesai antri obatnya?" tanya Abi.
"Udah dari tadi, Bi. Tapi Faqih masih di rumah sakit. Ini... Zahra, Bi."
"Zahra? Zahranya Pak Huda? Ada apa sama Zahra?"
"Faqih belum begitu paham kondisi pastinya. Tapi kayaknya ada sesuatu yang cukup serius. Abi bisa hubungin Pak Huda, kan? Bilangin kalau Zahra ada di rumah sakit Elizabet, deket Kantor perpajakan tempat Umi kontrol tadi."
"Innalillah... Iya, ya. Abi langsung hubungi Pak Huda."
"Cepet ya, Bi. Karena Zahra disini bener-bener sendirian. Faqih juga, jadi nggak bisa kemana-kemana. Kasian..."
"Iya. Ya sudah— Abi putus telfonnya, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab Faqih. Pria itu berniat ingin menghubungi balik Nuha. Sekaligus memberi kabar. Namun niatan itu ia batalkan saat seorang perawat keluar.
"Keluarga Ibu Zahra?" panggilnya.
Faqih kembali memasukkan ponsel ke dalam tas kecil. lalu bangkit dan mendekat.
"Ya, Sus?"
"Gimana? Pihak keluarga sudah di hubungi?"
"Iya, Sus. InshaAllah secepatnya akan sampai."
"Begitu ya? Tapi, ada yang mau di sampaikan dokternya. Bisa bapak aja yang masuk?"
"Tapi, saya bukan suami dari pasien."
"Iya, Pak. Saya tahu... Dokter hanya ingin bicara saja. Nanti setelahnya bapak bicarakan dengan keluarga lain setelah mereka datang agar pasien bisa cepat di tangani."
Faqih menelan ludah. Ia bingung, sehingga membuatnya harus berpikir cukup lama. Kemudian mengangguk dan melangkah masuk ke dalam ruangan.
Di sana, ia tak melihat Zahra. Karena Zahra telah di pindahkan ke ruang bersalin yang berada tak jauh dari ruang obgyn tersebut.
"Selamat sore, Pak..." Dokter menyapa.
"Sore Dokter."
"Apa bapak suami dari Ibu Zahra?"
Faqih menggeleng cepat. "Bukan, Pak. Saya hanya kerabat jauh. Tapi keluarganya sudah saya hubungi, kok."
"Begitu ya?"
"Apakah, ada sesuatu yang serius?"
"Iya, Pak. Usia kandungan Ibu Zahra ini kan sudah masuk usia 21 minggu. Atau lima bulan lebih satu minggu. Namun mohon maaf, saat di periksa menggunakan doppler, bayi ternyata sudah tidak memiliki tanda-tanda kehidupan. Dengan kata lain, di duga bayi sudah meninggal dunia di dalam kandungan sejak satu hari sebelumnya."
"innalillahiwainnailaihirojiun," gumam Faqih.
"Untuk penyebab pastinya masih kita evaluasi. Namun dugaan saya si, plasenta bayi terlepas dari rahim sebelum waktunya. Sehingga janin tidak bisa menerima nutrisi dan oksigen, Pak."
Faqih hanya manggut-manggut.
"Tadi, saya sudah berbicara dengan pasien dengan hati-hati. Ibu Zahra terlihat tegar. Beliau menerima, dan bersedia mengikuti apapun prosedur selanjutnya. Dimana rencananya, saya akan melakukan prosedur induksi untuk mengeluarkan bayi dalam kandungan ibu Zahra. Tapi, sebelum itu. Tentunya saya butuh tanda tangan dari walinya. Untuk segala prosesnya bisa kita jalankan secepatnya."
Faqih masih bergeming. Entah kenapa, wajah Zahra saat pertama kali ia sapa terlihat tidak baik-baik saja. Tapi wajar sih, tidak mungkin ia tidak merasa sedih ketima tahu calon anaknya meninggal dalam kandungan.
"Bagaimana, Pak?"
"Saya boleh minta waktu untuk menunggu keluarga inti dari Pasien datang lebih dulu, nggak, Dok? Soalnya, saya juga tidak berani mengambil keputusan."
"Boleh... Silahkan. Tapi sebaiknya sih, secepatnya ya, Pak. Karena di khawatirkan akan terjadi komplikasi. Seperti preeklamsia... karena tekanan darah Ibu Zahra tadi mencapai 150 per 100. Itu cukup tinggi. Yang mana berkemungkinan bisa lebih tinggi lagi. Dan itu justru sangat membahayakan nyawa si ibunya juga."
"Begitu ya?" Faqih berniat untuk berpamitan keluar, tapi lagi-lagi ia ragu untuk melangkah. Di posisi ini, Faqih benar-benar serba salah karena benar-benar taruhannya nyawa. Namun, di sisi lain? Ia juga tak memiliki wewenang. Takut di anggap lancang karena Zahra adalah istri orang lain. Tangannya mengepal.
"Kalau saran saya, Bapak tanda tangan aja persetujuan tindakan. Karena setiap waktu itu berharga. Saya rasa, keluarga pun akan menerima keputusan ini. Kalau memang mereka peduli dengan nyawa pasien. Tapi jika mau menunggu tidak apa, kami tetap mengobservasi pasien. Dengan memeriksa tekanan darahnya setiap saat."
Pria berwajah sedikit kaku itu masih diam. Ia benar-binar tidak menyangka ada di posisi seperti ini. Sekaligus mempertanyakan keberadaan pasangan Zahra. Dan apakah, Zahra sudah menghubungi suaminya? Tapi kenapa tidak ada yang datang. Faqih pun menarik nafas pelan, setelahnya menghembuskan lirih.
"Baik, Dok. Saya yang akan tanda tangan persetujuannya, agar saudara saya itu, bisa segera di tangani."
Dokter mengangguk. Ia pun memanggil perawat yang akan membantu penjamin menandatangani berkas persetujuan tindakan.